Sunflower

Sunflower
Putus asa


__ADS_3

Sata mengetuk-ngetuk jarinya pada meja hal itu membuat Lia tidak bisa berkonsentrasi.


"Lo kenapa sih?!" Tanya Lia setengah geram dengan Sata.


Sata hanya melirik tidak minat kembali mengetuk-ngetuk jarinya pada meja.


"Lo mending pindah sana ganggu lo disini."


"Banyak bacot deh lo diem aja sana nulis." Cetus Sata.


"Ngelunjak nih bocah." Celetuk Lia lebih memilih diam setelahnya berdebat dengan Sata tidak ada untungnya.


"Agatha baik-baik aja kan ya?"


Lia menatap Sata yang menatap kosong ke depan. "Dia baik-baik aja."


"Kenapa gak bangun?" Kata Sata. "Ini udah dua hari."


"Kenapa lo sekhawatir itu sama Agatha?" Tanya Lia yang membuat Sata menatapnya.


"Karena ini menyangkut hidup dan mati."


Lia tersenyum ketir. "Ngomong sama lo emang gak pernah jelas."


Sata terkekeh. "Cuma Agatha yang bisa ngendaliin Mark."


"Maksud lo?"


"Gue bakal di bunuh Mark kalo Agatha kenapa-napa makanya cuma Agatha yang bisa selametin gue." Kata Sata hampir menangis.


Lia menganga. "Gue gak paham. Ada hubungan apa Agatha sama Mark?"


"Gue dapet tugas buat jaga Agatha di kelas tapi waktu itu gue lengah jadilah dia di seret geng cabe." Jelas Sata. "Gue berharap Agatha gapapa."


Lia menatap Sata diam. Dia sejak awal sudah mengerti dengan situasinya. Sata yang sejak dulu tidak pernah bergaul dengan cewek, semenjak ada Agatha cowok itu lebih sering menempel padanya dan Agatha.


Dan perubahan Mark yang drastis semenjak kemunculan Agatha. Lia tidak bodoh dia tau semuanya.


Lia memilih untuk diam. Namun, ini sudah keterlaluan Lia akan ikut turun tangan.


"Ayok kita lindungi Agatha mulai sekarang dengan ketat."


Sata menatap Lia sejenak lalu mengepalkan tangannya ke udara. "Ayok kita perjuangkan Yang Mulia Ratu."


...****************...


"Kak aku bisa sendiri beneran."


Mark menjauhkan mangkuk bubur dari jangkauan ku. Cowok itu tidak menyerah ternyata malah aku yang menyerah.


Aku membuka mulutku menerima suapan dari Mark. Sejak aku bangun pagi tadi cowok itu tetap berada di sampingku padahal ini jam sekolah.


"Kakak gak sekolah?"


Mark hanya menggeleng dan kembali menyuapi ku. Namun aku menolaknya ada sesuatu yang aneh dengan perut ku.


Mark yang mengetahui raut wajahku langsung meletakkan mangkuk bubur di tangannya di atas meja.


"Ada yang sakit?" Tanyanya panik.


"Perut aku mual mau mutah." Kataku.


Mark buru-buru mengambil plastik dan diletakkan didepan mulutku.


"Mutah aja gapapa gak usah ditahan."


Detik berikutnya aku memutahkan semua yang ada di dalam perutku. Perutku sakit seperti diperas.


Mark memijit tengkuk ku pelan.


"Masih sakit perutnya?" Tanya Mark.


Aku menggeleng lemah bersandar pada sandaran ranjang.


"Apa yang ditelakkan pada makanan lo ini." Geram Mark menatap nyalang mangkuk bubur itu.


"Bukan salah buburnya kak perut aku aja yang gak nerima makanan." Balas ku. Bisa-bisa Mark mengamuk pada orang yang memasak bubur itu.

__ADS_1


Tidak lama dokter datang dan memeriksa ku.


"Apa nona dulu sering telat makan?" Tanya dokter itu. Aku mengangguk.


"Karena jarang makan lambung nona Agatha bermasalah dan asam lambungnya naik. Maka dari itu nona memutahkan semua makanan yang masuk ke dalam perutnya." Jelas dokter itu.


Setelah meresepkan obat untuk lambungku dokter itu pergi. Mark menghembuskan nafas pelan.


Tidak lama suster datang dengan membawakan aku obat memberi tahu Mark obat apa saja yang harus aku minum setelah atau sesudah makan. Suster itu juga membawakan aku bubur baru.


Aku melihat bubur itu saja sudah mual.


"Minum obat dulu ya." Kata Mark memberikan aku obat dan segelas air. Aku menurut dan menerimanya.


"Sekarang makan."


Aku menggeleng dan menutup mulutku dengan kedua tangan.


"Makan ya biar cepet sembuh." Bujuk Mark lembut.


"Nanti mutah lagi kalo makan."


"Lima suap aja yang penting ada isinya di perut."


"Satu suap." Tawarku.


"Dua suap."


"Oke." Aku menerima suapan pertama. Dengan susah payah aku memakannya.


Suapan kedua aku langsung minum agar tidak mual.


"Sekarang tidur dua jam lagi gua bangunin buat minum obat." Kata Mark membantu ku berbaring.


Aku menurut karena tubuhku masih lemas.


Ngomong-ngomong mama gimana ya tau aku tidak pulang?


"Kak orang rumah tau aku di rumah sakit?" Tanya ku.


Mark hanya diam tidak menjawab. "Tidur aja dulu."


Aku menatap langit-langit kamar dalam diam.


Kalau aku sakit seperti ini pasti nenek datang dan membelai rambutku agar aku cepat tidur. Membawakan ku makanan enak, memelukku.


Aku kangen nenek.


Aku ingin mendapat perlakuan itu dari mama. Aku ingin diperhatikan oleh mama.


Apa aku terlalu serakah?


"Kenapa gak tidur?"


Aku menatap Mark yang baru datang dari luar. Cowok itu tadi bilang mau ke kamar mandi.


Aku menggeser tubuhku lalu menepuk tempat di sebelahku . "Kakak tidur sini."


"Hah?"


"Tidur sini."


Agatha apa yang sudah kau lakukan??!!!


Mark menatapku penuh arti. Sepertinya dia tidak mengerti apa maksudku.


"Kakak gamau ya?"


Padahal aku ingin tidur sambil dipeluk. Aku merindukan nenek.


Mark menghampiri ku dan duduk di ranjangku. "Tidur."


"Sini Bobo sini." Kataku menepuk nepuk kasur. "Biasanya nenek yang meluk aku kalo lagi sakit."


Mark mengangkat sebelah alisnya. "Jadi mau tidur sambil gue peluk?"


Aku mengangguk. Mark terkekeh pelan namun begitu dia menuruti apa kemauanku.

__ADS_1


Katakanlah jika aku aneh dan murahan.


AKU TIDAK PEDULI.


Mark meletakkan lengannya untukku bantalan. Tangan kirinya memeluk ku erat. Aku bisa mencium parfumnya dengan jelas.


Untungnya badan ku kecil dan ranjang ini cukup besar jadi muat buat kami berdua.


Mark mengelus rambutku pelan. "Sekarang tidur."


Aku mengangguk.


Apa ini suara detak jantung Mark?


Kencang sekali??!!!


"Kak."


"Hm?"


"Aku pengen pulang."


"Kalo udah sembuh pulang."


"Aku udah sembuh."


"Sembuh apanya tadi aja mutah-mutah."


"Besok mau pulang nanti orang rumah nyariin."


"Sembuh dulu."


"Aku udah sembuh!"


"Cerewet."


Aku mendengus kesal. "Kak."


"Apa lagi?"


"Aku udah tidur berapa lama?"


"Dua hari."


"Hah? Jadi aku bolos sekolah dua hari?"


"Iya."


Aku tidak percaya ini. Aku tidak sadar selama dua hari? Seberapa parah aku ini.


"Masa sih dua hari." Aku kembali memastikan.


"Gak percaya ya sudah."


"Kakak tau penyakitku?"


"Iya."


"Kalo aku nyerah?"


Mark langsung menatapku. "Kenapa?"


"Aku cape."


"Gak boleh."


Aku diam. "Gak ada yang mengharapkan aku kak."


Benarkan. Orang tua ku saja tidak mengharapkan aku sama sekali. Aku sudah terlalu menyusahkan banyak orang.


Bisa dikatakan aku tengah putus asa sekarang.


Kalau aku nyerah dan pergi semua tidak akan kesusahan.


Aku hidup menyusahkan banyak orang.


"Ada. Gue."

__ADS_1


...****************...


__ADS_2