
Senja telah menampakkan cahaya kemerahannya ketika piringan matahari secara keseluruhan telah tenggelam dari cakrawala, suasana pun seketika berubah saat sebelumnya terasa panas akan terik yang menyengat dan sekarang berganti dengan angin yang berhembus sejuk menyapu pada permukaan kulit.
Titik cahaya yang seakan bergerak mengikuti, memberi kesan menenangkan melihat warna yang begitu cantik disekelilingi hitam pada ujung bumi. Yah, seperti itulah sejatinya kehidupan meski banyaknya warna gelap yang menggambarkan cobaan namun jauh dari sana ada setitik cahaya yang memberi penerangan akan gelapnya warna yang mengelilingi takdir.
Perlahan mata yang terpejam akan terbuka memaksa kornea untuk menyaksikan keindahan langit dengan sapuan angin yang mengajak setiap helaian rambut untuk menari. Rea terbangun dari tidurnya ketika hembusan angin dari celah kaca mobil yang sedikit terbuka berpadu dengan sentuhan jari telunjuk yang merapikan rambutnya yang menutupi sebagian wajahnya.
"Maaf, aku ketiduran" Rea menegakkan tubuhnya seraya memperbaiki rambutnya
"Tidak masalah, Kamu mungkin kelelahan karena seharian harus menahan sesuatu" Goda Varest menaik turunkan alisnya.
Rea terkesiap mengerti apa yang dimaksud dengan lelaki di depannya ini, "Aku tidak menahan apapun, Rest" Elaknya
"Cemburu?"
Rea diam tak ada kata yang bisa menjadi pembelaan, pasalnya tingkahnya sendiripun mengisyaratkan akan hal itu, bahkan untuk orang yang belum mengenal pun akan mengatakan demikian, Rea cemburu dengan suami sendiri itu adalah hal yang wajar bukan?.
Menghela nafasnya, Rea menghadap pada Varest masih ragu untuk memulai kalimat yang sempat terlintas di benaknya, hingga Varest memulai sambil menggenggam tangannya.
"Apa yang kamu fikirkan, Re"
Matanya sendu menatap dalam pada bola mata berwarna amber yang dimiliki oleh suaminya itu, "Rest, maafin aku" Katanya pelan
Varest menukikkan alisnya bingung, "For what?, kamu tidak membuat kesalahan apapun, jadi untuk apa kamu minta maaf" Ujarnya, tangannya dengan sigap melepas seatbealt yang melingkar di depan perut sang istri.
__ADS_1
Sedangkan Rea hanya diam menerima perhatian Varest sembari meneliti setiap jengkal ciptaan Tuhan pada wajah suaminya tersebut.
"Tadi Mama nelpon, katanya mereka ada undangan ke acara anniversary pernikahan rekan bisnis Papa, jadi kemungkinan Zee akan ikut dengan mereka." Terang Varest menyampaikan pesan sang Mama yang menghubunginya saat Rea tertidur.
"Mmm" Rea hanya bergumam sembari mengikuti Varest yang hendak keluar dari mobil
-
-
"Apa yang kamu lakukan disitu, Re?" Varest baru saja keluar dari walk in closet ketika dia mendapati Rea berdiri di balkon dengan kepala yang menengadah ke atas.
Varest mendekati Rea seraya menggosokkan kedua tangannya di depan wajahnya, udara malam ini memang terasa lebih dingin mungkin karena sebentar lagi akan hujan, cuaca memang tak bisa ditebak belakangan ini dan itu membuat orang-orang harus selalu sedia vitamin untuk mencegah daya tahan tubuh menurun.
"Masuklah!" Titah Varest mengelus pucuk kepala Rea, "Diluar dingin kamu bisa sakit kalau kelamaan disini" ujarnya
"Ayo kita masuk dulu, aku tidak ingin kamu sakit gara-gara berdiri disini terus" Dituntunnya sang istri untuk masuk kedalam kamar setelahnya menutup pintu ke arah balkon dan membawa Rea untuk duduk di tepi ranjang.
"Ada apa?" tanya Varest sembari berjongkok di depan Rea
Dipandanginya wajah Rea yang terlihat berbeda dari biasanya, "Kamu masih marah karena kejadian tadi?"
Rea menggeleng, sejujurnya dia pun tak bisa menjawab pertanyaan Varest, dia paham bahwa dia memang cemburu tapi untuk memendam marah rasanya itu terlalu berlebihan,tak ada alasan untuk marah sejauh ini Varest tak berbuat sesuatu yang diluar batas, suaminya ini adalah orang yang pengertian dan jelas mencintainya.
__ADS_1
"Rest, aku minta maaf karena membuat mu menunggu terlalu lama" Ucap Rea lirih sambil menunduk.
"Menunggu apa?, kamu disini saja aku sudah bahagia, kamu tidak perlu berfikiran macam-macam" Varest mengerti maksud arah pembicaraan Rea, tapi dia masih berusaha untuk menahan sampai Rea bisa menyatakan secara langsung perasaannya padanya.
"Tapi aku ma-"
"Jangan ngomong macam-macam, aku tidak mau mendengar mu" sergah Varest memotong kalimat Rea seraya berdiri.
Rea yang tak terima kalimatnya dipotong langsung memukul lengan Varest dengan bantal, matanya memicing jengkel serta bibir bawah yang digigit kesal.
"Kenapa kamu memukul ku?"
"Kebiasaan mu itu udah bikin aku jengkel..!" Bentak Rea, namun sejurus kemudian dia kembali mempoutkan bibirnya dengan mata yang berkaca-kaca, "Aku belum selesai ngomong, tapi kamu sudah tidak mau mendengarku" katanya sambil menutup wajahnya
"Kamu jahat"
Varest yang melihat tingkah Rea yang demikian hanya bisa melongo, apa yang salah dengan Rea seharian ini?, sang istri lebih ekspresif dari biasanya yang selalu bersifat kalem dan tak pernah menangis hanya karena hal sepele.
Papa Zee itu gelagapan mendengar Rea yang terisak dengan tangan yang menyembunyikan wajahnya, dengan cepat dia duduk di samping Rea dan merangkul wanita yang sudah menjadi belahan jiwanya itu pelan.
"A-aku minta maaf, Re. Aku bukannya tidak mau mendengar mu, aku hanya tidak mau kamu berfikiran yang tidak-tidak" Ucap Varest mengelus pundak Rea
"Aku belum selesai ngomong tadi, Rest. Tapi kamu sudah mau pergi, kamu jahat tidak mau mendengarku lagi" Ujar Rea seraya melepas rangkulan Varest.
__ADS_1
Varest hanya bisa pasrah membiarkan Rea untuk melepaskan rangkulannya. Tapi sekali lagi Varest harus melongo saat Rea kembali bersuara, "Tadi kamu bilang, kalau kamu bahagia kalau ada aku di dekatmu, tapi sekarang kamu malah lepasin pelukan mu"
Astaga, Varest tersedak salivahnya sendiri, bingung harus bertingkah apa untuk membalas ucapan Rea, sampai dia berfikir bahwa jiwa sang istri sedang tertinggal di tempat lain dan diganti oleh jiwa orang yang menyukai sinetron, atau mungkin ini adalah salah satu sifat Rea yang lelah bersembunyi dan akhirnya menampakkan dirinya.