
Acara pemakaman Kakek telah selesai, orang-orang yang datang pun sudah mulai kembali ke kediaman masing-masing. Kini hanya tinggal keluarga saja yang berkumpul di runang keluarga. Erlita dan Gezia sudah berada di dalam kamar mereka karena sudah beberapa kali jatuh pingsan. Mereka di sarankan untuk istirahat saja.
"Erl, mau kemana?" tanya Om Erwin saat melihat anaknya yang ingin pergi keluar rumah
"Di halaman Pi, ngerokok"
"Jangan kebanyakan merokok Erl, gak baik untuk kesehatan kamu"
"Iya"
Erland berlalu keluar rumah, dia memang yang paling terlihat tegar. Namun nyatanya hatinya sangat terluka dengan kepergiaan Kakek. Apalagi selama 5 hari sebelum Kakek pergi, dia lebih banyak menemani Kakek. Seperti memancing di danau. Erland hanya sosok pria yang tidak mau terlihat lemah di hadapan semua orang. Sehingga dia hanya menunjukan wajah datar dan dinginnya di saat hatinya benar-benar terluka dan merasa sangat kehilangan karena kepergian Kakek.
Dia ruang keluarga, suasana duka masih sangat terasa. Semuanya tentu sangat merasa kehilangan Kakek. Sosok tetua di rumah ini, yang selalu menjadi sosok yang di kagumi oleh anak dan cucunya. Apalagi dengan terpajangnya foto terkahir Kakek bersama keluarganya saat di butik Gezia. Saat menyambut kelahiran Gweny.
"Pantas saja kemarin saat photoshoot, Kakek sangat bersemangat untuk berfoto dengan Gwen. Ternyata memang itu adalah foto terakhirnya" lirih Ganesh yang di tanggapi dengan diamnya semua orang. Tidak tahu harus menanggapi apa ucapan Ganesh itu.
Semuanya hanya sedang di selimuti duka atas kepergian Kakek. Namun hidup masih harus berjalan. Besok paginya semuanya masih terlihat berduka namun sudah terlihat lebih ikhlas. Tidak ada lagi tangisan yang terdengar. Mereka sedang di sibukan untuk kajian malam ini. Tyas juga ikut sibuk di sela-sela dia menyusui Gweny.
Sampai satu minggu berlalu semuanya mulai kembali ke aktifitas masing-masing. Tidak mungkin terus terus belarut dalam kesedihan. Hidup tetap harus berjalan. Biarkan Kakek bahagia di sana dengan Nenek. Kakek mungkin sudah bersama dan bahagia bersama wanita belahan jiwanya.
...🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬...
Sepasang suami istri ini sedang duduk di sofa ruang tengah dengan Gweny berada di gendongan Tyas. Televisi yang menyala menjadi tontonan mereka. Ganesh mulai kembali untuk menjalani aktifitasnya seperti biasa. Dia mulai bisa ikhlas dengan kepergian Kakek.
"Mas, apa Kak Seira datang waktu Kakek meninggal?" tanya Tyas, karena dirinya tidak melihat mantan kekasih suaminya itu hadir disana. Atau mungkin tidak lihat karena terlalu banyaknya orang-orang yang datang.
"Aku tidak tahu, memangnya aku memperhatikan setiap orang apa? Lagian tidak penting juga dia datang atau tidak"
"Emm. Yang udah move on bisa aja bilang kayak gitu. Dulu aja nangis-nangis karena di putusin dia" kekeh Tyas di akhir kalimatnya. Senang juga menggoda suaminya ini. Hitung-hitung sedang menghiburnya.
"Mulai lagi, kamu gak tahu kalau aku lebih menangis lagi saat kamu pergi"
__ADS_1
Tyas mencebikkan bibirnya menggoda Ganesh, seolah tidak percaya dengan ucapan Ganesh. "Gak percaya. Mas si nangisin aku?"
"Ya ampun Sayang, jangan mulai deh. Aku memang lebih hancur saat kamu pergi. Jadi jangan sampai mengulanginya lagi" Ganesh merangkul bahu istrinya dan mengecup kepala istrinya dari samping.
"Ya tergantung" jawab Tyas santai, dia malah senang menggoda suaminya itu.
"Tergantung apa Sayang?"
"Ya tergantung, kalau kamu masih bisa menjaga hatimu hanya untukku. Aku pasti akan tetap bertahan, tapi kalau kamu sudah tidak bisa lagi menjaga hatimu untukku. Aku tidak siap Mas menerima pengkhianatan lagi, cukup sekali saja di awal pernikahan kita"
Ganesh semakin mengeratkan rangkulannya di bahu sang istri. "Tidak akan Sayang, cukup sekali aku melakukan kebodohan itu"
Tyas tersenyum, dia menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. Gweny masih anteng di pangkuannya. "Gwen, Ayahmu ini dulu tidak suka dengan Bunda loh"
"Sayang...."Ganesh merengek layaknya anak kecil yang meminta sesuatu pada Ibunya. Dia segera menutup telinga Gweny dengan kedua tangannya. "...Jangan dengarkan Gwen, Bunda sedang mengarang cerita"
Tyas tertawa kecil melihat kelakuan suaminya ini. "Apaan, emangnya kapan aku mengarang cerita? Itu semua kenyataan Gwen, tapi Bunda senang karena sekarang Ayah tetap menjadi milik Bunda seorang"
"Iyalah, aku hanya cinta sama kamu dan kamu adalah cinta terakhir dalam hidupku"
"Sayang, tidak ada yang lebih bersyukur dalam hidupku selain bisa menjadi suamimu dan mendapatkan kesempatan ini lagi. Harusnya aku yang berterima kasih karena kamu sudah memberikan kesempatan ini dan mau kembali lagi bersamaku"
Begitulah cinta yang dibangun dari awal yang tidak diinginkan. Ganesh yang sangat tidak menginginkan kehadiran Tyas dalam hidupnya. Justru kini, malah dia yang lebih bucin pada istrinya. Dia yang lebih mencintai istrinya lebih dari apapun.
"Sayang, Gweny tidur tuh. Aku panggil Bu Diah ya"
Ganesh bersemangat sekali saat melihat anaknya yang sudah terlelap di pangkuan sang istri. Dia segera memanggil pengasuh Gweny dan menyuruhnya menidurkan Gweny dan menjaganya. Bu Diah tentu menurutinya, dia mengambil alih Gweny dari pangkuan Tyas dan membawanya ke kamar.
Sementara Tyas masih menatap bingung pada suaminya itu. "Kenapa si Mas? Seneng banget liat Gwen tidur"
"Yuk Sayang, kita juga harus ke kamar" Ganesh menarik tangan istrinya dan membawanya ke kamar dengan tidak sabaran. Tyas akhirnya mengerti kenapa suaminya bisa seantusias itu saat melihat Gweny terlelap.
__ADS_1
Masuk ke dalam kamar, Ganesh segera mengunci pintu kamar dan menyuruh istrinya segera naik ke atas tempat tidur. Setelahnya Ganesh mulai dengan membuka baju piyama tidur yang di kenakan Tyas. Mulai melancarkan aksinya.
"Jangan kelamaan Mas, nanti gak ke kantor lagi"
"Iya Sayang"
Entah sudah berapa kali Ganesh sampai tidak masuk ke kantor hanya karena kelelahan dengan aktifitas malamnya bersama sang istri. Entahlah kenapa sejak istrinya melahirkan, justru malah semakin membuat Ganesh candu bukannya bosan.
Dan pagi ini kembali terulang, saat Ganesh yang malah kembali tidur setelah subuh dan sulit untuk di bangunkan. Tyas sampai tidak bisa bangun jika suaminya belum bangun. Karena pelukannya sangat erat dan jika Tyas bergerak sedikit saja, maka suaminya langsung sadar dan semakin mengeratkan pelukannya. Seolah tidak ingin istrinya pergi dari pelukannya.
"Diam Sayang, aku masih mengatuk"
"Tapi ini sudah siang Mas, apa kamu gak ke kantor lagi?"
"Hmmm. Siang aku ke kantor agak siangan. Lagian tidak ada jadwal pagi ini"
Baru saja Ganesh akan kembali terlelap, namun suara dering ponselnya berhasil membuat kantuknya hilang seketika. Ganesh meraih ponsel yang dia letakan dia atas nakas samping tempat tidur.
"Hallo"
"Ya ampun kau dimana? Ini sudah jam berapa Bos? Client kita sudah datang, tapi kau masih saja belum muncul ke permukaan"
Ganesh langsung terbangun saat suara kesal dari Adlan terdengar di sebrang sana. "Ya ampun aku lupa kalau hari ini ada meeting penting. Kau cari alasan dulu agar client kita tetap menunggu. Tiga puluh menit lagi aku sampai"
Ganesh menaruh ponsel di atas nakas dan segera berlari ke ruang ganti untuk bersiap. Tyas hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah suaminya itu.
"Kan aku bilang juga apa, gak denger si semalem"
Bersambung
Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya..
__ADS_1
Yuk mampir di karya temanku ini.. Ceritanya bagus.