
Beberapa hari di rawat di rumah sakit, kini keadaan Ganesh sudah membaik. Eriawan dan Adriana juga sempat datang untuk menjenguknya. Hari ini Ganesh benar-benar pulang dari rumah sakit. Tinggal menunggu pemulihan untuk bekas merah-merah di wajahnya dan juga tubuhnya. Tyas selalu setia merawat suaminya ini. Bahkan setelah tahu suaminya memiliki alergi pada makanan sejenis seafood membuat Tyas semakin hati-hati mulai sekarang.
Sampai di rumah, Tyas membawa Ganesh ke kamar mereka untuk istirahat. "Mas makan dulu ya, aku buatkan bubur untuk kamu"
Ganesh yang sedang duduk menyandar di tempat tidur tersenyum ke arah istrinya. "Jangan kecapean Sayang, kamu pasti kelelahan sekali menjaga aku selama di rumah sakit. Sekarang di rumah diam saja, kalau mau makan pesan saja"
Tyas menaruh mangkuk bubur yang di bawanya di atas nakas, lalu dia duduk di pinggir tempat tidur. "Tidak papa Mas, lagian kamu sakit juga karena kesalahan aku juga"
"Apaan si Sayang, ini bukan salah kamu! Kamu 'kan gak tahu kalau aku alergi makanan seafood. Jadi, ini bukan kesalahanmu. Sudah nurut saja ya, kamu hanya perlu diam. Kalau mau makan kita pesan saja"
"Yaudah deh terserah kamu saja, tapi sekarang makan dulu buburnya ya. Aku udah capek loh bikinin buat kamu, Mas"
"Iya, tapi udah ini udah ya jangan masak dulu. Kamu juga harus istirahat. Kasihan baby kalau Ibunya kecapean terus"
Tyas mengangguk, dia mengambil mangkuk berisi bubur yang di buatnya. Mulai menyuapi Ganesh dengan perlahan. Menyendok satu sendok buburnya dan merasakan dengan bibirnya terlebih dahulu karena takut buburnya masih sangat panas saat di suapkan pada suaminya itu. Ganesh tersenyum melihat istrinya yang begitu tulus merawatnya. Istrinya yang selalu ada di sisinya apapun keadaannya. Sungguh semua ini adalah keberuntungan terbesar bagi Ganesh. Bisa mendapatkan istri seperti Tyas.
"Mas, gimana ya soal tawaran Gezia itu? Aku benar-benar gak bisa deh, takut buat dia kecewa"
__ADS_1
Tyas mulai menceritakan kegelisahannya saat memikirkan keinginan Gezia itu. Dia takut malah mengecewakan adik iparnya itu. Apalagi Gezia sudah membuatnya dengan susah payah, takut jika akan gagal diterima di pasaran hanya karena modelnya Tyas. Dia yang tidak pernah memiliki pengalaman apapun dalam hal modelling.
"Tenang saja, kalau pun nanti kamu tidak sesuai dengan yang di harapkan Zia, dia juga tidak akan marah padamu. Mana berani dia memarahi istri Abangnya ini"
Tyas menghembuskan nafas kasar, memang tidak akan mungkin Gezia berani memarahinya. Lagian selama ini gadis itu sudah terlalu baik pada Tyas. Saat ini, Tyas hanya sedang sangat gugup saja. Takut dia tidak bisa melakukannya dengan baik sesuai keinginan adik iparnya itu.
"Kalo kamu gak mau juga gak papa, jangan memaksakan diri kamu Sayang. Biar saja nanti Gezia mencari penggantinya. Lagian dia juga tidak akan memaksa kamu, kalau kamu benar-benar tidak mau"
Tyas menatap suaminya, sebenarnya dia bukannya tidak mau. Tyas juga ingin mencoba hal baru dalam hidupnya. Apalagi dia juga bisa mengabadikan potret saat dirinya hamil anak pertama mereka ini. Hanya saja, Tyas takut tidak bisa melakukannya. Dia takut akan mengecewakan adik iparnya.
"Sebenarnya si aku mau mau saja. Tapi, takut tidak bisa melakukannya dengan baik. Kan kamu tahu sendiri Mas, kalau aku ini gak punya pengalaman apapun selain pernah bekerja di pencetakan buku"
Tyas tersenyum, merasa tidak percaya jika kata itu keluar dari mulut suaminya. Benarkah Ganesh sudah merasakan perasaan cemburu padanya. Sungguh bagaikan keajaiban bagi Tyas, mengingat bagaimana perjuangannya selama ini hanya untuk mendapatkan cinta dari suaminya ini. "Cemburu? Emangnya apa yang akan membuat Mas cemburu sama Tyas?"
"Kau berdekatan dengan pria lain, mengobrol apalagi sampai bersentuhan dengan pria lain, kecuali Ayahmu. Dengan Erland pun aku tidak suka!" tekan Ganesh di setiap kalimatnya yang terucap. Seolah menekankan jika semua itu wajib Tyas hindari jika tidak ingin dirinya murka.
"Ya ampun Mas, Erland 'kan sepupu kamu. Masa cemburu sih?"
__ADS_1
Tyas seolah tidak percaya dengan yang di ucapan suaminya. Erland? Dia dan Erland memang cukup akrab, tapi hanya akrab sewajarnya saja. Karena dulu Tyas sering di bantu olehnya membuat Tyas menjadi cukup akrab dengan Erland. Tapi ternyata suaminya tidak menyukainya, padahal melihat sikap Erland yang dingin. Memang Tyas hanya akrab sewajarnya saja. Karena rasanya tidak akan ada yang bisa benar-benar akrab dengan Erland saat melihat bagaimana sikapnya yang begitu dingin.
"Ya, mau dia sepupu aku atau siapapun saat dia berdekatan dengan kamu dia tetap seorang pria di mataku. Apalagi Erlita pernah berniat menjodohkan kalian saat kau pergi dariku waktu itu"
Tyas ingin terbahak rasanya, suaminya cemburu karena ucapan Erlita waktu. Yang bilang kalau dirinya tidak hamil maka sudah dia jodohkan dengan Erland, saudara kembarnya. Ternyata ucapan Erlita yang Tyas tahu jika gadis itu hanya sedang memanas-manasi Ganesh saja, tapi malah di anggap serius oleh pria itu.
"Hahaha. Erlita hanya bercanda saja Mas, waktu itu. Kamu aneh-aneh saja deh. Lagian dari awal aku sudah jatuh cintanya sama kamu, bahkan sebelum kamu di jodohkan sama aku. Jadi, mana mungkin aku berpaling. Kecuali kalau kamu gak berubah si. Aku juga gak mungkin terus bertahan di sisi suami yang tidak mengharapkan kehadiranku"
"Sayang...." Ganesh langsung menggeser posisi duduknya, memeluk Tyas dengan manja. Padahal jauh di lubuk hatinya dia sedang ketar-ketir, takut jika istrinya benar-benar akan berpaling darinya. "...Aku sudah benar-benar sadar sekarang kalau cinta aku hanya untuk kamu seorang. Jadi, jangan coba-coba berpaling dariku. Memikirkannya saja aku tidak izinkan"
Rasanya Tyas ingin menangis haru saat ini. Suaminya telah benar-benar berubah, dia bahkan takut jika dirinya meninggalkannya lagi. "Beneran cintanya sudah buat aku, gak ada sisa perasaan kamu yang untuk Kak Seira?"
Entah kenapa Tyas malah menanyakan hal itu. Jika jawaban suaminya tidak sesuai dengan apa yang ingin dia dengar bagaimana? Tapi, jujur saja Tyas selalu merasa takut jika suaminya bisa saja kembali lagi pada mantan kekasihnya itu. Karena hubungan 4 tahun bukan waktu yang sebentar untuk bisa menghapuskan segala kenangan dalam hidup mereka dengan waktu sesingkat ini. Tyas takut jika suaminya sebenarnya masih menyimpan perasaan untuk Seira.
"Sayang apaan si, kok pertanyannya kayak gitu. Kamu tidak perlu khawatir soal itu, karena setelah kepergian kamu waktu itu telah menyadarkan aku jika cinta di hati ini sudah berpindah pemilik. Dulu memang benar jika hati ini untuk dia, tapi setelah kamu meninggalkan aku waktu itu. Hati ini mulai hampa dan kosong, membuat aku sadar jika hati ini sudah menjadi milik kamu seutuhnya. Hatiku sekarang ini hanya untuk kamu!"
Apa yang Ganesh ucapkan benar-benar tulus dari hatinya. Tidak ada kebohongan sama sekali. Hatinya memang telah benar-benar di miliki Tyas seorang. Sudah tidak ada lagi perasaan apapun untuk wanita di masa lalunya.
__ADS_1
Bersambung
Jangan lupa dukungannya.. Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya juga