Sunflower

Sunflower
Sitas’s


__ADS_3

"Bagaimana keadaan cucu ku?" Pria dengan setelan jas nya itu menatap nyalang seseorang didepan sana. "Bukankah aku sudah mempercayakannya padamu?"


Pria lain dengan setelan jas biru navy menunduk. Berhadapan dengan orang didepannya ini memang mengunjuk nyali. James.


Kakek Sitas menghela nafas pelan. “Sejak awal aku memang ragu memberi ijin pada Agatha untuk pindah kesana.” Katanya. “Jika bukan karena bujukan istriku aku tidak akan pernah memberi ijin.”


James sudah keringat dingin pasalnya ini pertama kalinya beliau memanggilnya. Ditambah ini karena masalah yang lumayan serius.


“Maafkan saya Tuan, saya lalai menjaga Nona.” Ujar James, sudah siap dengan hukuman apa yang akan ia terima.


Kakek Sitas menatap James. “Bukan salah mu, kau sudah melakukan yang terbaik dalam menjaga cucu ku.”


James menatap Kakek Sitas penuh arti. Sedikit tidak menyangka akan mendapat respon seperti ini.


“Lagi pula sudah ada Mark disana.” Kata Kakek Sitas. “Berapa lama cucu ku tidak sadarkan diri? Aku dengar dia tidak meminum obatnya dengan teratur.”


“Nona tidak sadarkan diri selama dua hari, dan benar Nona sudah tidak meminum obatnya dalam jangka waktu yang lama. Setelah saya selidiki sudah dua bulan Nona tidak meminum obatnya sama sekali.”


Kakek Sitas mengeram marah. “Bagaimana bisa kau tidak tau?”


“Maaf Tuan.”


“Aku tidak bisa langsung menyalahkan mu kembali lagi kepada cucu ku. Sejak dulu dia memang selalu menolak untuk minum obat.” Kakek berusia sekitar 55 tahun itu menghembuskan nafas pelan. “Apa penyakitnya tambah parah?”


“Penyakit Nona sudah memasuki tahab B. Nona harus kembali rutin meminum obat agar tidak masuk ke tahab C yang lebih serius.”


Kakek Sitas memijit pangkal hidungnya pelan. “Tugas kan Septian menjadi dokter pribadi cucu ku. Dokter Oh tidak bisa selalu bulak-balik Indonesia-Korea.”


“Baik Tuan.”


Brak!!


“Apa benar cucu ku Agatha masuk rumah sakit?” Nenek Sitas masuk dengan heboh. Wajahnya super khawatir.


Kakek Sitas mendengus. “Darimana kau tau berita itu istriku?”


“Benar apa tidak?” bentak Nenek Sitas.


Kakek Sitas langsung ciut. “Iya benar tapi kau tenang dulu keadaannya sudah membai—“


“Bagaimana bisa kau tidak memberitahu ku sama sekali?!!” pekik Nenek Sitas.


“Karena aku tidak mau membuat mu ngamuk seperti ini.”


“Aku mau bertemu dengan cucu ku.” Kata Nenek Sitas.


“Tap—“


“Apa? Tapi apa?!” sewot Nenek Sitas.


Kakek Sitas mengangguk jika sudah begini tidak ada pilihan lain. “James pesankan tiket buat ke Indonesia besok.”


“Kenapa harus besok. Sekarang!”


Kakek Sitas dan James saling tatap saling melempar kode. James yang mengerti membuka suara.


“Tiket untuk ke Indonesia sekarang tidak ada Nyonya. Tidak ada jadwal penerbangan, besok baru ada.”


“Bagaimana kau tau kau kan belum mengeceknya.” Kata Nenek Sitas.


“James kan sudah sering pesan tiket jadi dia hafal.” Sahut Kakek Sitas. “Besok saja ya sekarang kau prepare buat terbang besok. Besok James akan mencarikan tiket yang paling awal.”

__ADS_1


Nenek Sitas memicingkan matanya. “Kau tidak membohongi ku kan?”


“Tidak istriku.”


“Baiklah. James pesankan tiket yan paling awal besok.” Kata Nenek Sitas.


“Baik Nyonya.”


“Kenapa tidak naik helicopter saja.” Lanjut Nenek Sitas sebelum keluar ruangan.


Kakek Sitas menegang. “Udah besok saja sekarang kau istirahat.”


Nenek Sitas menurut meskipun hatinya kesal setengah mati. Ia sangat menghkawatirkan cucu nya.


Kakek Sitas menghela nafas. “Tahta tertinggi memang disanggah oleh istriku.”


James tersenyum. Meskipun Kakek Sitas terkenal kejam pada dunia bisnis nyatanya beliau sangat takut pada istrinya.


“Bagaimana kehidupan cucu ku disana?” tanya Kakek Sitas kembali melanjutkan obrolan mereka. “Kau memang sudah memberikan ku laporan tapi aku ingin mendengar langsung dari mulutmu. Apa anak ku masih memperlakukan cucu ku dengan buruk?”


“Benar Tuan. Seperti yang saya laporkan Nona Agatha sampai berdarah dan menolak untuk diobati dokter. Sampai darah di pelipisnya mengering.”


“Sepertinya aku harus sedikit memberi peringatan pada Haris.”


...****************...


“Agathaaaaa.” Lia datang dengan suara cemprengnya. Sata yang kebetulan disebelahnya langsung memukul lengan gadis itu pelan.


“Sadar diri anjr! Ini rumah sakit bukan hutan.”


“Kunti badak diem aja.” Ujar Lia lalu memeluk ku “Gue kangen banget.”


“Mana yang sakit? Ini masih sakit?” tanya Lia sambil menyentuh luka dipelipisku.


Aku menggeleng. “Udah enggak.”


Lia mengepalkan tangan diudara. “Gue tandain Melani mulai sekarang.”


Sata memutar bola matanya malas. “Bukannya kita juga lo tandain?”


“Iyalah jelas gue masih gak rela Agatha bergaul sama kalian.” Kata Lia.


“Trus Agatha harus bergaul sama lo doang gitu?”


“Iyalah, kalian memberi pengaruh negative buat Agatha.”


Jeno menyenggol lenganku pelan. “Seru juga ya liat mereka.”


Aku terkekeh. “Iya buat hiburan.” Ujarku sambil memakan apel yang dikupaskan Mark.


Mark sejak tadi diam. Sibuk mengupaskan aku apel.


“Btw, dari kemaren gue gak liat Melani di sekolah deh.” Kata Sata pindah posisi disebelah Mark. Sepertinya cowok itu sudah lelah berdebat dengan Lia.


Sementara Lia duduk di ranjang ku.


“Gak penting dia sekolah apa engga.” Sahut sinis Lia.


“Aku suka pertengkaran.” Ujar Jeno.


“Lo kok bisa diseret Melani sampe ke belakang sekolah sih, Tha?” tanya Lia.

__ADS_1


Aku mengangkat bahu. “Satu lawan dua mana menang.”


Lia menyentil dahi ku pelan. “Buat apa ilmu taekwondo lo.”


“Hah? Agatha bisa taekwondo?” kaget Jeno.


“Sabuk hitam malahan.” Lanjut Lia.


“Hah?” Sata ikut terkejut.


“Melani mah kecil buat Agatha.” Ujar Lia. “Tapi nih anak gak pernah mau gunain sabuk hitamnya.”


“Gak bisa gue gunain buat nyakitin orang.” Kata ku. Memang benar aku memiliki sabuk hitam di usia enam belas tahun. Tapi aku jarang menggunakannya jika tidak mendesak.


“Heh pinter! Lo bukannya nyakitin orang tapi dalam konten membela diri.” Cerocos Lia.


Aku meraup wajahnya. “Diem deh.”


“Tapi bener apa yang dibilang Lia.” Sahut Jeno. “Sekali kali lo harus beri mereka pelajaran.”


“Tanpa Agatha beri juga bakal di beri di ono.” Sindir Sata tipis-tipis.


Jeno tampak berfikir lalu melirik Mark. “Bener juga sih.”


“Si ono siapa?” tanya Lia menatap Sata dan Jeno bergantian.


“Anak kecil gak perlu tau.” Cetus Sata.


“Lo emang cari ribut ya sama gue.” Lia berdiri dari duduknya.


Aku tertawa, kehadiran mereka membuat suasana menjadi berwarna. “Jangan berantem terus nanti suka lo.”


“Gue suka sama nih bocah?” Lia menunjuk Sata.


“Gak mungkin dia jauh dari type ideal gue.” Sahut Sata. “Jauh banget.”


“Lo juga bukan type gue, setan! Muka pas-pasan aja gaya lo.”


Aku menatap Mark disampingku sejak tadi dia tidak mengeluarkan suara. “Mau lagi?”


Baru sekarang dia mengeluarkan suara. Aku mengangguk, apel memang buah favoritku.


Tidak lama kemudian suster datang dengan makanan siang ku. Aku baru sadar jika ini masih pukul 12 siang tapi kenapa ketiga manusia ini sudah ada di rumah sakit.


“Kalian bolos ya.” Tanya ku membuat atensi mereka tertuju padaku.


“Enak aja bolos, dikelas jam kosong sampe balik pak Sabar gak masuk yaudah pulang aja daripada gabut dikelas.” Jelas Lia.


Aku beralih menatap Jeno.


“Kalo gue bolos, gak ada Mark gak ada Sata yaudah ikut cabut.”


Aku kembali menatap Mark. “Besok kakak sekolah.”


“Kalo mau.” Singkat Mark mengambil makanan siangku, menatapnya sejenak lalu menangguk.


“Kenapa emang sama makananya sampe lo liatin kek gitu?” tanya Jeno.


Mark hanya menggeleng.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2