
Pagi ini Tyas sudah mulai merasa tubuhnya lebih baik. Demamnya sudah turun dan dia bisa melakukan aktifitas seperti biasa. Di saat suaminya kembali terlelap setelah menunaikan kewajibannya pagi ini. Tyas langsung keluar kamar dan menuju kamar anaknya. Dua hari tidak bisa bertemu anaknya benar-benar membuat Tyas merasa sangat rindu. Dia hanya memompa asi untuk anaknya tanpa bisa memberikan asinya secara langsung.
Tyas membuka pintu kamar anaknya, dan ternyata Gweny sudah terbangun. Dia sedang mengoceh tidak jelas di atas tempat tidur dengan Bu Dia memegangi sebuah mainan di atasnya. "Wah anak Bunda sudah bangun ya, Bunda kangen tahu sam Gwen"
"Neng, sudah sehat?"
Tyas tersenyum ke arah Bu Diah. "Alhamdulillah Bu, sudah lebih baik"
"Syukurlah, jangan kecapean dulu Neng. Harus lebih banyak istirahat"
Tyas mengangguk dan tersenyum. Dia merasa mendapatkan sosok Ibu dari Bu Diah. Dia selalu memberikan perhatiannya pada Tyas layaknya seorang Ibu pada anaknya. Melihat Gweny yang sedang menendang-nendang di atas tempat tidur dengan terus mengeluarkan suara khas bayi. Sangat menggemaskan. Tyas langsung menggendong anaknya dan mencium pipinya dengan gemas.
"Bau acem ahh, Gwen belum mandi ya. Jorok ihh anak gadis Bunda" Begitu gemas dengan Gweny sampai membuat dirinya ingin sekali menggigit pipi gembil anaknya itu. "..Ihh.. Gemes gemes.."
Tyas terus menciumi kedua pipi gembil anaknya. Sangat gemas dengan anaknya itu. "Cantiknya anak Bunda"
"Bu, stok asi masih ada?"
"Habis Neng, Gwen memang bagus sekali asinya. Sangat lahap"
Tyas tersenyum dan menatap wajah mungil menggemaskan dalam gendongannya. "Pantesan pipinya anak Bunda ini sampai chubby sekali"
"Yaudah gak papa Bu, hari ini aku mau kasih asi langsung saja. Paling pompa lagi buat nanti malam"
Bu Diah mengangguk, tepat pada saat itu pintu kamar yang terbuka. Ganesh muncul disana dengan wajahnya yang khas orang baru bangun tidur. Ganesh berjalan ke arah istrinya dan langsung memeluk tubuh istrinya dari belakang. Tidak peduli dengan keberadaan Bu Diah disana.
"Apaan si Mas, lepasin ihh"
"Kamu kok udah keluar kamar si? Emangnya aku udah izinin kamu untuk keluar kamar?" Ganesh malah menyandarkan dagunya di bahu istrinya. Menoel-noel pipi Gweny yang berada di gendongan istrinya.
"Aku sudah sehat Mas, sekarang sudah tidak demam lagi. Jadi aku sudah boleh keluar kamar dong. Aku udah kangen banget sama Gweny"
Ganesh mencium pipi istrinya "Yaudah sekarang ke kamar lagi yuk, aku mau mandi"
__ADS_1
"Iya, kamu duluan sana" Tyas melepaskan lingkaran tangan suaminya di perutnya. Lalu dia menyerahkan Gweny kembali pada pengasuhnya. "...Bu titip Gwen dulu ya, aku mau urus bayi besar aku dulu"
Bu Diah hanya tersenyum mendengarnya, memang Ganesh selalu bersikap layaknya seorang anak kecil saat bersama istrinya. Tapi jangan dikira kalau dia sudah marah, seperti kejadian baru-baru ini yang mengancam nyawa istrinya. Ganesh langsung bertindak tegas dan mempekerjakan seorang pelayan di rumahnya agar kejadian itu tidak terulang lagi.
Suasana di kamar utama. Ganesh masih berdiri di depan istrinya saat Tyas mulai membuka setiap kancing piyama yang di pakai suaminya. Ganesh sangat manja sampai dia ingin Tyas membukakan bajunya sebelum dia mandi.
"Mas, aku sama Gweny mau ikut ke kantor dong. Pengen main aja, gak akan ganggu kamu kerja kok"
Ganesh sedikit berfikir, memang bagus juga jika istrinya menemaninya di kantor. Tapi, kalau bersama Gweny berarti Bu Diah juga ikut dan yang lebih sulitnya, kalau dia ingin melakukan sesuatu yang lebih pasti tidak akan bisa.
"Emm. Kalau kamu saja sendiri bagaimana? Gweny biar sama Bu Diah, kasian dia masih bayi kalau di bawa ke kantor. Kan disana suasananya pasti agak berisik dan tidak nyaman juga"
Alsan saja Ganesh ini, dia hanya sedang tidak mau di ganggu oleh anaknya sendiri. Dia seolah sedang mempunyai rencananya sendiri. Tyas sedikit berfikir, yang di ucapan Ganesh memang ada benarnya juga. Tapi masa dia pergi ke kantor suaminya tapi tidak dengan anaknya. Rasanya terlalu aneh saja.
"Yaudah gimana nanti aja deh, aku paling kesananya juga pas makan siang biar bawa makan siang buat kamu juga. Bawa atau enggaknya Gweny, gimana nanti aja"
Duh istriku ini tidak mengerti sekali. Padahal jarang sekali dia ingin ikut ke kantorku, kan aku bisa mencoba suasana yang baru disana. Tapi kalau Gwen ikut, pasti tidak akan bisa. Maafkan Ayah Gwen, bukannya Ayah tidak menyayangimu. Tapi Ayah juga ingin merasakan hal yang baru di kantor nanti.
"Udah Mas, sana mandi nanti telat lagi bekerja nya"
"Iya Sayang, sini cium dulu" Ganesh menahan tengkuk istrinya yang siap menjauh lalu memberikan kecupaj hangat di bibirnya. "...I Love You"
Dih..
Tyas menatap heran dengan tingkah suaminya itu.
...🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬...
Saat ini Tyas sedang duduk di bangku taman rumahnya dengan di temani Medina. Gadis malang yang di tolong suaminya. "Me, kamu itu anak tunggal atau punya saudara?"
"Saya tunggal Nona":
"Jangan panggil Nona lah, panggil nama saja. Lagian umur kamu berapa tahun sekarang?"
__ADS_1
"Saya baru 23 tahun"
"Wahh masih muda banget ya. Kalau begitu panggil Mbak saja deh, atau Kakak. Usia adikku juga masih di bawah kamu. Dia baru 20 tahun sekarang"
"Tapi saya tidak enak Nona"
"Tidak enak apaan si Me, kita semua sama tidak ada yang namanya majikan dan bawahan. Lagian aku tidak suka kalau di panggil Nona, rasanya terlalu formal saja"
"Emm. Baiklah Mbak"
"Nah gitu 'kan lebih enak di dengar. Jadi kita juga bisa lebih dekat lagi dan kamu bisa cerita apapun sama aku. Anggap saja aku ini adalah Kakak kamu"
Medina benar-benar tidak menyangka jika istri dari pria yang menolongnya adalah sosok yang sangat baik. Bahkan dia tidak mempunyai sifat sombong sedikit pun seperti kebanyakan orang-orang kaya yang sering Medina temui.
"Mbak Tyas kenapa baik sekali pada saya?" Akhirnya Medina memberanikan diri untuk bertanya.
"Ya, karena aku juga pernah berada di posisi kamu. Di saat kita hanya merasa sendiri sampai tidak bisa menggerakan bibir bahkan hanya untuk sekedar tersenyum tipis"
Entah bagaimana, tapi Tyas melihat sosok Medina adalah sosok dirinya di waktu dulu. Kesendirian dan kekosongan hati. Seolah tidak ada lagi tujuan hidup selain menjalani apa yang sedang terjadi saat ini.
"Udah waktunya makan siang ya, aku mau ke kantor Mas Ganesh. Kamu bisa bantu aku masak makan siang untuk suamiku?"
"Tentu Mbak"
Medina mengikuti Tyas yang berjalan masuk ke dalam rumahnya. Beruntungnya Tuan Ganesh mendapatkan istri seperti Mbak Tyas.
Bersambung
Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya.. berikan bintang rate 5
Yuk mampir di karya temanku.. Ceritanya bagus..
__ADS_1