Takdir Yang Memilih

Takdir Yang Memilih
Menangislah?!


__ADS_3

"Semuanya baik, besok sudah bisa buka gifs di leher ya. Untuk kakinya masih butuh proses agar segera pulih"


Ganesh sedikit lega mendengar penjelasan dokter barusan. "Lalu, kapan saya bisa pulang?"


"Masih harus beberapa hari lagi Tuan, tangan dan Kaki anda masih perlu pemantauan kami"


Tangan kiri Ganesh terus menggegam tangan Tyas yang berdiri di samping ranjang pasien. Seolah dirinya takut jika istrinya akan pergi lagi. Bahkan jika Ganesh bangun tidur dan tidak melihat keberadaan istrinya, selalu membuat Ganesh panik dan langsung berteriak memanggil-manggil istrinya. Setelah dokter selesai memeriksa dan langsung berlalu pergi. Kini di dalam ruangan itu.


"Sini duduk Sayang" Ganesh sedikit menggeser posisi duduknya dengan sedikiti kesusahan. Ganesh hanya ingin Tyas duduk di sampingnya.


"Jangan banyak bergerak Mas, kakinya masih sakit 'kan" Tyas mencegah gerak Ganesh yang sedang mencoba menggeser posisi duduknya.


"Sudah, ayo naik kesini"


Ganesh tidak mau menyerah, membuat Tyas tidak bisa menolak. Tyas naik ke atas ranjang pasien, duduk di samping suaminya dengan canggung. Pertama kalinya posisi mereka bisa sedekat ini dengan keadaan sadar. Tidak seperti saat mereka melakukan malam itu, semuanya karena faktor Ganesh yang terluka karena kepergiaan Seira. Bukan karena cinta yang ada untuk Tyas.


Tangan kiri Ganesh yang terpasang infus, memeluk perut Tyas. Sedikit mengelus perut Tyas yang sudah mulai membuncit. "Apa dia menyusahkanmu?"


Tyas tersenyum, dia selalu merasa bahagia yang jika membahas soal calon anaknya ini. "Dia baik, sangat pengertian pada Bundanya. Tidak pernah menginginkan hal yang aneh-aneh. Hanya satu yang selalu dia inginkan" lirih Tyas di akhir kalimatnya.


"Apa yang dia inginkan?" tanya Ganesh, dia tahu soal wanita hamil yang selalu menginginkan sesuatu yang di sebut ngidam.

__ADS_1


Tyas diam, dia ragu untuk mengatakannya. Tidak berani untuk mengatakan apa yang selalu dia rasakan setiap hari selama Tyas jauh dari suaminya ini. Perasaan yang dia anggap sebagai keinginan anaknya ini. Namun, belum terwujud sampai saat ini.


"Tyas? Sayang, apa yang diinginkan anak kita?"


Ganesh mengulang pertanyaannya karena Tyas yang hanya diam tidak menjawab pertanyaannya itu. Membuat Ganesh menjadi semakin penasaran saja, apa yang sebenarnya di inginkan anaknya dan istrinya itu. Tyas malah menunduk seolah takut untuk mengatakan apa yang ingin di katakan.


"Setiap malam aku selalu n Ayah dari anakku mengelus perut ini. Seperti yang sering di lakukan oleh banyak suami-suami di luar sana"


Ganesh terdiam, betapa sederhana keinginan istrinya itu. Tapi dia bahkan begitu takut mengatakan itu pada suaminya sendiri. Ganesh tahu sikap Tyas ini karena semua perlakuan kejamnya di waktu dulu. Semuanya karena kesalahannya. Salah Ganesh yang tidak bisa menjadi suami yang baik. Jika di saat semua suami menjaga hati istrinya, Ganesh justru sebaliknya. Dia malah yang menyakiti hati istrinya sendiri.


"Yaudah, nanti kalo aku sudah sembuh setiap malam aku akan mengelus perutmu sebelum tidur. Semua keinginanmu katakanlah, aku akan berusaha untuk memenuhinya.." Ganesh kembali menggerakan tangannya yang berada di perut Tyas, mengelus perut itu dengan gerakan perlahan karena gerak tangannya yang terbatas karena jarum infus masih tertancap di punggung tangannya. "...Maafin Ayah Nak, jangan menyakiti Bundamu seperti Ayah menyakitinya. Sungguh Ayah sangat menyesal karena kebodohan Ayah itu. Bundamu adalah wanita terhebat yang harus kita jaga sama-sama"


Ganesh merasakan ada setetes air yang jatuh di tangannya. Saat dia melirik Tyas yang sedang menunduk dengan tangan yang mengusap pipinya. Lagi-lagi dirinya membuat istrinya menangis. Ganesh seolah merasakan hatinya yang teramat sakit melihat Tyas yang mencoba menahan tangisannya. Betapa gadis itu selalu berpura-pura kuat dan tegar di depan semua orang di tengah masalah yang sedang dia alami selama ini.


"Menangislah, jika itu akan membuatmu lebih tenang" kata Ganesh


Tyas langsung menoleh, beberapa detik tatapan mereka bertemu membuat jantung keduanya berdebar tak beraturan. "Maaf Mas, aku tidak papa kok"


Ganesh menghela nafas saat sering kali dia mendengar kata 'maaf' itu dari mulut istrinya selama mereka bersama. Bahkan saat sebenarnya Ganesh yang bersalah, tapi tetap Tyas yang mengucapkan kata maaf itu.


"Kau tidak bersalah, jangan mengucapkan maaf lagi. Dengerin aku..." Ganesh menatap lekat mata teduh milik Tyas "...Mulai hari ini jangan pernah menahannya, jika kau ingin menangis. Memangislah jika itu akan membuatmu lega. Aku tidak mau kamu terus menerus menahan semuanya hanya untuk terlihat kuat di depan semua orang. Hanya saja, kau hanya boleh menangis di pelukanku. Biarkan aku tahu apa kegelisahanmu, biarkan aku juga merasakan sakit karena kau menangis. Biarkan aku menjadi sandaranmu"

__ADS_1


Tyas melihat ketulusan di balik tatapan Ganesh. Tidak menyangka jika kata-kata itu akan keluar dari mulut Ganesh untuknya. Bolehkah saat ini Tyas benar-benar menganggap jika suaminya ini memang benar mencintainya. Bukan karena sebatas penyesalan saja. Jujur, hidup tanpa adanya kasih sayang. Membuat Tyas merasa dirinya tidak lagi berwarna. Senyuman Tyas, hanya topeng semata untuk menutupi kerapuhannya.


Tidak bisa menahannya lagi, Tyas membaringkan tubuhnya dan memeluk Ganesh dengan tangisan yang pecah begitu saja. Dia menangis tersedu-sedu di dada bidang Ganesh. Suara isakan menyakitkan itu membuat hati Ganesh semakin tersayat. Sakit.. Melihat wanitanya menangis seperti ini. Dan di saat seperti ini, Ganesh bahkan tidak bisa membalas pelukannya. Ganesh merasa kesal sendiri dengan keadaannya sekarang.


Sebenarnya apa yang telah terjadi dengan kehidupanmu? Sepertinya kau telah menderita sejak lama. Ohh.. Maafkan aku sayang, karena aku juga malah menambah penderitaanmu itu.


Ganesh masih merasa bingung dengan kehidupan istrinya yang sebenarnya. Bahkan kata-kata Tyas beberapa kali selalu menyatakan jika dirinya tidak mempunyai pilihan apapun. Bahkan saat pertama kali mereka bertemu kembali setelah Tyas pergi meninggalkan Ganesh. Dia juga mengatakan jika dia memilih berpisah dari Ganesh, maka keluarganya pun tidak akan menerimanya kembali. Hal itu tentu membuat Ganesh bingung.


Ganesh ingin bertanya semuanya. Tapi, dia juga baru saja mencoba memperbaiki komunikasinya dengan Tyas sebagai pasangan suami istri selayaknya. Ganesh masih belum mempunyai waktu yang tepat untuk menanyakan tentang semua kebingungannya ini.


Hampir setengah jam, Tyas hanya menangis di pelukan Ganesh. Tidak mengatakan apapun, dia hanya menangis dengan begitu tersedu-sedu. Dan sekarang rasa sesak di dadanya cukup terasa lega. Memang benar jika menangis terkadang di perlukan untuk membuat perasaan kita lebih lega. Karena terkadang hanya dengan menangis, kita dapat meluapkan segala beban di hati kita tanpa harus bercerita pada orang-orang apa masalahnya.


"Semuanya akan baik-baik saja, aku janji akan menjagamu mulai hari sekarang, nanti dan selamanya" kata Ganesh menatap mata Tyas yang sedikit sembab karena menangis.


"Terimakasih Mas"


Tyas kembali memeluk Ganesh, menyandarkan kepalanya di dada pria itu. Sebenarnya Ganesh cukup merasakan sakit di dadanya saat Tyas memeluknya seperti ini. Namun, luka di dada Ganesh tidak berarti apapun dengan luka yang telah dia torehkan di hati Tyas selama ini.


Bersambung


Jangan lupa dukungannya. like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya juga..

__ADS_1


__ADS_2