
Satu minggu berlalu dan sampai hari ini, Ganesh belum bisa menemukan Tyas. Dia sudah buntu arah untuk mencari Tyas kemana lagi. Bahkan orang tua dan sahabatnya pun tidak tahu dimana Tyas. Selama itu pula, Ganesh tidak bisa fokus pada pekerjaan dan dia pun mulai mengabaikan waktu makannya. Ganesh benar-benar kacau.
"Bagaimana untuk rapat sore ini? Kau siap? Jangan sampai mengacaukannya lagi. Ini client besar kita. Ayolah Nesh, aku mengerti jika kau sedang banyak masalah. Kau sedang mengkhawatirkan istrimu yang menghilang. Tapi, pekerjaan juga membutuhkanmu. Perusahaan dan banyak karyawan yang bergantung padamu. Jika ada masalah dalam perusahaan, maka Tuan Besar akan tahu dan mau tidak mau kau harus jujur soal istrimu yang pergi"
Ganesh terdiam, semua yang di katakan Adlan memang benar. Sampai saat ini Ganesh masih mencoba menyembunyikan masalah ini dari keluarga besarnya. Ganesh takut jika sampai keluarga besarnya tahu, maka mereka akan benar-benar memisahkan Ganesh dan Tyas. Seperti apa yang mereka ucapkan di awal pernikahan mereka. Apalagi Mama dan Kakek akan mengembalikan Tyas pada orang tuanya jika mengetahui Ganesh telah menyakiti gadis itu.
Mungkin pada awalnya, Ganesh akan senang dengan ancaman keluarganya itu. Karena Ganesh melakukan ini hanya untuk membuat Tyas segera pergi dan meminta berpisah darinya. Namun, kenyataannya Ganesh tidak rela saat istrinya pergi. Hatinya sakit, hidupnya terasa hampa saat Tyas pergi.
Ganesh tidak bisa hidup tanpa istrinya yang tanpa dia sadari jika Tyas telah memasuki relung hatinya sejak lama. Dia saja yang selalu menyangkal perasaannya sendiri. Karena yang dia fikirkan hanya perasaan Seira tanpa memikirkan perasaan wanita yang menemaninya selama 10 bulan terakhir. Bahkan Tyas tidak bertahan sampai satu tahun bersamanya seperti rencana dia pada awal pernikahan yang ingin menceraikan Tyas di satu tahun perniakahan mereka.
Akhirnya Ganesh bisa bersikap profesional dalam bekerja. Meski senyuman itu luntur sejak dia melangkah meninggalakan rekan kerjanya. Adlan yang melihat itu, tentu merasa kasihan pada sahabat sekaligus atasannya itu. Tapi, Adlan juga tidak bisa berbuat apa-apa karena Tyas pergi juga karena kesalahan Ganesh sendiri. Karena pria itu yang tidak menerima takdir yang memilihnya.
Sejak Tyas tiada, Adlan selalu menjemput dan mengantar Ganesh untuk pergi dan pulang bekerja. Karena Ganesh tidak lagi memiliki fokus yang baik. Adlan tidak ingin sesuatu terjadi jika dia membiarkan Ganesh mengemudi sendiri.
"Kau langsung pulang saja, terimakasih sudah mengantarku"
Ganesh berlalu masuk ke dalam rumahnya. Sepi.. Rumah ini terasa sepi, tidak ada lagi sambutan Tyas yang menunggunya pulang. Tidak ada senyuman gadis itu di pagi dan malam hari setiap Ganesh akan pergi bekerja dan di saat Ganesh pulang bekerja.
"Mas sudah pulang? Mandi dulu ya, biar aku siapkan airnya. Nanti langsung makan malam"
__ADS_1
Sambutan itu sudah tidak ada lagi jika Ganesh pulang bekerja. Semuanya seolah sirna dengan perginya Tyas yang membawa semua kehangatan dalam hidup Ganesh.
"Mas sarapan dulu, mau Tyas buatkan kopi?"
Pagi yang sunyi dan malam yang sepi. Begitulah yang Ganesh lewati setiap harinya. Semua sapaan Tyas seolah terus terngiang di telinganya. Ganesh baru sadar, jika perhatian-perhatian kecil yang Tyas berikan padanya begitu berharga. Ganesh menyesal karena dulu dia mengabaikan gadis itu dan semua perhatiannya dia anggap sebagai bentuk cari muka Tyas padanya.
...🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬...
Selesai mandi dan berganti pakaian, Ganesh turun ke lantai bawah. Dia bermaksud mengambil minum, tapi tatapannya tertuju pada ruang tamu yang semuanya di penuhi dengan foto-foto dirinya dan Seira. Bahkan dia setega itu pada istrinya. Membiarkan Tyas melihat foto-foto mesra mereka selama dia berada di rumah. Ganesh benar-benar tidak memikirkan bagaimana perasaan Tyas saat itu.
Dengan perlahan Ganesh mulai mengambil semua figura foto-foto dirinya dan Seira dan memasukannya ke dalam kotak besar. Ganesh ingin memulai hidup baru, dimana tidak ada Seira sebagai prioritas hidupnya. Kini hanya ada Tyas sebagai prioritas hidupnya. Meski semuanya terkesan terlambat saat ini.
"Maaf, aku benar-benar minta maaf. Tyas kembalilah ku mohon" lirih Ganesh dengan isakan pelan.
Ganesh benar-benar sedang tersiksa dengan penyesalan yang dia rasakan. Semuanya tergambar jelas di ingatannya. Bagaimana sikap kasarnya pada Tyas dan bagaimana gadis itu masih bersabar dengan semua yang telah Ganesh lakukan padanya. Senyuman tulus Tyas, wajah polos yang mensyiratkan luka. Terus memenuhi fikiran Ganesh setiap harinya.
Maaf..
Rasanya ribuan kata maaf tidak akan bisa menghapus semua penyesalan Ganesh sebelum dia benar-benar bertemu dengan Tyas dan menebus semua kesalahannya dengan membuatnya bahagia.
__ADS_1
Selesai membereskan semua foto-foto dirinya dan Seira. Ganesh langsung menghubungi Adlan. Dia ingin Adlan menyuruh seseorang untuk memasang semua foto-foto pernikahannya dengan Tyas.
Karena semua album foto pernikahannya tidak Ganesh bawa ke rumah ini. Semuanya masih di rumah Kakek dan tidak mungkin jika Ganesh yang datang kesana dan mengambilnya pasti keluarganya akan menanyakan tentang Tyas. Ganesh belum siap menghadapi semua pertanyaan keluarganya tentang istrinya. Ganesh masih belum menyiapkan jawaban yang tepat untuk mereka.
Hingga besok malamnya, Adlan telah selesai menyuruh seseorang untuk memasang foto-foto pernikahan Ganesh bersama Tyas di setiap sudut ruangan. Bahkan ada satu foto yang di buat besar dan di pajang di ruang tamu.
Ganesh tersenyum melihat pemandangan rumahnya saat ini. Dia bisa merasakan kehadiran istrinya dengan semua foto istrinya ada di setiap sudut ruangan. Meski sebenarnya di foto pernikahan mereka wajah Ganesh dan Tyas terlihat tertekan. Ganesh dengan wajah dinginnya dan Tyas dengan senyuman penuh luka dan tertekan. Dari semua foto tidak ada binar kebahagiaan dari pasangan pengantin itu.
Ganesh meraih satu foto yang terletak di meja televisi. Mengusap bagian wajah Tyas di foto itu. Istrinya ini memang sangat pandai menutupi kesedihannya dengan senyumannya. Meski Ganesh bisa melihat jika di balik senyuman itu tersimpan kesedihan.
"Kembali yuk Sayang..."Ganesh melihat ke sekeliling ruangan, lalu kembali menatap figura foto di tangannya "...Rumah kita sudah di penuhi dengan foto kita. Biar kamu bisa lihat sekarang, kamu gak akan tersiksa lagi dengan foto aku dan Seira. Hiks..."
Di tinggalkan Seira saja dia tidak sampai menangis. Tapi saat di tinggalkan Tyas yang baru 10 bulan hidup bersamanya, kenapa Ganesh bisa sehancur ini. Pria dingin itu kini menangis meratapi penyesalannya pada sang istri yang dia sia-siakan yang kini telah pergi entah kemana. Membawa setiap kehangatan di hidup Ganesh.
"Tyas.. Kembalilah.. Hiks.."
Ganesh duduk di atas sofa dengan memeluk foto pernikahan dirinya dan Tyas. Mencium bagian foto Tyas dengan air mata yang tak mampu lagi dia tahan. Ganesh benar-benar terpuruk dalam penyesalan yang dia rasakan.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya.. Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya juga