Sunflower

Sunflower
Sahabat ku


__ADS_3

"Mamaaaaa!"


Pekikan itu reflek membuat orang yang berada dalam ruangan meringis seraya menutup telinganya. Zee datang dengan hebohnya langsung berlari ke arah Rea yang duduk di brankarnya.


"Sayang, jangan teriak-teriak!" Rea memperingati Zee, tangannya terulur untuk meraih tangan mungil Zee yang hendak memanjat untuk naik ke atas brankar.


"Solly," Bocah itu memelankan suaranya sambil menutup mulut.


"Zee!" panggil Varest pada anaknya yang masih berusaha memanjat. "Zee sama Papa saja, yah. Mama masih sakit," ujar Varest menggendong Zee.


Zee yang awalnya bahagia karena melihat sang Mama dalam keadaan sehat langsung mengerucutkan bibirnya tak terima karena dihalangi untuk bisa memeluk wanita yang melahirkannya itu.


Varest yang menyadari ekspresi sang Putra hanya bisa terkekeh, menjawil pipi kanan Zee gemas. "Jangan manyun gitu, ihh," godanya, "Papa punya hadiah buat Zee," lanjutnya sambil melangkah memutari brankar ke arah box bayi yang berada di samping kiri Rea.


"Adik Ji?"


Tanpa diberitahu lagi, bocah pintar itu sudah bisa menebak jika bayi yang berada dalam box yang tertidur nyenyak dengan selimut berwarna kuning itu adalah adiknya, adik yang selalu dia tanyakan kapan keluarnya dari perut sang Mama, adik yang selalu membuatnya seakan menjadi seorang bocah paling bahagia jika sudah bercerita dengan teman-temannya.


"Papa, ini adiknya Ji, kan?" tanyanya memastikan


Varest mengiyakan dengan anggukan dua kali, mendapat jawaban demikan dari sang papa kontan membuat binar gembira tercetak di bingkai wajah bulat Zee, anak Rea itu langsung meminta turun dari gendongan papanya ingin lebih dekat pada sang adik.


Semua orang yang melihat kebahagian Zee yang sangat kentara itu mau tak mau menerbitkan senyum disetiap bibir mereka, akhirnya penantian bocah itu telah berbuah manis sekarang.


"Woahh. Adik Ji tampan kayak Ji." Seru bocah itu heboh menempelkan wajahnya pada dinding box bayi.


Andin sedikit berjinjit guna melihat wajah dari anak kedua bosnya ikut penasaran seperti apa hasil cetakan dari dua orang yang selalu menjadi objek kehaluan oleh para karyawan di cafe.


"Ndin, kamu ngapain jinjit begitu?" tanya Mama Nimas yang menyadari tingkah karyawan anaknya itu.


"Maaf, Bu. Andin penasaran sama dedek bayi" jawabnya


"Kalau penasaran yah didatangi dong, Ndin, kan bisa dilihat langsung"

__ADS_1


Andin menyengir malu, memang seharusnya dia tidak merasa canggung seperti itu karena baik Rea dan Varest maupun kedua orang tua bosnya itu mereka selalu bersikap baik pada Andin. Tapi, yang namanya bos tetap lah bos, Andin merasa tetap harus bersikap selayaknya karyawan yang harus memiliki batasan untuk akrab pada atasan.


Dengan sedikit senyum Andin berjalan mendekat pada bayi itu berada setelah dipanggil oleh Rea dan juga Varest, dia merasa takjub dengan bayi di depannya seperti sebuah boneka yang begitu menggemaskan.


"Kalian tidak bersama Andi?"


Gerakan Andin yang hendak menyentuh pipi bayi itu langsung terhenti, dia teringat bagaimana Andi yang tak menghiraukannya saat berlalu dari cafe.


"Mm, dia masih di caf-"


Andin tak melanjutkan kalimatnya saat pintu tiba-tiba terbuka mengarahkan atensi setiap orang yang berada dalam ruangan tertuju pada dua orang yang datang.


"Dimana keponakan ku?" tanya Andi langsung memeluk Varest erat ikut bahagia setelah mendengar jika proses persalinan Rea berjalan lancar.


Varest menepuk punggung Andi, nampun pandangannya tertuju pada wanita yang berada tepat di belakang sahabatnya itu.


Melerai pelukannya ketika melihat wanita itu mendekati Rea, Varest memperhatikan lengan Rani yang sedikit tergores ulah dari istrinya. Tadi Rea sudah menceritakan bagaimana Rani bisa bersamanya dan membawanya ke rumah sakit dan itu cukup membuat dia merasa bersalah pada wanita yang sempat dia bentak itu.


"Bagaimana keadaan mu sekarang, Re?" tanya Rani menyentuh tangan Rea


"Sudah sewajarnya aku membantu, aku tidak mungkin diam begitu saja melihat orang yang butuh bantuan, selama aku bisa membantu aku akan melakukannya."


"Ran, bisa kita bicara sebentar?" Varest menginterupsi percakapan Rani dan istrinya, dia menoleh pada Rea untuk meminta izin dan Rea mengangguk setuju, bagaimanapun Rea yang memintanya untuk meminta maaf langsung pada Rani atas kesalah pahamannya tadi.


-


-


-


"Maaf"


"Hah?"

__ADS_1


"Istri ku sudah menceritakan semuanya, aku minta maaf sudah salah paham padamu." ujar Varest


Rani menghela nafasnya lantas tersenyum tanpa menoleh pada Varest. "Seandainya Rea tidak menceritakannya padamu, apa kamu akan tetap menganggap ku buruk?" hatinya berasa tercubit saat mengatakan pertanyaan itu.


Varest terkesiap, dia mengakui kesalahannya yang terlalu dikuasai emosi, jujur dia begitu takut jika sampai istrinya sakit terlebih yang menyakiti adalah orang yang pernah dekat dengannya.


Lelaki itu menyerong tubuhnya melihat pada Rani dari samping dengan jarak dua kursi darinya.


"Maafkan aku, Ran. Aku tahu aku salah, tidak seharusnya aku membentak mu tadi, tidak seharusnya aku menjadikan mu seakan tersangka untuk sesuatu yang ada dalam bayangan ku."


Rani tersenyum kecut. "Memang seperti apa aku dalam bayangan mu, Rest? Seperti apa aku akan bertindak?" Matanya berkaca-kaca, sungguh dia sudah mencoba untuk menahan hatinya akan setiap kalimat yang akan diutarakan oleh Varest diapun juga sudah berusaha agar air matanya tak mengalir tapi, setelah mendengar langsung bagaimana pandangan Varest padanya dia tak bisa menahan untuk tak menangis.


"Ran?"


"Bukan salah mu, Rest. Aku cukup tahu diri, aku yang sudah membentuk ketidak percayaan mu pada ku, hanya saja mendengar langsung kamu mengatakannya rasanya sedikit sakit." Rani menyeka air matanya dan menampilkan senyum paksa pada bibirnya


Entah mengapa melihat Rani yang menangis di depannya membuat Varest semakin merasa bersalah, dia mengingat cerita Rea yang menjadikan tangan Rani sebagai pelampiasan sakitnya selama dalam perjalanan ke rumah sakit.


Rani yang menyetir harus merelakan tangan kirinya dijadikan squisy dadakan saat Rea merasakan kontraksi, beruntung Rani masih bisa mengemudi dengan baik hingga mereka sampai di rumah sakit.


Pandangan Varest beralih pada lengan Rani nampak luka goresan dan darah kering yang menempel disana, Varest mengambil kotak kecil berisi perlengkapan P3K yang sempat dia bawa dari ruangan tadi.


Rani mengerutkan keningnya saat melihat tangan Varest terulur di hadapannya.


"Tangan mu" ucap Varest mengerti kebingungan Rani. "Luka mu harus dibersihkan, aku bertanggung jawab untuk luka yang dibuat oleh istriku, sekaligus sebagai ucapan terima kasih ku."


Rani menggeleng samar. "Kamu tidak perlu bertanggung jawab untuk sesuatu yang tidak seharusnya, apa yang aku lakukan itu adalah hal yang memang harus dilakukan oleh setiap orang. Ini tidak apa-apa" ujarnya


"Tapi, Ran, in-"


"Jujur Rest, sampai sekarang perasaan ku masih sama padamu, kamu tahu saat melihat Rea tadi aku memang sedikit memiliki rencana untuk tak memperdulikannya, aku fikir mungkin dengan meninggalkannya ditengah sakit seperti itu bisa saja membuatnya hilang dari hidup mu."


Varest membelalakkan matanya mendengar penuturan Rani, tapi sedetik kemudian dia langsung menghela nafasnya lega mendengar kalimat Rani selanjutnya.

__ADS_1


"Tapi ternyata aku masih memiliki hati nurani, Rest. Mendengar Rea menyebut nama ku dengan merintih hatiku luluh, aku tidak mungkin membiarkan dia pergi apalagi karena kesalahanku, aku tidak akan membiarkan sahabatku kehilangan wanita yang sangat dia cintai."


__ADS_2