Sunflower

Sunflower
Waspada, waspada


__ADS_3

"Kamu harus waspada, Rest"


Satu kalimat yang menjadi saran atau yang lebih terdengar seperti kalimat untuk menakuti itu lolos dari mulut Andi. Sedikit kaget dia mendengar cerita Varest yang mengatakan bahwa salah satu orang dimasa lalu sudah kembali dan malah bergabung pada perusahaannya.


Andi paham mengenai kekhawatiran Varest saat ini apalagi lelaki itu tahu bagaimana watak keras Rani saat masih bersama di kampus dulu, gadis cantik dari keluarga kaya raya yang selalu mendapatkan apa yang dia mau dengan mudah. Hanya saja tak sedikit harapannya bahwa prinsip itu akan hilang bersamaan dengan usianya yang semakin dewasa.


Rani memang masih bisa menempatkan kuasanya mengenai perasaan, dia tak pernah memaksakan diri untuk dapat diterima oleh hati Varest. Tapi, bukan juga tanpa usaha, wanita bernama lengkap Farani Aufanti itu juga tak segan untuk menempel pada Varest agar mendapatkan perhatian sehingga gadis yang berniat mendekati Varest akan mundur tanpa perjuangan.


"Bukan lagi waspada, Ndi. Aku bahkan menjaga agar tidak ada celah untuknya." Ujar Varest sembari meletakkan jusnya kembali ke meja.


Saat ini mereka sedang makan siang bersama di ruangan Varest, tadi Andi datang membawa 2 plastik berisi makan siang yang dia pesan di restoran langganan keduanya. Andi yang memakai kemeja berwarna mocca itu terlihat semakin gagah dengan celana berwarna putih serta kaca mata hitam yang masih bertengger di hidung tingginya.


"Mau terlihat ganteng di depan siapa kamu?" Sarkas Varest yang baru menyadari jika sahabatnya itu masih setia dengan kaca matanya bahkan saat di dalam ruangan.


"Aku memang ganteng dari lahir, Rest. tak perlu bersusah payah untuk memperlihatkannya." Balas Andi pongah.


Varest mencebikkan bibirnya mendengar jawaban Andi. tangannya terangkat untuk membuka kaca mata hitam yang menurutnya mengganggu itu, tapi sang empunya kaca mata malah menahan dengan alasan yang membuat Varest menganga seketika.


"Kamu berkelahi dengan siapa?" Pekik Varest menangkup kedua pipi Andi.


"Astaga, Rest. Jangan berlebihan, ini bukan luka yang serius" Andi melepaskan tangan Varest yang menempel pada pipinya, dia melanjutkan makannya yang sempat tertunda karena ulah Varest.


"Kamu berkelahi dengan laki-laki?"


"Ah, gila. Tentu aku berkelahi dengan laki-laki!, kamu fikir aku akan terluka gara-gara pukulan wanita? yang benar saja pertanyaan mu itu." Andi sedikit emosi dengan pertanyaan tak masuk akal yang terlontar dimulut Varest.


"Aku berkelahi dengan mantan Andin"


Varest merotasikan bola matanya bosan, sudah dia duga hubungan percintaan sahabatnya dan karyawannya itu tidak akan berjalan mulus selama si gadis belum bisa memberi ketegasan untuk hubungan mereka, sejauh ini Andi masih berusaha untuk menjadikan Andin sebagai kekasih tapi gadis itu masih terlihat ragu untuk menerima meski bisa dilihat jika dia juga menyukai lelaki itu, alhasil Andi harus menahan diri saat gadis yang dia kejar masih terus diganggu oleh mantan yang ingin kembali karena dia tak memiliki hak untuk melarang.

__ADS_1


"Boleh aku memberi saran?"


"Hmm"


"Aku rasa kamu harus berhenti untuk mengejar Andin!"


Andi reflek menoleh pada Varest, tatapannya tajam tanda tak suka dengan saran yang dia dengar.


"Hei, aku belum selesai. rileks kan ekspresi mu itu!"


Andi mendesah pelan, "Lanjutkan!" Titahnya.


"Kenapa kamu tidak membuat Andin yang mengejar?"


Lelaki yang menjadi lawan bicara Varest itu menukikkan alisnya bingung tapi tetap penasaran maksud dari saran sang sahabat. "Bagaimana caranya?"


"Aku perhatikan Andin juga sudah membuka hati untuk mu, hanya saja dia masih ragu untuk mempercayai keputusannya sendiri untuk menerima kamu sebagai kekasihnya, mungkin pengaruh latar belakang yang berbeda menjadi salah satu pertimbangannya" Jelas Varest panjang lebar.


Varest menarik nafasnya berat setelahnya membuangnya pelan. "Yah, aku jelaskan rencana ku, tapi kamu harus mendengarnya baik-baik aku tidak mau ada reka ulang."


Andi nampak bersemangat mendengar saran yang diberikan oleh Varest, sesekali kepalanya akan mengangguk saat Varest menanyakan kesetujuannya untuk apa yang dia bahas. Sambil menyuapkan makanan ke mulut masing-masing mereka masih asik bercerita sampai suara pintu terdengar sebuah ketukan yang berasal dari Kanta.


"Ada apa Kanta?" Tanya Varest


"Diluar ada Ibu Rani, katanya ingin bertemu dengan anda" Jawab Kanta formal mengingat ada orang lain yang berada di dalam ruangan sang bos, biasanya Kanta akan berbicara nonformal saat hanya ada mereka berdua, tapi jika ada orang lain dia kan bersikap layaknya seorang bawahan dan atasan.


Andi dan Varest sontak saling berpandangan, orang yang sempat dibicarakan tadi tiba-tiba datang tanpa ada janji sebelumnya. Varest menelpon bagian kebersihan untuk datang ke kantornya agar membersihkan sisa makanan yang tak lagi mereka sentuh.


"Rest, waspada, waspada" Andi berbisik mengingatkan saat kaki jenjang Rani sudah terlihat ujungnya memasuki pintu ruangan.

__ADS_1


"Kamu kayak bang Napi, Ndi" Balas Varest yang malah terkekeh.


Wanita bernama Rani itu mendekat ke arah Varest dan Andi yang duduk di sofa di ujung ruangan, senyumnya merekah melihat jika ada satu orang lagi yang menjadi teman kampusnya berada disana.


"Hai. Ndi"


Andi tersenyum ramah namun kakinya di bawah meja malah menendang-nendang kaki Varest.


"Maaf mengganggu kalian" Kata Rani setelah dipersilahkan duduk oleh Varest.


"Tidak apa-apa? Tapi, ada urusan apa kamu sampai repot-repot kesini?" Varest bertanya sopan, tak ingin terlalu memperlihatkan ketidak nyamanannya akan kehadiran wanita itu di ruangannya.


Rani tersenyum sembari menyimpan helaian rambutnya di belakan telinganya kemudian mengeluarkan satu map berwarna hijau tua dari dalam tasnya dan meletakkan di atas meja.


"Aku hanya membawa tambahan kontrak yang kita bicarakan saat meeting kapan hari." Jelasnya membuka berkas tersebut.


Varest melipat dahinya dalam nampak bingung dengan alasan yang dilontarkan oleh Rani, sebelumnya mereka sudah membicarakan mengenai kontrak kerja sama yang akan dibuat seharusnya bisa menyerahkan itu kepada Kanta asistennya terlebih dahulu sebelum diserahkan kepadanya.


Varest tahu mengenai kejelian asistennya tersebut dalam mengurus kontrak jadi dia mempercayakan berkas seperti itu harus diperiksa terlebih dahulu oleh sang asisten sebelum datang ke mejanya sekaligus menghindari waktu yang terbuang bagi Varest untuk meneliti sendiri.


Mata Varest dan Andi mengikuti gerak Rani yang berdiri memutari meja hendak duduk di sofa panjang yang mereka duduki.


"Maaf, Ran. Mungkin lebih baik kamu di tempat mu saja. Aku akan memeriksanya nanti." Cegah Varest yang mengerti kemana tujuan kaki Rani melangkah, "Aku akan mengabari mu nanti!"


Rani hanya bisa tersenyum tipis akan penolakan halus Varest, matanya sedikit bergetar dengan sakit yang dia rasakan.


"Kalau begitu saya bisa minta kontak anda, Pak Varest?" Tanya Rani formal. "Aku harap anda tidak keberatan, kita hanya akan membahas sesuatu yang menyangkut pekerjaan" Katanya mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya dan menyodorkan ke arah Varest.


Varest yang mendapat pertanyaan demikian hanya bisa menelan salivahnya kasar, dia tak memiliki alasan untuk menolak bagaimanapun permintaan Rani bukan sesuatu yang salah. Hanya pembahasan pekerjaan, dengan meyakinkan 3 kata itu akhirnya Varest meraih ponsel Rani.

__ADS_1


"Perasaan ku tidak enak, Rest" Bisiknya tanpa mengalihkan pandangannya pada Rani.


"Mungkin kamu mau buang hajat"


__ADS_2