
Pagi hari datang, embun masih terlihat menempel di kaca jendela. Tyas masih duduk di atas sejadah dengan mukena yang menutupi tubuhnya. Suaminya duduk di tempat tidur dengan laptop di pangkuannya. Ganesh bilang ada pekerjaan yang harus segera di kerjakan. Sampai hari ini dia masih belum bekerja lagi ke kantor. Dengan alasan dia masih ingin menikmati kebersamaan dengan istrinya.
Tyas beranjak dari posisi nyamannya, melipat sejadahnya dan menyimpan di tempatnya. Dengan masih menggunakan mukena, Tyas menghampiri suaminya. Duduk di pinggir tempat tidur. "Mas, mau sarapan apa?"
Ganesh mendongak, dia tutup laptop dan menyimpannya di sampingnya. Lalu menarik pelan tangan Tyas sampai terjatuh ke pelukannya. Mengecup puncak kepala istrinya dengan sayang. "Terserah kamu saja, apapun yang kamu masak pasti aku makan"
"Yaudah, kalo gitu aku masak dulu ya"
Tyas mencoba melepaskan diri dari pelukan suaminya yang malah semakin erat saja. Ganesh sedikit menundukan kepalanya, hingga bibirnya berada tepat di telinga istrinya. "Nanti malam aku tunggu lagi permainanmu. Kau sungguh nikmat"
Tyas langsung terbangun dengan wajah yang sudah memerah. Bisikan Ganesh barusan membuatnya sangat malu. Tapi suaminya itu benar-benar terlihat biasa saja saat mengatakannya. Apalagi saat hembusan nafas pria itu masih sangat terasa meski terhalang oleh mukena yang di pakainya.
"Aku buat sarapan dulu Mas"
Tyas segera berjalan ke arah rak kecil tempat menyimpan perlatan ibadah mereka. Membuka mukena dan melipatnya, lalu dia simpan di rak kecil itu. Dengan salah tingkah Tyas menyambar kerudung instan yang tersampir di pegangan sofa. Memakainya dan segera keluar dari kamar dengan terburu-buru.
"Hati-hati Sayang, nanti jatuh" teriak Ganesh saat langkah kaki istrinya terlalu terburu-buru. Ganesh takut istrinya akan terluka. Namun, dia juga tidak bisa menyembunyikan senyuman gemas melihat wajah panik dan salah tingkah istrinya.
Aku akan membuat orang-orang itu menyesal karena menyia-nyiakan kamu, Sayang. Biarkan mereka merasakan penyesalan yang sama denganku.
Rasa bersalahnya masih saja ada, Ganesh masih tidak bisa benar-benar melupakan semua yang telah dia lakukan pada Tyas. Kekerasan fisik dan mental pada istrinya selalu menjadi bayangan menyakitkan bagi Ganesh. Namun, dia berusaha menghilangkan perasaan itu hanya agar dirinya bisa tenang menjalani kehidupan saat ini. Benar apa kata istrinya, semuanya memang tidak akan pernah bisa di hilangkan. Tapi, biarkan saja itu semua menjadi cerita dalam bagian hidupnya. Karena semuanya tidak bisa di hilangkan. Kisah masa lalu itu telah menjadi bagian hidup dari keduanya yang tidak mungkin di hilangkan begitu saja. Semuanya sudah menjadi bagian dari cerita mereka.
__ADS_1
........
Pagi ini Tyas berjalan melewati ruang tengah. Suaminya sedang menonton televisi di ruang tengah. Tak terasa sudah hampir satu minggu mereka kembali tinggal di rumah ini. Saat Tyas melewati suaminya, suara reporter acara di televisi terdengar jelas membuat Tyas menghentikan langkahnya.
Pengusaha bernama Eriawan, telah benar-benar gulung tikar. Di kabarkan perusahaannya telah di akusisi oleh perusahaan GE.
Deg...
Tyas mematung di tempatnya, beberapa foto perusahaan dan Ayahnya terpampang di televisi dengan segala kabar yang ada. Dan yang lebih membuatnya terkejut lagi adalah nama perusahaan suaminya yang juga ikut di perbincangkan. Tyas bingung, sebenarnya ada apa?
"Mas"
"Sayang"
"Mas, kenapa? Ada apa dengan semua ini? Mas, lakukan apa sama Papa dan perusahaannya?" tanya Tyas dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Tyas bingung harus bagaimana sekarang. Semuanya masih terlalu membingungkan untuk Tyas.
"Sayang, ayo duduk dulu" ajak Ganesh sambil menuntun istrinya ke arah sofa.
Ganesh menggenggam kedua tangan istrinya, menatap lembut mata yang mulai menggenangkan air itu. "Sayang, aku hanya mencoba memberikan sedikit pelajaran saja pada keluargamu. Lagipula ini juga karena kesalahan Papa mu yang terlalu memanjakan anak dan istrinya. Semuanya terjadi karena adanya bukti penggunaan uang perusaan untuk kepentingan pribadi. Dan yang melakukan transaksi itu adalah istri dari Papa mu"
Akhirnya genangan air di pelupuk mata Tyas luruh juga ke pipinya. Dia tidak menyangka jika Julia akan tega menghancurkan perusahaan Ayahnya sendiri. "Tapi Mas, kasihan Papa. Mama Julia dan Adriana tidak akan mampu hidup dengan Papa jika keadaannya seperti ini. Mereka sudah terbiasa bergelimang harta sejak dulu, sudah pasti mereka tidak akan bisa bertahan bersama Papa"
__ADS_1
Ganesh tersenyum tenang, dia mengusap air mata di pipi istrinya. Lagi-lagi Ganesh selalu merasa lemah saat melihat air mata istrinya. "Sayang, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Ini adalah kesalahan Papamu yang terlalu lalai. Semua pemilik saham di perusahaan Papamu tentu langsung mencabut saham mereka setelah mengetahui permasalahan ini. Perusahaan Papamu sudah tidak bisa bertahan jika aku tidak memaksanya untuk menjualnya pada GE"
...🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬...
Beberapa malam ini Ganesh hanya selalu keluar dari kamar setelah memastikan istrinya benar-benar terlelap. Dia menuju ruang kerjanya dan mengerjakan sesuatu disana. Membuka laptopnya dan segera mengerjakan pekerjaannya.
Satu email masuk membuat dia segera membukanya. Dan email itu berasal dari email Papa yang mengirimkan sebuah file disana. Segera Ganesh membuka file itu. Dan dia tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Sebuah bukti transaksi uang perusahaan pada nomor rekening pribadi atas nama Julia. Uang perusahaan yang seharusnya menjadi uang para pemilik saham di perusahaan itu. Malah di pakai untuk kepentingan pribadi. Transaksi yang bukan hanya sekali itu sudah cukup sebagai bukti.
Maafkan aku Sayang, bukan aku tidak tahu jika kau sangat menyayangi Papamu itu. Tapi, aku harus membuatnya sadar dengan semua ini.
Akhirnya Ganesh mengirimkan file itu ke setiap pemilik saham di perusahaan Eriawan. Tentunya dengan akunnya yang palsu. Hingga besok harinya rapat semua pemilik saham diadakan, tapi Ganesh tidak ikut hadir. Karena dia biarkan Kakek dan Papa yang mengurusnya.
Sementara di ruang rapat, semua pemilik saham terus meminta pertanggung jawaban dari semua ini. Eriawan terlihat gugup dan tidak bisa mengatakan apapun. Sepertinya dia benar-benar tidak menemukan solusi yang baik untuk semua ini.
"Mohon perhatiannya sebentar" Kakek berdiri dengan mengancingkan jasnya, sungguh di usianya yang sudah menua. Kakek masih terlihat gagah. "GE akan mengakusisi perusahaan ini jika Tuan Eriawan menjualnya dengan harga yang kami tentukan. Maka anda semua sebagai pemilik saham di perusahaan ini tidak perlu khawatir lagi. Karena perusahaan ini akan tetap berjalan, namun di bawah kekuasaan GE"
Solusi yang di berikan Kakek langsung di sambut baik oleh semua orang. Tapi tidak dengan Eriawan, dia terlihat bingung dan tidak rela jika perusahaannya harus dipindah pemilik. Sementara dia mendirikan perusahaan ini benar-benar dari nol. Tapi, Eriawan benar-benar tidak ada pilihan lain saat ini. Akhrinya dia menyetujui usulan Kakek barusan. Eriawan selesai sampai disini di dunia bisnis. Dan dia harus merelakan perusahaan di miliki orang lain, meski itu adalah besannya sendiri. Salahnya sendiri yang selalu menuruti apa yang diinginkan istri dan anak bungsunya. Sampai dia tidak sadar jika sedang di bodohi oleh istrinya sendiri.
Bersambung
Jangan lupa dukungannya.. Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya juga
__ADS_1