
Pertemuan yang memakan waktu selama dua jam lebih itu cukup membuat fikiran Rea menjadi tidak tenang, kedua orang tua Rea lebih dulu memasuki rumah dengan Papa Abhi yang menggendong Zee yang tertidur.
“Kamu naiklah dan istirahat!” Ujar Mama Jenny menyentuh lengan Rea,
“Zee akan kami bawa ke kamar, kamu membutuhkan waktu untuk berfikir sekarang. Jadi,jangan khawatir tentang anak mu.” Timpal Papa Abhi
Rea takbersuara hanya memberi isyarat dengan mengangguk, kakinya gontai menaiki tangga menuju kamarnya dengan pandangan yang mulai memburam, segera dia membuka pintu menuju ranjangnya.
Wanita beranak satu itu tampak menyembunyikan wajahnya pada lutut yang dia tekuk untuk dipeluk, dadanya terasa sesak akan kejadian yang bermain pada ingatannya. Sebuah cerita masa lalu yang telah terbongkar secara jelas.
-
Tiga tahun lalu
Hingar bingar perayaan kelulusan pada sekumpulan Mahasiswa terdengar sampai keluar ruangan yang telah ditempati oleh sepuluh orang diantaranya enam laki-laki dan empat orang perempuan.
Berbagai jenis makanan tersedia diatas meja panjang dari makanan berat hingga dessert sebagai penutup sajian, setelah berkutat dengan skripsi dan persentasi yang menguras otak akhirnya mereka bisa merasakan kelegaan saat topi toga telah menutup kepala, topi berbentuk persegi dengan sudut-sudut yang memiliki arti agar Mahasiswa yang telah memakainya dapat berfikir secara rasional serta memandang sesuatu dari berbagai sudut pandang.
Berfikir dewasa penting dalam setiap tindakan, maka saat pendidikan yang telah di jalani selama bertahun-tahun telah terbayar dengan sebuah piagam wisuda dalam genggaman itu artinya kitapun dituntut untuk memanfaatkan segala pelajaran yang telah kita terima dengan baik.
"Selanjutnya apa rencana kalian?" tanya lelaki yang memakai kacamata
"Aku tidak punya rencana lain, usaha keluarga ku membutuhkan penerus" jawab salah satunya pongah
"Kalau aku mungkin akan tetap melanjutkan pendidikan lagi.” Tukas yang lainnya
“Wah, apakah otak mu tidak lelah berfikir?”
“Lelah, hanya saja bagiku semakin banyak ilmu yang aku dapat. Maka, semakin mudah juga aku kelak untuk mengurus dan berfikir mengenai pekerjaan ku.” Jawab lelaki yang bernama Alvin
Tampak tatapan bangga dari orang-orang yang mendengar jawaban lelaki itu. Memang benar ilmu tak ada batasnya, semakin banyak pelajaran yang kita tahu maka pekerjaan apapun yang kita lakukan akan terasa mudah untuk dikerjakan.
__ADS_1
“Kalau kamu, Ndi?” seorang gadis yang menggunakan behel bertanya pada Andi
Andi mengedikkan bahu, “Mungkin akan sama dengan Duta, melanjutkan usaha keluarga” katanya
“Kalau begitu aku ingin menjadi sekretaris mu saja, Ndi.” Tukas gadis yang bernama Mutia, “Siapa tahu kisah kita bisa kayak cerita di novel, dari sekretaris bisa jadi, mmm” lanjutnya tersipu
“Jangan menghayal kejauhan, Mut. Cerita di novel yang sesuai dengan ku itu adalah perjodohan bukan jatuh cinta dengan sekretaris.” Ucap Andi sarkas, “Aku sudah dijodohkan dari orok” karangnya.
Mutia mendesis setelahnya memalingkan wajahnya jengkel yang sontak membuat yang melihat perdebatan mereka tertawa. Andi memang dikenal hangat tapi juga memiliki ucapan pedas berbeda dengan Varest yang dikenal hangat tapi kalem.
Banyak cerita yang mereka bahas dari yang sekedar candaan sampai hal yang serius, Varest yang berada disana pun hanya sesekali menimpali, dia lebih banyak mendengarkan dari pada ikut bersuara untuk bercerita. Hingga menjelang waktu mereka untuk bersiap-siap pulang lelaki yang bernama Rio menghentikannya yang hendak meraih
tas.
“Rest, dari tadi kamu kebanyakan diam, kami juga ingin tahu rencanamu selanjutnya” ujar Rio
Yang berada disana juga mengamini tanda setuju, pandangan mereka fokus pada Varest menunggu jawaban. Namun, yang ditanya tak langsung menjawab, mata Varest berkeliling mengamati tatapan ingin tahu dari teman-temannya setelah itu tersenyum tipis.
Rio menepuk pundak bahu Varest dua kali, “Yah, kamu memang orang yang santai Rest, bahkan tanpa kamu meminta atau berusaha dengan giat semuanya bisa kamu dapat.” Ujarnya, setelah itu berjalan melewati Varest terlebih dahulu.
“Rest, aku bisa ikut kamu, tidak?”
Varest menghentikan langkahnya, saat ini mereka sudah berada di area parkiran dan hanya tersisa lima orang karena yang lainnya sudah pulang terlebih dahulu.
Varest menoleh pada gadis yang bertanya padanya tadi, gadis itu bernama Rani yang dikenal karena kecantikan dan kelembutannya. Selain itu dia juga diketehaui menyukai Varest sejak lama tapi karena Varest yang terlalu menutup diri dan tak merespon setiap sinyal yang diperlihatkan gadis itu. Maka, dia memutuskan untuk tak mempermasalahkannya selama Varest tidak menjauhinya.
“Varest tidak searah dengan mu, Ran.” Rio menjawab sebelum sempat Varest bersuara.
“Aku saja yang mengantar mu.” Ucap Rio sembari menarik tangan Rani
Gadis itu menepis tangan Rio cepat dan melingkarkan tangannya di lengan Varest. Varest tersentak tindakan tiba-tiba dari Rani membuat dia seketika menoleh kearah Rio, dia sadar jika ekspresi yang nampak dari wajah Rio adalah tanda tak suka.
__ADS_1
Tapi, sekali lagi Rio kembali menarik Rani hingga gadis itu meringis kesakitan.
“Jangan memaksa kalau orangnya tidak ingin kamu antar” sarkas Varest pada Rio yang membuat lelaki itu tersenyum meremehkan.
Andi yang berada di sebelah Varest menimpali, “Tenang lah Yo, kalau Rani memang minta diantar oleh Varest berarti tujuannya bisa jadi bukan ke rumah tapi yang lain, dan mungkin searah”
Rio memutar bola matanya jengah, “Kamu tidak tahu apa-apa, lebih baik kamu diam!” bentaknya pada Andi
“Sebenarnya apa masalah mu, Yo?” Mata Varest nyalang, dia tidak suka sahabatnya dibentak seperti itu.
“Masalah ku adalah kamu, kamu terlalu ikut campur urusan ku dengan Rani”
Varest mengerutkan alisnya bingung, “Jangan bercanda, aku tidak pernah mengurusi masalah orang lain” katanya
“Jangan mengelak, kamu bilang tidak menyukai dia tapi tidak pernah menolak permintaanya.” Tunjuknya pada Rani yang berdiri masih memegang lengan Varest. “Munafik” lanjutnya.
Rahang Varest mengeras, dia berusaha menahan emosi dia tidak menyukai ucapan yang diutarakan oleh lelaki di depannya itu.
“Aku tidak mengelak apapun, karena aku memang tidak menyukainya, aku hanya menganggap dia sebagai teman, dan bagaimana aku menuruti permintaannya itu wajar selama yang dia minta juga dalam batas wajar.”
Rio mendelik, “Buktikan!” titahnya, “Kalau kamu bisa membuktikannya aku akan mempercayai mu. Tapi, jika kamu menolak berarti kamu memang seorang yang munafik” sambungnya sambil tersenyum meremehkan.
“Apa yang kamu inginkan?”
“Ayo kita balapan!” tantangnya, “Jika aku menang, kamu harus menjauhi dia”
Andi memutar bola matanya malas, setelahnya melerai tatapan marah keduanya dan beralih pada Rio, “Jangan bertingkah seperti anak remaja labil, menyelesaikan masalah dengan cara eperti itu sungguh kekanakan. Kamu harus bisa melihat yang mengejar disini adalah Rani bukan Varest.” sarkasnya
Rani yang disebut namanya merasa tertohok, dia menunduk tak bisa berkata apa-apa, sampai kalimat yang terucap dari Varest memaksanya untuk mendongak dengan mata yang membelalak.
“Ayo kita lakukan!,”
__ADS_1
Wajah Rani pias, ini adalah peryataan secara tak langsung jika lelaki yang sudah dia sukai sejak lama memang tak pernah menganggap dan menyukainya barang sedikitpun.