Sunflower

Sunflower
Menguping


__ADS_3

"Jangan menjadikan dia teman"


Kalimat itu masih teringat jelas di benak Rea, malam itu setelah dia dan suaminya selesai bergumul. Rea yang menempelkan kepalanya pada dada Varest tiba-tiba sedikit terkejut dengan ucapan suaminya.


"Sayang, jika suatu saat kamu mendengar sesuatu yang buruk aku harap kamu tidak memikirkannya." Varest mengusap rambut Rea yang tergerai di punggungnya.


Rea terdiam berusaha mencerna kalimat yang baru saja diucapkan oleh suaminya. Mendongak menatap wajah Varest dari bawah kemudian berucap, "Tentang apa?, ada sesuatu yang terjadi?"


Varest menggeleng, "Tidak apa-apa, hanya sesuatu yang tidak penting." Jawab Varest.


"Tentang Rani?" Tebak Rea, bukan tanpa alasan dia mengatakan itu, Rea tahu jika wanita itu adalah orang yang terakhir kali bertemu dengannya.


Tak ada jawaban sampai Varest membuang nafasnya kasar kemudian mencium pucuk kepala Rea seraya berkata, "Jangan menjadikan dia teman."


Entah itu peringatan atau perintah, tapi itu sudah membuat rasa penasaran Rea tiba-tiba muncul kepermukaan. Dia tak bisa menanyakan langsung kepada Varest melihat lelaki yang dicintainya itu nampak begitu tak suka jika dia menyebut nama Rani.


"Mbak Rea." Suara Andin membuyarkan lamunannya.


Sontak atensi Rea langsung terarah pada Andin yang sedang duduk di depannya.


"Kenapa. Ndin?"


"Mau pergi sekarang atau mau tunggu sebentar lagi?"


Rea lupa jika mereka sedang berada di salah satu restoran untuk makan siang sehabis menemui klien mereka tadi. Tangannya dia angkat untuk melihat jam yang melingkar di pergelangannya memastikan seberapa lama mereka sudah berada disana.


Sedikit menggeser kursi dengan kakinya hendak berdiri namun tertahan kala dia mendengar seseorang menyebut nama suaminya, dia kembali duduk menyapu pandangan pada orang-orang disekitarnya dan terhenti pada dua orang yang sangat Rea kenal.


Andi dan Rani berada diseberangnya hanya selisih dua meja darinya, sepertinya mereka baru saja sampai terlihat dari meja yang masih kosong dan juga tak menyadari keberadaan Rea.


"Sebentar lagi yah, Ndin." Rea menahan tangan Andin yang ingin berdiri.

__ADS_1


Meski tak ada alasan yang disampaikan oleh Rea, tapi Andin tetap menyetujui. Fikirnya mungkin bosnya itu sekarang merasakan sedikit tidak nyaman pada perutnya.


Rea memiringkan kepalanya sambil bertopang dagu kemudian menyimpan helaian rambutnya ke belakang telinga berusaha menajamkan pendengaran.


"Sayang, jangan tiru kelakuan mama yang ini yah, kamu tidak boleh nguping pembicaraan orang." Batinnya disertai tangan yang mengelus perut buncitnya.


-


"Aku penasaran sebenarnya apa yang kamu katakan padanya?" Tanya Andi


"Dia tidak cerita sama kamu?"


"Tidak, dia sama sekali tidak mau mengatakan apapun. Tapi, yang aku lihat dari ekspresinya yang marah setiap aku sebut nama mu itu pasti sesuatu yang sangat tidak dia sukai." Terang Andi


Rani menghela nafas pelan, "Iya, itu karena kecerobohan ku." Jedanya sesaat. "Aku penasaran dengan Rea dan mencari tahu tentangnya, aku pernah melihat Varest menggendong seorang bocah dan memanggilnya papa, sedangkan aku tahu kalau mereka belum selama itu menikah." Jelasnya.


Andi menggelengkan kepalanya berulang tak habis fikir dengan tindakan berani yang dilakukan oleh wanita di depannya.


"Ndi, aku hanya ingin membantu Varest, aku tidak ingin dia menikahi Rea hanya karena rasa bersalahnya karena kecelakaan yang menyebabkan suami Rea meninggal." Ujar Rani


"Tapi Ran-"


"Mas Andi?" Ucapan Andi menggantung kala Andin yang berada di belakangnya menyadari keberadaanya, wanita itu sedikit terkejut dengan seseorang yang bersama dengan lelaki tersebut.


Sedangkan Rea langsung menegakkan punggungnya sambil melayangkan senyuman kaku. Dia belum puas mendengar pembicaraan antara Andi dan Rani tapi harus digagalkan oleh Andin.


Sebenarnya ini bukan salah Andin, tapi memang Rea yang tak memiliki perencanaan baik untuk aksinya, dia lupa memberi tahu Andin untuk bekerja sama walau dia tahu jika wanita itu akan menyetujui setengah hati, bagaimanapun Rea sadar kalau karyawannya itu juga menaruh hati kepada Andi dan tak mungkin sanggup melihat orang yang dia sukai berlama-lama dengan wanita lain.


"Kalian disini juga?" Andi menoleh dan bertanya canggung pasalnya ada Andin yang melihatnya dengan mata yang sedikit bergetar.


"Iya, tapi kami sudah selesai dan ingin pulang." Rea menyahut seraya berdiri dan meraih tasnya untuk dia selempangkan ke pundaknya.

__ADS_1


"Andin?" wanita yang dipanggil namanya itu langsung mengerjap mengalihkan pandangannya cepat dari lelaki bernama Andi.


"Iya mbak."


"Kita harus kembali ke cafe" Rea paham bagaimana hati Andin saat ini menyaksikan secara langsung orang yang disukai bersama dengan wanita lain meskipun hanya sekedar makan siang.


"Andin" Lirih Andi


"Permisi mas, kami duluan." Pamit Andin disertai senyum tipis mengarah pada Andi dan juga Rani setelahnya menyusul Rea yang sudah berjalan lebih dulu di depannya.


Andin terpaku melihat kepergian Andin dan juga Rea, dua kekhawatirannya saat ini pertama khawatir jika Rea yang mendengar pembicarannya bersama Rani tadi dan menimbulkan keributan dengan Varest, kedua khawatir jika Andin akan salah paham dan semakin jauh darinya.


Pacaran saja belum tapi sudah bermasalah. Andi menghela nafas kasar kembali melanjutkan makannya tanpa melihat Rani yang memperhatikannya.


"Yang bersama Rea itu pacar mu?" Rani bertanya penasaran.


"Calon pacar dan dikhawatirkan akan menjadi mantan calon pacar." Lesu Andi menjawab


Rani terkekeh ikut melanjutkan makannya yang sempat tertunda, ingatannya terputar kembali saat Rea disana, dia yakin jika wanita yang tengah menunggu kelahiran anak keduanya itu mendengar jelas apa yang dia bahas dengan Andi.


Memang tak bisa dipungkiri jika Rea adalah wanita yang cantik dan sangat lembut itu terlihat dari bagaimana wanita hamil itu berbicara, Rani menyadarinya. Tapi, terkadang sisi egois yang dimiliki Rani menolaknya untuk menerima jika lelaki yang selama ini dia jadikan sebagai pemilik hatinya harus menikah dengan wanita yang pernah memiliki suami alias janda.


Mungkin jika Rani dulu tak mengikuti orang tuanya untuk ke luar negeri dan memilih untuk menemani Varest di masa sulit lelaki itu dia bisa saja menjadi wanita yang berhasil membuat Varest menjadi suaminya. Tapi, itu mungkin dan kemungkinan itu terpatahkan dengan kenyataan bahwa sekarang Varest telah memilih wanita berstatus janda.


"Apa Varest benar-benar mencintai istrinya?" Rani memecah keheningan.


"Apa?" Andi yang tak terlalu mendengar pertanyaah Rani.


Rani menggeleng kemudian menyedot minumannya setelah itu tersenyum tipis.


"Andi, aku akan berangkat ke Jepang seminggu lagi dan aku ingin meminta bantuan mu" Ujar Rani

__ADS_1


Andi melipat dahinya dalam mengantisipasi permintaan tolong yang akan di lontarkan oleh wanita di depannya, dia tidak akan menolong jika itu menyangkut keingingannya akan Varest.


__ADS_2