Takdir Yang Memilih

Takdir Yang Memilih
Persalinan Penuh Keharuan


__ADS_3

Tyas menatap suaminya yang terbaring lemah di atas ranjang pasien. Dia ingin Ganesh segera sadar karena saat ini bayinya juga sedang berjuang untuk lahir ke dunia ini. Dokter masih mengizinkan Tyas untuk pergi menemani suaminya di tengah kontraksi yang sedang terjadi.


"Mas ayo bangun, anak kita sudah mau lahir. Dia ingin di temani kamu" lirih Tyas dengan air mata yang mengalir di pipinya.


Tyas kembali meringis saat perutnya kembali terasa sakit. Kontraksinya semakin sering, tapi suaminya masih saja terbaring lemah tak sadarkan diri. Apa mungkin persalinan kali ini, Tyas hanya harus berjuang sendiri tanpa di temani oleh Ganesh. Mama selalu berada di samping Tyas, sementara Papa mulai menghubungi anggota keluarga yang lain.


"Tyas, kamu harus kuat demi anak kamu dan suami kamu. Semuanya pasti akan baik-baik saja"


Tyas memeluk Mama dengan tangisan yang pecah. Kenapa harus seperti ini kisahnya, kenapa suaminya harus dalam keadaan tak sadarkan diri di saat kelahiran anak mereka sudah di depan mata.


Mama sampai ikut meneteskan air mata dengan keadaan anak dan menantunya itu. Anaknya yang sedang terbaring lemah dan menantunya yang sebentar lagi akan melahirkan anak mereka. Mama tidak tahu kenapa cobaan begitu bertubi-tubi menguji kesetiaan dua insan manusia ini. Mereka yang baru saja bersatu kembali setelah kesalahan yang di sesali Ganesh sampai saat ini.


"Ma ketuban Tyas sudah pecah"


Mama langsung menoleh ke arah bawah dan cairan telah memenuhi lantai. Tyas semakin meringis menahan kontraksi yang semakin sering dan semakin kuat. "Sayang, kita harus ke ruang bersalin sekarang. Kamu sudah mau melahirkan"


"Sebentar Ma..." Tyas menggenggam erat tangan suaminya dan menciumnya dengan tangisan yang pecah. "...Mas do'ain lahiranku lancar ya. Kamu juga harus cepat sadar. Kita berjuang sama-sama ya"


Mama memalingkan wajahnya dengan segera menghapus air mata yang meluncur begitu saja di pipinya. Mama mendorong kursi roda Tyas dan membawanya keluar ruangan. Disana sana sudah ada keluarganya yang menunggu. Eriawan yang sejak tadi hanya bisa menunggu anaknya keluar, langsung berlari ke arah anaknya itu. Memeluknya dengan hangat.


"Tyas kuat ya, anak Papa sangat kuat dan pasti bisa melewati ini semua"


"Iya Pa, do'ain Tyas ya"


Semuanya menatap dengan kesedihan yang terasa saat kursi roda Tyas berlalu menuju ruang persalinan. Hanya ada Mama di ruang persalinan ini, tidak ada suaminya. Bagaimana Tyas tidak bisa menahan air matanya jika dia harus melahirkan anak pertamanya tanpa di temani suaminya.


"Nona ayo berjuang untuk anak Nona ini. Dia sudah siap lahir ke dunia ini"

__ADS_1


Tyas menatap Mama yang berdiri di sampingnya dengan wajah yang basah dengan air mata. Mama tak bisa menahan lagi perasaannya. Hancur melihat tatapan menantunya yang harus melahirkan anak pertama tapa di temani suaminya. "Hiks. Bisa Sayang, kamu kuat"


Mama menggenggam tangan Tyas dengan erat, dia memberikan semangatnya untuk menantunya bisa berjuang untuk kelahiran anaknya itu.


"Mas Ganesh bantu Tyas"


...🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬...


Ganesh mendengar suara rintihan istrinya yang kesakitan. Seketika dia langsung membuka matanya membuat Papa yang sedang menjaganya terkejut dengan itu. Ganesh bagaikan orang kerasukan yang tiba-tiba membuka matanya dengan seketika.


"Nesh, kamu sadar"


Papa segera menekan tombol darurat untuk memanggil dokter. Selesai di periksa dan dokter menjelaskan jika Ganesh sudah melewati masa kritisnya. Dia hanya mendapat benturan cukup keras di kepalanya hingga dia tidak sadarkan diri sampai saat ini. Sekarang keadaan Ganesh sudah lebih baik.


"Pa, dimana istriku?" Tanya Ganesh dengan suara lirih.


"Ganesh istrimu sedang berjuang melahirkan anak kalian sekarang. Dia bersama Mama disana"


"Kamu tenang dulu Nesh, kamu juga harus memikirkan keadaanmu ini"


"Tidak Pa, istriku sedang berjuang sendirian disana. Aku harus mendampinginya"


"Iya Papa tahu, tapi kamu harus tenang dulu"


"Begini saja, saya izinkan Tuan menemui istri anda di ruang persalinan. Biar saya suruh suster membawakan kursi roda kesini" Dokter cukup mengerti keadaan Ganesh saat ini hingga dia mengizinkannya untuk menemani istrinya.


Dengan di bantu Papa dan Dokter Ganesh bisa menemui istrinya ke ruang persalinan. Papa mendorong selang infus dengan dokter yang mendorong kursi roda Ganesh. Dokter tetap harus mengawasi keadaan Ganesh yang masih lemah.

__ADS_1


Ceklek pintu persalinan yang tiba-tiba terbuka. Tyas melihat suaminya datang, senyum bahagia terlihat jelas di wajahnya. "Mas Ganesh"


Papa mendorong kursi roda Ganesh ke samping ranjang Tyas. Menantunya masih terus berjuang untuk melahirkan anak mereka. Ganesh mengangkat tangannya dan menggenggam tangan istrinya. "Sayang ayo kita berjuang sama-sama untuk anak kita"


Mama yang masih berdiri di samping menantunya hanya mampu menangis haru melihat keadaan ini. Tyas mendnegarkan aba-aba dokter dan mengejan sekuat tenaga nya. Dia benar-benar mengeluarkan sisa tenaganya untuk bisa melahirkan anaknya dengan selamat.


Ganesh menatap kasihan pada istrinya yang terus berjuang melahirkan anaknya. Tidak bisa membayangkan jika istrinya melakukan persalinan ini tanpa suaminya. Ganesh tidak bisa membayangkan betapa sakit istrinya jika sampai itu terjadi.


Tyas terus mengeluarkan sisa tenaganya untuk melahirkan anak mereka. Hingga suara tangisan bayi menggema di setiap sudut ruangan ini. Ganesh mengucap syukur saat bayinya telah lahir. Tyas pun tersenyum lirih dengan dirinya yang terkulai lemas.


...🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬...


Persalinan penuh haru ini menjadi perbincangan utama untuk para perawat. Seorang suami yang menemani istrinya melahirkan di keadaan dirinya yang baru saja mengalami kecelakaan. Kesetiaan suami dan istri yang berjuang bersama dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Namun dengan izin Tuhan, akhirnya bayi mereka lahir dengan selamat dengan di dampingi oleh suaminya meskipun baru tersadar.


Di ruangan ini, dua ranjang pasien yang di satukan. Sepasang suami istri berbaring disana dengan tangan saling menggenggam. Perjuangannya beberapa waktu lalu benar-benar membuat keduanya semakin memperkuat cinta di antara mereka. Tyas tidak ingin kehilangan Ganesh, begitupun sebaliknya. Proses persalinan yang mengharukan itu telah usai. Kini tinggalah kebahagiaan yang menyelimuti mereka.


Bayi mungil yang cantik itu menjadi rebutan di antara anggota keluarga. Tyas dan Ganesh hanya tersenyum melihat itu. Bahagia karena akhirnya mereka bisa melihat anaknya lahir dengan selamat. Tyas sedikit membenarkan posisi tubuhnya agar menghadap ke arah suaminya.


"Pelan-pelan Sayang. Luka jahitannya masih basah ihh" kata Ganesh, ngeri sendiri saat tadi dia tahu jika surganya telah di jahit oleh dokter. Membayangkannya saja sudah membuatnya linu.


"Mas wajah ini luka lagi" Tyas mengelus perban yang terpasang di pipi kiri suaminya.


Ganesh menggenggam tangan istrinya itu. "Tidak papa, yang penting kita sudah bisa bersama lagi. Ini hanya bentuk ujian dari Allah untuk menguji cinta kita ini"


Bersambung


Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya...

__ADS_1


Ada karya temanku lagi nih... Yuk mampir..



__ADS_2