
Ganesh terbangun saat sinar matahari mulai masuk lewat ventilasi kamar. Ganesh mengerjap-ngerjapkan mata saat dia merasa asing dengan kamar yang saat ini di gempatinya. Sampai ingatannya tentang kejadian semalam, membuatnya langsung terbangun dengan terkejut.
Ganesh menatap tubuhnya yang masih polos, lalu dia menoleh ke arah samping dimana ada bercak merah di atas seprei putih itu. Ganesh mengacak rambutnya dengan kasar, semalam dia sedang sangat kacau karena pernikahan Seira dan Aelx. Sehingga Ganesh meluapkan semuanya pada Tyas.
Meski tidak salah dengan apa yang dia lakukan karena Tyas adalah istrinya. Namun, melakukan hal itu tanpa cinta adalah kesalahan. Ganesh menyingkap selimut, lalu turun dari tempat tidur. Memunguti semua pakaiannya dan langsung memakainya kembali. Ganesh segera keluar dari kamar untuk menemukan Tyas. Ganesh ingin menjelaskan tentang semuanya yang terjadi tadi malam sekaligus ingin meminta maaf pada Tyas.
"Tyas.. Yas.."
Ganesh terus berteriak memanggil istrinya itu. Namun, tidak dia temukan Tyas dimana pun. Sudah ke dapur, ruang tamu, ruang makan, hampir seluruh sudut ruangan di rumahnya sudah Ganesh telusuri untuk mencari Tyas. Tapi, Ganesh benar-benar tidak menemukan istrinya.
Ganesh mulai gelisah, menyadari jika Tyas telah pergi. Ganesh mulai takut jika istrinya juga akan meninggalkannya. Ganesh kembali masuk ke dalam kamar yang di tempati istrinya. Membuka semua lemari pakaian istrinya. Dan dugaannya benar, Tyas telah pergi membawa semua barang miliknya. Lalu, Ganesh harus bagaimana? Dia sudah merenggut kesucian istrinya dan sekarang dia malah pergi meninggalkannya.
Ganesh terduduk lemas di atas lantai dekat lemari pakaian yang kosong itu. Ganesh tidak tahu harus bagaimana sekarang. Seira meninggalkannya dan sekarang Tyas juga meninggalkannya. Entah kenapa hatinya semakin sakit saat Tyas pergi, melebihi rasa sakitnya saat di tinggalkan Seira. Entah apa ini? Ganesh benar-benar tidak tahu.
"Tyas, kenapa kau juga meninggalkan aku. Maafkan aku Tyas, karena selama ini selalu mengabaikanmu. Kembalilah, ku mohon" lirih Ganesh, tubuhnya menyandar pada dinding.
Baiklah Ganesh tidak mungkin terus seperti ini. Dia bangkit dari duduknya dan berjalan ke luar kamar. Ganesh akan mencari Tyas sampai ketemu. Jangan sampai dia juga harus kehilangan istrinya setelah kekasihnya juga pergi.
Setelah mandi dan berganti pakaian, Ganesh segera berlari menuju garasi mobilnya. Namun saat dia akan melajukan mobil, ponselnya berdering. Terpaksa Ganesh harus mengangkat lebih dulu telepon dari aisistennya itu.
"Ada apa?"
__ADS_1
"Tuan dimana? Rapat pagi ini akan segera di mulai, kenapa Tuan masih belum datang. Rekan kerja kita telah menunggu di ruang meeting sekarang. Cepatlah Tuan"
Ganesh menghela nafas kasar, tidak mungkin juga dia tidak menyelesaikan tanggung jawabnya di perusahaan. Meeting pagi ini cukup penting bagi perusahaan GE. Ganesh juga tidak ingin memberi tahu keluarganya dulu tentang perginya Tyas. Ganesh akan mencoba dulu menyelesaikan masalah ini sendiri.
Jika Kakeknya tahu, maka dia pasti akan sangat kecewa dan marah pada Ganesh. Apalagi Mama, Ganesh paling tidak bisa melihat wajah kecewa dari wanita yang telah melahirkannya itu.
Akhirnya Ganesh tetap profesional, dia menyelesaikan pekerjaannya dulu di perusahaan sebelum dia mencari Tyas. Meski sebenarnya Ganesh juga bingung harus mencari Tyas kemana. Tapi dia tetap akan berusaha.
Adlan mulai menyadari sikap Ganesh yang berbeda dari biasanya. Baru juga satu bulan ini Ganesh kembali bersemangat, tapi hari ini Ganesh malah kenali terlihat murung. Bahkan lebih terpuruk dari sebelumnya.
Sebenarnya apa yang terjadi?
Adlan masuk ke dalam ruangan Ganesh, menghampiri bos sekaligus sahabatnya itu. Ganesh sedang berdiri diam di depan jendela besar di ruangannya itu. Menatap penatnya kota di siang hari. Banyak kendaraan yang terjebak macet karena jam makan siang dan waktu pulang anak-anak sekolah sudah tiba. Membuat jalanan semakin padat.
Ganesh langsung menoleh ke arah Adlan. Tatapannya benar-benar sayu, tidak ada lagi semangat di balik tatapan mata tajam itu. "Semuanya pergi Lan, semuanya pergi meninggalakan aku"
Adlan mengerutkan kening, bingung dengan apa yang di ucapkan Ganesh. Semuanya pergi? Siapa yang pergi?
"Maksud kamu?"
"Seira pergi, Tyas juga pergi"
__ADS_1
Adlan tidak terlihat kaget mendengar hal itu. Dia bersidekap dada dengan menatap angkuh pada Ganesh. "Seira pergi karena memang kalian tidak di takdirkan bersama karena perbedaan yang ada. Tapi, Tyas pergi karena kesalahanmu. Semua jelas karena kesalahanmu. Aku saja menyetujui keputusan Tyss kali ini. Selama ini kau hanya mengabaikannya, tidak pernah menganggap keberadaannya di hidupmu. Jadi, wajar saja jika dia memutuskan pergi sekarang"
Ganesh terdiam, memang benar apa yang di katakan Adlan. Dirinyalah yang salah, semuanya karena kesalahannya. Terlalu berusaha mengejar cinta yang tak pasti dan mengabaikan seseorang yang mencintainya begitu tulus. Ganesh mulai mengingat bagaimana Tyas memperlakukannya saat Ganesh benar-benar terpuruk sampai tidak punya tujuan hidup. Namun, Tyas tetap merawatnya dengan begitu tulus. Tidak ada kebencian sama sekali dari tatapannya setelah apa yang Ganesh lakukan padanya.
Jika saat Ganesh terpuruk waktu itu ada Tyas yang merawatnya dan menemaninya. Sementara sekarang, di saat Ganesh terpuruk karena kehilangan Tyas. Siapa yang akan merawat dan menemaninya lagi. Ganesh mulai merasakan seberharga apa Tyas dalam hidupnya. Namun, semuanya terlambat. Penyesalan Ganesh tidak ada gunanya lagi. Tyas telah pergi entah kemana.
"Aku tahu ini semua salahku, aku yang mengabaikannya dan terlalu terobsesi dengan cinta yang tak pasti. Sementara seseorang yang begitu tulus padaku, telah aku abaikan. Tapi, saat ini aku sadar Lan. Kepergiaannya membuatku sadar jika kehadirannya begitu berharga di hidupku"
Adlan menghela nafas, jika sudah seperti ini dia juga tidak mungkin terus meluapkan rasa kesalnya pada Ganesh. Sementara sahabatnya ini juga sedang membutuhkan dukungan darinya.
"Tolong bantu aku Lan, bantu aku untuk menemukan Tyas" lirih Ganesh, dia benar-benar sudah sangat putus asa sekarang. Dia tidak tahu harus mencari Tyas kemana.
Adlan mendekat pada Ganesh, dia tepuk bahunya dua kali untuk memberikan semangat pada pria itu. "Baiklah, aku akan membantumu. Asalkan kau benar-benar tidak akan menyakitnya lagi. Jika kau tidak menginginkannya, aku siap mengambil alih posisimu untuk menjadi suaminya. Memiliki istri sebaik Tyas adalah keberuntungan"
Ganesh mengepalkan tangannya dengan kuat hingga otot-otot tangannya terlihat jelas. "Kau jangan macam-macam. Aku akan menghajarmu meski kau temanku"
Adlan terkekeh mendengarnya, dia melihat tatapan mata Ganesh yang di penuhi ketakutan. Sepertinya Ganesh benar-benar takut kehilangan Tyas.
"Baiklah, mari kita mulai mencari dari rumah orang tuanya dulu"
Ganesh merasa dirinya sangat bodoh, kenapa dia tidak sampai berfikir kesana. Tyas tidak akan pergi kemana saja jika orang tuanya pun masih ada.
__ADS_1
Bersambung
Jangan lupa dukungannya.. Like komen di setiap chapter... kasih hadiahnya dan votenya juga