Takdir Yang Memilih

Takdir Yang Memilih
Persiapan Pernikahan Gezia Dan Adlan


__ADS_3

Keluarga Aditama mulai di sibukan dengan persiapan pernikahan Gezia dan Adlan. Meski menyerahkan pada Wedding Organizer tapi mereka tetap harus memeriksa sendiri jika semuanya sesuai dengan keinginan mereka. Pagi ini Tyas juga datang ke rumah ini dengan di jemput oleh Gezia. Dia memang tidak membantu apa-apa karena dia juga tidak mengerti. Jadi Tyas hanya duduk diam di sofa dengan Gezia, memperhatikan kesibukan Mama dan Tante Syifa yang sedang melihat-lihat dekorasi gedung dan mencicipi makanan untuk cattering juga mulai melihat-lihat untuk kartu undangan.


"Kak, kita nulis daftar tamu undangan saja. Apa Kakak mau ngundang siapa? Teman Kakak gitu"


Tyas sedikit berpikir, siapa yang ingin di undang? Dia tidak punya teman dekat seperti yang lain. Teman sekolah dan teman kuliahnya hanya sebatas teman semasa sekolah saja. Setelah lulus mereka tidak lagi peduli dengan Tyas. Tidak ada yang benar-benar menjadi temannya. "Tidak ada Zi, aku ingin undang Papa dan Adriana saja"


Gezia yang sedang duduk lesehan di atas lantai dengan tangan berada di atas meja sedang mencatat orang-orang yang akan menjadi tamu undangan di acara pernikahannya. Gezia langsung menoleh ke arah Tyas, tidak menyangka jika Kakak iparnya itu tidak memiliki satu orang pun untuk di undang selain keluarganya. Gezia jadi berfikir bagaimana Tyas menjalani hidupnya selama ini. Apa Kakak iparnya itu tidak mempunyai teman?


"Kalau itu sudah pasti akan aku undang Kak, kan mereka adalah keluarga Kakak. Maksudnya teman yang lain yang mungkin mau Kakak undang, kalau teman dan rekan bisnisnya Abang sudah banyak sekali, bahkah hampir menghabiskan kuota undangan yang akan di sebar. Heran, padahal aku yang nikah tapi malah dia yang sibuk ingin mengundang banyak temannya"


"Mungkin karena saat pernikahan dia tidak ada temannya yang di undang kecuali Adlan seorang" Tante Syifa yang sedang melihat-lihat model kartu undangan ikut menimpali pembicaraan Gezia dan Tyas.


"Nah bisa jadi si Tan, lagian si sok-sok'an gak mau undang banyak orang karena merasa terpaksa menikah dengan Kak Tyas. Eh ujung-ujungnya cinta juga 'kan sama istri yang teraniaya ini"


Tyas hanya tersenyum mendengar ucapan adik iparnya. Entah kenapa dia selalu merasa jika keluarga suaminya ini selalu lebih membelanya daripada suaminya yang jelas-jelas adalah anggota asli keluarga mereka. Tapi keluarga ini benar-benar menerima Tyas sebagai anggota keluarga mereka. Meski mereka semua telah mengetahui bagaimana masa lalu Tyas.


"Tyas bantu apa ya Ma, Tan? Tyas gak tahu harus bantu apa, gak ngerti juga"


"Gak usah Sayang, kamu diam saja. Lagian lagi hamil besar gitu, Mama dan Tante cukup bisa menghandel semuanya kok. Jadi, kamu hanya perlu diam dan ada saja saat acara ini berlangsung. Karena semua keluarga akan hadir" kata Mama


Mama memang mempunyai niat terselubung di acara pernikahan anak bungsunya ini. Dia hanya ingin menantunya ini terbiasa dengan acara-acara di keluarga Aditama dan juga Mama ingin semua orang tahu tentang Tyas yang menjadi istri Ganesh.


Tyas hanya benar-benar diam dan mendengarkan segala keluh kesah Gezia saat keluarganya melarang dirinya untuk bertemu Adlan sampai hari pernikahan mereka. Padahal dirinya sudah sangat rindu dengan pria itu. Tyas hanya tertawa saja mendengar segala keluh kesah adik iparnya ini.


"Lagian kamu aneh deh Zi, masa baru sekarang kamu benar-benar bucin. Padahal kalian resmi saling mengungkapkan cinta baru satu minggu yang lalu. Tapi, kamu sudah sangat bucin begini"

__ADS_1


"Ya kan karena aku sudah lama menahan perasaan yang tidak aku sadari. Jadi, pas aku sudah benar-benar mengungkapkan semuanya, aku jadi sebucin ini Kak"


Tyas hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala heran dengan adik iparnya ini. Seperti tidak pernah memiliki cinta dan akhirnya dia bisa merasakan cinta yang mungkin akan menjadi cinta pertama dan terakhir dalam hidupnya.


"Kakak gak bisa kasih apa-apa Zi, hanya bisa mendo'akan yang terbaik untuk kehidupan kamu dan Adlan kedepannya"


Gezia memeluk Kakak iparnya itu, dia mengelus perut besar Tyas. "Do'a itu lebih dari segalanya Kak. Lebih dari orang-orang yang memberikan hadiah mewah. Dan terimakasih untuk do'anya"


Tyas mengangguk dengan mengelus kepala adiknya yang tertutup kerudung segi empat. Dia menyayangi Gezia dan Erlita seperti dia menyayangi Adriana. Semuanya adalah adik yang Tyas sayangi.


...🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬...


Tyas berjalan keluar dari kamar Gezia, di saat dia tidak sengaja berpapasan dengan Erland. Pria itu tersenyum tipis dan sedikit menganggukan kepalanya sebagai sapaan pada Kakak iparnya itu.


Saat Erland melangkah melewati Tyas, dia segera menghentikannya. Membuat Erland menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah Tyas. Tatapannya penuh tanya, kenapa Tyas sampai menghentikannya. Apa ada yang dia bicarakan dengannya. Tapi soal apa?


"Erland, maaf ya kalau Adriana mengganggu kehidupan kamu. Aku akan mencoba mengingatkannya"


Setelah berkata seperti Tyas berlalu pergi meninggalkan Erland yang masih diam di tempatnya. Perkataan Tyas seolah menjadi hal yang mengganjal di hatinya.


Tyas tahu, dia sudah sering mendengar cerita Adriana yang kalau setiap kali bercerita selalu tentang Erland dan wajahnya selalu berseri saat dia bercerita. Tyas tidak bodoh, adiknya memiliki perasaan lebih pada pria itu. Tapi, sepertinya pria yang dia sukai tidak sama sekali memiliki perasaan yang sama dengannya. Tyas tidak mau adiknya merasakan hal yang sama dengannya di awal pernikahan dirinya dan Ganesh. Tyas akan mencoba menghentikan perasaan tak terbalas Adriana itu.


"Sayang"


Tyas terlonjak kaget mendengar panggilan suaminya dan ternyata Ganesh sudah berdiri di depannya. Dan Tyas tidak sadar itu. "Mas ngagetin aja deh"

__ADS_1


"Lagian kamu ngelamun, emang lagi mikirin apasi?"


Tyas menggeleng pelan "Tidak, aku tidak sedang berfikir apapun. Hanya ingin pulang saja. Pengen istirahat"


Entahlan tubuhnya sudah merasa lelah, padahal dia tidak melakukan apapun. Tapi tubuhnya sudah selelah ini. Mungkin karena efek dari kehamilan yang sudah besar ini.


Ganesh mengelus kepala istrinya "Emang ngapain aja sampai kelelahan begini? Kamu gak nurut sama aku ya, gak dengerin kata-kata aku. Aku 'kan bilang kalau kamu hanya perlu diam dan tidak membuat lelah diri kamu"


Tyas merangkul lengan suaminya, lalu menyandarkan kepalanya di bahu sang suami. "Justru itu, aku padahal gak ngapa-ngapain. Dari tadi cuma di kamar saja temani Gezia. Aku kesini juga gak bantuin apapun, tapi malah aku yang lelah ya. Mama sama Tante Syifa yang sibuk sejak tadi saja masih terlihat bugar begitu. Lah aku malah yang kelelahan"


"Ya karena saat ini kamu sedang hamil besar, jadi gampang sekali lelah. Makanya aku melarang kamu untuk membantu apapun untuk persiapan pernikahan Gezia ini. Mama dan Tante Syifa sudah cukup untuk melakukannya. kamu hanya perlu diam saja..." Ganesh mengecup puncak kepala istrinya yang bersandar di bahunya. "...Jadi, sekarang kita mau pulang atau menginap saja?"


"Terserah kamu Mas, aku ikut saja. Mau pulang atau menginap juga"


"Karena ini sudah malam, jadi kita menginap saja ya. Besok pagi baru pulang"


Tyas mengangguk menyetujuinya.


Bersambung


Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya..


Ada karya temanku lagi nih..


__ADS_1


__ADS_2