
Tyas tidak menyangka jika suaminya benar-benar mencari hotel terdekat dan memutuskan untuk menginap satu malam disana. Tentu bukan hanya menginap saja. Ganesh benar-benar menikmati waktu berdua mereka dengan menerkam istrinya itu sampai puas.
Hingga pagi menjelang Tyas masih bergelung di bawah selimut setelah mandi. Tubunya terasa lelah, sampai matahari sudah menunjukkan sinar indahnya, Tyas masih bergelung di bawah selimut. Bahkan saat suaminya membuka tirai jendela kamar, Tyas masih tidak peduli. Dia hanya ingin diam saja hari ini. Suaminya benar-benar membuatnya kelelahan dan nikmat dalam waktu yang sama.
Ganesh tersenyum tipis melihat istrinya yang masih bergelung di bawah selimut. Entah pukul berapa mereka tidur semalam, Ganesh benar-benar melakukannya sampai puas. Meski dia tetap memperhatikan gerakannya agar tidak melukai istri dan bayinya.
Ganesh naik ke atas tempat tidur dan memeluk istrinya yang tergulung selimut tebal di tubuhnya. "Sayang, ayo sarapan dulu"
Hanya terdengar gumaman kecil dari bawah selimut. Ganesh memeluknya dengan nyaman, istrinya sudah seperti kepongpong saja. Seluruh tubuhnya tergulung selimut tebal. "Mas, aku mau makan cilok di depan sekolah aku dulu"
Kenyamanan Ganesh langsung berubah, bangun terduduk di tempat tidur. Cilok? Ohh ayolah Ganesh tahu makanan apa itu, tapi kenapa istrinya menyukai makanan seperti itu. Pasti tidak sehat untuk kehamilannya ini.
"Sayang, tadi kamu bilang mau apa? Ci-cilok? Kamu yakin?"
Tyas membuka selimut yang menutupi wajahnya. "Iya Mas, aku mau cilok yang jualan di dekat sekolah aku dulu. Kamu anterin aku ya"
Ganesh ingin menolak tapi ucapan Mama waktu itu membuatnya kembali menutup mulutnya dan mencoba tersenyum ke arah istrinya.
"Ibu hamil itu sensitif, jadi kamu harus menuruti keinginannya. Jangan membuatnya sedih dan merasa tidak di sayang lagi oleh suaminya"
Ucapan Mama benar-benar menjadi peringatan jelas untuk Ganesh. Dia memang tidak boleh membuat mood istrinya rusak. Biarlah dia ingin makanan seperti itu, asal jangan terlalu banyak dan sering. Meski jujur saja Ganesh tidak suka makanan seperti itu.
Dan akhirnya Ganesh hanya bisa berdiri dengan tatapan tidak percaya pada apa yang di lihatnya. Sebuah gerobak dorong kecil yang menjual cilok yang di katakan istrinya itu. Tyas begitu antusias dan langsung memesan makanan yang terbuat dari tepung aci yang di bentuk bulat. Rasanya kenyal dan gurih. Apalagi dengan tambahan bumbu kacang dan sedikit kecap manis. Makanan ini selalu menjadi favorit di kalangan anak sekolah. Selain rasanya yang enak, juga harganya yang terjangkau.
Tyas menoleh ke arah suaminya yang berdiri menyandar di mobilnya. "Mas mau?"
Ganesh tersenyum kaku, dia menggeleng pelan. "Tidak Sayang, kamu saja"
Tyas berjalan mendekat ke arah suaminya dengan satu plastik cilok yang di belinya dan juga tusukan yang terbuat dari bambu. Tyas tersenyum bahagia sekali bisa mendapatkan jajanan masa sekolahnya. Tyas mengajak Ganesh untuk duduk di sebuah bangku kayu di bawah pohon rindang dekat si penjual cilok tadi.
__ADS_1
Ganesh melihat ke sekelilingnya, jadi ini sekolah istrinya dulu. gumamnya. Sekolah negeri di pinggiran kota yang bahkan tembok gerbangnya sudah banyak lumut dan kotor.
"Mas beneran gak mau, ini enak loh. Sudah langganan Tyas sejak sekolah"
Ganesh menoleh ke arah istrinya, dia refleks mengambil tusukan yang Tyas pegang. Baru saja dia mau menusuk satu cilok di dalam plastik itu. Tapi tindakan suaminya ini benar-benar di luar dugaannya. Tyas menatap bingung pada Ganesh.
"Kamu mau?" tanya Tyas, dia mengira Ganesh mengambil tusukan itu karena suaminya menginginkan makanan yang belinya ini.
"Tidak, lihat tusukan ini Sayang. Ini tidak aman untuk makan. Sebentar" Ganesh berlalu ke mobilnya membuat Tyas bingung saja, beberapa saat kemudia dia kembali dengan membawa sebuah garpu yang tidak tahu darimana asalnya. Mungkin suaminya membawa di dalam mobilnya.
"Nih, kamu pakai ini saja" Ganesh menyodorkan garpu itu pada Tyas dengan tangan lainnya yang membuang tusukan ke tempat sampah.
Tyas terkekeh lucu, mungkin memang suaminya tidak pernah makan jajanan seperti ini. Sampai melihat tusukan yang terasa kasar saja sudah membuatnya paranoid seperti itu. Tyas mengambil garpu yang di berikan suaminya dan mulai memakan cilok yang di belinya.
"Lagian kamu kok bisa ada garpu si, Mas?"
Oh ya ampun, suaminya benar-benar tidak pernah makan makanan seperti ini? Dia hanya tahu dan tidak pernah mencobanya. "Coba satu mau Mas, enak loh"
Ganesh menggeleng cepat "Tidak, kamu saja"
"Kamu belum pernah beli kayak gini ya?"
Ganesh menggeleng pelan "Aku pernah nyobain di sebuah restoran yang menyediakan makanan ini. Tapi, aku tidak terlalu suka rasanya"
"Restoran? Hanya makan cilok saja di restoran? Oh ya ampun" Tyas malah heboh sendiri mendengar ucapan suaminya itu. Apalah Tyas yang hanya jajan di pinggiran jalan saja. Apalagi cuma makan jenis bola aci kayak gini.
Ganesh tidak menanggapi keterkejutan istrinya. Dia hanya sedang fokus pada suasana sekolah, jam Istirahat pertama telah tiba membuat banyaknya siswa dan siswi berhamburan di lapangan. Ada yang mengantri di jajanan yang Tyas beli itu, banyak juga yang membeli jajanan di pedagang lain.
"Jadi, ini sekolahanmu"
__ADS_1
Tyas mengangguk, dia masih asyik memakan bola aci yang di dia beli. Sudah terlalu lama dia tidak merasakan jajanan sekolahan seperti ini. "Aku mau beli jajanan yang lainnya ya Mas"
Ganesh mendesah pasrah, sebenarnya dia tidak terlalu suka istrinya memakan jajanan pinggir jalan seperti ini. Memang terlihat kurang higenis. Namun lagi-lagi Ganesh mengingat ucapan Mama, dia juga tidak mau merusak mood istrinya itu. Apalagi Tyas terlihat begitu bahagia saat bisa membeli jajanan semasa sekolahnya.
"Sayang, jangan banyak-banyak ya"
Tyas mengangguk, meski dia tidak tahu apa yang di maksud suaminya jangan banyak-banyak itu. Tyas hampir membeli semua jajanan di depan sekolahnya. Setelah puas membeli semua yang ingin dia beli, Tyas dan Ganesh kembali pulang. Masih di perjalanan, Ganesh sesekali melirik ke arah istrinya yang sedang asyik memakan jajanan yang dia beli.
"Jang sering-sering ya beli jajanan seperti itu. Kelihatannya kurang bersih Sayang, tempatnya"
Tyas menoleh, dia baru mengerti wajah tidak nyaman suaminya karena itu ternyata. "Ya namanya juga makanan pinggir jalan Mas, ya emang seperti itu cara penyajiannya"
"Iya jangan terlalu sering, gak sehat Sayang. Apalagi kamu lagi hamil"
"Emm. Emangnya kamu sekolah dimana sampai lihat pedagang pinggir jalan saja kayak gitu ekspresinya" kekeh Tyas di akhir kalimatnya
"Memang di sekolah aku tidak ada yang jualan seperti itu. Aku tahunya juga akhir-akhir ini" Ganesh menyebutkan nama sekolah yang Tyas tahu betapa terkenalnya sekolah itu. Mungkin hanya orang-orang tertentu yang bisa sekolah disana. Secara biaya perbulannya saja bisa untuk biaya sekolah sampai lulus di sekolahan Tyas ini.
"Pantas saja kamu agak kaku tadi, sekolahnya elit si. Kalau aku sekolah disana Mas, gak terlalu menyenangkan si masa sekolah aku"
Ganesh tahu itu, Tyas bukan anak dari orang tidak mampu. Ayahnya memiliki perusahaan cukup terkenal saat itu. Tapi anaknya malah sekolah di sekolah sederhana seperti itu. Tidak apa karena semua sekolah juga sama, hanya saja Ganesh merasa heran karena ini Tyas anak dari Eriawan. Namun, memang begitulah dia menjalani hidupnya.
"Sudah, tidak perlu di bahas lagi"
Ganesh selalu tidak ingin jika istrinya membahas masa lalunya yang akhirnya akan membuatnya bersedih.
Bersambung
Jangan lupa dukungannya.. Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya juga..
__ADS_1