
Tyas merasa cukup nyaman berada di antara teman-teman sosialita Mama mertuanya ini. Mereka semua cukup ramah dan tidak sombong. Tidak seperti yang ada di fikiran Tyas. Sampai Ganesh datang, Tyas bahkan tidak lagi merasa gugup saat sudah bisa berbaur dengan semuanya. Meski sebenarnya dia tidak setenang itu.
"Oh iya Nyonya Aditama, kenapa kami semua tidak di undang saat pernikahan Ganesh?"
Tyas menunduk diam, sementara Ganesh yang berdiri di sampingnya sedang menahan kesal atas pertanyaan Ibu itu. Tidak tahukah jika pembahasan soal awal pernikahannya dan Tyas selalu membuat Ganesh merasa terluka. Awal pernikahan yang sama sekali tidak ada kebahagiaan sama sekali. Bagaimans Ganesh yang masih berlaku kasar pada Tyas. Tidak menerima kehadiran istrinya itu.
Semuanya hanya karena dia terlalu memaksa untuk bisa bersama Seira di tengah perbedaan yang mereka jalani. Melihat istrinya yang menunduk diam, tentu Ganesh tahu jika istrinya itu masih merasakan luka yang terbuka lebar di hatinya. Meski dia sudah bilang baik-baik saja, tapi tetap saja jika ada yang menanyakan tentang perniakahan mereka, Tyas selalu bereaksi yang sama.
"Emm. Karena saat itu sangat terburu-buru. Anak saya ini sudah sangat ingin menikah dengan Tyas" Akhirnya Mama hanya mencoba mencari alasan yang masuk akal. Karena tidak mungkin dirinya mengatakan apa yang sebenarnya terjadi pada pernikahan Tyas dan Ganesh.
"Ohh, apa ini adalah kekasih Ganesh yang sudah sangat lama berpacaran itu ya. Yang Nyonya Aditama pernah ceritakan pada kami, kekasih Ganesh yang berbeda keyakinan itu. Apa sekarang Tyas ini menjadi seorang muslim?"
Duh. Kenapa bahas itu segala.
Mama malah jadi bingung sendiri bagaimana harus menjawabnya. Karena dia tahu jika yang teman-temannya bahas bukan Tyas, tapi Seira. Namun bagaimana cara Mama menjelaskan semuanya.
Di saat kebingungan melanda, tiba-tiba saja mereka kedatangan satu keluarga bahagia yang menghampiri mereka untuk sekedar menyapa. Mungkin lebih tepatnya menyapa Ganesh sebagai tokoh utama di acara ini.
"Selamat Malam semuanya"
Tyas langsung mendongak saat mengenali suara itu. Deg... Jantung Tyas langsung berdegup kencang saat tahu siapa yang datang. Mereka adalah keluarganya. Memakai pakaian dengan warna senada, membuat mereka semakin terlihat sebagai keluarga bahagia yang sangat di idam-idamkan semua orang. Namun, pada kenyataannya tidak seperti itu. Ada hati yang terluka dengan kebahagiaan itu. Ada seorang anak yang terabaikan.
__ADS_1
"Tuan Ganesh, selamat atas kesuksesan perusahaan GE selama kepemimpinan anda ini"
Eriawan memberikan uluran tangannya pada Ganesh sebagai ucapan selamat. Meski sangat marah dengan sikap Eriawan yang seolah tidak mengenali putri sulungnya itu. Bahkan Eriawan tidak sedetik pun menatap ke arah Tyas yang sejak tadi sudah menatapnya. Tidak ingin merusak acara malam ini, Ganesh berusaha menahan emosinya dan menerima uluran tangan Eriawan padanya.
Tyas kembali menunduk setelah apa yang dia harapkan tidak terjadi. Hanya di sapa Ayahnya, itu saja tidak ada keinginan Tyas yang lain. Karena dengan di sapa Ayahnya saja, sudah cukup bagi Tyas untuk membuktikan kalau Eriawan masih menganggapnya ada. Namun hal itu tidak terjadi.
"Oh ya, Tyas apa kabarmu?"
Deg..deg..
Tyas tidak salah dengar atau berhalusinasi sekarang ini. Itu nyata suara Eriawan, Ayahnya. Sampai merasa sangat tidak percaya, Tyas menatap Ayahnya lekat dan apa yang Tyas lihat benar-benar tak biasa. Eriawan tersenyum padanya. Meski hanya sebatas senyuman tipis saja, tapi Tyas bisa melihat jika senyuman itu tidak di buat-buat.
"Ba-baik"
Ganesh yang sudah sangat kesal, kini mulai mengendurkan kepalan tangannya sendiri. Melihat pancaran kebahagiaan di wajah istrinya, bahkan hanya dengan di sapa seadanya oleh Ayah kandungnya sendiri. Bahkan menurut Ganesh sapaan itu tak lebih dari sapaan seseorang pada orang asing yang tidak terlalu di kenalnya. Namun bagi Tyas sapaan itu bagaikan kebahagiaan terbesar.
Kau semenderita itu bersama keluargamu, sampai di sapa seperti itu sudah sebahagia ini reaksimu.
"Baiklah, Sayang ayo ikut aku" Ganesh menggandeng tangan Tyas dan membantunya berdiri dengan perutnya yang sudah mulai membesar. Apalagi dengan tubuh kecil mungil Tyas yang membuat kehamilan 5 bulan saja sudah terlihat cukup besar.
"Mau kemana Mas?" Tanya Tyas sambil terus mengikuti langkah suaminya itu. Ganesh tidak menjawab, membuat Tyas bingung saja. Namun saat langkah mereka hampir sampai di depan panggung yang di sediakan di acara ini. Tyas panik sendiri, tidak mungkin 'kan kalau suaminya akan menyuruhnya menyanyi di atas panggung dan di depan banyak orang. Ohh tolonglah, Tyas tidak bisa bernyanyi. Suaranya sungguh akan merusak acara ini.
__ADS_1
"Mas mau apasi?"
Sebenarnya Ganesh sangat ingin tertawa melihat wajah panik dan tegang istrinya itu. Entah apa yang di pikirkan Tyas sampai dia bisa menunjukan ekspresi seperti itu. Yang begitu menggemaskan di mata Ganesh.
Saat Ganesh menaiki tangga panggung itu, Tyas menahannya. Dia tidak mau ikut juga ke atas panggung itu. Ganesh menoleh dan akhirnya dia turun kembali saat sudah menapaki anak tangga. Ganesh menatap bingung pada Tyas. "Ada apa Sayang?"
"Mas mau ngapain naik kesana?" Bisik Tyas
Ganesh tersenyum " Apa kau tidak dengar tadi jika namaku di sebut untuk memberikan sambutan"
Ya, Tyas memang mendengarnya jika pembawa acara malam ini memanggil nama suaminya untuk memberikan sambutannya sebagai pemimpin perusahaan GE. Tapi, kenapa harus mengajak Tyas juga? Memangnya apa hubungannya dengan dirinya?
"Sudahlah kau ikut saja, kau 'kan hanya sebagai pendamping ku. Jadi kau harus menemaniku sekarang" bisik Ganesh
Sebelum Tyas membantah namun Ganesh sudah membawanya naik ke atas punggung dengan sedikit menarik tangan istrinya itu agar mengikutinya. Akhirnya Tyas tidak bisa melakukan apapun selain diam menunduk di samping suaminya yang sejak tadi tidak melepaskan genggaman tangannya.
Suara riuh tepuk tangan saat Ganesh naik ke atas panggung semakin membuat Tyas gugup saja. Dia tidak biasa dengan situasi seperti ini. Semua tamu undangan begitu menantikan puncak dari acara malam ini. Karena di kabarkan akan ada sebuah kejutan yang terjadi di puncak acara malam ini. Meski mereka sedikit bingung saat melihat Ganesh dan seorang wanita yang tadi malah berdiam di depan panggung. Tidak tahu apa yang terjadi dan mereka juga tidak peduli.
"Selamat malam semuanya, terimakasih atas waktu kalian sudah menyempatkan datang ke acara ini..." Ganesh sesekali menoleh ke arah istrinya yang menunduk, dengan perlahan Ganesh meraih dagu Tyas dan mengangkat wajahnya yang menunduk itu. "...Dan wanita di samping saya ini adalah istri saya"
Bersambung
__ADS_1
JANGAN LUPA DUKUNGANNYA... LIKE KOMEN DI SETIAP CHAPTER.. KASIH HADIAHNYA DAN VOTENYA JUGA..