Takdir Yang Memilih

Takdir Yang Memilih
Siomay Pinggir Jalan


__ADS_3

"Beneran bulan depan Mas?"


"Iya, Papa kabarin aku barusan. Katanya akan di adakan bulan depan saja, masih cukup waktu buat mempersiapkan semuanya"


"Aku ikut bantuin apa ya? Aku gak bisa apa-apa lagi, gak ngerti juga"


Ganesh mencium gemas pipi istrinya yang mulai terlihat chubby. "Kamu gak perlu bantuin apa-apa. Lagian kamu lagi hamil besar kayak gini, jadi jangan melakukan hal yang akan membuat diri kamu lelah Sayang. Kamu hanya cukup bantu do'a saja biar semuanya lancar sampai harinya. Lagian semuanya udah pasti di serahin sama Wedding Organizer. Untuk gaun pernikahan sudah pasti Zia sendiri yang buat. Dia sudah punya desain gaun impiannya. Jadi, kita gak perlu terlalu repot. Apalagi kamu, lagi hamil besar kayak gini hanya perlu diam saja"


Tyas mengangguk "Tapi malu dong Mas kalau aku hanya diam saja"


"Malu sama siapa hmm?" Ganesh kembali mencium gemas pipi istrinya yang teras kenyal dan empuk itu. "...Siapa yang akan membuatmu malu, lagian Mama dan Tante Syifa sudah cukup untuk membantu menyiapkan pernikahan Gezia. Pokoknya kamu hanya perlu menurut saja zama suamimu ini"


"Emm yaudah deh, sekarang mau makan apa?"


"Kamu masak?"


"Belum si, tadi mau masak tapi susah benget geraknya. Kalau sekarang kamu mau makan, kita bikin nasi goreng saja ya biar gampang" kata Tyas, perut yang sudah besar dengan tubuh mungil Tyas memang cukup membatasi geraknya.


"Udah kita pesan saja, jangan masak. Atau mau makan di luar saja?"


"Iya Mas, aku pengen jalan-jalan juga"


Memang kesibukan suaminya membuat waktu bersama mereka hanya di wkatu pagi dan malah hari saja. Di saat Ganesh pulang bekerja dan sebelum pulang bekerja. Akhir pekan juga terkadang Ganesh memiliki pekerjaan dan pertemuan dengan rekan bisnis nya. Jadi, semakin sedikit waktu untk bersama istrinya. Tapi beruntungnya karena Tyas adalah istri yang tidak banyak menuntut, dia tidak pernah meminta hal yang lebih selama suaminya masih menjaga hatinya hanya untuk dirinya.


"Maaf ya, aku sibuk dan jarang punya waktu sama kamu. Yaudah akhir pekan ini kita pergi jalan ya"


"Gak papa Mas, selama kamu masih menjaga hati untuk aku"


"Sayang, aku akan selalu menjaga hati ini hanya untuk kamu. Gak akan pernah lagi aku berpaling darimu, karena kamu adalah satu-satunya untuk ku"

__ADS_1


Tyas memeluk Ganesh yang duduk di sampingnya, dia menyandarkan kepalanya di dada sang suami. "Beneran ya Mas, jangan buat aku sakit lagi. Jika kamu menyakiti aku yang kedua kalinya, aku gak yakin aku bisa kuat"


Ganesh kembali tidak bisa menahan sakit di hatinya ketika mendengar keluhan istrinya. Ganesh tahu sesakit itu hati istrinya, ketika Ganesh masih menjalin hubungan dengan Seira di saat mereka sudah menjadi suami istri. Bahkan ingatan Ganesh saat dirinya bercumbu dengan Seira di depan istrinya. Bagaiamana perasaan Tyas saat itu, sudah pasti sangat terluka.


Sementara Ganesh hanya bisa mengatakan maaf. Hal yang mungkin terlalu gampang untuk di ucapkan setiap orang yang bersalah. Tapi nyatanya kata maaf saja terkadang tidak cukup untuk mengobati luka dan rasa sakit di hati. Tapi, Tyas sudah cukup hanya dengan kata maaf saja. Karena selama ini dia sudah melihat perubahan suaminya, dan melihat bagaimana ketulusan suaminya padanya.


"Yaudah, ayo kita berangkat. Mau makan dimana?"


"Emm. Di pinggir jalan aja deh, aku mau makan siomay di pinggir jalan depan komplek kita ini"


"Gak mau di restoran saja?"


Tyas cemberut "Kenapa emangnya? Kamu gak mau ya, pasti karena kamu gak biasa makan di pinggir jalan ya"


Ganesh tersenyum masam, sepertinya dia harus menuruti keinginan istrinya. Tidak mau sampai istrinya itu akan menjadi kesal dan kecewa karena keinginannya tidak di turuti. "Yaudah yuk kita makan apa yang kamu mau saja. Pake jaketnya dulu ya"


Akhirnya Ganesh hanya bisa menuruti keinginan istrinya yang sangat sederhana ini. Duduk di sebuah bangku dengan meja panjang di depannya. Cukup ada banyak orang yang sedang membeli makanan disini. Siomay ini cukup laku juga, dan Ganesh baru tahu jika ada penjual siomay di depan komplek tempat tinggalnya ini. Mungkin karena dia jarang memperhatikan sekitar.


"Ayo dimakan Mas, kamu coba dulu deh"


"Iya Sayang" Ganesh menciba satu suap siomay yang di pesan oleh istrinya ini, mengunyahnya dengan pelan. Dan tidak di sangka oleh Ganesh jika rasa siomay ini sangat enak. Lidahnya tidak pernah merasakan siomay dengan rasa seenak ini. Akhirnya suapan demi suapan terus Ganesh masukan ke dalam mulutnya hingga dia tidak sadar jika sepiring siomay sudah habis tak bersisa.


"Enak 'kan? Kamu gak percaya sama aku si, disini itu kenapa bisa ramai pembeli karena memang disini siomay nya enak"


"Iya Sayang, aku emang terkadang selalu menilai makanan dari tempatnya saja. Tapi, ternyata makanan di tempat seperti ini juga sangat enak"


"Makanya jangan suka lihat dari luarnya saja Mas, makanan kaki lima terkadang rasanya lebih enak dari makanan di restoran berbintang"


"Yaudah sekarang kita pulang ya, angin malam tidak baik untuk kesehatanmu"

__ADS_1


Tyas mengangguk, Ganesh berdiri dan membayar dua porsi siomay yang dia pesan. Mengeluarkan selembar uang berwarna merah dengan gambar dua orang yang sedang tersenyum.


"Ini Mas, kembaliannya ambil saja karena siomay ini sudah membuat istriku senang"


Pedagang siomay dan beberapa pembeli yang ada di sana langsung melirik ke arah seorang wanita hamil yang beruntung itu.


"Terimakasih Tuan" si pedagang siomay membungkukan tubuhnya sebagai rasa bersyukur dan terimakasihnya pada Ganesh. Tidak menyangka jika wanita yang hanya menggunakan baju rumahan yang di balut jaket dan kerudung instan itu adalah seorang istri dari pria kaya ini.


"Iya, semangat julannya" kata Ganesh dengan senyuman ramahnya


Banyak orang yang berbisik kagum pada sosok Ganesh. Pria tampan yang memiliki harta dan juga kedudukan tinggi. Tapi tetap bisa bersikap ramah pada pedagang kaki lima seperti ini. Apalagi saat Ganesh dengan penuh kasih sayang menuntun istrinya yang sedang hamil besar itu menuju mobilnya.


Di dalam mobil suami istri yang baru saja selesai makan itu sedang menuju perjalanan pulang. "Mas kapan-kapan kita jalan kaki saja ya kesini nya. Kan deket juga, kehamilan aku yang sudah besar memang harus sering jalan-jalan santai sebagai olahraga menuju persalinan"


"Iya Sayang, nanti kita jalan-jalan keliling komplek ini. Saat ini aku sedang kejar menyelesaikan pekerjaan, agar bisa libur saat persalinan kamu sudah dekat"


"Iya Mas, lagian persalinan aku juga masih dua bulan lagi. Masih lama"


Ganesh mengelus kepala istrinya itu "Yakin mau persalinan normal saja?"


Tyas mengangguk cepat "Yakin Mas, udah kamu tenang saja. Do'akan saja aku dan anak kita akan baik-baik saja sampai persalinan"


Tentu Ganesh akan selalu mendo'akan istri dan anaknya ini. Ganesh selalu meminta yang terbaik untuk istri dan anaknya di setiap do'anya.


Bersambung


Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya..


Ada karya temanku lagi nih..

__ADS_1



__ADS_2