Takdir Yang Memilih

Takdir Yang Memilih
Nasihat Kakek Untuk Erland


__ADS_3

Siang ini Tyas sudah berada di Zia Boutique. Hari ini adalah jadwal photoshoot keluarganya dan juga Newborn photography untuk baby Gweny. Tyas sudah siap dengan gaun rancangan adik iparnya. Dia sangat suka dengan desain gaun yang di buat khusus untuknya oleh Gezia. Dia memang benar-benar sangat berbakat. Disini bukan Tyas dan Ganesh saja yang antusias. Tapi juga Kakek yang sudah terlihat gagah dengan setelan jas yang juga di rancang oleh Gezia.


"Tidak sia-sia orang tuamu menyekolahkanmu sampai ke luar negeri. Rancanganmu memang tiada duanya" puji Kakek pada cucunya ini


Gezia langsung bergelayut manja di lengan Kakek. "Iya dong Kek"


"Bisa kita mulai fotonya?" Azam, si fotografer handal yang selalu menjadi kepercayaan Zia Boutique. Pria yang selalu membuat Ganesh cemburu buta karena tahu jika Azam adalah teman masa lalu istrinya. Meski tahu jika mereka itu hanyalah teman, tapi Ganesh melihat tatapan berbeda pada istrinya itu. Sebagai sesama pria, tentu Ganesh mengerti arti tatapan itu.


"Sudah, sekarang kita mulai saja"


Semuanya di mulai dengan Newborn photography untuk baby Gweny. Berlanjut dengan Kakek yang ingin berfoto berdua dengan bayi kecil itu hingga foto bersama dengan semua anggota keluarga. Momen kelahiran baby Gweny di abadikan dalam foto keluarga ini. Bahkan sejak dari dalam kandungan pun.


Kakek terlihat senang bisa berfoto dengan semua anggota keluarga. Meski tidak ada lagi kehadiran istri tercintanya. Kakek duduk di sofa yang ada disana, matanya terlihat sendu. Dia mengeluarkan ponselnya, dan melihat foto mendiang istrinya yang sudah meninggal beberapa tahun yang lalu.


"Kek" Ganesh mengelus bahu Kakek, dia melihat apa yang sedang Kakek pandangi di layar ponselnya. Ganesh tahu jika Kakek juga merindukan sosok Neneknya, wanita yang menjadi cintai terakhir dalam hidupnya.


"Seandainya Nenek mu masih ada, mungkin dia juga akan sangat senang bisa berfoto dengan anakmu"


"Iya, tapi Nenek pasti melihat kebahagiaan kita dari sana Kek. Nenek pasti sudah bahagia di tempat terindah disana"


Kakek mengangguk, dengan setitik air mata yang berada di ujung matanya. Segera dia usap. "Iya, Nenek mu pasti sudah bahagia di sana. Dia masih mengizinkan Kakek bersama kalian, jadi Nenek belum juga mengajak Kakek untuk ikut bersamanya"


"Kakek, jangan bicara seperti itu. Kakek itu adalah kebahagiaan kami semua. Bisa melihat Kakek bahagia dan sehat selalu, sudah membuat kami sangat bahagia. Jadi, Kakek hanya perlu terus sehat dan bahagia"


"Iya Nesh, Kakek sudah sangat bahagia melihat anak dan cucu Kakek bahagia bersama pasangan masing-masing"


...🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬...


"Tumben sekali Kek, biasanya sengaja kami ajak saja Kakek suka menolak untuk menginap di rumah kami" kata Tante Syifa yang merasa heran tapi juga senang ketika Kakek ingin menginap di rumahnya.


"Iya karena Kakek sedan ingin saja"

__ADS_1


"Yaudah ayo sekarang berangkat, Syifa senang sekali karena Papa mau menginap di rumah Syifa. Kan Syifa juga ingin tinggal sama Papa sehari dua hari saja"


Akhirnya malam ini Kakek menginap di rumah Tante Syifa. Tentu saja Erlita sangat antusias saat melihat Kakek ada dirumahnya. Karena Kakek paling tidak bisa tidur di rumah orang lain, alasannya setiap kali Tante Syifa mengajaknya untuk menginap di rumahnya.


Kakek berjalan keluar dari kamarnya saat tidak juga bisa tidur. Dia menuju kamar cucunya. Mengetuk pelan pintu kamar. "Land, ini Kakek"


"Masuk Kek, gak di kunci"


Kakek masuk le dalam kamar Erland, dia melihat cucunya sedang duduk di kursi di balkon kamarnya. Pintu balkon terbuka. Kakek segera menghampiri cucunya yang paling pendiam di antara yang lainnya. Kakek duduk di samping Erland. Dia melihat cucunya sedang merokok dan langsung membuang putung rokok dan menginjaknya dengan sandal.


"Kamu merokok?"


"Ya, hanya untuk menghilangkan stres saja Kek. Kakek kok belum tidur"


"Kakek tidak bisa tidur, kan sudah Kakek bilang jika Kakek tidak bisa tidur jika bukan di rumah sendiri"


"Itu karena Kakek belum terbiasa. Coba deh kalau nginep di sininya dua tiga hari atau kalau bisa satu minggu saja. Pasti akan terbiasa"


Erland menghembuskan nafas kasar, dia berdiri dan menyandar di pagar pembatas balkon. Menatap Kakek dengan datar. "Tidak papa Kek, hanya sedang pusing dengan tugas kuliah saja. Aku 'kan baru saja ambil S2"


"Yakin hany karena itu? Bukan karena gadis itu? Siapa itu, adiknya Tyas 'kan?"


Erland hampir saja kehilangan keseimbangan tubuhnya mendengar ucapan Kakek. Darimana Kakek tahu jika dia sedang mengejar-ngejar Erland saat ini. "Iya itu salah satunya, aku stres sekali dengan dia yang tidak berhenti mengejarku. Padahal aku sudah beberapa kali menolaknya. Aku tidak memberikan dia harapan apa-apa . Tapi kenapa dia terus mengejarku"


"Itu karena dia benar-benar mencintaimu, dia menginginkan hatimu. Lagian Erl, kenapa kamu tidak mau jatuh cinta? Padahal usiamu sudah lebih wajar untuk jatuh cinta dan berpacaran. Kakek saja dulu sudah memiliki banyak mantan pacar saat di usiamu itu"


Erland terkekeh kecil "Ternyata berengseknya Bang Ganesh, menurun dari Kakek ya"


"Ya begitulah. Tapi setidaknya Kakek tidak pernah berselinhkuh sejak Kakek memutuskan untuk menikahi Nenekmu. Tidak seperti Abangmu itu, dia lebih berengsek dari Kakek"


"Haha, iya memang benar Kek"

__ADS_1


"Ingat pesan Kakek, jangan pernah menyia-nyiakannya yang benar-benar tulus padamu jika nantinya kamu tidak mau menyesal. Karena kesabaran seseorang juga pasti ada batasannya"


Setelah berkata seperti itu, Kakek berdiri dari duduknya dan berlalu pergi dari hadapan Erland. Sementara pria itu masih memikirkan ucapan Kakek barusan.


...🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬...


Haccih..


Ganesh mengosok hidungnya yang terasa gatal. Tidak ada angin tidak ada hujan tapi tiba-tiba dia bersin di sela kegiatannya malam ini bersama sang istri.


"Kamu kenapa Mas? Lagi flu?"


Ganesh menggeleng "Enggak Sayang, tiba-tiba saja bersin. Aku baik-baik saja kok"


"Tapi kalau kata orang, jika kita tiba-tiba bersin kayak gitu biasanya lagi ada orang yang ngomongin kita"


"Siapa yang ngomongin aku malam-malam begini?"


"Gak tahu juga si"


Akhirnya Ganesh tidak memikirkan lagi ucapan istrinya. Dia hanya sedang fokus dengan kegiatannya malam ini. Menikmati tubuh istrinya dengan saling mengerang penuh kenikmatan. Malam yang panjang ini kembali terulang. Mungkin besok pagi keduanya akan sulit bangun lagi karena terlalu mengantuk setelah melakukan kegiatan malam sampai larut.


Ganesh ambruk di samping istrinya, memeluknya dengan memberikan kecupan-kecupan kecil di bahu sang istri. Rasa lelah sangat di rasakan oleh Tyas. Hingga dia tidak bisa berkutik lagi setelah suaminya menyelesaikan gerakan terakhirnya. Tyas langsung ambruk dan terlelap begitu saja.


Bersambung


Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya..


Yuk mampir juga di karya temanku ini.. Ceritanya seru..


__ADS_1


__ADS_2