Takdir Yang Memilih

Takdir Yang Memilih
Lebih Baik Memaafkan Daripada Membenci?!


__ADS_3

Tyas bangun dengan di bantu suaminya, dia sedikit memijat bahunya yang terasa pegal dan tidak nyaman. Tyas melihat ke sekelilingnya dan merasa ada yang berbeda dengan kamar yang di tempati ini. "Loh kok..."


"Kita pulang ke rumah kita hang dulu. Kita akan tinggal disini lagi mulai sekarang"


Tyas menatap Ganesh dengan bingung, kenapa tiba-tiba sekali untuk pindah rumah? "Tapi 'kan kita belum siap-siap untuk pindahan. Pakaian aku juga masih di rumah Mama. Terus sekarang aku pakai baju apa?"


"Tidak usah pakai baju saja, nanti juga akan aku buka kembali kalau kau pakai baju"


Suaminya benar-benar tidak tahu malu mengatakan hal itu dengan begitu santainya. Tentu saja itu membuat Tyas sangat terkejut. Dia mencoba turun dari tempat tidur agar segera menghindar dari candaan suaminya yang masih terlalu ambigu baginya.


Namun tiba-tiba tangan suaminya melingkar tepat di peritnya saat Tyas baru saja menurunkan kakinya ke lantai. Masih terduduk di pinggir tempat tidur. "Sayang, mau kemana?"


"Kan katanya harus bersih-bersih dulu, aku mu cari baju ganti dulu"


"Aku bantuin ya, kamu tenang saja aku tidak akan melakukan apapun malam ini. Karena kita juga harus konsultasi dulu sama dokter. Dan untuk baju ganti, Sayang juga gak perlu khawatir. Aku sudah siapkan semuanya sebelum kita pindah"


Tyas sedikit bernafas lega mendengar ucapan Ganesh. Setidaknya dia tidak akan kebingungan untuk mencari baju ganti di malam hari seperti ini. Akhirnya Ganesh membawa istrinya ke ruang ganti, membantu Tyas bersih-bersih dan berganti pakaian. Meski sebenarnya gairahnya sudah sangat di ujung. Namun, Ganesh tetap harus kuat menahannya sampai mendapat persetujuan dari Dokter. Ganesh tidak mau menyakit istri dan anaknya.


"Mas, aku bisa sendiri. Kamu keluar saja" lirih Tyas yang sudah sangat malu dengan semua perlakuan suaminya ini. Ganesh membantu membuka pakaiannya sampai membantunya mandi. Sungguh Tyas sangat malu dengan ini. Bahkan suaminya itu menyabuni tubuhnya seperti hal yang sering Tyas lakukan saat Ganesh masih sakit dan hanya bisa duduk di kursi roda.


"Biarkan aku melakukan apa yang kamu lakukan saat aku sakit..." Ganesh terus menggosok seluruh bagian tubuh Tyas dengan segala rasa gairah yang dia tahan. "....Tahu gak bagaimana yang aku rasain saat kamu memandikan aku dengan begitu tulus"


Tyas menggeleng saja.


Ganesh tersenyum, menatap sekilas pada istrinya lalu kembali melakukan tugasnya. "Aku baru sadar jika sosok bidadari yang di kirim Tuhan sama aku telah aku sia-siakan. Di saat aku sakit, kau bahkan begitu tulus dan sabar merawatku. Memandikan ku, mengganti pakaianku. Sungguh kau terlalu baik untuk aku, Sayang"

__ADS_1


"Aku tidak sesempurna itu Mas, aku juga manusia yang mempunyai kekurangan"


Ganesh mengambil jubah mandi yang menggantung dan membantu Tyas berdiri lalu memakaikan di tubuhnya. "Tetap saja bagiku, kau tidak ada kekurangan Sayang. Tidak peduli apapun omongan orang lain, bagiku kau yang paling terbaik tanpa kekurangan untuk ku"


"Yuk pakai baju, jangan sampai kedinginan" Ganesh menuntun keluar dari kamar mandi.


"Kali ini, aku beneran bisa sendiri Mas, kamu keluar saja ya"


Ganesh tersenyum, dia mengusap kepala Tyas lalu mencium keningnya. "Yasudah, cepat ganti baju dan kita tidur ya. Kasihan baby kelelahan"


Tyas tersenyum saat Ganesh semakin hari semakin sering mengelus perutnya dan apa yang di lakukan Ganesh selalu mendapatkan respon baik dari anaknya.


"Dia bergerak lagi Sayang" Dan seperti biasa, Ganesh selalu antusias saat mendapatkan tendangan dari bayinya. Meskipun masih belum terlalu kencang menendangnya karena usia kandungan Tyas pun masih 5 bulan.


"Iya Mas, setiap kamu mengelus perutku dia selalu memberikan respon. Mungkin karena dia tahu kalau itu adalah tangan Ayahnya yang menyayanginya"


Hampir setiap stasiun televisi menampilkan acara semalam. Bagaimana Ganesha Aditama, si pewaris utama GE memperkenalkan istrinya di depan semua orang. Bahkan tanpa di ketahui kapan pernikahan itu terjadi. Namun, sesuai dengan keinginan Ganesh. Tidak ada yang menyebarkan berita itu dengan memojokkan istrinya. Semuanya aman teratasi.


Pagi ini Tyas terbangun dari tidurnya, dia mengerjap saat merasakan sesuatu yang memeluknya dengan erat. Saat membuka mata, wajah tampn suaminya langsung menjadi pemandangan pertama di pagi ini. Bahagia sekali Tyas bisa merasakan suasana seperti ini. Bahkan hal yang tidak pernah dia sangka akan terjadi dalam pernikahan yang awalnya tidak di inginkan suaminya itu. Tyas mengangkat tangannya untuk mengusap wajah Ganesh yang begitu sempurna. Wajah pria yang menjadi cinta pertamanya saat sekolah dulu.


Tyas mengusap setiap garis wajah Ganesh. Mulai dari mata, hidung, bibir hingga dagu benar-benar tak terlewatkan dari jari Tyas. Sampai kedua mata suaminya tiba-tiba terbuka membuat Tyas segera menurunkan tangannya dari wajah suaminya. Takut kalau Ganesh marah dengan apa yang di lakukan barusan.


"Kenapa Sayang?"


Tyas menggeleng pelan, dia menyibak selimut dan bangun terduduk di tempat tidur. "Habis sholat, aku mau membuat sarapan dulu ya Mas"

__ADS_1


"Tidak usah, kita pesan saja. Aku belum isi keperluan dapur. Nanti siang kita belanja bareng-bareng ya"


Tyas mengangguk dengan semangat. Berbelanja bersama suaminya di masa depan adalah harapan Tyas sejak dia belum menikah. Tyas selalu membayangkan bisa berbelanja dengan suaminya suatu saat nanti.


"Seneng banget Sayang, cuma di ajak belanja saja"


"Iya Mas, karena aku suka ngebayangin bisa belanja bareng suami aku suatu saat nanti" antusias Tyas dengan senyuman yang tidak pernah luntur dari wajahnya.


"Ternyata kebahagiaanmu sesederhana itu ya. Mulai sekarang, katakan apa saja keinginanmu. Aku akan berusaha mewujudkannya"


Tyas langsung memeluk Ganesh dengan bahagia. "Terimakasih Mas"


Akhirnya setelah pesanan makanan datang, Tyas dan Ganesh langsung sarapan bersama dengan ketenangan. Sesekali Tyas menatap ke sekelilingnya, suasana rumah ini cukup berbeda sekarang. Tyas baru menyadari jika di ruang tengah rumah ini sudah di penuhi dengan foto-foto pernikahan mereka. Tidak ada lagi foto-foto kemesraan Seira dan Ganesh.


Selesai sarapan, mereka segera bersiap untuk pergi berbelanja sesuai dengan janji Ganesh. Sampai di pusat perbelanjaan kota ini, Ganesh dan Tyas berjalan berdampingan dengan Ganesh yang mendorong kereta belanja. Tyas memilih beberapa perlangkapan rumahnya.


"Mas, kok di rumah bisa ada banyak foto pernikahan kita?" tanya Tyas sambil melihat-lihat barang yang ingin di belinya.


"Emm. Aku sengaja menyiapkannya. Maaf karena dulu aku tidak berperperasaan sudah membuatmu terluka"


Tyas menoleh dan menatap Ganesh dengan lembut. "Tidak papa Mas, jangan membahasnya lagi"


Sudah cukup sampai disini semua kisah masa lalu mereka, cukup menjadi sebuah cerita semata. Tidak perlu terus mengungkitnya, karena hanya akan membuat terluka saja. Semuanya akan tetap menjadi cerita yang tak bisa di hilangkan. Begitulah cara berpikir Tyas, sehingga dia lebih memilih memaafkan daripada membalas. Karena mempunyai dendam hanya akan membuat hati dan hidup kita tidak tenang.


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya.. Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya..


__ADS_2