
"Maaf sayang, membuat mu lama menunggu." Varest datang langsung memeluk Rea dan mendaratkan kecupan di puncak kepala wanita tercintanya.
"Kamu sudah makan siang?" Tanya Varest seraya menuntun Rea untuk di sofa.
"Sudah, tadi bareng sama Andin." Jawab Rea.
Sepulangnya dari restoran tadi Rea menyuruh Andin untuk mengantarnya ke kantor sang suami, dia merasa memiliki tugas penting untuk meyakinkan suaminya untuk tidak memikirkan apa yang seharusnya sudah berlalu. Mungkin jika yang mendengar kalimat Rani itu adalah Rea pada awal pernikahannya dengan Varest bisa saja dia akan salah paham dan mengamuk. Tapi sekarang berbeda, dia begitu mempercayai Varest bagaimana suaminya itu memberikan cinta yang tulus padanya.
Lagipun kekhawatiran Rani bukan sepenuhnya salah, dia memang seorang wanita yang sebelumnya pernah menikah, wajar jika Rani memiliki pemikiran demikian mengingat dia yang tidak tahu perjalanan hubungannya dengan Varest. Apalagi takdir kelam yang menjadi awal kisah mereka.
Rea bukan lagi seseorang yang labil yang akan gampang digoyahkan hanya karena omongan orang mengenai kehidupannya. Dia percaya dengan apa yang sudah ditakdirkan tuhan padanya adalah yang terbaik.
"Apa kamu lelah?" Rea bertanya saat Varest menjadikan pahanya sebagai bantal.
"Sedikit." Singkat Varest menghadapkan wajahnya di depan perut istrinya.
"Sayang?"
"Hmm"
"Apa hari ini dia banyak bergerak?" Tanya Varest memainkan telunjuknya di perut Rea.
__ADS_1
"Tidak, aku rasa dia sedang memikirkan sesuatu." Jawab Rea mengelus surai tebal Varest.
Varest mengernyit bingung, setahunya diusia kandungan seperti istrinya ini janin akan sangat aktif bergerak bahkan bisa merespon suara dan sentuhan. Varest merubah posisinya menjadi duduk menatap intens pada Rea khawatir jika ada sesuatu yang lepas dari pengawasannya.
"Apa kamu sakit?" Rea menggeleng sebagai jawaban.
"Jangan menyembunyikan sesuatu, Re!" Jika Varest sudah memanggil istrinya dengan sebutan nama berarti dia sudah sangat serius.
Rea terkekeh melihat ekspresi Varest, tangannya terangkat menyisir rambut Varest yang terlihat berantakan. "Aku hanya menyembunyikan anak kita di perut ku." Guraunya.
"Sayang!" Varest mengambil tangan Rea dan menggenggamnya di atas pahanya. "Jangan membuat ku khawatir." Lirihnya.
"Hah?"
"Tadi aku tidak sengaja ketemu Rani di restoran, sebenarnya bukan sengaja ketemu tapi aku yang melihatnya sedangkan dia tidak menyadari aku di dekatnya, dia bersama Andi dan sedang membahas mu." Jelas Rea.
Varest sempat tercenung dengan ucapan istrinya, diam-diam dia berharap jika Rea tidak mendengar hal buruk dari apa yang di bahas oleh Rani dan Andi, kalau untuk sahabatnya yang bernama Andi sendiri dia tidak kaget kenapa dia bisa bertemu dengan Rani dan membahasnya karena sebelumnya Andi sendiri sudah mengatakan jika dia diajak makan siang oleh teman masa kuliahnya itu.
"Apa yang mereka bahas?" Akhirnya Varest bertanya
"Mungkin sama dengan apa yang dikatakan oleh Rani padamu." Tak perlu Rea menanyakan langsung pada Varest mengenai apa yang menganggu fikiran suaminya beberapa hari ini. Kediaman Varest cukup menggambarkan jika apa yang dia fikirkan memang benar adanya.
__ADS_1
Varest semakin mengeratkan genggamannya pada Rea, dia sudah berusaha menutupi sesuatu yang akan membuat sang istri sakit hati, tapi ternyata tuhan memiliki rencana lain membukanya langsung tanpa perantara lagi. Lelaki itu menggeser tubuhnya mengikis jarak dan langsung mendekap Rea kedalam pelukannya.
Jujur saja saat ini dia ketakutan, bayangan saat dulu Rea pergi meninggalkannya masih belum sepenuhnya hilang dari ingatannya. Maka dari itu dia sangat-sangat berusaha untuk selalu menjaga hati Rea agar tidak sakit entah itu karenanya ataupun karena orang lain. Katakanlah dia terlalu cinta atau menjadi budak cinta, Varest tidak perduli karena itu memang benar adanya.
Dia tak perduli bagaimana orang memandang Rea di kehidupannya yang lalu, seorang yang pernah menikah atau belum itu tidak masalah, yang Varest tahu istrinya ini adalah istrinya dan akan selalu menjadi orang yang dia cintai, akan selalu menjadi satu-satunya di dalam hatinya, wanita kuat dan penuh rasa sayang padanya dan anak-anaknya.
"Sayang, kamu percaya padaku, kan?" Tanya Varest dan mendapat anggukan dari Rea.
"Apapun yang kamu dengar dari Rani, aku harap kamu tidak memikirkannya. Kamu cukup percaya padaku suami mu."
Sekali lagi Rea mengangguk membalas pelukan Varest, dia merasakan ketakutan yang sedang dialami oleh suaminya, dia merasakan ke tulusan dari setiap apa yang dikatakan oleh papa sambung anak pertamanya itu. Tanpa dia sadari air matanya menetes dan semakin dia tenggelamkan wajahnya di dada sang suami.
Cukup untuk rasa sakit yang kedua rasakan di awal pernikahan, Rea sangat bersyukur di pertemukan oleh Varest terlepas dari kejadian itu. "Aku tidak memikirkannya, Rest. Aku hanya memikirkan mu dan anak-anak kita. Tidak ada alasan untuk ku meragukan mu, aku tidak perduli omongan mereka." Parau Rea
Varest melerai pelukannya kemudian menangkup kedua pipi Rea, menatapnya sendu begitupun dengan Rea yang membalas tatapannya tak kalah sendu dengan air mata yang menggenang di ekor matanya.
"Kamu yang harusnya percaya padaku, kamu harus percaya bahwa hati ku sekarang sudah kuat dan tidak akan terpengaruh bagaimanapun orang menilaiku." Rea meyakinkan
Senyum terukir di bibir Varest, mungkin dia sudah terlalu banyak khawatir dan terkesan meragukan perasaan Rea. Tapi, melihat dan mendengar Rea sekarang hatinya menghangat terlebih kalimat terakhir yang istrinya katakan.
"Fokus pada ku, Zee, dan dia." Jeda Rea mengarahkan tangan Varest untuk menyentuh perutnya, "Dia ingin papanya bahagia."
__ADS_1