
Ganesh menatap dua orang yang masuk bersamaan ke dalam ruang kerja adiknya ini. "Loh, kau disini?"
Adlan berjalan mendekat ke arah Ganesh yang masih memijat kaki Tyas. Rasanya dia ingin tertawa karena melihat seorang pemimpin perusahaan besar sedang memanjakan istrinya. Sungguh sikap Ganesh di depan keluarga dan di depan rekan bisnis memang sangat berbeda. Ekspresi wajahnya saja sangat berbeda. Jika di depan keluarganya selalu hangat dan penyayang. Berbanding terbalik jika saat bersama beberapa rekan kerjanya.
Adlan menyerahkan berkas yang di bawanya. "Tanda tangani dulu, berkas ini harus di serahkan sore ini"
Ganesh mengambilnya dan segera membuka berkas yang di berikan asistennya itu. Semnetara di sisi lain ada Gezia yang masih diam di dekat pintu masuk. Dia masih takut untuk mendekat pada Kakak laki-lakinya itu. Adlan hanya meliriknya sekilas dengan senyuman tipis.
Ganesh segera menandatangani berkas itu setelah dia membacanya. Lalu kembali memasukkannya ke dalam map. "Ini, kau urus dulu perusahaan untuk hari ini. Aku masih ingin disini"
Adlan mengangguk, lalu dia tersenyum tipis pada gadis yang masih mematung di tempatnya. Apalagi setelah mendengar Kakaknya mengatakan itu. Adlan mengangguk penuh hormat pada Ganesh dan Tyas. Lalu dia berjalan ke arah pintu keluar, melirik Gezia yang menatapnya penuh memohon untuk bantuan. Adlan mengangkat bahunya acuh, dia menepuk bahu Gezia sebagai penyemangat.
Suara pintu yang tertutup berhasil membuat Gezia semakin tegang. Dia menatap Kakaknya yang masih duduk diam di tempatnya, sementara Kakak iparnya hanya menatap ke arahnya dengan penuh iba. Gezia melemaskan bahunya, dia hanya bisa pasrah untuk saat ini. Biarlah Kakaknya menceremahinya. Gezia berdiri di depan Kakaknya dengan kepala menunduk.
"Tahu apa kesalahanmu?"
Pertanyaan itu adalah hal yang sudah biasa menjadi pembuka saat Ganesh marah pada adik-adiknya sejak dulu. Ganesh selalu memberi mereka waktu sebelum menyuruhnya menemuinya. Hal itu untuk membuat mereka memikirkan apa kesalahannya hingga Ganesh marah. Begitulah cara Ganesh memberi ketegasan dalam menjaga dan mendidik adiknya ini. Tapi, sebelum langsung memberikannya nasihat. Dia selalu menanyakan itu dulu, ingin adik-adiknya tahu dimana letak kesalahan mereka. Seperti saat dirinya yang menyadari kesalahannya setelah istrinya pergi meninggalkannya, waktu itu.
"Iya"
"Apa kesalahanmu, Abang mau dengar"
__ADS_1
"Sudah berbicara tidak sopan sama Kak Tyas"
Tyas hanya bisa diam di situasi seperti ini. Dia baru tahu jika suaminya yang selalu memanjakan adik-adiknya itu, ternyata memiliki ketegasan juga pada mereka.
"Terus apa yang kamu lakukan?"
"Minta maaf dan tidak akan melakukannya lagi"
"Bagus! Lakukan sekarang!"
Gezia mengangguk, dia berjalan ke arah Kakak iparnya. Lalu terduduk di lantai samping Tyas. Membuat Tyas merasa tidak enak dengan hal ini. "Zi, jangan kayak gini. Aku gak papa kok, lagian yang kamu katakan memang benar. Bukan baru kamu saja yang pernah mengatakan seperti itu sama aku. Jadi, aku sama sekali tidak tersinggung"
Gezia memeluk Kakak iparnya, menyandarkan kepalanya di paha Tyas yang masih berselonjor. "Maafin aku Kak. Aku udah berkata tidak sopan sama Kakak. Maaf Kak, huaaa.. maafin aku"
Tangisan Gezia pecah juga, dia memang tidak bermaksud berbicara tidak sopan apalagi menyinggung perasaan Kakak iparnya. Dia hanya kebamblasan bicara saja. Tyas mengelus kepala adiknya sambil menatap suaminya dengan kesal. Dia sampai membuat adiknya menangis, padahal dia tidak salah. Hanya salah bicara saja, lagian Tyas juga tidak merasa tersinggung.
Akhirnya beberapa saat tangisan Gezia reda juga. Gadis itu berdiri dan terus mengucap kata maaf. Hingga sudah waktunya pemotretan, Gezi menahan Ganesh dan Tyas untuk pergi ke luar dari ruangan ini.
"Lebih baik Abang saja yang jadi modelnya. Saat ini adalah pemotretan dengan pasangan. Gak mungkin 'kan kalau Kak Tyas di foto dengan model lain"
"Ck. Kenapa kau tidak bicar sejak tadi?" kesal Ganesh dengan mengepalkn tangannya. "..Baiklah, aku saja yang jadi model pria untuk mendampingi istriku"
__ADS_1
Melihat Tyas dekat dengan fotografer saja sudah membuatnya panas dingin. Apalagi jika melihat istrinya berfoto dengan fose mesa dengan pria lain. Ganesh tidak akan mungkin membiarkannya. Lebih baik dirinya berkorban menjadi seorang model dadakan. Daripada harus melihat istrinya duduk berduaan dengan pria lain dan berfose di depan kamera. Enak saja, Ganesh tidak akan membiarkan itu.
"Syukurlah.." Gezia mengelus dadanya dengan hembusan nafas lega. Setidaknya dia tidak akan lagi mendengar omelan tidak jelas dari Kakak laki-lakinya saat melihat istrinya dekat dengan pria lain. Padahal kata 'dekat' saja tidak pantas di sebutkan disaat Tyas hanya menanggapi seperlunya pada Fotografer itu. Tyas masih bersikap biasa saja sebagai seorang teman yang bertemu dengan teman lama menurut Gszia. Hanya Ganesh saja yang berlebihan.
Akhirnya sesi pemotretan kedua di mulai dengan Ganesh sebagai modelnya. Beberapa fose di lakukan dengan senang oleh Ganesh dan Tyas. Gezia menatap pasangan itu, untung saja Kakak laki-lakinya mau menjadi model dadakan hari ini. Karena jika tidak, Tyas pasti akan merasa canggung saat harus berfose di depan kamera dengan pria lain. Sementara dengan suaminya ini, dia bebas melakukan apapun. Memeluk, memegang tangan suaminya, bahkan bersandar di bahu suaminya pun tidak akan ada rasa canggung untuk Tyas.
Seleai pemotretan sesi kedua dengan lancar karena Ganesh yang menjadi modelnya. Jika saja yang menjadi modelnya adalah pria lain, pemotretan ini pasti tidak akan berjalan lancar seperti ini. Seperti tadi, Ganesh akan terus mengomel dan mengacau pemotretan ini. Sesuai janjinya, selesai pemotretan untuk desain gaun ibu hamil terbarunya. Kini, Gezia sedang memperbaiki riasan wajah Kakak iparnya dan membantunya berganti pakaian dengan gaun yang sudah dia siapkan untuk maternity nya.
Gaun indah dengan yang panjang di gunakan Tyas dengan sangat pas di tubuhnya. Ganesh juga sudah berganti dengan balutan jas rancangan adiknya dengan warna yang senada dengan gaun yang di gukana istrinya.
Foto ketiga kali ini adalah untuk mengenang kehamilan pertama Tyas. Keduanya berfoto dengan beberapa fose yeng mesra dengan tangan Tyas yang memegang perut bulatnya agar kehamilannya semakin terlihat jelas di kamera. Keduanya terlihat bahagia melakukannya. Saling bertatapan, dan Cup... Kecupan di bibir istrinya Ganesh berikan tanpa aba-aba apapun. Kilatan cahaya kamera terarah pada keduanya. Mungkin foto yang satu ini akan membuat sangat berkesan.
Dasar Abang yang gak tau waktu.
Gezia memalingkan wajahnya saat adegan tidak terduga itu terjadi depan matanya. Sang fotografer juga merasa kikuk sendiri melihat adegan itu. Padalah dia sudah sering memfoto beberapa pasangan dengan adegan mesra seperti itu. Hanya saja ini berbeda. Yang ada di depannya adalah Tyas, gadis manis yang pernah dia kagumi saat masih kuliah. Mungkin sampai saat ini Azam masih mengangguminya. Apalagi dengan kelembutan Tyas yang tidak berubah sampai sekarang. Hanya saja dia terlambat. Tyas sudah menikah dan akan mempunyai anak. Sudah tidak ada kesempatan untuknya bisa memiliki gadis itu.
Aku hanya bisa mendo'akan kamu, semoga kamu bahagia dengan keluarga kecilmu itu.
Bersambung
Jangan lupa dukungannya.. Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya juga..
__ADS_1