Sunflower

Sunflower
Keluarga sempurna


__ADS_3

"Pagi mbak Rea"


Senyuman mengembang dari setiap wajah yang Rea lewati, rasa kagum dari semua pasang mata yang berada disana tak bisa disembunyikan terbukti dari cara mereka berbisik dan memandang Rea hingga wanita itu hilang dari pandangan.


"Wahh, bidadari masuk cafe." Pekik salah satu karyawan cafe yang bertugas sebagai bartender.


"Beruntung banget yah mas Varest bisa dapat istri secantik itu?" Timpal yang lain seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Lebih beruntung mbak Rea lah, dapat suami kayak mas Varest sudah ganteng, perhatian, penyayang, dan yang plus-nya lagi mapan pula!" Salah satu waitress tak ingin kalah membanggakan bos utamanya.


"Aduhh, kok malah ributin siapa lebih beruntung sih?, yang jelas tuh dua-duanya sama-sama beruntung." Ujar karyawan lainnya yang bertugas dibagian dapur. "Aku tuh malah penasaran anak keduanya ini kayak apa wujudnya?, emak bapaknya saja kayak gitu apa lagi anaknya yah?" Lanjutnya sembari mendongak keatas membayangkan parah calon adik Zee kelak.


Waktu masih tersisa beberapa menit hingga cafe dibuka, maka dari itu para karyawan yang sudah selesai dengan persiapan mereka menyempatkan untuk menyambut Rea sekaligus untuk memuji. Memang tak bisa dipungkiri kehamilan kedua Rea ini membuat aura kecantikan Rea begitu terlihat.


Selain karena keluhan hamil yang lebih dominan dirasakan oleh suaminya hingga membuatnya tampil segar, juga karena kehamilannya ini membuat dia lebih suka menghias diri, entah karena apa. Tapi sebagian orang percaya jika seorang wanita hamil yang lebih suka berdandan atau aura kecantikannya lebih terlihat berarti dia sedang mengandung anak perempuan, namun tak sedikit juga yang mengatakan sebaliknya. Meski demikian sebagai seorang ibu yang  menantikan kehadiran buah hati pasti tak akan mempermasalahkan jenis kelamin asalkan sang anak lahir sehat dan selamat.


Ini adalah hari kelima Rea kembali beraktifitas di cafe setelah kehamilannya diketahui, awalnya Varest menolak jika Rea harus melanjutkan pekerjaannya tapi karena Rea memaksa ingin tetap bekerja maka Varest hanya bisa menuruti keinginan sang istri namun tetap menyuarakan beberapa syarat salah satunya tidak ada pekerjaan yang akan membuat dia stres nantinya.


"Ndin?"


"Iya Mbak?" Andin berdiri dari duduknya saat Rea memanggilnya, gadis cantik itu berjalan menuju meja bosnya yang tengah menikmati segelas susu hamil.


"Ndin, aku lihat omset kita bulan ini naik hampir 20%, ini adalah hitungan gabungan dengan cabang yang baru kita buka." Kata Rea mengarahkan layar kamputernya ke arah Andin.


Gadis berambut lurus itu mengangguk seraya meneliti laporan keuangan berbentuk grafik tersebut. "Kenaikan omset bulan ini masih dipengaruhi oleh promosi pembukaan kita, mbak. Tapi yang aku lihat meski promosi kita sudah tak lagi berlaku omset masih akan tetap bertahan, ini karena review dari pelanggan yang sudah mencoba menu dan menyukai konsep yang kita buat di cabang." Jelasnya penuh keyakinan.

__ADS_1


"Benarkah?"


"Hmm, dari awal pembukaan cabang banyak Food Vlogger dan Youtubers yang merekomendasikan cafe kita sebagai cafe yang patut dikunjugi, maka dari itu banyak yang berminat datang langsung untuk melihat dan menikmati menu yang kita sediakan. Sejauh ini review mereka sangat berperan baik untuk omset kita"


Rea mengangguk mengerti, lumayan takjub dengan perkembangan teknologi sekarang. Bagaimana sebuah usaha akan mudah dikenal masyarakat saat sudah dipasarkan melalui teknologi canggih yang mulai berkembang. Media sosial bukan sebatas media penghubung antara satu dan yang lain. Tapi, media yang mencakup keseluruhan informasi dan berita yang digunakan sebagai sarana berpartisipasi, berbagi, berinterasksi, dan mencipatakan ladang usaha.


"Apa kita perlu membuat blog juga?" Rea mengangkat kepalanya niat untuk melihat ekspresi yang dipasang oleh gadis seumurannya setelah mendengar sarannya tadi.


"Aku rasa itu ide yang bagus, mbak. Kita bisa memperluas pengetahuan masyarakat mengenai apa yang menjadi kelebihan cafe Sunflower, Disana kita bisa menulis tentang informasi kopi dan juga yang lain." Andin menimpali dengan semangat.


Obrolan mengenai rencana baru itu berjalan cukup lama hingga suara pintu ruangan Rea terbuka pelan memperlihatkan dua kepala yang menyembul disana.


"Mamaaa" Ucap pemilik kepala tersebut bersamaan. Yah keduanya adalah Varest dan Zee yang datang tanpa memberi kabar.


"Halo, tante cantik" Sapa Zee sesaat setelah dia menginjakkan kakinya di depan Andin.


"Ji sibuk belajal tante, jadi Ji tidak bisa main-main telus kesini" Ucap bocah yang memakai seragam identitas sekolahnya itu.


Ketiga orang dewasa itu hanya terkekeh gemas mendengar jawaban Zee yang malah terdengar seperti alasan orang yang sudah memiliki kesibukan segunung.


"Yah sudah, mbak, mas, aku ke bawah dulu yah?" Pamit Andin sambil berdiri dari duduknya kemudian dia keluar ruangan setelah dibalas anggukan oleh Rea dan Varest.


"Andin, tadi Andi nitip salam." Andin baru saja ingin menutup pintu saat Varest bersuara yang membuat pipi gadis itu merona mendengar nama yang disebutkan oleh sang bos, Tak menimpali dan hanya tersenyum canggung Andin kembali melanjutkan langkahnya.


Rea yang berada disamping Varest dibuat gemas dengan tingkah jahil suaminya yang malah menggoda Andin, tangannya di dekatkan di perut sang suami dan setelah merasa cukup untuk digapai dengan cepat dia mencubit perut berbentuk roti sobek itu hingga membuat si empunya perut meringis seraya mengelus perutnya.

__ADS_1


"Sayaaang, sakit loh." Kata Varest manja.


"Yah abis, kamu kok senang banget godain Andin setiap kali kesini. Anak gadis orang kamu buat malu tadi." Omel Rea.


"Bukan gitu sayang, aku kan cuma menyampaikan amanah dari Andi" Yah, ini bukan hanya alasan Varest saja untuk terhindar dari omelan sang istri, tapi karena lelaki yang bernama Andi memang menitipkan salam via telpon saat tadi dia mengajak Varest untuk makan siang.


Zee yang berada ditengah antara kedua orang tuanya yang berdiri hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua orang yang disayanginya itu malah saling membalas cubitan manja. Kaki pendeknya melangkah melewati Rea dan Varest tanpa disadari oleh keduanya, dengan sedikit kesusahan dia menarik tas punggungnya yang merosot seraya medekap tas mamanya di depan dada.


"Mamaa, papaa, Ji lapel. Ayo cepaaat!" Pekik Zee tiba-tiba saat menyadari bahwa kedua orang tuanya belum juga keluar ruangan padahal tadi diajak kesini untuk makan siang.


"Iya sayangg!" Balas Rea dan Varest bersamaan sembari terkekeh melihat anak sulung mereka memanyunkan bibirnya marah.


Ketiganya turun dari ruangan Rea dengan Zee yang sudah anteng di dalam gendongan Varest serta Rea yang bejalan di samping Varest. Tawa sesekali terdengar saat mereka melewati ruangan menuju pintu keluar berniat untuk makan siang di restoran langganan Varest.


Antara kagum dan iri, mungkin itulah yang sekarang bisa diartikan dari bisik-bisik yang dilakukan oleh karyawan cafe. Mereka nampak memperhatikan interaksi ketiga pemilik cafe yang menjadi tempat mereka mengais rejeki.


"Yang paling beruntung adalah anak-anaknya." Salah satu berucap


"Kapan yah aku juga punya keluarga sempurna kayak mereka" Timpal yang lainnya memekik penuh harap.


"Shalat Tahajjud biar cepat terkabul."


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2