
"Kenapa kepala lo?"
Aku diam pura-pura tidak mendengar pertanyaan Lia dan lebih fokus pada tugas matematika yang belum aku kerjakan. Tadi malam setelah pulang dari rumah sakit aku mandi langsung tidur rasanya badanku remuk semua. Waktu dokter datang mengobatiku pun aku dalam keadaan tertidur tau-tau paginya kepalaku sudah diperban.
Brakk.
Aku terlonjak kaget. Menatap tajam Lia yang kini menatapku datar. Gara-gara tendangan Lia pada meja membuat coretan dibukuku saking terkejutnya. Memang hal buruk jika mendiamkan Lia seperti ini.
Aku menghembuskan nafas pelan lalu menatap Lia sepenuhnya. "Kejedot pintu Lia."
Lia memicingkan mata curiga. Aku sudah keringat dingin semoga saja dia percaya.
"Kok sampek diperban?"
"Lo kayak gak tau kakek aja sih."
"Iya juga sih walau lo kesandung juga bakal langsung dibawah ke UGD." Lia mangut-mangut percaya.
Syukurlah dia percaya.
"Halo Agatha cantik."
Kompak aku dan Lia menoleh pada sumber suara. Sata datang dan langsung duduk dihadapanku. Matanya melotot kaget melihat kepalaku yang diperban. Ayolah ini aku bukan mumi lagi pula perbannya hanya sedikit tidak sampai membungkus kepalaku.
"Kenapa tuh kepala habis kejedot dinosaurus?" katanya ngawur.
Aku hanya mengangguk agar dia tidak bertanya lebih jauh.
"Lo ngapain sih Tan?" dengus sebal Lia. Aku tidak tau kenapa Lia sangat sensi pada Sata.
"Menurut lo?" Sata meletakkan buku tugasnya diatas meja. Ikut menyontek tugas Lia maksudnya,
Lia yang melihat itu langsung melotot. "Heh! siapa yang ngijinin lo nyontek hah?"
"Yaelah berbagi itu indah kawan."kata Sata. "Sesungguhnya ji-"
"Stop stop stop! Gue gak butuh ceramahan lo."
"Siapa juga yang mau cerama."
Aku hanya diam tidak memperdulikan Sata dan Lia yang tengah bertengkar. Fokusku hanya pada tugas matematika ini. Soalnya hanya lima sih tapi jawabannya bercabang kemana-mana. Belum lagi guru yang mengajar matematika ini sangat galak aku tidak mau berurusan dengan guru.
Sesekali aku bertanya pada Lia darimana jawaban itu berasal. Percayalah walaupun aku menyontek tapi aku masih berusaha memahami darimana jawaban itu berasal bukan hanya nyontek langsung dikumpulkan.
Selesai sudah. Bel masih tersisa lima menit untuk berbunyi.
"Kepala lo kenapa sih?" Kata Sata yang diangguki Lia.
Aku mendengus kesal. Aku kira mereka bakal lupa dengan topik tadi. Sata memicing matanya curiga tidak beda jauh dengan Lia. Padahal aku adi sudah bersyukur Lia tidak mengintrogasiku.
"Dibilang kejedot pintu juga."
Ku rasa Sata tidak percaya terlihat dari raut wajahnya. "Kejedot pintu kok sudut bibir lo lebam?"
Lia langsung meraih wajahku dan melihatnya instens. "Eh iya njir kok gue gak nggeh." hebohnya.
"Kejeblung got." Agatha bodoh alasan macam apa itu.
"Kok bisa?"
Ini juga manusia satu tanya mulu. "Nyelametin kucing tenggelem."
"Loh pikir kucing kayak lo gak bisa berenang." Lia menyentil jidatku.
Aku melotot. "Enak aja gue bisa berenang ya!"
"Iya gaya batu."
Aku cengengesan. Mataku kembali menatap Sata yang fokus pada ponselnya. Kayaknya sedang mengetik dilihat dari jari-jarinya yang bergerak lincah.
"Ngapain lo masih disini?"
Sata menoleh. "Yaelah neng galak bener sama gue. Awas suka loh."
Lia memutar bola matanya malas. "Gue suka sama lo? Sori gue masih doyan cogan."
__ADS_1
"Didepan loh ini cogan ya. Tinggi? Iya. Tajir? Iya. Ganteng? jangan ditanya." Sata mengusap poninya kebelakang dengan muka songong.
"Tapi bego."
"Untung lo udah nyontekin gue kalo gak udah gue buang lo kebelakang sekolah." Sata mendengus sebal lalu kembali ke tempat duduknya.
Lia melotot mengambil ancang-ancang menyerang Sata. Aku hanya terbahak melihat mereka bertengkar. Sampai guru matematika datang.
***
"Tha,"
Aku hanya berdehem. Kantin sangat ramai sekarang. Alunan lagu Alan Walker menggema diseluruh kantin. Lumayan panas karena terlalu banyak orang tapi masih untung ada ac ditempat ini.
"Lo nyadar gak sih?"
Aku menyengitkan dahi. Sebenarnya apa yang ingin diucapkan gadis ini.
"Disini gak boleh mewarnai rambut."
"Terus?"
Bingung? Iyalah pasti. "Lo kalo ngomong yang jelas kek gak ngerti gue."
Lia mendengus. "Lo gak nyadar rambut lo coklat madu."
Reflek aku langsung melihat rambutku yang tergerai. Aku sengaja menggerainya karena habis keramas. Demi Tuhan aku tidak sadar jika rambutku coklat.
"Tapi kok cewek disana rambutnya ombre pink." kataku tidak sengaja melihat seorang cewek dengan rambut ombre pink memasuki kantin dengan kedua temannya.
Lia menoleh kebelakang. "Kalo dia mah mana taat aturan. Orang tuanya termasuk donatur terbesar disekolah ini makanya dia berani. Dia juga tukang buli disini gak ada yang berani sama dia karena dia selalu ngancam bakal ngeluarin dari sekolah."
"Astaga gue pikir cuma dikorea doang ternyata disini sama aja ya."
Lia terkekeh pelan. "Duit dan kekuasaan yang bicara sekarang."
Aku mengganguk membenarkan ucapan Lia. "Btw, siapa namanya?"
"Melani." katanya setelah menelan mie ayam. "Lo jangan berurusan sama dia ya."
Aku tersenyum mengangguk. "Gue kesini mau lulus dengan damai kali." kataku. "Lagian siapa yang mau berurusan sama dia,"
Aku diam pura-pura tidak mendengarnya. Memilih mengahabiskan mie ayam.
"Gue curiga sama lo deh." suara Lia berubah datar. "Jujur Agatha kepala lo kenapa trus muka lo kenapa lebam-lebam gitu? Lo habis tawuran."
"Kan tadi gue udah bilang kalo ke-"
"Kejedot pintu, keceblung got nolongin kucing?" Lia menggertakan giginya. "Gue gak sebodoh itu Agatha."
Aku menelan ludah kasar. Aku menghembuskan nafas pelan. "Kemarin Hana dikeroyok dijalan. Kayaknya lo tau kelanjutannya." kataku pelan menunduk sambil memainkan ujung rambutku.
Hening.
Lia tidak membuka suara. Aku mendongakkan kepala menatapnya ternyata dia tengah menatapku tajam. "Jadi lo selamin si anak lampir itu dan lo berantem sama orang yang ngeroyok Hana. Nenek lampir tau dan nyalahin lo. Kepala lo dibenturin kemana? Tembok? Kursi?"
Aku meringis mendengar asumsi Lia 92% benar. Aku hanya diam.
Lia terlihat menahan emosi melupakan mie ayamnya yang belum habis. "Kalo ada apa-apa telfon gue bisa gak sih." kesalnya.
"Maaf."
"Kalo ada apa-apa kasih tau gue siapa tau gue bisa bantu."
"Iya."
"Tapi beneran kepala lo gak apa-apa"
Aku menggeleng. "Mie ayam lo dingin tuh." aku menunjuk mie ayam Lia dengan dagu.
"ASTAGA AGATHA TUH KAN GARA-GARA LO SIH!"
Aku reflek menutup telinga. Suara Lia memang luar biasa kini semua orang dikantin menatap Lia tajam. Aku hanya menunduk minta maaf.
Aku menompang kepala tersenyum melihat Lia yang komat-kamit baca mantra karena mie ayamnya dingin. Melihat Lia kesal sungguh menyenangkan.
__ADS_1
Tapi beberapa saat kemudian aku merasakan cairan kental mengalir dikepalaku.
Brakkk!!
Kamus bahasa inggris tiba-tiba melandas mulus dibelakang kepalaku. Reflek aku kaget, siapa juga yang gak kaget kalian bayangin seberapa tebal kamus itu.
"Heh! Apa-apaan sih lo?!" Lia berdiri sambil menggebrak meja.
Aku masih diam, menahan pening yang tiba-tiba datang. Tanganku masih memegang belakang kepala. Sedetik kemudian aku tau apa yang mengalir dikepalaku tadi.
Kecap.
"Ngapain lu deket-deket Mark?! Hah!" serga suara itu tinggi. Menarik rambutku keras.
"Heh! Genderuwo lepasin tangan kotor lo dari temen gue!" sergah Lia menampir tangan Gadis yang masih mencekal rambutku.
Melani melirik sinis Lia. "Lo jangan ikut campur!"
"Gimana gue gak ikut campur lo udah ganggu waktu makan gue!!"
Melani menunjukku dengan telunjuknya. "Lo jangan belagu disini lo hanya murid baru! Jangan mentang-mentang lo pindahan dari Korea jadi semena-mena."
Aku diam menatap Melani dengan tajam. Siapa yang semena-mena dengan siapa. Padahal aku niatnya tidak ingin mencari masalah dengannya. Tapi apa tadi? Mark.
Ini Mark siapa lagi.
Aku berdiri menurunkan tangan Melani pelan. "Maaf ya. Gue gak tau lo ngomong apa? Mark?"
"Gak udah pura-pura bego!!" sergah Melani mencekikku dengan cepat.
Aku memegang tangan Melani yang ada dileherku. Jujur ini sakit mukaku bahkan sudah memerah. Tampaknya Melani tidak berniat melepaskan tanganya dan berniat membunuhku?
Lia sudah panik setengah mati mencoba melerai kami tapi sia-sia kedua teman Melani sudah memblokir Lia. Seluruh kantin tegang tidak ada yang berani mengahalangi Melani. Apa sebegitu besar peran Melani disekolah ini.
Melani tampah mengeratkan tanganya pada leherku. Aku hampir sesak nafas, dengan sekuat tenaga aku menahan tangan Melani agar tidak mencekik leherku lebih kuat.
"Le..pas.."
"Gue gak berniat ngebunuh lo kok tenang aja." Melani tersenyum sinis.
Apa aku akan mati?
Siapapun tolong.
Brakk!!
Plakk!!
Seorang cowok menendang meja mendorong Melani lalu menamparnya. Otomatis cekalan Melani pada leherku lepas.
Aku terbatuk. Menghirup udara sebayak mungkin. Leherku rasanya patah. Air mataku perlahan keluar.
"Kamu gak apa-apa? Mana yang sakit?" Cowok itu menatapku khawatir lalu memelukku dengan erat. "Tenang ya."
"Mark kamu nampar aku?!"
Mark menatap Melani tajam. "Kenapa? Mau dicekik juga?!"
Melani terdiam takut. Tidak menyangka Mark akan semarah ini.
"Gue peringatin kalian semua jangan pernah ganggu cewek ini!!" ancam Mark sambil memelukku dari samping. Wajahnya tegas menahan marah. Rengkuhannya juga sangat erat mencoba menyampaikan jika aku akan baik-baik saja.
Aku ingin menangis. Jujur. Badanku sakit semua. Kepalaku pusing.
"Mark kamu siapa dia sampai bela-belain kayak gini?!" teriak Melani menggelegar dipenjuru kantin.
Mark menatap Melani sinis. "Bukan urusan lo. Jangan deket-deket Agatha lagi!" nadanya penuh ancaman. "Kalo gak lo bakal tau akibatnya."
Mark menggiringku keluar kantin. Tidak ada satu pasang mata yang tidak menatapku.
"Udah gue bilangin sih." Jeno menatap remeh Melani. "Gadis nakal."
Duakk!!!
"Heh genderuwo jangan sentuh-sentuh gue. Huaahh Mamaaa Lia terkontaminasi cabe lampu merah." heboh Lia setelah menendang tulang kering teman Melani yang memeganginya. "Gue harus mandi kembang tujuh rupa. Agatha juga harus!"
__ADS_1
Hanya itu yang mampu ku dengar sebelum berbelok meuju uks.
***