
Untuk kesekian kalinya Varest harus merelakan makanan enak yang masuk dalam perutnya ketika makan malam harus keluar paksa saat pagi menyapa. Sudah biasa, karena itulah Rea sudah berdiri di depan kamar mandi menunggu Varest untuk segera keluar dari sana, Varest sendiri tak membiarkan Rea ikut masuk ke dalam kamar mandi saat dia memuntahkan isi perutnya karena alasan yang menurut Rea tak masuk akal, katanya malu.
Ditangan Rea sudah ada aromaterapi yang menjadi kesukaan Varest, lelaki itu tak cocok dengan aroma yang lain selain aroma splash fruit. Hampir 10 menit Varest berada di dalam sana sampai pintu terbuka dan menampakkan Varest yang keluar dengan senyum lebarnya.
"Aku sudah terbiasa sekarang." Ucapnya enteng yang membuat Rea menatapnya bingung.
"Apa yang terbiasa?" Tanya Rea, kakinya mengikuti langkah suaminya yang hendak keluar dari kamar.
Varest tak menjawab, dia masih melanjutkan langkahnya menuju dapur, dia tidak akan membiarkan tubuhnya lemas hanya karena perutnya yang kosong setelah memuntahkan isinya tadi.
Tangannya meraih segelas susu yang sudah tersedia diatas meja berdampingan dengan satu porsi sandwich yang sudah dia minta buatkan sebelumnya, Varest tak lagi banyak merengek mengenai ngidamnya karena orang-orang disekitarnya pun sudah mengerti apa yang harus mereka lakukan agar terhindar dari amukan Varest karena membuat moodnya buruk.
"Sayang, hari ini aku ada meeting." Beritahu Varest tentang agendanya hari ini.
"Iya, aku tahu." Rea duduk di kursi samping Varest, tangannya dia letakkan di atas meja untuk menopang dagunya memperhatikan sang suami yang terlihat sudah benar-benar terbiasa dengan rutinitas paginya.
Hari ini penampilan Varest sudah lengkap dengan kemeja dan rompi yang melekat pada tubuhnya. Tak biasa memang, karena hari-hari sebelumnya Varest tak pernah bersiap-siap sepagi ini bahkan sudah rapi sebelum dia memuntahkan isi perutnya.
Ngidam apa lagi dia hari ini?. Kira begitulah yang ada difikiran Rea saat ini.
Bukan tanpa alasan tapi memang kehamilan simpatik yang dialami Varest selama beberapa minggu ini membuat dia tak sepenuhnya mengenali sang suami yang kadang berubah sesuai mood, membahagiakan memang mengetahui kondisi ini karena itu menandakan bahwa Varest begitu perduli dengan kehamilannya, begitupun dengan perasaan lelaki itu kepadanya.
"Sayang, kamu ikut ke kantor, yah?" Pinta Varest, ikut menopang dagunya seraya tersenyum lebar.
Rea mengerjap, "Untuk apa aku ikut?, aku juga ada kerjaan di cafe" Tolak Rea
"Sayaaang, temani aku saat meeting." Varest dalan mode manjanya, lengan Rea dia goyangkan pelan sembari menggeser kursinya untuk lebih dekat dengan sang istri.
bergidik, Rea meloloskan satu tarikan nafas dihidungnya kasar. Sekarang dia tahu maksud dari sang suami yang bersikap biasa saat mualnya tadi, ternyata Varest memiliki rencana lain tak ingin dianggap tak kuat hingga minta Kanta menjaganya selama meeting berlangsung.
__ADS_1
"Sayang, Kanta bisa menemani mu selama meeting," Rea masih berupaya menolak. "Kamu tidak akan kesusahan dengan parfum yang rekan mu gunakan, asisten mu itu sudah mengatasinya, bukan?"
"Aku sudah sehat, aku tidak butuh penjagaan Kanta. Aku hanya butuh kamu menemaniku hari ini." Tukas Varest. "Sayang, tolonglah!. Aku butuh kamu disamping ku"
-
-
-
Di dalam ruangan diantara banyaknya orang yang berada disana, Rea hanya bisa duduk terdiam mengamati orang-orang yang mengelilingi meja panjang berbahan kaca tebal diatasnya. Yah, Rea akhirnya menyetujui keinginan Varest untuk menemaninya meeting.
Meski masih berada dalam satu bangunan yang sama dengan kantor yang biasa Rea datangi tapi ini adalah pertama kalinya dia menginjakkan kakinya di dalam ruang itu, tempat meeting yang biasanya di tempati hampir semua petinggi perusaahan AdVar Company.
Meeting hari ini sepertinya lebih serius dari yang biasa Varest ceritakan yang hanya berisikan masalah internal kantor dan dihadiri oleh karyawan saja, ini lebih penting karen ada beberapa orang yang sama sekali tak pernah Rea lihat sebelumnya.
Seperti seorang wanita yang duduk tak jauh di seberang dia duduk, wanita itu cantik dengan kulit yang putih mengkilat, mata yang dihiasi bulu mata tebal hasil eyelash extension itu tak hentinya menatap suaminya dengan tatapan yang tak bisa Rea artikan.
"Oke, Pak Varest. Kami terkesan dengan pembahasan kita hari ini, aku harap kedepannya kita bisa sama-sama menguntungkan." Ujar seorang laki-laki paruh baya sembari menjabat tangan Varest.
Varest tersenyum mengangguk menyambut tangan laki-laki yang diyakini Rea adalah klien besar suaminya tersebut.
"Oh iya, Pak Vares. Kenalkan ini adalah anak saya" Ucap lelaki itu lagi menoleh pada wanita cantik yang berdiri di sampingnya.
"Rani" Wanita yang bernama Rani itu mengulurkan tangannya dan disambut oleh Varest diselingi senyum yang sialnya menganggu mata Rea.
"Kedepannya anak saya yang akan memegang proyek ini, jadi aku harap pak Varest bisa membantunya" Pinta lelaki yang mengaku sebagai ayah dari wanita tersebut.
"Tentu, ini adalah proyek bersama, jadi saya juga mengaharapkan semuanya berjalan lancar." Balas Varest realistis.
__ADS_1
Akhirnya acara yang berjalan hampir dua jam itu berakhir, Varest, Rea dan Kanta keluar ruangan bersamaan dengan Rea yang berada ditengah. Kehamilannya yang baru bejalan 3 bulan itu masih tak membuatnya kesusahan dalam mencari pakaian karena memang perutnya yang belum nampak membuncit.
Dia memakai dres yang tak terlalu ketat dengan panjang sesenti dibawah lutut, terlihat elegan dengan make up tipis serta ramput yang tergerai.
Langkah ketiga orang itu terhenti tatkala suara dari seorang wanita memanggil nama Varest
"Rest..!" Rani mendekati Varest dan berhenti tepat di depan suami Rea tersebut.
"Long time no see, Rest" Katanya dengan senyum yang mengembang dibibir merahnya.
Varest terdiam, sudah dia perkirakan sebelumnya bahwa ini akan terjadi. Matanya melirik pada sang istri yang juga menatapnya dengan tatapan yang seakan meminta jawaban tentang siapa wanita di depannya.
Lelaki dengan rompi berwarna merah maroon itu mengerjab sekilas sebelum bersuara. "Iya, lama tidak bertemu, Ran." Ucapnya.
Rani tersenyum menanggapi, sedikit kelegaan dihatinya jika lelaki di depannya ternyata masih mengingatnya, awalnya dia merasa jika Varest lupa melihat sikapnya yang dingin padanya saat meeting tadi.
"Rest, apa kamu ada waktu nanti?" Tanya Rani sambil melihat jam tangan Rolex yang melingkar pada tangan kirinya.
"Kenapa?"
"Jika ada waktu, aku ingin mengajak mu makan siang"
Rea yang dari tadi diam seketika membulatkan matanya, tangannya yang tersembunyi di belakang badannya sedikit mengepal.
"Maaf Ran, tapi aku sudah ada janji" Tolak Varest lembut.
"Janji?"
"Iya" Tangannya melingkar dipinggang Rea dan membuat sang istri terkesiap. "Aku sudah ada janji dengan dokter untuk membawa istri ku periksa" Jelasnya yang sontak membuat Rani membulatkan matanya, sedangkan Rea malah tersipu.
__ADS_1
"I-istri?" Rani bertanya ragu, bola matanya bergetar serta tenggorokan yang seakan tercekat.
"Iya, istri ku, dan sedang hamil 3 bulan"