Takdir Yang Memilih

Takdir Yang Memilih
Ratu Dalam Hidupku


__ADS_3

"Jadi mau membawa Gweny Neng?" tanya Bu Diah


"Iya Bu, bawa Gweny masa gak di bawa si"


"Tapi Neng Gweny nya baru saja tidur" Alasan yang tidak membuat kebohongan. Karena perkataan Ganesh tadi pagi, Bu Diah sudah di buat kebingungan untuk mencari alasan yang tepat agar Tyas tidak membawa Gweny ke kantor Ayahnya.


Ganesh menyelinap masuk ke kamar Gweny, bahkan sampai membuat Bu Diah terkejut dan juga heran dengan apa yang di lakukan majikannya itu.


"Tuan ada apa?"


Ganesh berjalan mendekat ke arah Bu Diah yang sedang menggantikan popok Gweny. "Bu, nanti kalau Tyas bilang mau ke kantor ku dan dia mau bawa Gwen. Ibu cari alasan ya biar Tyas tidak bawa Gweny ke kantor. Ibu mengertilah maksud saya"


Bu Diah tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Sunggu Ganesh adalah pria yang sangat bucin pada istrinya. "Siap Tuan, tenang saja saya pastikan Nona Tyas akan datang sendiri ke kantor tanpa bersama Gweny"


Bu Diah kembali tersenyum sambil menggelengkan kepalanya saat mengingat kelakuan Ganesh tadi pagi. Beruntungnya saat ini Gweny memang sedang tidur. Jadi Bu Diah tidak sedang berbohong pada Tyas.


"Kenapa Bu?"


Hah? Bu Diah kaget saat Tyas bertanya kenapa padanya. Dia langsung menggeleng pelan. Tyas pasti heran melihat dirinya yang tersenyum sambil geleng-geleng kepala. "Neng berangkat sendiri saja ke kantor Tuan, takutnya kalau nunggu Gweny bangun pasti lama. Kan sayang makanan yang udah Neng masak untuk Tuan. Nantinya jadi gak kemakan sama Tuan kalau Neng nunggu Gweny bangun"


"Yaudah Bu, kalau begitu aku berangkat sendiri saja. Aku udah pompa asi kok, jadi tenang aja. Ibu tolong jaga Gwen baik-baik ya"


"Iya Neng, sana berangkat pak supirnya sudah menunggu di luar tuh sejak tadi"


Tyas mengangguk "Iya Bu, Tyas pergi ya. Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Tyas naik ke dalam mobil setelah sang supir membukakan pintu mobil. Pak Supir langsung melajukan mobilnya menuju perusahaan GE. Dimana suaminya mencari nafkah disana. Perjalanan cukup lama karena terhambat macet. Jalanan sedang padat-padatnya karena ini jam makan siang. Banyak anak sekolah dan para pekerja yang pergi untuk mencari makan. Suara dering ponselnya membuat Tyas mengalihkan pandangan dari pemandangan di luar jendela mobil yang sedang padat oleh para pengendara yang membunyikan klakson karena ingin segera sampai di tempat tujuan.


"Hallo Mas"


"Sayang jadi kesini?"


"Iya jadi, ini lagi di jalan tapi kejebak macet"


"Gwen ikut gak?"


"Gak Mas, dia lagi tidur jadi gak bisa aku bawa"

__ADS_1


"Ohh. Padahal aku kangen sama dia" Bicaranya saja yang seperti itu, tapi hatinya sangat berbunga-bunga karena tahu jika istrinya hanya datang seorang diri. Tidak bersama anaknya.


"Iya Mas, soalnya dia lagi tidur. Kasihan juga kalau di bangunin atau di bawa pas lagi tidur"


"Iya Sayang, gak papa. Kan ada Bu Diah juga yang mejaganya"


"Iya Mas"


Beberapa saat berbincang lewat telepon, Ganesh pun memtuskan sambungan teleponnya. Dan beberapa menit kemudian barulah mobil yang di tumpangi Tyas sampai di parkiran perusahaan GE. Tyas langsung masuk ke dalam perusahaan suaminya. Orang-orang di perusahaan yang sudah tahu siapa Tyas langsung menyapanya dengan sopan. Bahkan kedua resepsionis yang dulu pernah tidak tahu siapa Tyas, hingga mereka malah mengatakan jika Tyas adalah pembantu Ganesh.


Suara pintu lift yang terbuka membuat Ganesh menoleh ke arahnya. Dia sedang ingin mengantar salah satu rekan kerja yang baru saja selesai membahas beberapa pekerjaan dengannya. Tyas yang keluar dari lift langsung diam dan bingung apa dia harus melanjutkan langkahnya atau tidak. Melihat suaminya yang sedang ada tamu.


"Sayang sini" Ganesh melambaikan tangannya, menyuruh Tyas untuk mendekat padanya.


Rekan kerja Ganesh pun langsung menoleh ke arah Tyas. "Apa itu Ratunya Tuan Ganesh?"


"Iya tentu Tuan. Ini adalah ratu saya"


Tyas berjalan mendekat pada suaminya. Dia menyalami tangan Ganesh dan mengangguk hormat pada rekan kerja Ganesh.


"Wahh, sangat cantik sekali. Tuan Ganesh pasti sangat beruntung memiliki istri sepertinya"


"Yasudah, kalau begitu nikmatilah waktu kalian berdua. Saya permisi dulu Tuan dan Nyonya"


"Baik Tuan, sampai ketemu lagi di kerja sama kita selanjutnya"


"Baik Tuan"


Mereka saling berjabat tangan, lalu berjalan menuju arah yang berbeda. Ganesh berjalan ke arah ruangannya dan rekan kerjanya pun berjalan ke arah lift. Ganesh membuka pintu ruangannya dan mempersilahkan istrinya masuk lebih dulu.


"Mas malu tahu sama rekan kerja kamu itu"


Ganesh mengerutkan keningnya bingung, melihat istrinya yang sedang menata makanan yang di bawanya di atas meja depan sofa di ruangan ini. Ganesh berjalan mendekati istrinya itu. "Malu kenapa Sayang?"


"Kamu sampai bilang aku ratu kamu, kan malu ihh"


"Ya ampun Sayang, itu adalah kenyataan dan memang benar kalau kamu itu adalah ratuku"


Tyas berbalik dan tidak tahu kalau suaminya ternyata sudah berada tepat di belakangnya, sampai dirinya menubruk tubuh Ganesh. "Duh Mas, ngagetin aja deh"

__ADS_1


Ganesh menahan pinggang istrinya saat Tyas akan menjauh darinya. "Kenapa malu? Kamu memang ratu dalam hidupku"


"Ya ampun Mas, kalau seorang Ratu itu pasti cantik. Gak kayak aku"


"Kamu gak denger tadi kalau dia saja bilang kamu cantik. Sebenarnya aku ingin mencubit bibir sialan itu yang berani-beraninya memuji istriku di depanku"


Apaan si dia ini.


"Yaudah terserah kamu saja Mas, lagian dia muji aku karena aku istri kamu. Kalau bukan, mana mungkin ada yang mau muji aku"


Ganesh mengecup bibir istrinya yang selalu terlihat imut kalau sedang nyerocos seperti itu. "Dasar cerewet, kamu emang cantik dan paling cantik dalam hidupku setelah Mama dan Gezia"


Tyas tersenyum, dia melepaskan diri dari pelukan suaminya dan kembali menyiapkan makanan yang di bawanya. "Ayo makan dulu"


Sepasang suami istri itu sedang makan siang dengan tenang di dalam ruangan Ganesh dengan sesekali sang suami menyuapi istrinya makan. Selesai makan, Tyas segera membereskan kembali semua peralatan makan di atas meja.


"Sayang sini"


Tyas menoleh ke arah suaminya yang sedang duduk di kursi kebesarannya. Tyas berjalan ke arah suaminya dan terkejut saat tangan Ganesh tiba-tiba menarik tangannya hingga dia terjatuh di atas pangkuan pria itu. Ganesh memeluknya dari belakang, mencium aroma istrinya yang memabukkan.


"Mas, selalu saja bikin kaget. Lagian takut ada yang masuk ke sini Mas. Kamu gimana si?"


"Apasi Sayang, gak papa. Lagian tidak akan ada yang berani masuk ke ruangan ini. Apalagi tahu kalau kamu datang"


"Aku langsung pulang aja ya, kamu juga 'kan pasti masih banyak pekerjaan"


"Gak perlu Sayang, diam saja disini. Lagian aku sedang tidak terlalu banyak pekerjaan hari ini. Ada sesuatu yang ingin aku lakukan disini bersamamu"


Tyas bingung sendiri dengan ucapan Ganesh, hingga suaminya tiba-tiba menggendongnya dan membawa dia ke sebuah ruangan yang ternyata adalah kamar tidur.


Apa yang akan mereka lakukan ya?


Bersambung


Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya.. berikan bintang rate 5 juga..


Yuk mampir di karya temanku.. Ceritanya bagus..


__ADS_1


__ADS_2