
"Berapa lama lagi aku harus berusaha, Re?"
Reflek Rea memeluk Varest dengan air mata yang kian bercucuran, hatinya sakit melihat lelaki yang telah menjadi orang tersayang bagi putranya itu harus menerima beban yang dibuat olehnya.
"Rest, tolong berhentilah!, maafin aku" Rea tersedu menahan suaranya, bagaimanapun ada sang putra yang tertidur di dalam sana.
"Maafin aku Rest, maaf" Hanya kata itu yang bisa Rea ucapkan dengan wajah yang bersembunyi di depan dada sang suami.
"Aku minta kamu berhenti berusaha" Ucapnya yang membuat pelukan Varest terlepas.
Lelaki itu memegang kedua pundak Rea, "Kamu menyuruh ku berhenti?" Jedanya menurunkan tangannya, "Baiklah, aku akan berhenti" Pasrahnya tersenyum getir.
Rea yang menyadari jika sang suami telah salah paham langsung melayangkan pukulan ke perut Varest yang hendak berbalik.
"Apa lagi?" Ringis Varest memegang perutnya, "Re, kenapa belakangan ini kamu sering sekali memukulku?, hati ku sekarang sedang sakit tapi kamu malah mau menyakiti tubuhku juga" Omel Varest dengan suara pelan yang malah membuat Rea tersenyum
"Kamu keterlaluan Re, apa kamu juga akan seperti ini sama lelaki yang kamu cintai kel-" Mata Varest membulat ditengah omelannya yang belum selesai sebuah benda kenyal mendarat di bibirnya.
Yah, Rea mendaratkan ciuman di bibir Varest untuk menghentikan suaminya yang mengomel, "Iya, aku akan melakukannya pada lelaki yang aku cintai" jedanya seraya menangkup kedua pipi Varest, "Dan sebagai penawar sakitnya aku juga akan melakukan ini" ujarnya sembari kembali mengecup wajah Varest.
"Aku mencintai mu, Rest"
Didekapnya tubuh Rea erat dengan senyuman yang mengembang, tanpa wanita itu tahu bahwa ini hanyalah rencana Varest yang disarankan oleh Andi, sebenarnya tadi saat Varest menyendiri di kafe dia menelpon Andi untuk meminta saran.
"Diamkan Rea dulu, biarkan dia merasa bersalah, aku yakin dia sudah mencintai mu hanya saja dia masih ragu pada perasaannya, buat dia mengakui perasaan sendiri tanpa harus kamu yang memaksa"
__ADS_1
Ah, akhirnya berhasil Rea tidak akan bisa mengelak lagi bukan?, Varest sudah bisa membuat Rea mengakui perasaannya, bahkan yang terjadi sekarang diluar dari ekspektasi Varest sebelum memulai aksi, ciuman ini adalah bonus sebagai hadiah kesabarannya.
"Thanks my brother" Batinnya mengingat Andi
"Kamu sedang tidak bercanda kan, Re" Varest memastikan yang dibalas anggukan oleh Rea,
Wanita itu melerai pelukannya dan menatap wajah riang Varest, "Maafin aku Rest, karena terlambat menyadarinya, jangan marah lagi! Aku takut kamu akan mendiami ku seperti tadi"
Varest terkekeh mencium pucuk kepala Rea sayang, "Tidak akan, aku tidak pernah marah pada orang yang aku cintai, aku hanya memberikan sedikit teguran" Jedanya seraya membungkuk menyamakan tingginya dengan Rea, "Tapi kamu benar-benar mencintai ku kan?"
Sekali lagi Rea mengangguk, "Iya Rest, aku mencintai mu, aku berjanji tidak akan mengungkit yang lalu lagi. Cuma kamu Papanya Zee, suami ku, dan yang aku cintai sekarang" Terangnya yang semakin membuat Varest bahagia.
Memang kesabaran akan selalu ada balasan yang indah, entah datang cepat atau lambat namun jalan dan tujuannya akan sama memberi kebahagiaan bagi mereka yang setia dan bersabar, meski yang diinginkan bukan yang dicapai tapi itulah yang menjadi takdir yang kelak tetap akan menjadi bahan kesenangan dan kenangan yang indah.
Varest bisa bernafas lega sekarang semua kekhawatiran akan perasaannya yang tak terbalas akhirnya mendapatkan jalannya, Tak ada alasan baginya untuk membatasi dirinya untuk memperlihatkan kasih sayang dan perhatiannya kepada Rea, wanita yang mampu menembus pertahanannya semenjak pertama bertemu.
"Duduklah." Titah Varest menuntun Rea untuk duduk disisi ranjang, tangannya beralih pada nakas dan menarik laci yang berada paling bawah nampak kotak beludru berwarna merah hati berukuran persegi panjang.
"Rest?" Rea terpaku. Dia tahu barang apa yang biasanya ada di dalam kotak itu, tapi hal yang membuatnya tak bisa berkata-kata saat Varest mulai membuka kotak itu dan mengatakan kalimatnya.
"Kamu tahu Re, aku menyimpan ini sebelum kejadian kamu pergi dari rumah" Jeda Varest tersenyum samar, "Tepatnya saat kamu pertama kali setuju untuk aku menjadikan mu sebagai istri yang sesungguhnya" Ujar Varest sembari mengeluarkan kalung berliontin bunga matahari.
"Aku bahagia setiap kali mengingat kamu sudah menerima ku, dan aku memutuskan untuk memberikan mu hadiah. Tapi keberanian ku seakan luntur setiap kali kamu membahas kewajiban mu, aku merasa bahwa kamu bukan menerima ku tapi melakukan atas dasar kodrat mu. Sampai akhirnya aku mengurungkan niat ku dan menyimpan ini sampai aku benar-benar bisa membuat mu menerima ku di sini" Terangnya seraya menunjuk dada kiri Rea
Rea menunduk tak berani menatap mata Varest, sekarang dia benar-benar sadar jika selama ini dia secara tidak langsung telah menyakiti suaminya, meski segala yang menjadi kodrat dan tanggung jawabnya sudah dia cukupi tapi itu belumlah cukup untuk dikatakan sebagai seorang istri yang baik. Karena dalam pernikahan tak hanya membutuhkan nafkah lahir dan batin melainkan juga perasaan yang saling memberi dan menerima.
__ADS_1
"Maaf Rest." Lirih Rea
"Kamu tidak butuh maaf ku Re, kamu hanya butuh meyakinkan dirimu saja bahwa kamu benar-benar sudah menempatkan aku di hatimu. Aku mengerti keraguan mu dan aku tidak masalah dengan itu."
"Aku mencintai mu Rest" Rea masih tertunduk dengan air mata yang menetes.
"Jangan menangis, kamu jelek kalau menangis, kalung ini tidak akan ku berikan pada orang yang jelek" Goda Varest yang membuat Rea mendongak dan terkekeh.
"Pasangkan!" Titah Rea menarik rambutnya kearah samping
Menuruti keinginan sang istri Varest tersenyum sambil mengeluarkan kalung itu dan mengalungkan ke leher jenjang nan mulus milik Rea. "Sudah" Katanya
Rea mengelus liontin berbentuk bunga matahari itu dan tersenyum, "Apa aku sudah cantik?" Tanyanya seraya mengedipkan matanya cepat yang membuat Varest tertawa
"Rest" Tegurnya pada Varest sebelumnya menoleh pada sang anak yang sempat mengerang karena suara Varest yang tertawa dan mengganggu tidurnya.
"Upss. Maaf" Ucap Varest menutup mulutnya. "Kamu memang selalu cantik" Pujinya dengan berbisik
"Sekarang beri aku hadiah" Pinta Varest menaik turun kan alisnya.
"A-apa?, ada Zee disini, ti-tidak mungkin ki-kita me-me-lakukannya" Ucap Rea terbata pipinya nampak merona malu.
"Emang apa yang akan kita lakukan?, ini sudah larut, aku hanya minta kita tidur dan kamu memeluk ku sepanjang malam" Jawab Varest melipat bibirnya dalam menahan tawa.
Sungguh lucu melihat pipi Rea yang memerah karena menahan malu seperti ini.
__ADS_1
"Ayo kita tidur, kamu pasti sudah lelah seharian mempersiapkan acara pembukaan kafe kan?"
Ah sial, ingin rasanya Rea lari dan bersembunyi di kamar Zee yang ada disebelah kamarnya, setelahnya mengunci diri sampai pagi. "I-iya kita tidur" Kata Rea akhirnya dengan senyum dipaksa menahan malu.