
Aku menatap matahari yang kian turun ditelan laut itu dalam diam. Kenapa warna jingga sangat indah.
Aku tersenyum tipis, aku suka sunset. Sangat indah.
Aku tidak peduli dengan ponselku yang selalu bergetar. Paling juga orang rumah tengah mencariku.
Tersenyum getir, mereka mencariku hanya untuk bekerja bukan karena khawatir. Bolehkah aku merasa iri pada Hana?
Kurasa tidak perlu. Aku hanya kalah pada kasih sayang orang tua. Justru itu yang membuatku iri.
Manusia memang seperti itu selalu merasa tidak puas. Bukankah kita sudah mempunyai porsi masing-masing.
Tuhan memberikan apa yang kamu butuhkan bukan yang kamu inginkan. Tapi manusia tidak peduli dengan itu.
Contohnya aku.
Aku iri dengan Hana.
Menghela nafas pelan aku kembali menatap langit yang sudah menggelap. Aku disini sejak dari pulang sekolah.
Aku hanya ingin menenangkan pikiran. Terlalu banyak hal yang membuatku lelah akhir-akhir ini.
Ternyata James masih setia di belakangku. Lelaki kekar itu berdiri sepuluh meter di belakangku dengan pakaian serba hitam tidak lupa dengan kacamata hitamnya. Dia tidak memperdulikan tatapan aneh dari pengunjung pantai.
Terkadang aku salut dengan James. Lelaki itu selalu siap siaga dimana pun berada. Apapun yang aku inginkan selalu ada padanya, seperti kantong Doraemon.
Kakek menemukan James dimana ya.
"Nona hari sudah semakin gelap dan udara sudah mulai dingin. Sebaiknya kita segera pergi dari sini." Ujar James berjongkok di sebelahku. Aku menatapnya sekilas.
"Bentar aku masih mau liat laut."
James mengangguk lalu kembali ke posisinya. Sepuluh menit berlalu James kembali menghampiriku lagi.
"Nona mari kita kembali."
Aku mengangguk udara juga semakin dingin. Ini juga sudah pukul delapan malam aku harus cepat pulang.
"Ditempat biasa ya James."
James mengangguk. Hanya keheningan didalam mobil, aku menatap keluar jendela melihat indahnya lampu-lampu jalanan.
Mobil berhenti di tempat biasa James menurunkan ku. Kurang lebih dua kilo dari komplek rumah Papa. Setelah itu aku akan berjalan kaki.
Sebenarnya James menolak keras ketika aku minta turun disini. Karena masih jauh dari rumah, tapi aku tidak ingin orang rumah tau jika aku di antar oleh James.
"Makasi James."
"Baik Nona. Saya akan mengawasi Nona dari kejauhan."
Aku mengangguk. Lalu berjalan perlahan menyusuri jalanan yang ramai ini. Banyak pasangan yang sedang berkencan ternyata. Aku lupa jika sekarang malam minggu.
Lucu melihat mereka tertawa bersama pasangan mereka. Bahagia sekali.
Langkah demi langkah aku sepertinya menikmati malam ini. Sangat tenang.
"Kak mau beli donat aku?"
Aku menunduk menatap seorang anak laki-laki tengah menawarkan dagangannya padaku. Mungkin sekitar umur 7 tahun dengan pakaian lusuhnya dia menatapku berharap.
Tersenyum tipis aku menundukkan badan mensejajarkan dengan anak itu.
"Ini berapaan?"
"Lima ribu kan." Ujarnya riang.
"Kakak beli semuanya." Ujarku "Kamu jualan dari jam berapa tadi?" Tanya ku pada anak itu.
"Seriusan kak?" Mata anak itu berbinar senang. "Sejak pulang sekolah kan kurang lebih jam duabelasan."
"Udah laku berapa?"
"Baru sepuluh kak. Ini pertama kalinya jualan aku abis."
"Kamu sendirian?" Tanya ku menatap anak itu. Anak itu tersenyum. "Iya kak sendirian."
"Orangtua kamu kemana?" Sepertinya aku terlalu banyak bertanya.
Anak itu mulai berkaca-kaca, mengusap matanya perlahan. "Orangtua aku gatau kak kemana aku tinggal berdua sama nenek."
Aku tertegun mendengarnya. Hati ku ikut teriris. Anak yang seharusnya mendapatkan kasih sayang Orangtua harus berjualan untuk bertahan hidup.
Aku mengelus kepalanya. "Kamu tinggal dimana?" Tanya ku sambil menggiringnya duduk di salah satu kursi dijalan.
"Di daerah sana kak." Tunjuknya pada arah di barat.
Aku membuka salah satu donat itu lalu memakannya. "Kamu sudah makan?"
Anak itu menggeleng.
Aku membuka kembali salah satu donat dengan topi ng coklat lalu memberikan pada anak itu. Dia menerimanya.
"Nama kamu siapa?"
"Aku Raga."
"Maaf ya kakak terlalu banyak bertanya."
Raga terkekeh pelan. "Gapapa kok kak. Kakak darimana kok masih pakai seragam."
Aku menunduk menatap seragamku. "Kakak dari pantai ini mau pulang."
"Cepet pulang kak nanti orang tua kakak nyariin."
Aku berharap juga seperti itu.
"Kamu tidak pulang? Ini sudah malam."
"Pulang kak tapi nanti mampir dulu beli makan buat nenek."
"Nenek gak masak?"
Raga tersenyum getir. "Kita makan kalau jualan aku laku kak. Kalo engga ya kita gak makan."
Seperti tertusuk ribuan jarum. Aku menatap tidak percaya pada Raga. Anak sekecil ini sudah merasakan pahitnya hidup.
"Yaudah ayok cari makan kakak temenin."
"Ayok kak." Ucapnya senang.
"Di rumah ada persediaan apa aja?" Tanya ku sambil menggandeng tangan Raga. "Kamu gak takut kakak culik?"
Raga tertawa sampai lesung pipinya keluar. "Muka kakak gak seperti penjahat makanya aku tenang."
"Bisa aja loh kakak culik terus jual kamu."
"Engga mungkin. Kita ngapain kak di ke supermart."
"Kita belanja." Aku meraih keranjang belanjaan dan memberikan pada Raga. "Beli yang kamu mau apa aja terserah."
Raga memantung ditempat. "Beneran kak? Kakak gak bakal jual aku kan buat ganti rugi."
"Kata kamu muka kakak gak ada unsur penjahatnya."
"Iya juga sih."
__ADS_1
"Yaudah ayok." Ajak ku pada Raga. "Pertama kita beli beras dulu, kayaknya keranjang kita kurang besar deh kita cari keranjang dorong yuk."
Raga mengangguk semangat. Mata anak itu berbinar senang. Aku juga ikut bahagia melihatnya. Hanya hal seperti ini bisa membuat Raga bahagia.
Aku mengambil tiga karung beras dan memasukkan ke dalam keranjang yang di dorong Raga, tidak lupa dengan bahan dapur lainnya. Seperti minyak, gula, bumbu dapur, dan keperluan lainnya. Aku memilih yang porsi jumbo.
Kita beralih pada sabun. Aku memasukkan berbagai sabun dengan jumlah banyak mungkin bisa buat stok dua bulan.
"Kak ini kebanyakan."
Aku menggeleng. "Ini bisa buat stok dua bulan Raga."
"Di rumah ada kulkas Raga?"
Raga menggeleng.
Aku menoleh pada James di belakangku memberikan isyarat yang diangguki lelaki itu. Sepertinya pikiranku dan dia sudah terhubung.
Kita beralih pada makanan dan ikan segar. Aku memadukan berbagai macam sayuran dan juga ikan-ikanan.
"Kak udah cukup haduh nanti busuk di rumah." Cegah Raga menahan tanganku.
Aku tersenyum tipis. "Udah kamu ngikut aja kakak lagi kalap ini."
Beralih pada makanan ringan. "Kamu pilih mau yang mana."
Tanpa di duga Raga hanya mengambil sosis siap makan. "Hanya itu?"
Anak itu mengangguk. Aku mendengus kesal mengambil sosis siap makan lainnya dan memasukkan semuanya pada keranjang.
Raga melotot melihatnya. "Kakak kesurupan ya?"
"Apaan cuma ngambil satu."
Raga menggaruk kepalanya tidak gatal. "Aku bingung mau ngambil apa."
Aku menepuk kepalanya pelan. "Apapun yang kamu mau ambil."
"Kenapa kakak baik banget sama aku kita kan baru ketemu tadi." Raga menatapku penuh arti.
"Karna kita sama. Udah yuk kita cari yang lain."
Aku menuntun Raga mencari barang-barang yang dibutuhkan lainnya. Sudah dua troli yang penuh sepertinya ini sudah cukup.
Kita mendorong troli itu pada kasir. Tidak perlu mengantri karena kasir sedang sepi. Raga seperti tidak enak dengan belanjaannya padahal ini aku yang memasukkan semuanya.
"Totalnya dua juta tiga ratus lima puluh tiga ribu kak." Ujar sang kasir.
Mata Raga seperti ingin keluar. Aku tertawa melihatnya. "Mata kamu mau keluar Ga?"
"Kak mahal banget." Ujarnya seperti ingin menangis.
"Udah jangan nangis. Ini hadiah buat kamu."
Setelah membayar aku saling tatap dengan Raga. "Ini kita bawa nya gimana kak?"
"Iya juga cara kamu bawa pulang gimana."
Kemudian kita saling tertawa melihat kebodohan kita. "Kakak telpon orang bentar ya buat nganter kamu."
Raga seperti tengah menghitung jumlah kantong belanjaan kami. Aku gemas melihatnya.
"Kak ada lima belas kantong. Aku kayak habis ngerampok."
"Ini namanya rejeki."
"Kakak makasi ya." Raga memelukku erat. "Makasih banyak kak."
Aku mengelus punggungnya. "Iya sama-sama. Sebagai gantinya kamu harus rajin belajar ya."
"Ini semua Nona?"
Aku mengangguk membantu James memasukkan ke dalam bagasi mobil. "Kamu diantar om ini ya."
Raga mengangguk. "Dia siapa kak?"
"Dia paman kakak. Yaudah sana masuk ini udah malam besok kamu sekolah."
Lagi-lagi Raga memelukku. "Sekali lagi makasih ya kak. Suatu saat Raga bakal balas kebaikan kakak."
Aku tersenyum. "Iya jadi yang semangat ya."
Raga mengangguk. "Dada kakak."
"Kami permisi Nona." Pamit James.
"Dadah." Aku melambaikan tangan ketika mobil itu kian menjauh.
Aku menghela nafas pelan dan kembali melanjutkan perjalanan ku ke rumah. Sudah pukul sembilan malam ternyata aku keasikan belanja dengan Raga tadi.
...****************...
"Bagus udah berani pulang malem ya."
Aku meringis mendengar suara mama yang menggelegar di ruang tengah. Mama menghampiri ku dan langsung menamparku. Aku yang belum siap terpental menabrak sofa.
Pipiku panas, sudut bibirku juga mengeluarkan darah. Segitu kerasnya kah mama menamparku?
Aku melihat Papa tidak memperdulikannya. Pandangannya tetap terkunci pada tv didepan sana dengan Hana di sampingnya. Hana memeluk Papa.
"Kemana aja kamu jam segini baru pulang?"
Aku mendongakkan karena mama menjambak ku kuat. Rambutku rasanya mau rontok.
"Ke pantai Ma."
"Apa? Jadi kamu keluyuran sedangkan pekerjaan rumah banyak?"
Aku kembali meringis ketika mama menarik rambutku lebih kencang.
"Besok Agatha selesain semuanya Ma."
"Harus."
Aku kembali terpental ketika mama mendorong ku ke dinding. Punggung ku seperti parah.
Kekuatan mama tidak bisa di ragukan.
"Masuk kamar sana dan jangan lupa tugas kamu."
Aku mengangguk dan naik ke lantai dua.
"Makanya jangan keluyuran dapet getahnya kan." Sindir Hana. Aku hanya diam dan kembali melanjutkan langkah ku.
Menutup pintu dan merebahkan tubuh di kasur. Hari ini sungguh melelahkan. Aku ingin tidur sebentar.
Ting!
Suara itu lagi. Kenapa akhir-akhir ini suara itu sering muncul.
“Udah di rumah?”
Mark. Sebenarnya cowok itu mau apa? Kenapa dia selalu ada dimana-mana. Bukannya dulu Lia bilang jangan terlalu dekat dengan Mark. Tapi kenapa dia selalu mendekat padaku.
Udah kak.
__ADS_1
Tanganku lemas aku menjatuhkan ponsel ku ke lantai. Dada ku mendadak sesak. Sakit ini lagi. Aku mohon jangan lagi.
Aku meremat dada sebelah kiriku kuat berharap rasa sakit itu hilang. Ini benar-benar sakit.
Tapi perlahan sakit itu hilang aku bernafas lega. Akhir-akhir ini aku memang jarang meminum obatku.
Aku hidup bergantung pada obat-obatan. Jika kakek tau pasti sudah berubah menjadi banteng.
Aku meraih tas dan membukanya, mengeluarkan kantor berwarna hitam yang selalu setia berada di tas ku. Mengeluarkan beberapa botol dan mengeluarkan isinya. Kurang lebih 7 botol kecil-kecil. Dan dimasing-masing botol berisi satu kapsul obat.
Aku harus meminum semua itu setiap hari. Dan setiap bulannya akan bertambah.
Tidak perlu minum aku sudah terbiasa menelan kapsul itu tanpa air. Sepertinya tenggorokanku sudah berteman baik dengan kapsul itu.
Aku beranjak menuju kamar mandi. Badan ku lengket semua aku harus mandi setelah itu ke bawah untuk mencuci dan menyetrika.
Sebenarnya bisa aku lakukan besok tapi besok sepertinya tugasku semakin banyak. Aku hanya akan meringankan beban ku saja.
Tidak butuh lama bagiku untuk mandi. Karena aku tipe orang yang takut air. Katakanlah aku siluman kucing.
Menuju ke bawah disana sudah aja Bibi yang tengah memasukkan baju kotor ke dalam mesin cuci.
"Biar aku aja bi."
Bibi menoleh dan tersenyum. "Non istirahat aja biar bibi yang nyuci."
"Nanti mama marah bi kalo tau bibi yang nyuci."
Bibi menghela nafas pelan. "Yaudah kita kerjain sama-sama ya."
Aku mengangguk semangat. "Gimana kerjanya kak Asep bi?"
"Alhamdulillah lancar non. Makasih ya non udah cariin tempat buat anak bibi."
"Iya bi lagian rumahnya juga ga ada yang nempatin." Ujarku sambil memasukkan sabun ke dalam mesin cuci.
"Kakak Asep rumahnya gede banget non banyak pelayannya juga."
Aku menutup mulut bibi cepat. "Jangan keras-keras bi." Bisik ku. "Ini rahasia kita ya."
Bibi mengangguk dengan cepat. "Maaf non bibi gatau." Balas bisik bibi.
"Bibi kalau butuh apa-apa bilang aku aja ya."
Bibi tersenyum. "Terimakasih ya non. Non udah banyak membantu bibi."
"Sama-sama bi. Oh iya kak Asep jadi dokter apa bi?"
"Spesialis jantung non."
Aku terdiam, spesialis jantung?
"Wah hebat banget kak Asep." Aku bertepuk tangan riang. "Harus dirayain ini bi."
Bibi tertawa pelan. "Nanti kalo bibi libur kita makan-makan ya non."
Aku mengangguk dengan semangat. Aku bangga dengan bibi yang bisa membesarkan kak Asep menjadi seperti ini.
Kak Asep sangat beruntung mempunyai ibu seperti bibi. Sejak kak Asep tinggal di masion ku, aku belum sempat mengunjunginya. Mungkin besok setelah tugas ku selesai aku akan berkunjung.
"Non sudah makan?"
Aku menggeleng, aku memang belum makan sejak tadi. Terakhir makan dengan Lia dikantin pas istirahat. Di pantai pun aku juga tidak makan apapun meski James sudah menawarkan berbagai macam makanan layaknya pelayan pada pelanggan.
Dan hebatnya aku baru merasakan lapar.
"Mau bibi buatkan nasi goreng?"
Nasi goreng? aku sudah lama tidak memakai makanan itu. itu makanan yang selalu aku inginkan ketika di Korea. Dan makanan itu yang menjadi makanan favorit orang Korea.
"Boleh bi."
"Bibi masakin bentar ya."
Selagi menunggu bibi aku meraih setrika. Untuk menghemat waktu tapi sebelum itu aku menengok ponselku yang kembali menyala.
Gue ada diatas.
Maksud dari pesan Mark itu apa? Diatas? Diatas mana?
Aku berfikir sejenak, sedetik kemudian aku mengerti maksudnya. Cowok itu pasti kini sudah berada dikamar ku.
Besok aku akan mengunci paten jendela ku agar Mark tidak bisa masuk. Sekarang cowok itu sudah mulai ngelunjak setiap hari datang ke kamar ku.
Entah apa yang dia lakukan. Tapi dia akan pergi setelah aku tertidur.
Sejujurnya aku penasaran dengan sikap Mark. Kenapa cowok itu selalu menempel dengan ku.
Apa dia tidak tau aku sering di buli karena terlihat dengan dirinya.
Meski begitu Mark akan selalu datang seperti super hero ketika aku di buli.
Lebih baik aku membalasnya.
“Ngapain dikamar aku?”
Ting!
Wah cepat sekali dia membalas.
“Gue bakal tunggu lo sampe lo naik ke kamar.”
Aku mendengus kesal jari-jariku kembali menari-nari diatas layar.
“Aku masih nyetrika.”
“Gue tungguin.” Balasnya. Lihatlah dia sangat keras kepala.
Lebih baik aku segera menyetrika dan naik ke atas sebelum tanduk Mark keluar.
Setelah mengenal lebih dalam Mark aku sedikit demi sedikit mengetahui sifat Mark.
Cowok itu tegas dan tidak bisa dibantah. Dia tidak ingin didengar tapi ingin di turuti.
Tidak jarang juga aku berdebat dengannya hanya karena masalah sepele.
"Non ini nasi gorengnya mau ditaruh dimana?"
Bibi datang dengan sepiring nasi goreng di tangannya. "Taruh di meja aja bi nanti aku makan diatas."
"Biar bibi yang lanjutin non makan aja."
Aku menggeleng. "Bentar lagi juga selesai kok bi."
Hanya butuh waktu lima menit aku sudah menyelesaikan tugas ku. Merapikan semu barang ke tempatnya,
"Udah selesai semua sekarang bibi istirahat." Ujarku pada bibi.
"Non juga istirahat ya."
Aku mengangguk lalu meriah nasi goreng dan membawa ke kamar ku. "Makasih ya bi nasi gorengnya."
Setelah mendapat anggukan dari bibi aku langsung menuju lantai dua ke kamar ku.
Entah apa yang sedang dilakukan Mark sekarang. Aku harus segera mengusirnya.
__ADS_1
...****************...