Takdir Yang Memilih

Takdir Yang Memilih
Kisah Hidupnya


__ADS_3

Kepergian Seira membuat sinar kebahagiaan di wajah Ganesh langsung sirna. Hal ini tentu menyadarkan Tyas jika suaminya hanya akan bahagia bersama wanita yang di cintainya, yaitu Seira. Bukan dirinya.


Malam ini Tyas duduk diam di pinggir tempat tidur. Menatap pemandangan di luar jendela yang gelap gulita. Hanya cahaya beberapa lampu yang terlihat di berbagai titik.


Salahkah aku mencintainya?


Bagai pungguk merindukan bulan, Tyas mengharapkan hal yang tidak mungkin. Mengharapkan cinta suaminya, bagaikan hal mustahil bagi Tyas. Bahkan Ganesh bisa menganggapnya istri saja sudah sangat bersyukur bagi Tyas. Namun, lagi-lagi hal itu bagaikan hal yang mustahil. Melihat bagaimana cinta Ganesh pada Seira.


Prank...


Suara pecahan kaca membuat Tyas tersentak dari segala lamunannya. Dia segera berlari ke luar kamar, dan ternyata asal suara itu berasal dari pecahan gelas yang tidak sengaja Ganesh jatuhkan.


"Jangan Mas, biar aku saja" teriak Tyas menghentikan gerakan Ganesh yang akan memunguti pecahan gelas itu. Tyas tidak mau jika tangan Ganesh akan terluka terkena pecahan gelas. Membuat dia segera berlari ke arah dapur membawa sapu dan pengki.


Ganesh hanya diam menatap Tyas sedang menyapukan pecahan gelas yang tidak sengaja dia jatuhkan. Sebenarnya gadis itu tidak salah apapun, dia hanya tidak sengaja masuk ke dalam hubungan rumit dirinya dan Seira. Hati kecil Ganesh mulai berbicara.


"Mas gak papa? Kenapa bisa sampe pecahin gelas? Untung gak kena kaki Mas Ganesh" kata Tyas, menatap khawatir pada Ganesh lalu beralih menatap ke arah kakinya. Takut jika pecahan gelas tadi mengenai kakinya dan membuatnya terluka.


Ganesh mengerjap, sejenak dia begitu terpesona dengan tatapan teduh Tyas. "Sudahlah, aku tidak papa. Ini semua salahmu, karena menaruh gelas terlalu di pinggir meja"


Ganesh berlalu pergi setelah mengatakan itu. Sementara Tyas hanya mampu menghela nafas melihat sikap dingin suaminya padanya.


Sabarlah Tyas, kau sudah mengalami perlakuan lebih buruk dari pada ini dari keluargamu sendiri.


Begitulah cara Tyas menyemangati dirinya sendiri. Dia hanya perlu lebih bersabar agar hati suaminya bisa luluh perlahan demi perlahan. Tyas akan mencobanya, meski hati kecilnya mengatakan jika itu tidak mungkin. Hal yang mustahil jika Ganesh bisa luluh karenanya.

__ADS_1


...🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬...


Pagi ini Tyas seperti biasa melakukan kegiatan paginya. Menyiapkan sarapan dan membersihkan beberapa ruangan yang terlihat kotor. Pagi ini modd nya sedikit buruk karena tadi malam dia kedatangan tamu bulanannya. Membuat perutnya nyeri.


"Takdirnya perempuan memang selalu di beri nikmat yang berlebih. Mulai dari nyeri datang bulan sampai nikmatnya melahirkan" gumam Tyas mencoba menerima takdirnya sebagai perempuan.


Sekali lagi Tyas meringis sambil memegang bagian bawah perutnya yang terasa nyeri. Dia menggeser kursi meja makan dengan sebelah tangannya, lalu duduk disana.


"Kau kenapa?"


Suara berat Ganesh membuat Tyas langsung menoleh. Dia menggeleng pelan. "Tidak papa, hanya sedang datang bulan saja"


Ganesh hanya ber'oh saja, dia tidak ingin terlalu peduli pada istrinya itu. Ganesh hanya ingin Tyas merasa kesak dengan sikapnya dan segera mengajukan gugatan cerai padanya. Maka Ganesh akan sangat bahagia jika itu terjadi.


"Ambilkan makanan untuk ku, kau belum mau mati 'kan hanya karena sakit datang bulan? Jadi, masih kuat untuk mengambilkan makanan untuk aku"


Tidak sanggup berkata apapun, Tyas hanya menuruti perkataan Ganesh. Mengambilkan makanan untuk pria itu, meski hatinya sudah sangat hancur mendengar setiap kata menyakitkan dari mulut suaminya sendiri.


"Kau juga boleh makan, aku tidak mau kau semakin menyusahkan karena sakitmu itu"


Bolehkah Tyas mengartikan jika ini adalah sebuah perhatian kecil dari Ganesh. Meski perkataannya tidak pantas untuk di sebut perhatian dari seorang suami pada istrinya. Namun, dengan menyuruh Tyas makan saja sudah membuat hati Tyas sedikit terobati. Tyas hanya butuh sedikit perhatian yang bahkan tidak pernah dia dapatkan dari keluarganya sendiri.


Tyas mengangguk, lalu mengambil makanan untuk dirinya sendiri. Seperti pagi-pagi sebelumnya, sarapan pagi ini juga begitu hening. Hanya dentingan sendok yang beradu dengan piring yang terdengar di antara sepasang suami istri ini. Dan Tyas sudah terbiasa dengan keheningan ini. Di keluarganya pun, dia selalu merasa kesepian di tengah canda tawa keluarganya yang tidak menganggap keberadaannya.


Selesai sarapan, Tyas segera membereskan dan mencuci bersih bekas makan mereka. Tyas melirik ke arah Ganesh yang masih berada di meja makan. Dia sedang memainkan ponselnya, dengan naluri seorang istri Tyas segera membuatkan minuman kesukaan suaminya.

__ADS_1


"Kopinya Mas"


"Hmm"


Sudahlah, Tyas memang sudah terbiasa dengan sikap dingin dan cuek dari Ganesh. Tyas lebih memilih pergi ke kamarnya untuk memulai menulis kisah baru lagi di aplikasi tempat dia menulis novel online, sebagai hobby terpendamnya.


Tyas mengeluarkan laptop usangnya yang dia bawa di dalam tas. Laptop yang dia beli dengan menabung selama dua tahun lamanya. Meski hanya laptop bekas, tapi Tyas bisa menyalurkan hobby nya disini.


Tyas telah menyelesaikan satu judul novel, dan sekarang dia akan memulai kisah baru. Entah apa yang membuatnya memiliki fikiran untuk menulis kisah pernikahannya ini. Dengan keyakinan yang kuat, Tyas akhirnya menggerakan jari-jemarinya di atas keyboard laptop. Mengetik setiap kata yang mengisahkan pernikahan yang dia jalani.


Setelah mendapatkan satu bab untuk bisa dia post, Tyas saat ini sedang memikirkan judul yang tepat untuk novel barunya ini.


Takdir Yang Memilih. Judul novel yang Tyas berikan pada karya terbarunya. Kenapa dia memilih judul ini, karena dia sedang mencoba mengikuti takdirnya. Mengikuti arus dan bukan melawan arus.


Biarkan takdir yang memilih, entah aku harus tetap bersama suamiku atau mungkin bisa saja menyerah suatu saat nanti.


Seandainya Ganesh memilili pemikiran seperti Tyas. Maka dia akan bisa berlapang dada menerima pernikahan ini. Namun, sayangnya Ganesh menuruni sifat Kakeknya, sangat keras kepala.


Dan ajaibnya, baru beberapa jam Tyas mem'post satu bab novel terbarunya sudah ada yang membacanya, meski tidak banyak. Namun, Tyas senang dengan ini. Dia bisa menyalurkan pengalaman hidupnya dengan di campur beberapa kata-kata menyayat hati agar pembacanya bisa tahu bagaimana perasaannya saat ini.


Entah kenapa aku merasa lega setelah menulis.


Kelegaan itu karena Tyas merasa bisa berbagi dengan cara ini. Hobby menulisnya bisa dia jadikan sebagai tempat dia bercerita tanpa orang mengetahui jika itu adalah kisahnya. Semua orang akan menyangka jika cerita di balik judul Takdir Yang Memilih hanyalah fiksi dan karangan si penulis saja.


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya... like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya juga.


__ADS_2