
Tidak semudah itu menjalani kehidupan sampai di titik ini bagi Tyas. Bahkan perjuangannya tidak bisa dia ceritakan karena terlalu panjang jika harus dia ceritakan. Mulai dari kematian sang Ibu, hingga dirinya yang di benci oleh Ayahnnya sendiri. Kini, Tyas bisa mendapatkan kebahagiaan ini dengan tidak mudah. Mendapatkan cinta suaminya dan juga mendapatkan kembali kehangatan dari Ayahnya. Mendapatkan kasih sayang dari adiknya. Semua itu dia lewati dengan tidak mudah.
Hati yang sempat hancur, kini kembali membaik dengan seiringnya waktu. Hati yang terluka, kini mulai mengering dan sembuh. Begitulah hidup yang di jalani Tyas saat ini. Sedang sangat bahagia dengan segala anugerah yang Tuhan berikan padanya. Salah satunya adalah Gweny, bayi mungil yang cantik yanh Tuhan titipkan padanya. Bayi yang hadiri di tengah kekacauan hidupnya dan pernikahannya. Namun bayi itu tetap sebuah anugerah untuk Tyas. Karena kehadirannya telah menyatukan kembali dirinya dengan sang suami.
Tyas berdiri di balkon kamarnya dengan kedua tangan tertumpu pada pagar pembatas. Angin malam menerpa tubuh dan wajahnya sampai terasa dingin menusuk hingga ke tulang. Sebuah tangan yang tiba-tiba melingkar di perutnya menyadarkan Tyas dari setiap lamunan.
"Ngapain disini Sayang? Masuk yuk, dingin"
Suara lembut suaminya terdengar di telinga membuat Tyas tersenyum akan hal itu. Sesuatu yang tidak dia sangka akan terjadi. Mendapatkan seluruh cinta dan hati suaminya untuknya. Awal yang tidak mudah saat pernikahan ini terjadi. Namun, Tyas berhasil melewatkan hingga saat ini.
"Mas, aku bahagia bisa bersamamu"
Ganesh sedikit bingung saat istrinya tiba-tiba saja mengatakan hal seperti itu. Padahal selama ini tidak pernah Tyas memulai pembicaraan seperti itu jika tidak Ganesh yang memulai. "Aku lebih bahagia lagi karena bisa bersamamu"
Tyas berbalik dan menghadap suaminya. Memeluk tubuh kekar itu dengan hangat. Menyandarkan kepalanya di dada suaminya. "Terimakasih karena sudah memilihku ya Mas"
"Apaan si Sayang, aneh deh. Tiba-tiba sok mellow kayak gini" Heran sendiri Ganesh pada sikap istrinya ini.
"Hahaha.. Yaudah ayo masuk, aku udah ngantuk"
"Sebentar saja ya Sayang, janji gak akan lama. Nanti kamu bisa tidur setelah selesai ya" Ganesh sedang membujuk istrinya agar tidak langsung tidur begitu saja malam ini.
Tyas memutar bola mata malas "Kebiasaan deh, nanti telat kerja lagi"
"Gak akan Sayang, beneran deh"
Tyas tidak lagi bisa menolak saat suaminya sudah langsung menggendongnya dan membawanya ke kamar. Menidurkan Tyas di atas tempat tidur, lalu dia kembali ke arah balkon untuk menutup pintu balkon dan menutup gorden.
"Mas, ingat besok kerja jangan kelamaan"
"Iya Sayang sebentar aja kok"
Sebentar yang di maksud Ganesh pasti melebihi satu jam. Ya, memang begitulah durasi mereka bermain. Tyas yang awalnya suka menolak, tapi lama-lama dia menikmatinya juga. Sentuhan-sentuhan Ganesh di tubuhnya selalu membuatnya terlena.
__ADS_1
Semuanya tidak akan seindah ini jika Tyas tidak bertahan dan kembali pada suaminya. Tidak akan pernah dia menyangka jika suaminya bisa mencintai dirinya sebesar ini sekarang. Ganesh yang dulu membencinya, berbalik menjadi sangat mencintainya.
...🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬...
Pagi ini Tyas merasakan tubuhnya sedikit tidak enak. Kepala yang pusing dan juga tenggorokan yang terasa kering dan serak. Sepertinya flu mulai menyerang dirinya. Di musim pancaroba yang membuat imun tubuh menurun seperti saat ini.
"Duh, mulai gak enak nih badan"
"Sayang, pucet banget muka kamu" Ganesh yang baru muncul dari ruang ganti setelah bersiap untuk berangkat ke kantor.
Tyas mendongak dan menatap suaminya "Iya Mas, kayaknya aku kena flu deh. Tenggorokan juga sakit banget"
Ganesh langsung menghampiri istrinya dengan khawatir. "Periksa aja yuk, ke dokter"
"Gak usah lah, kan cuma demam dan flu biasa saja"
Ganesh memegang dahi istrinya dengan punggung tangan. Suhu tubuh istrinya memang terasa lebih tinggi dari suhu normal. "Sayang, kalau kamu gak mau periksa kw dokter. Tiduran aja, minum obat penurun demam ya. Biar aku ambilkan"
"Aku ambilin dulu obat ya, mau makan apa? Biar aku pesenin"
"Gak tahu Mas, aku lagi gak nafsu makan"
"Aku beliin bubur di depan komplek ya, kamu harus makan dulu sebelum minum obat. Paksain makan pokoknya"
"Gak usah Mas, kamu 'kan mau kerja nanti telat lagi"
"Jangan fikirin itu, tidak akan ada orang yang berani memecat aku kalau aku telat kerja. Apalagi telatnya karena mengurus istri yang sedang sakit"
Akhirnya Ganesh pergi ke depan komplek perumahan untuk membeli sarapan dan bubur untuk istrinya. Sejak bersama Tyas, Ganesh bahkan tidak lagi merasa risih saat harus beli makanan di pinggir jalan. Ganesh mulai tertular oleh istrinya yang suka beli makanan di pinggir jalan. Karena nyatanya makanan pinggir jalan tidak seburuk yang di fikirkan Ganesh.
Selsai membeli bubur dan sarapan untuk dirinya dan juga Bu Diah, Ganesh segera kembali ke rumahnya. Sampai di rumah, Ganesh segera menyiapkan bubur dan membawa obat ke kamar. Masuk ke dalam kamar, istrinya sedang duduk di pinggir tempat tidur.
"Sayang, mau kemana?"
__ADS_1
Tyas menoleh ke arah suaminya. "Mau lihat Gweny Mas, kamu sudah pulang ya. Aku belum buat sarapan"
"Masih aja mikirin itu lagi sakit juga, udah istirahat saja. Kamu gak perlu masak apapun, diam saja di kamar dan istirahat. Lagian jangan dulu menemui Gwen, takutnya dia akan tertular. Kamu pompa asi saja"
Benar juga apa yang di katakan suaminya. Tyas tidak biaa terlalu dekat dengan anaknya saat ini. Apalahi flu itu penyakit yang gampang sekali menular, apalagi pada bayi yang masih sangat rentan seperti Gweny.
Ganesh duduk di pinggir tempat tidur, dia mengambil mangkuk bubur yang dia belinya. "Makan dulu buburnya, abis itu langsung minum obat"
"Aku bisa sendiri Mas, kamu berangkat saja ke kantor"
"Udah diem aja, saat aku sakit juga kamu selalu rawat aku dengan telaten. Sekarang aku juga harus merawat kamu"
Akhirnya Tyas hanya menurut saja, dengan telaten suaminya menyuapi istrinya. Mengelus ujung bibirnya saat ada sisa bubur disana. Sampai tak terasa semangkuk bubur itu hampir habis, tapi Tyas keburu merasa kenyang dan mual. Jadi dia menolak suapan dari suaminya.
"Padahal tinggal sedikit lagi loh Sayang"
"Udah ahh.." Tyas mengambil minum di atas nakas samping tempat tidur dan meminumnya. "...Lidah aku rasanya pait sekali"
"Yaudah deh, kalau gitu minum obatnya dulu terus istirahat" Ganesh membantu Istrinya untuk minum obat.
"Sayang, aku gak usah kerja aja kali ya"
"Apaan si Mas, aku gak papa. Kan udah minum obat, jadi tinggal tidur sebentar pasti lebih baik" Tyas mencoba menghalau keinginan suaminya untuk berhenti bekerja hari ini hanya karena dirinya terserang demam dan flu.
"Yaudah kalau gitu aku kerja dulu ya, jangan mengerjakan apapun. Istirahat saja"
Bersambung
Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya..
Mampir di karya temanku yuk.. Ceritanya bagus..
__ADS_1