
Aku ingin mati rasanya. Sekujur tubuhnya rasanya rontok semua. Sendi-sendiku seperti tidak saling menyatu. Aku ingin menangis tapi air mataku sudah habis.
Aku hanya menatap diam Melati yang tengah tersenyum puas melihat karyanya.
“Tepungnya ditambah keknya seru, iya gak Lun?” Melani menatap Luna yang tengah membawa tepung.
Seakan tau apa maksud Melani, Luna langsung menuangkan tepung itu padaku. Sepertinya Melani tidak mau kalah dia kembali melempar telur pada kepalaku.
Lumayan sakit, sepertinya aku sudah siap untuk di oven. Tepung, telur dan air sepertinya itu cukup untuk membuat kue.
Katakanlah aku lemah karena tidak melawan mereka. Sebenarnya aku bisa melawan mereka, aku mempunyai sabuk hitam. Tapi aku tidak ingin membuat masalah semakin panjang.
Jika aku melawan bukankah mereka akan semakin gercar menargetkan ku?
Aku berdesis, rambutku ditarik kebelakang membuat aku mendongak.
“Bukannya gue udah bilang jauhin Mark. Lo gak punya kuping ya?” kata Melati.
Mark lagi?
“Aku gak pernah deketin Mark.” Balasku.
Melati berdecih. “Gak deket? Lo udah berapa kali berangkat-pulang bareng Mark? Dan tadi gue liat Mark ngasih lo bekel?”
“Jadi karena itu kakak menyimpulkan kalau aku deket dengan kak Mark?”
“Jelas.” Tarikan Melani semakin kencang.
“Kak lepas sakit.” Cicit ku. Ini benar-benar sakit.
“Sakit? Makanya jangan cari masalah sama gue.”
Kepala ku dihempaskan begitu saja. Ngilu.
“Sampai gue denger lo deket sama Mark lagi entah itu dalam bentuk pulang atau berangkat bareng lo gak bakal aman sama gue.” Setelah mengatakan itu Melati pergi meninggalkan aku sendiri.
Aku berbarik dilantai tidak peduli dengan seragamku yang kotor. Toh, sudah kotor dengan tepung dan telur.
Menatap langit yang sedang cerah, sepertinya kalau aku berjemur sebentar tepung ini akan mongering. Tapi aku tidak ada niatan untuk berteduh, biarkan seperti ini sebentar saja.
Aku ingin memejamkan mata sejenak.
Setelah praktek lari tadi aku ijin ketoilet namun aku langsung diseret Melani ke belakang sekolah.
Aku pikir hanya di korea yang banyak kasus buli di sekolah, ternyata disini juga ada. Aku bertekat mulai sekarang aku akan berusaha menghindar dari Mark.
Benar kata Lia jangan pernah berurusan dengan Mark.
“Lo gapapa?”
__ADS_1
Aku menatap sumber suara, bukannya aku tadi sudah bertekad akan menghindari Mark tapi kenapa cowok itu selalu muncul disaat seperti ini.
“Gapapa kak.” Jawab ku dengan posisi yang sama, tiduran terlentang di lantai.
Mark mencoba membantuku bangun tapi aku menepis tangannya.
“Aku masih mau kayak gini sebentar aja.” Ujarku memejamkan mata berharap setelah membuka mata Mark sudah tidak ada dihadapanku.
Sepuluh menit berlalu aku membuka mataku karena silau.
Harapanku pupus, Mark masih ada ditempat tengah memandangku serius. Tangannya menutupi sinar matahari yang mengahalangi pandanganku.
Cowok itu tidak merubah posisinya. Aku bisa melihat dari matanya jika Mark tengah menahan emosi.
Kenapa juga cowok itu emosi?
“Siapa yang udah buat lo kayak gini?” tanya Mark tegas.
Aku hanya diam tidak berniat menjawab.
“Jawab Agatha.”
“Aku boleh minta sesuatu kak?” tanya ku pada Mark. Ini adalah waktu yang tepat. “Bisa gak kakak jangan deket-deket aku? Jauhin aku seakan kita gak pernah kenal.”
Rahang Mark mengeras. Aku sedikit takut melihatnya. “Siapa yang ngajarin lo ngomong kek gitu?”
Aku menggeleng. “Engga ada ini murni dari aku.”
Aku menatap tidak percaya pada Mark. Apa cowok ini tidak tau apa pura-pura tidak tau.
“Aku gak tau niat kakak apa sama aku. Tapi aku mohon kak. Aku pengen sekolah dengan tenang semenjak aku deket sama kakak banyak yang neror aku banyak yang ngebuli aku. Aku cape kak.” Kataku sedikit bergetar.
“Aku gak tau apa potensi kakak sampai aku mendapat konsekuensi seperti ini. Aku mohon kak.”
Mark menatapku diam. “Melani yang udah ngelakuin ini? Melani juga yang ngajarin lo ngomong kek gitu?”
Aku menggeleng. “Gak ada yang ngajarin aku ngomong, ini murni dari aku. Hidup aku udah sulit kan tolong jangan di persulit.”
Aku saling tatap dengan Mark. Tatapan tegas tadi sudah berubah menjadi sayu, apa perkataanku keterlaluan?
“Ayo gue anter ke uks bersiin seragam sama luka lo.” Kata Mark.
“Aku bisa sendiri.” Aku menepis tangan Mark.
“Aga—“
“Akhhhkk.” Aku spontan meremat dada kiri ku. Sakit ini kembali lagi.
Mark panik aku bisa melihat dari wajahnya. Aku mengangkat tanganku memberi isyarat agar Mark tidak mendekat.
__ADS_1
“Mana yang sakit?”
Aku hanya diam mencoba melawan rasa sakit. Sungguh ini sangat sakit seperti di tusuk ribuan pedang. Kenapa harus disituasi seperti ini.
Aku mencoba berdiri tanpa bantuan Mark. Aku harus mencari obatku. Sepertinya ini efek samping karena aku sudah lama tidak minum obat.
Aku berjalan tertatih menggunakan dinding untuk menyanggah tubuhku. Tubuhku lemas. Pandanganku perlahan buram. Dan semuanya menghitam.
...****************...
Sata menyadari sesuatu yang aneh, menatap Lia dengan serius. "Temen lo kemana?"
Lia menatap Sata sejenak. "Tadi ijin ke toilet tapi kok belum balik ya."
"Perasaan gue gak enak." Kata Sata langsung berlari menuju toilet.
Lia yang tidak mengerti apa maksud Sata ikut berlari menyusul cowok itu. Perasaannya juga sedikit me janggal ini terlalu lama untuk Agatha ke toilet.
"Gila tuh cowok pake jurus apaan sih cepet banget larinya." Gumam Lia yang kesusahan mengejar Sata.
"Tadi Agatha bilang mau ke toilet mana?" Tanya Sata setelah Lia sampai dengan nafas memburu. Gadis itu menggeleng.
Sata tidak tinggal diam dia kembali berlari menuju toilet lantai dua. Lia melotot namun terap mengejar Sata.
"Tuh anak kenapa sih?"
Lia sampai di samping Sata dengan nafas memburu, ia menjadikan lutut sebagai tumpuan.
Sata tidak tanggung tanggung masuk ke dalam toilet perempuan dengan cuek. Tidak peduli dengan pekikan orang di dalamnya.
Lia menatap tidak percaya. Sebelum Sata kembali berlari ia menahan tangan cowok itu. "Jelasin dulu kenapa lo kalap."
Sata mendengus. "Temen lo ilang ******."
"Tau darimana kalo ilang?"
"Ini antara hidup dan mati gue." Kata Sata kembali berlari menuju toilet lantai tiga.
"Sata ******." Umpat Lia. "Siapapun yang udah nyulik Agatha bakal gue makan."
Gadis itu kembali berlari mengejar Sata didepan sana. Kakinya rasanya hampir lepas.
Lia menghentikan langkahnya mendadak dilihatnya Melani dengan Luna tengah tertawa puas. Tangan Luna tampak kotor dengan tepung.
Perasaan Lia tambah tidak karuan. Gadis itu lalu berlari menuju dimana Melati datang. Taman belakang.
Sesampainya disana mulut Lia menganga tidak percaya. Disana sekitar tiga meter dari tempat Lia berdiri terdapat bekas tepung dan telur berceceran.
Lalu dimana Agatha?
__ADS_1
...****************...