Takdir Yang Memilih

Takdir Yang Memilih
Meminta Maaf Atas Paksaan


__ADS_3

Kedatangan keluarga Tyas benar-benar membuat gadis itu tidak nyaman. Apalagi dengan tatapan Ayahnya yang sedikit berbeda dari biasanya. Entah apa yang telah terjadi, namun Tyas melihat tatapan Ayahnya sama seperti saat dia meminta Tyas untuk menikah dengan Ganesh demi menyelamatkan perusahaan.


Duduk di samping suaminya dengan terus menunduk. Entahlah, melihat keberadaan keluarganya malah membuat Tyas selalu merasa terintimidasi. Ganesh menatap dingin keluarga istrinya yang awalnya sangat dia hormati. Namun, setelah mengetahui perlakuan mereka pada istrinya. Ganesh sudah tidak mempunyai rasa hormat lagi.


"Jadi, apa tujuan kalian kembali datang kesini? Jika bukan karena Papa saya mengizinkan, mungkin saya tidak akan mengizinkan kalian datang"


"Mas..." Tyas langsung menoleh ke arah suaminya saat mendengar nada dingin suaminya saat mengatakan itu.


"Maaf Tuan, kami kesini ingin meminta maaf atas apa yang di katakan anak kami di rumah sakit, waktu itu" Julia langsung menunduk dengan takut, sebenarnya dia benci posisi ini. Saat dirinya harus meminta maaf pada anak tirinya. Tapi, jika dia dan anaknya tidak melakukan ini. Maka perusahaan Eriawan terancam gulung tikar, sementara dia dan Adriana tidak akan siap untuk hidup tanpa harta.


"Minta maaflah pada istriku dan untuk kau!" Ganesh menatap tajam ke arah Adriana yang dari tadi hanya diam saja. Seolah tidak benar-benar berniat meminta maaf pada Kakaknya ini. "...Berlutut di depan istriku dan minta maaf yang benar. Berjanji jika kalian tidak akan pernah membuat istriku terluka lagi. Tidak akan menyakitinya lahir ataupun batin. Mengerti?!"


Hanya ini yang bisa Ganesh lakukan untuk istrinya. Setidaknya dia bisa membuat istrinya tidak lagi tersakiti oleh keluarganya sendiri. Meski Ganesh tahu jika semua ini hanya terjadi karenanya. Bukan karena keluarga Tyas benar-benar tulus meminta maaf padanya. Tapi, setidaknya Ganesh tidak akan melihat perlakuan tidak baik pada istrinya lagi. Ganesh hanya ingin sedikit saja mengobati luka di hati Tyas. Meski dia tahu jika luka yang dirinya sendiri torehkan di hati sang istri, mungkin tidak akan mudah hilang begitu saja.


"Mas, tidak perlu sampai berlutut" tegur Tyas pada suaminya, di sana Kakek dan Papa juga hanya diam. Tidak membantah apa yang di katakan Ganesh. Mungkin mereka juga ingin keluarga Tyas itu sedikit jera dan tidak memperlakukan Tyas seperti itu lagi.


"Sayang, semua ini tidak sebanding dengan apa yang telah mereka lakukan padamu" Tangan kiri Ganesh langsung meraih tangan istrinya yang terasa sangat dingin. Ganesh menggenggamnya dengan erat. Lalu dia kembali menatap ke arah keluarga istrinya itu. "...Kenapa masih diam? Ayo lakukan apa yang aku perintahkan!"

__ADS_1


Adriana menoleh ke arah Ayahnya, dia ingin meminta pembelaan dari Eriawan. Adriana tentu tidak sudi harus berlutut di depan Kakak tirinya yang sangat dia benci. "Pa, Adriana tidak....."


"Lakukan apa yang di katakan suami Kakakmu, jika kau masih ingin mendapatkan fasilitas yang kau dapatkan selama ini" tegas Eriawan pada anak bungsunya yang bahkan belum sempat menyelesaikan ucapannya itu.


Ganesh tersenyum sinis, sudah dia duga jika kedatangan mereka kesini bukan tulus untuk meminta maaf. Namun, karena mereka takut jika perusahaannya akan di buat hancur oleh GE. Ganesh menatap prihatin istri kecilnya itu, bagaimana dia hidup di tengah-tengah keluarga yang hanya mementingkan harta daripada perasaannya.


Aku akan membuatmu bahagia, Sayang. Maafkan aku atas semua yang telah aku lakukan padamu.


Sejatinya rasa penyesalan itu masih belum benar-benar hilang. Meski Tyas sudah mengatakan jika dirinya sudah memaafkan semua yang telah Ganesh lakukan di awal-awal pernikahan mereka. Tapi, hati Ganesh masih tetap merasa bersalah dengan semua itu. Bagaimana dia memperkirakan istrinya tidak jauh lebih baik dari seorang pembantu.


"Cepat lakukan, kau tidak mau uang jajan mu di potong 'kan" bisik Julia di telinga Anaknya.


Adriana mendengus kesal, tapi dia tidak punya pilihan lain. Apalagi saat tatapan Ganesh begitu mengintimidasi. Adriana mulai turun dari tempat duduknya, mendekat ke arah Tyas dan Ganesh duduk. Wajah Adriana sudah sangat merah menahan malu dan juga kesal.


"Mas, tidak usah sampai begini" Tyas masih terus membujuk Ganesh agar tidak harus menyuruh Adriana berlutut di depannya. Tyas merasa tidak enak dengan posisi seperti ini. Namun, Ganesh tetap tidak menghiraukan nya.


Akhirnya Adriana menjatuhkan tubuhnya tepat di depan Tyas dengan lututunya bertumpu pada lantai. Tyas menatap bingung pada adiknya itu. Dia bingung harus bersikap bagaimana, suaminya juga tetap tidak menggubris ucapannya untuk menghentikan semua ini.

__ADS_1


Adriana menunduk dengan tangan saling bertaut. "Maaf Kak, maafin semua perlakuan aku selama ini sama Kakak"


Darah yang mengalir di tubuh mereka tetap sama. Ada darah Eriawan di tubuh keduanya. Meski Ibu mereka berbeda. Tentu Tyas tidak akan tega melihat adiknya seperti ini. Hati Tyas tetap menyayanginya sebagai seorang adik. Terkadang Tyas selalu membayangkan jika dirinya dan Adriana bisa akur dan bisa saling menyayangi selayaknya adik kakak pada umumnya. Namun, impian itu tidak akan terjadi. Adriana tidak pernah menyayangi Tyas. Dia hanya menganggap Tyas sebagai saingannya di keluarga ini.


"Berdiri Dek, Kakak sudah memaafkanmu"


Tyas berdiri dan berlalu begitu saja setelah mengatakan itu. Dia pergi ke tempat yang lebih sepi, pilihannya adalah taman di rumah ini. Dia duduk di bangku taman dengan menatap lurus ke arah kolam berenang yang ada di ujung sana. Tak air mata menetes begitu saja tanpa diperintahkan. Tyas usap dengan kasar air mata nakal itu.


"Aku ingin hidup damai seperti orang-orang. Saling menyayangi dengan adikku sendiri, dan keluargaku. Tapi, kenapa semuanya begitu sulit. Bahkan untuk bisa mendengar kata maaf dari mereka saja, harus dengan gertakan dari suamiku. Ya Allah, kenapa mereka begitu membenciku. Apa kematian Ibu memang benar-benar salahku?"


Tyas ingat jelas bagaimana tragedi kecelakaan yang menewaskan Ibunya saat itu. Tyas tidak bermaksud mencelakai Ibunya sendiri. Di usia anak 6 tahun, memang kurangnya pengawasan maka anak-anak akan pergi dan berjalan kemana saja. Seperti yang di alami Tyas, dia sedang berlari mengejar sebuah kupu-kupu hingga tidak sadar jika dirinya sudah berada di tengah-tengah jalan raya.


Tapi saat itu Tyas tidak berharap Ibunya menolongnya dan mengorbankan nyawanya. Namun, takdir berkata lain. Ibu mana yang akan diam saja saat melihat anaknya dalam bahaya. Tentu akan tetap menolong anaknya, meski dengan mengorbankan nyawanya sendiri. Dan semua itu bukan salah Tyas. Semuanya hanya takdir.


Bersambung


Jangan lupa dukungannya.. Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya juga..

__ADS_1


__ADS_2