
Tyas dan Ganesh benar-benar hanya sehari tinggal di rumah keluarga Aditama. Kini mereka baru saja sampai di sebuah villa di daerah perbukitan. Suasana di sekitar villa masih sangat asri, cukup banyak pepohonan yang tumbuh di sekitarnya.
Tyas sedang membereskan beberapa pakaia dan keperluan mereka selama disini. Setidaknya Tyas masih cukup bersyukur karena Ganesh tidak melarangnya untuk menyentuh pakaian atau barang-barang miliknya seperti di dalam novel-novel yang sering Tyas baca. Ganesh masih menerima pelayanannya sebagai seorang istri. Seperti menyiapkan pakaian kerja dan memasak makanan untuknya.
Selama tiga hari berada di villa ini, Ganesh merasa hampa. Tanpa kehadiran Seira benar-benar membuat hidupnya tanpa arah. Sering kali Tyas menjadi pelampiasan kegalauannya ini dengan memarahinya.
"Minumnya Mas"
Tyas sudah mulai merubah panggilannya sejak mereka sah menjadi
suami istri. Ganesh yang sedang berdiri di bawah pohon rindang di halaman villa nya. Ganesh sedang mencari sinyal agar bisa menghubungi Seira. Sudah terlalu lama dia tidak menghubungi Seira.
Tyas menaruh secangkir kopi itu di atas bangku taman yang berada di samping Ganesh berdiri. Tidak mendapat jawaban dari Ganesh seperti saat ini, sudah terbiasa untuk Tyas setelah mereka menjadi suami istri selama 4 hari ini. Memang tidak ada obrolan diantara keduanya. Mereka hanya berbicara seperlunya, lebih tepatnya Tyas yang lebih banyak bicara meski tak mendapat jawaban apapun.
Setelah cukup lama berdiri disana hanya untuk mendapatkan sinyal. Akhirnya Ganesh mendapatkannya. Dia segera menghubungi Seira. Tyas hanya memperhatikan suaminya itu dari belakang. Apa yang di lakukan oleh suaminya itu tidak luput dari tatapan Tyas.
"Hallo, Sayang.."
Deg...
...🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬...
Tyas duduk di depan jendela kamarnya, dia masih menatap Ganesh yang berada di halaman villa. Sepertinya Ganesh masih belum selesai menelepon Seira. Tyas memilih pergi sebelum hatinya akan benar-benar semakin terluka. Dia tahu siapa yang sedang di telepon oleh suaminya sejak sapaan pertama yang dia ucapkan.
Tyas akan mencoba menerima takdirnya ini. Dengan terus berusaha mendapatkan hati suaminya, dia akan terus berusaha meski Ganesh masih bersama dengan kekasihnya.
Pagi ini Tyas menatap sendu tamu yang tiba-tiba datang ke villa ini. Namun, senyuman tetap terkembang indah di wajahnya. Tyas benar-benar sangat pandai menipu orang lain dengan senyumannya. Luka itu tetap dia tutupi dengan senyumannya.
"Silahkan masuk kak"
__ADS_1
Gadis itu begitu ramah dan tulus.
Seira mulai merasa tidak nyaman, Tyas begitu baik dan menyambutnya dengan begitu hangat dan tulus. Sebenarnya, Seira sudah siap untuk menyerah dengan semua ini. Tapi, lagi-lagi keegoisan nya mengalahkan segalanya. Dia dan Ganesh mencoba untuk memperjuangkan hubungan mereka saat ini. Meski sebenarnya, Seira tidak yakin dengan apa yang akan terjadi ke depannya.
"Duduk dulu Kak, biar Tyas buatkan minum. Kakak mau minum apa?"
Tyas masih bisa bersikap ramah dan sopan pada Seira. Meski saat ini, hatinya sedang tidak baik-baik saja. Tyas hanya mencoba mengerti keadaan. Disini Seira juga tidak sepenuhnya salah, karena dia dan Ganesh adalah pasangan yang saling mencintai. Sebelum kehadiran Tyas telah menghancurkan segala harapan dan rencana mereka selama ini.
"Apa saja, pasti aku minum kok"
"Baik Kak, sebentar biar Tyas buatkan dulu minumnya"
Tyas berlalu ke dapur, sampai disana air matanya benar-benar tidak bisa di tahannya lagi. Tyas menyandar di dinding dapur dengan tangan memegang dadanya yang terasa sesak.
Setelah cukup bisa menenangkan didinya, Tyas segera membuatkan minum untuk tamunya. Tyas mencoba menetralkan kembali wajahnya yang habis menangis itu. Berjalan menuju ruang tengah, namun Tyas menghentikan langkahnya tepat di dekat tangga. Adegan pasangan kekasih yang sedang saling melepas rindu dengan saling berciuman mesra.
"Kenapa Sayang?"
Ganesh kebingungan dengan Seira yang tiba-tiba melepas paksa tautan bibir mereka. Padahal Ganesh masih belum puas melepas rindu dengan pujaannya ini. Dia sengaja menyuruh Seira untuk datang ke tempat ini agar bisa melepas rindu dengan wanitanya itu.
"Bagaimana jika kau datang kesini"
Begitulah yang Ganesh katakan di telepon kemarin. Bahkan dia sedikit memaksa agar Seira bisa datang kesini dan Ganesh akan segera melepas rindu pada kekasihnya ini.
Seira melirik ke arah Tyas sebagai jawaban dari pertanyaan Ganesh itu. Ganesh pun ikut melihat ke arah Tyas.
Tyas berjalan melewati Seira dan Ganesh, dia menundukan wajahnya seolah tidak melihat apapun. Tyas hanya sedang menetralkan perasaannya yang hancur ini.
"Kamu susul itu istri kamu, dia pasti sedih lihat kita malah bermesraan depan dia. Maaf ya Nehs, aku gak bisa jaga hati istri kamu"
__ADS_1
Seira sedikit memaksa Ganesh agar menyusul Tyas ke ruang tengah. Seira begitu merasa bersalah melihat tatapan Tyas.
"Ngapain aku susulin dia, yang aku harapkan ada disini itu kamu. Bukan dia!"
"Jangan seperti itu, dia itu istrimu. Kau tetap harus menghargainya"
Tyas memilih duduk di sofa ruang tengah setelah meletakan nampan di atas meja. Tentu dia mendengar semua percakapan Ganesh dan Seira. Akhirnya Tyas tidak bisa lagi menahan rasa sakitnya. Dia menangis, bahkan bahunya bergetar hebat karena isakan yang sedang dia tahan.
Tyas tahu jika mereka saling mencintai. Mungkin jika bukan karena perbedaan di antara keduanya. Tidak mungkin Ganesh akan menikah dengannya. Tyas sadar akan itu. Dialah yang memaksa masuk ke dalam hubungan cinta mereka.
Saat ini Tyas hanya bisa pasrah dengan takdirnya, dia tidak bisa memilih apapun. Posisinya sangat menyulitkan. Tyas hanya akan berusaha bertahan dengan terus berjuang sampai batas kesabarannya benar-benar telah di ujung kemampuannya.
"Tyas"
Panggilan itu membuat Tyas segera menghapus air matanya dan menoleh ke arah Seira yang ternyata sudah duduk di sofa tunggal disana. Sisa air mata masih terlihat membekas si sekitar mata teduh itu. Seira semakin merasa tidak enak dengan semua ini. Dia tahu jika Tyas juga terpaksa masuk ke dalam kisah cinta yang rumit ini.b
Seira berpindah duduk ke sofa panjang yang di duduki Tyas. Seira menggenggam tangannya, menatap wajahnya yang natural tanpa polesan make up.
"Maaf Tyas, jika kau tidak siap dengan semua ini. Aku akan meninggalkan Ganesh"
Tyas menatap mata cantik milik Seira, wanita ini tidak ada niat jahat apapun. Seira juga hanya terjebak dalam kisah cinta ini. Tyas juga tidak akan tega melihat Ganesh yang begitu mencintai Seira terluka karena wanitanya pergi meninggalkannya.
Tyas melihat bagaimana Ganesh memperlakukan Seira dengan begitu lembut dan penuh cinta. Berbeda sekali saat dia bersama Tyas. Bahkan dalam waktu 3 hari saja dia tidak bisa menghubungi Seira, Ganesh terlihat kacau. Apalagi jika Seira benar-benar pergi meninggalkannya.
Tyas mengusap punggung tangan Seira yang memegang tangannya, dia tersenyum hangat pada Seira "Tidak perlu Kak, yang di inginkan Mas Ganesh adalah Kakak bukan aku!"
Bersambung
Jangan lupa dukungannya... like komen di setiap chapter... kasih hadiahnya dan votenya juga ya.. terimakasih
__ADS_1