Takdir Yang Memilih

Takdir Yang Memilih
Kedatangan Keluarga Ganesh


__ADS_3

Malam hari, Ganesh baru keluar dari kamarnya di lantai atas. Dia menenangkan dirinya yang di landa emosi di dalam kamar sambil menelepon Seira.


Ganesh menuruni anak tangga dan melihat sosok wanita yang tadi dia sakiti sedang terlelap di sofa ruang tamu. Mungkin, Tyas tidak tahu harus memasuki kamar yang mana dan akhirnya dia memilih terlelap di atas sofa ruang tamu.


Lagi-lagi Ganesh merasakan dadanya berdebar nyeri, melihat Tyas yang tidur meringkuk di atas sofa. Matanya terlihat sembab karena terlalu lama menangis. Dengan perlahan, Ganesh mendekat ke arah istrinya itu. Berlutut di depan wajah Tyas, dia menatap lekat wajah sembab itu. Hidung yang memerah semakin menandakan jika dia habis menangis cukup lama.


Tangan Ganesh terangkat dan hampir menyentuh kepala Tyas yang tertutup kerudung pasmina itu. Namun, ego Ganesh kembali tinggi dan menbuat dia menarik kembali tangannya. Ganesh berdiri dan melangkah ke arah dapur.


Saat itu Tyas membuka kedua matanya, menatap punggung lebar suaminya yang semakin menjauh dan menghilang di balik tembok. Tyas menyadari keberadaan suaminya, namu dia sengaja tidak membuka matanya dan tetap berpura-pura terlelap. Tyas masih takut dengan kemarahan Ganesh tadi siang.


Tyas bangun terduduk diatas sofa, tatapannya kosong. Terlalu lelah untuk Tyas, namun dia tidak bisa menyerah. Kuat Tyas, kamu sudah terbiasa di perlakukan seperti ini. Bahkan oleh keluargamu sendiri.


Ingin berteriak dan menangis sekencang-kencangnya. Namun, Tyas sadar jika itu tidak ada gunanya saat ini. Dia hanya perlu berpasrah pada sang maha pencipta tentang alur cerita di hidupnya ini.


Ganesh kembali ke setelah dia mengambil minum di dapur. Dia menatap Tyas yang sedang duduk diam di atas sofa dengan pandangan lurus ke depan. Dengan perlahan Ganesh menghampirinya, hati kecilnya tentu merasa bersalah dengan apa yang dia lakukan pada istrinya itu.


"Kau tidur di kamar ujung sana" tunjuk Ganesh pada sebuah pintu di ujung ruangan. Tyas menoleh lalu mengangguk tanpa berniat menatap mata Ganesh. Dia terlalu takut dengan kemarahan suaminya itu.


"Maaf"


Ganesh menghentikan langkahnya saat dia baru saja akan mengijak anak tangga pertama. Berdiri diam untuk mendengarkan kelanjutan kata yang akan di ucapkan oleh istrinya itu.


"Aku berjanji tidak akan mengganggu mu dengan hubunganmu bersama Kak Seira. Aku juga tidak akan menyentuh foto-foto kalian di rumah ini"


Ganesh terdiam beberapa saat mendengar suara parau Tyas. "Baguslah jika kau sadar diri"


Tyas mnghembuskan nafas sesak, dia menatap Ganesh yang berlalu begitu saja setelah mengatakan itu. Baiklah, saatnya menghadapi kenyataan Tyas. Gumamnya pelan.


...🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬...


Ting tong...

__ADS_1


Tyas yang sedang mencuci piring di wastafell segera membereskannya dan mengelap tangannya dengan lap tangan yang menggantung disana. Tyas berlari menuju pintu utama saat mendengar suara bel rumah ini berbunyi beberapa kali. Sedikit membenarkan kerudung instan nya.


Membuka pintu dan Tyas terkejut melihat seluruh keluarga suaminya berdiri di depan pintu dengan wajah yang berseri. Berbeda sekali dengan Tyas, wajah sembab dan tidak ada sedikit pun aura kebahagiaan di wajahnya ini. Dengan segera Tyas merubah ekspresi wajahnya, tersenyum cerah pada semua anggota keluarga suaminya itu.


"Ayo, masuk semuanya" ajak Tyas dengan mempersilahkan semuanya masuk ke dalam rumah baru mereka.


Tyas menyalami semua tetua di keluarga Ganesh, setelahnya dia segera berlari ke lantai atas untuk memanggil suaminya. Meski takut, tapi Tyas tetap harus melakukannya.


Tok...tok..tok..


Pintu kamar langsung terbuka setelah Tyas mengetuk pintu. Ganesh muncul dengan wajah segar, sepertinya dia baru saja selesai mandi.


"Ada apa?"


Suara Ganesh yang dingin, sudah terbiasa untuk Tyas. "Itu Mas, ada keluarga Mas di bawah"


Ganesh langsung terkejut mendengarnya, dia sedikit mengintip dari balik tubuh Tyas. Terlihat keluarganya yang sudah berkumpul di ruang tamu dan ruang keluarga.


Tyas menunduk takut "Maaf Mas, tapi mereka baru saja sampai"


"Awas saja jika kau menceritakan apa yang terjadi di villa. Aku tidak mau Seira di salahkan dalam hal ini, karena semuanya jelas adalah kesalahanmu!"


Tyas tahu itu. Tidak perlu Ganesh terus menjelaskan jika dirinya yang bersalah. Tyas juga mengerti posisinya, dia memang istrinya, tapi bukan pemilik hati Ganesh.


"Iya Mas"


Ganesh menuntun tangan Tyas untuk segera menemui keluarga besarnya. Tyas menatap tangan kekar yang menggenggam tangannya.


"Aku hanya ingin memperlihatkan pada mereka semua jika pernikahan kita baik-baik saja. Kau jangan mengacau!"


Tyas hanya diam mendengar ucapan Ganesh. Dia tahu peran apalagi yang harus dia lakukan saat ini. Menjadi seorang istri yang bahagia dalam pernikahan ini. Meski kenyataannya berbanding terbalik.

__ADS_1


Sampai di lantai bawah, keluarga Ganesh langsung menyambut mereka dengan senyuman bahagia. Tatapan Papa dan Kakek terfokus pada tangan keduanya yang saling menggenggam, membut Kakek dan juga Papa bahagia melihatnya.


Ganesh dan Tyas ikut bergabung dengan keluarga besar Aditama. Mereka bercanda ria dengan Tyas sebagai topik utama untuk menjadi bahan godaan mereka.


"Jadi, udah gol nih Yas?" tanya Tante Syifa dengan isengnya


Tyas hanya tersenyum saja, dia tentu mengerti apa arah pembicaraannya. Hanya saja dia tidak ingin mengatakan apapun karena takut salah menjawab.


"Kenapa kalian malah tinggal disini? Padahal Kakek berharap sekali Tyas akan tinggal di rumah kita" kata Kakek


"Kami ingin mencoba hidup berdua Kek, kami menikah karena perjodohan. Jadi ingin lebih saling mengenal, kalo tinggal berdua kami akan semakin mudah untuk saling terbuka satu sama lain. Jadi, kami ingin tinggal disini saja, berdua."


"Tapi, dua hari saja kalian tinggal dulu di rumah kami. Lagian, beberapa pakaian dan barang-barangmu juga belum di bawa 'kan?" kata Mama, begitu berharap bisa tinggal bersama menantu pertamanya itu.


Ganesh menghela nafas, dia tetap seorang anak laki-laki yang terkadang tidak bisa menolak keinginan Ibunya itu.


"Baiklah, tapi hanya beberapa hari saja. Karena aku juga harus segera masuk ke kantor"


Mama langsung tersenyum cerah "Iya, hanya beberapa hari saja"


Akhirnya Tyas memasak makan siang untuk keluarga besar suaminya itu. Dengan di bantu Mama dan Tante Syifa yang sejatinya tidak terlalu faham dalam hal memasak. Mereka hanya membantu sebisanya saja, seperti memotong sayuran dan beberapa bahan lainnya.


Selesai semua masakan langsung di hidangkan di atas meja makan, keluarga Ganesh langsung melahap masakan Tyas dengan berbagai pujian yang Tyas dapatkan hari ini.


"Masakan nya enak banget Yas, kamu memang pandang jadi seorang istri"


Begitulah beberapa pujian dari keluarga Ganesh yang memuji keterampilan memasak Tyas.


Kehangatan keluarga yang bisa kembali Tyas rasakan saat bersama keluarga besar suaminya ini. Mereka memang orang-orang terpandang, namun sikap dan hati mereka begitu lembut. Tidak ada kata sombong untuk mereka semua.


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya, like komen di setiap chapter. Kasih hadiahnya dan votenya juga ya.. Terimakasih


__ADS_2