Takdir Yang Memilih

Takdir Yang Memilih
Ingat Bahagianya, Jangan Saat Sakit Dan Terlukanya


__ADS_3

Jika cinta terlalu kuat, maka godaan apapun tidak akan membuat pasangan berpisah. Begitulah cinta di antara Tyas dan Ganesh, dengan masa lalu yang tidak baik-baik saja. Namun, cinta mereka tetap menguatkam hubungan ini. Menjadikan semua cerita di masa lalu sebuah pelajaran yang tidak harus di ulangi. Sudah cukup Ganesh tersiksa dengan penyesalan yang ada. Tidak mau sampai dia harus melakukan kembali hal bodoh yang sama. Cukup Tyas, satu dan selamanya.


"Mas, besok mau ke rumah Papa ya. Sudah lama tidak kesana"


"Tapi aku kerja Sayang"


"Ya gak papa, kan biasanya juga sendiri. Aku sama Bu Diah saja"


"Yaudah pakai supir ya, pulang sebelum sore"


Tyas memeluk suaminya dan mencium pipinya. "Iya Mas, makasih ya"


"Wah.. Ini masih belum isya Sayang, masa mau sekarang si"


Tyas langsung melepas pelukannya, dia menatap suaminya dengan tatapan kesal. "Apaan si Mas, aku cuma seneng aja karena besok mau ketemu Papa. Aku bisa peluk Papa lagi deh"


"Emm. Sesenang itu ya bisa peluk Papa kamu?" Rasanya Ganesh selalu merasa kasihan saat istrinya selalu antusias hanya karena bisa memeluk Ayah kandungnya.


Karena selama ini dia hanya mejadi anak yang di asingkan oleh Ayahnya sendiri. Hingga Ganesh datang, meski pada awal pernikahan mereka memang menimbulkan banyak luka dan kecewa. Tapi saat ini Tyas benar-benar bersyukur karena dengan kehadiran suami dan keluarganya membuat Tyas bisa kembali dekat dengan Ayahnya bahkan setelah sekian lama dia bisa merasakan lagi hangatnya pelukan seorang Ayah.


"Iya Mas, makasih ya karena sudah membuat aku kembali bersama Papa dan merasakan kehangatan lagi dari Papa" Tyas kembali memeluk suaminya dan menyandarkan kepalanya di dada suaminya.


Kebahagiaan yang tiada bisa di ucapkan dengan kata-kata. Bisa dicintai oleh suami yang dulu sangat membencinya. Dan bisa di sayangi kembali oleh Ayah yang dulu juga membecinya. Kehidupan Tyas selama ini hanya di penuhi dengan tatapan benci, mau dari keluarga dan setelah menikah pun dia tetap mendapatkan tatapan penuh kebencian itu dari suaminya. Hanya saja, saat ini dia begitu bersyukur karena setiap tatapan penuh benci yang tertuju padanya kini berubah menjadi tatapan penuh kehangatan dan kasih sayang.


"Emm. Besok kalau bisa jangan terlalu sore ya pulangnya. Aku khawatir"


Tyas menatap wajah suaminya, dia tahu arah tujuan suaminya berbicara seperti itu. Bukan karena benar-benar khawatir dalam bentuk apa, tapi Ganesh hanya takut jika Tyas sampai menginap di rumah Ayahnya. Karena semalam saja tidur tanpa istrinya dia tidak akan bisa. "Aku gak akan nginep kok Mas, pasti pulang. Kan kalau aku nginep kasihan suami aku ini pasti akan kesepian"


Ganesh tersenyum, dia mengecup kening istrinya. "Ya, karena aku tidak bisa hidup tanpa kamu Sayang"


"Hahaha. Lebay deh Mas, dulu saja nolak aku"

__ADS_1


"Jangan di bahas deh, itukan dulu karena aku masih bodoh. Sekarang aku 'kan sudah pintar"


Tyas hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya mendengar ucapan suaminya yang terkadang suka membuatnya tertawa lucu. "Kamu itu gak bodoh Mas, waktu itu 'kan kamu sedang sayang-sayangnya sama Kak Seira. Jadi pantas saja jika kamu menolak perjodohan ini. Aku kalau ada di posisi kamu juga pasti akan seperti itu"


Sudahlah Ganesh, kau mau mencari wanita seperti apa lagi. Tyas sudah sangat tulus mencintainya dan selalu mengerti keadaannya. Tyas tidak pernah egois, dia tidak pernah posesif pada suaminya. Karena apa? Karena dia percaya pada suaminya. Percaya jika Ganesh pasti akan setia menjaga hatinya untuk Tyas. Tinggal Ganeshnya saja yang tidak lagi menghancurkan kepercayaan yang sudah susah payah Tyas bangun kembali setelah kekecewaannya pada Ganesh di waktu dulu.


"Oh ya Sayang, kamu beneran belum pernah pacaran gitu pas sebelum kita menikah"


Tyas menggeleng pelan "Tidak ada waktu untuk pacaran Mas, Tyas hanya di sibukan dengan pekerjaan dan sekolah"


Ganesh semakin mengeratkan pelukannya, memberi kecupan hangat di kening istrinya itu. "Sayang, aku benar-benar sangat beruntung karena memiliki kamu"


"Emm. Aku merawatnya malah aku yang beruntung karena menikah sama kamu"


"Beruntungnya dimana? Kamu hanya mendapatkan sakit dan luka saat menikah denganku"


"Itu 'kan dulu Mas, sekarang waktunya sudah berbeda. Jadi ingat saja sekarang yang bahagianya, jangan saat terluka dan sakitnya"


Pagi menjelang siang, Tyas sudah berada di rumah Eriawan. Tepatnya adalah kontrakan Eriawan dan Adriana. Adiknya yang kedatang Tyas tentu langsung menyambutnya dengan ceria. Seperti biasa Adriana akan menceritakan setiap hal yang dia lewati setiap harinya. Dan selalu ada nama Erland di setiap carita yang Tyas dengar.


"Dek, Papa jam berapa pulangnya?"


Adriana melirik jam dinding disana. "Seperti biasa jam pulang kerja kantor Kak, itu pun kalau gak lembur karena masih banyak pekerjaan yang belum selesai. Tapi apa Papa tidak tahu kalau Kak Tyas akan datang?"


Tyas menggeleng, dia memang langsung datang saja tanpa memberi dulu kabar. Dan Tyas lupa jika hari ini adalah hari kerja, bukan hari libur. Jadi sudah pasti Ayahnya sedang bekerja. Ganesh juga yang tidak memberi tahunya kalau Eriawan bekerja hari ini, sudah tahu istrinya ini kadang pelupa. Tyas jadi kesal sendiri pada suaminya.


"Kakak lupa kasih tahu Dek, acaranya benar-benar mendadak. Tiba-tiba saja Kakak ingin ke sini, kangen saja sama kalian"


"Tapi udah bilang sama Kak Ganesh?"


"Sudah, tidak akan berani Kakak datang kesini kalau tidak izin. Kau tahu kalau Kakak iparmu sangat posesif"

__ADS_1


Adriana terkekeh dengan ucapan Kakaknya. Dia memainkan tangan mungil Gweny yang berada di pangkuannya. "Kak maaf ya, Riana belum bisa memberikan hadiah untuk Gwen"


Rasanya dia sangat malu saat acara syukuran kelahiran Gweny, hanya dirinya yang tidak memberikan hadiah pada keponakannya itu. Bukan apa-apa, tapi Adriana masih belum memiliki uang lebih untuk itu. Dia ingin membelikan sesuatu yang cukup bagus untuk keponakannya itu. Adriana ingin memberikan yang berkesan untuk Gweny. Hasil bekerja paruh waktu, tidak cukup untuk kebutuhannya. Masih beruntung karena Kakak iparnya masih membayar biaya kuliah dirinya.


"Apaan si Riana, gak usah ihh. Kamu punya untuk dirimu sendiri saja Kakak sudah sangat bahagia"


"Do'ain saja ya, semoga Adriana bisa mendapatkan rezeki lebih agar bisa ngasih hadiah untuk Gweny"


"Kakak selalu mendo'akan yang terbaik untuk kamu Dek"


"Makasih Kak"


Adriana semakin tidak mempunyai muka saat tahu jika Gezia memberikan hadiah yang sangat wahh.. Dia memberikan sebuah gaun yang indah yang dia desain sendiri bersama dengan photoshoot dan Newborn photography yang Adriana tahu jika biayanya pasti tidak sedikit.


Saat mereka sedang mengobrol, Eriawan datang. Dia terkejut melihat keberadaan putri pertamanya yang ada di kontrakan nya. Tyas langsung menghampiri Eriawan dan memeluknya, seperti hal yang selalu dia lakukan saat bertemu Ayahnya.


"Gak bilang kalau mau kesini Yas? Untung Papa gak kerja lembur, karena masih banyak sekali pekerjaan yang belum selesai"


"Iya Pa, Tyas juga mendadak acara kesininya"


"Untung saja adikmu sedang tidak kuliah"


"Iya, untung saja Adriana ada di rumah"


Mereka pun lanjut berbincang di ruang tengah sampai waktunya Tyas harus pulang.


Bersambung


Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya..


Yuk mampir di karya temanku.. Ceritanya bagus..

__ADS_1



__ADS_2