Sunflower

Sunflower
Harap-harap cemas


__ADS_3

Selama perjalanan pulang Rea dibuat bimbang dengan keinginannya sendiri antara berheni atau terus, dia masih kepikiran mengenai apa yang dikatan oleh Andin tadi siang, sudah lebih dari tiga apotek yang mobil Rea lewati namun wanita itu masih ragu untuk menyuruh Varest berhenti.


Sejujurnya dia ingin membeli alat tes kehamilan tapi bingung harus mencari alasan apa jika suaminya bertanya, dia belum bisa memberi kabar yang belum pasti kebenarannya dia takut jika Varest akan berharap jauh dan akhirnya kecewa jika apa yang diharapkan tak menjadi kenyataan.


Rea sesekali melirik ke arah Varest yang berada di belakang kemudi dan bergantian melihat sang putra yang tertidur di belakangnya, ditariknyna nafasnya pelan setelah itu dihembuskanpun tak kalah pelan dia berusaha mencari keberanian untuk berbicara, hingga mobil berhenti secara mendadak tepat di depan apotek ke empat.


"Aku mau ke apotek sebentar" ucap Varest melepas seatbelt-nya


"Buat apa?" Tanya Rea penasaran.


"Stok vitamin Zee sudah mau habis, berhubung kita lewat sini jadi biar sekalian" Jelas Varest hendak membuka pintu mobil


"Sayang, biar aku saja yang beli." Cegah Rea, segera dia meraih tasnya dan membuka pintu mobil, "Aku tidak akan lama." Katanya sebelum benar-benar melangkah keluar dan menutup mobil.


Semesta mendukungnya, wanita itu berjalan cepat namun tetap berhati-hati menuju apotek yang cukup besar setelahnya langsung mendekati salah satu karyawan yang berdiri di depan kasir untuk bertanya tempat barang yang dicari. Rea mulai menelusuri arah yang ditunjuk karyawan tersebut dan saat menemukannya dia langsung mengambil beberapa dengan merk yang berbeda.


Hanya membutuhkan waktu sekitar lima menit dia sudah kembali ke mobil dengan satu plastik berisi vitamin yang dipesan oleh Varest di tangannya sedangkan untuk alat tes kehamilan tadi dia simpan di dalam tas sebelum dia keluar dari apotek.


"Ayo kita jalan!" Seru Rea sesaat setelah dia menutup pintu.


Varest melipat dahinya bingung melihat Rea yang datang dengan keringat yang bercucuran di pelipisnya seperti seseorang yang berlari kiloan meter, "Sayang, kamu tidak apa-apa?"


"Hah?"


"Kenapa kamu sampai berkeringat begini?" Varest mengambil tissue di dalam laci mobil dan mengelap dahi basah Rea.


Rea menurunkan tangan Varest yang menempel di dahinya seraya berkata, "Aku hanya merasa gerah, lebih baik kita cepat pulang, kasihan Zee dia pasti tidak nyaman dengan posisi tidurnya sekarang."


Varest mengangguk setuju, lelaki itu kembali melajukan mobilnya dan sesekali melirik istrinya yang terlihat tak tenang.


Perjalanan terasa begitu lama bagi Rea, dia ingin segera sampai di rumah dan mencoba alat tes kehamilan itu, tetapi sekali lagi dia harus bersabar saat mengingat jika hasil dari alat itu akan lebih akurat jika digunakan dipagi hari.

__ADS_1


-


Menjelang waktu tidur Varest menemani Zee di kamarnya sampai putranya itu tertidur, dia membacakan buku cerita favorit sang putra yang terlihat bersemangat mendengarkan.


"Pa" Zee menginterupsi ditengah Varest yang serius membaca.


"Hmm" Gumam lelaki berumur 27 tahun itu, matanya meneliti ekspresi sang putra.


"Ada apa?"


"Kapan Ji punya adik, Pa?" Tanya Zee dengan pandangan penuh harap


Varest terkesiap, dia tiba-tiba teringat dengan sikap sang istri belakangan ini, lelaki itu sadar jika pernikahan mereka sudah berjalan lebih dari setengah tahun tapi memang belum ada kabar dari Rea mengenai hal itu, bahkan diapun juga ingat siklus tamu bulanan sang istri. Jangan tanyakan kenapa Varest bisa mengetahui hal itu, karena sebelum hubungannya dengan Rea membaik dia sudah diberikan beberapa pelajaran dari mamanya.


"Zee emang mau punya adik?" Tanya Varest merangkul Zee


Bocah itu mengangguk antusias, "Mauuu" Serunya, "Ji mau punya adik kayak punya Andle" lanjutnya menyebutkan nama teman sekolahnya.


"Usaha kayak apa, Pa?"


"Hah?"


"Nanti Ji bantu bikin adik"


"Ti-tidak perlu Zee, Papa bisa berusaha sendiri, sekarang Zee tidur dulu biar papa bisa cepat bikinkan adik buat Zee." Varest meringis sendiri dengan jawabannya, semoga anak ini tidak bertanya yang lebih banyak.


"Oke, Ji mau bobo lama-lama, bial besok Ji bangun sudah ada adiknya disini" Tukas Zee menepuk sebelah ranjangnya yang kosong, sedangkan sang papanya hanya bisa menyengir bodoh.


Varest termenung ditengah tangannya yang menepuk bokong Zee untuk tertidur, dia tak tahu harus berbuat apa, tidak mungkin dia menceritakan keinginan Zee kepada sang istri, dia takut jika itu akan membuat Rea kepikirian dan terbebani, dia pun sebenarnya tak masalah jika mereka tidak dikarunia anak dalam waktu dekat dia masih menikmati perannya sebagai papa dari Zee meski anak itu bukanlah darah dagingnya.


"Sayang, kamu sudah tidur?" Varest baru saja kembali ke kamarnya dan melihat Rea sudah berbaring di ranjang dengan menutupi seluruh tubuhnya.

__ADS_1


"hmmm" Gumam Rea dari balik selimut


"Jangan ditutup begini kamu bisa kehabisan nafas" Ujar Varest membuka selimut yang menutupi wajah Rea.


"Kamu bisa memberiku nafas buatan" Jawab Rea asal yang malah membuat Varest gemas karenanya.


"Dengan senang hati." Kata Varest sembari mendaratkan kecupan dibibir Rea.


"Aku penasaran dari mana kamu belajar cara memberi nafas bantuan seperti itu" Rea mengejek seraya terkekeh.


Varest tertawa keras melihat wajah lucu Rea yang memanyunkan bibirnya, "Jangan memancingku sayang, aku tidak akan menjajah mu malam ini, aku tahu kamu lagi tidak enak badan" Ujar Varest yang membuat Rea tersenyum simpul.


Wanita itu menggeser tubuhnya untuk memberi ruang kepada Varest agar berbaring disampingnya dan menarik tangan suaminya tersebut untuk dijadikan bantal seperti biasanya.


"Katakan kenapa kamu menutup wajah mu tadi?" Tanya Varest merapikan rambut Rea yang tak sengaja dia tindis


"Aku tidak bisa tidur, jadi aku menutup wajah ku dengan selimut siapa tahu dengan itu aku bisa tertidur" Jelasnya


"Kamu tidak perlu melakukan itu, kamu hanya perlu memelukku seperti biasa dan itu akan membuat mu tidur nyenyak sampai pagi" Varest mendekap Rea erat.


"Apa kamu sudah bisa tidur dengan posisi begini?"


"He'em"


"Yah sudah, sekarang tidurlah"


Alarm di ponsel Rea berbunyi itu adalah tanda jika pagi telah menyapa, tepat pukul lima pagi Rea bergegas bangun namun tetap dengan gerakan pelan tak ingin jika suaminya terbangun karena ulahnya.


Dia mengambil tasnya dimana alat itu dia simpan setelahnya berlari ke arah kamar mandi dan menutup pintunya pelan. Rea sudah menyiapkan wadah sebelumnya dan menampung urinnya di wadah tersebut, tak tanggung-tanggung Rea langsung mencelupkan 5 tespek sekaligus dengan merk yang berbeda.


Harap-harap cemas Rea menunggu mengikuti petunjuk yang dia baca pada kemasan tespek tanpa sadar dia menggigit ujung kukunya. Setelah kurang lebih enam detik dia mengangkat kelima alat itu dan seketika membulatkan matanya dan diikuti oleh mulutnya yang juga ikut menganga.

__ADS_1


"Aaaaaaaaaahhh"


__ADS_2