
Beberapa hari berlalu, hari ini tepat tanggal pernikahan mereka. Bisa di bilang ini adalah Anniversary pernikahan mereka yang ke satu tahun. Namun, tidak seperti pasangan suami istri lainnya yang bisa merayakan Anniversary pertama mereka dengan bahagia. Ganesh hanya duduk sendirian di dalam kamarnya. Tidak ada hal mewah seperti yang dia lakukan banyak pasangan pada hari spesial ini. Ganesh hanya benar-benar sendirian, merenungi semuanya.
Tiba-tiba suara pintu yang terbuka membuat Ganesh segera menolah ke arahnya. Tyas.. Istrinya datang dengan senyumannya yang meneduhkan hati. Ganesh langsung berdiri dan menatap tidak percaya pada seseorang yang di carinya selama dua bulan ini. Tyas berjalan ke arah jendela besar yang menuju ke arah balkon. Ganesh semakin bingung dengan apa yang di lihatnya.
"Mas ayo makan dulu"
Deg...
Suara itu terasa begitu jelas dan nyata di telinga Ganesh. Sosok Tyas yang menemaninya di saat Ganesh terpuruk karena kehilangan Seira. Bahkan Tyas rela merawatnya dengan segala ketulusan di saat suaminya terpuruk karena wanita lain. Ganesh sungguh merasa sangat hina saat mengingat semuanya. Dia sosok pria yang bahkan tidak pantas untuk di panggil suami. Bahkan Tyas selalu memanggilnya dengan penuh rasa sopan.
Tiba bayangan saat Ganesh tiba-tiba memeluk istrinya begitu terlihat nyata untuk Ganesh. Ganesh melihat bagaimana Tyas memberikannya kekuatan dengan mengelus punggungnya. Namun perkataan Ganesh waktu itu, sungguh menyakitkan bagi Tyas.
"Semuanya karena takdir? Semuanya bukan karena takdir Tyas, semuanya karena kehadiranmu! Seira pergi karena kehadiranmu!"
"Ngapain kau di kamarku, Hah? Jangan bertingkah, kau hanyalah pembawa sial di hidupku dan Seira. Pergi kau! Dasar wanita penggila harta. Kau menikahiku hanya karena uang, sialan!"
Semua ucapannya pada Tyas bagaikan kaset rusak yang terus berputar di ingatannya. Ganesh menangis, dia menyesali semua ucapan kasarnya itu pada istrinya.
"Terkadang apa yang kita fikirkan dan kita dengar, tidak sesuai dengan kenyataannya, Mas. Silahkan kamu memperlakukan aku seburuk yang kamu mau. Tapi..."
"....Aku tidak akan menyerah, karena aku tidak lagi punya pilihan lain"
"Kenapa sekarang kamu menyerah? Sebelumnya kamu pernah berkata jika tidak akan menyerah. Tapi, akhirnya kamu menyerah juga. Sayang.. Kembalilah.. Jangan menyerah begitu saja, kamu pasti kuat. Kembali Tyas, kembali padaku"
Ganesh merasa kakinya sangat lemas, dia jatuh terduduk di atas lantai. Menunduk dengan air mata yang mengalir. Ganesh benar-benar menyesali ucapannya dan semua perilakunya pada Tyas. Gadis kuat yang bahkan bisa bertahan selama itu bersamanya. Kini, kesabarannya telah runtuh. Tyas nya telah pergi dan menyerah dengan segala sikapnya. Ganesh benar-benar tidak tahu harus bagaimana lagi.
__ADS_1
"Nesh..."
Adlan berdiri di ambang pintu kamar Ganesh dengan terkejut melihat keadaan sahabatnya saat ini. Ganesh menangis dengan terduduk di lantai. Bibirnya terus memanggil nama Tyas dengan lirih. Adlan segera berlari ke arahnya dan membantu Ganesh berdiri. Menuntunnya ke arah tempat tidur dan membaringkan tubuh lemah Ganesh disana.
"Kau kenapa bisa sampai seperti ini? Aku panggilkan dokter, tubuhmu panas sekali" kata Adlan saat merasakan suhu tubuh Ganesh yang di atas batas normal.
"Tidak perlu Lan, aku hanya ingin tidur saja. Kau pergilah, aku sedang ingin sendiri" kata Ganesh dengan suara lemahnya, dia berbalik membelakangi Adlan yang berdiri di samping tempat tidurnya.
Adlan menghembuskan nafas kasar, sejujurnya dia sangat tidak tega melihat keadaan Ganesh. Tapi, Adlan juga tidak bisa membantunya lebih. Dia juga terlalu sibuk untuk mengurus perusahaan selama Ganesh harus mencari Tyas. Adlan hanya berharap jika Ganesh bisa segera menemukan Tyas.
Kau telah benar-benar jatuh cinta padanya, Nesh. Bahkan saat Seira pergi pun, kau tidak sekacau ini.
Adlan lebih memilih keluar dari kamar Ganesh dan menunggunya di ruang tamu. Adlan tidak bisa meninggalkan Ganesh sendirian di saat seperti ini. Adlan menatap ke setiap sudut ruangan ini yang di penuhi dengan foto pernikahan Ganesh dan Tyas.
Senyum samar terlihat dari bibir pria tampan itu. Setelah sebelumnya Adlan selalu merasa risih saat masuk ke rumah ini dan semuanya di penuhi dengan foto Ganesh dan Seira. Sementara di rumah ini ada istrinya. Saat itu Adlan juga berfikir jika Ganesh adalah pria paling bereng*sek.
"Kau belum pulang?"
Adlan menoleh ke arah suara, ternyata Ganesh yang sedang menuruni anak tangga dengan berpegangan pada pagar pembatas tangga. Adlan segera mendekat dan membantunya. Takut jika Ganesh terjatuh dari tangga. Melihat kondisinya yang terlihat begitu lemah. Wajah pucat yang di penuhi bulu-bulu halus yang mulai tumbuh. Tubuhnya juga terlihat lebih kurus sekarang.
"Aku menunggumu bangun dan ingin membawamu ke dokter" jelas Adlan
"Ck, aku tidak perlu ke dokter. Aku hanya perlu mencari Tyas dan segera menemukannya"
"Dasar Bodoh!"
__ADS_1
Ganesh langsung mendelik tajam pada asisten juga sahabatnya itu. "Berani sekali kau mengatai bosmu bodoh. Sudah bosan bekerja kau!"
"Terserah, lagian aku juga tidak mau mempunyai bos yang lemah dan bodoh"
"Kau!"
Ganesh sudah menatap Adlan dengan tajam atas semua ucapan asistennya itu. Namun, Adlan masih terlihat santai saja. Dia duduk di sofa dan menatap Ganesh yang berdiri di depannya.
"Jika suatu saat nanti kau bertemu kembali dengan istrimu, lalu apa dia masih mau dengamu setelah dia melihat penampilan mu yang kacau seperti ini hmm? Tubuh kurus, wajah jelek, rambut gondrong dan acak-acakan. Kau lebih mirip seperti orang gila Nesh"
Ganesh ingin sekali meninju wajah asistennya itu. Tapi semua yang di ucapannya adalah benar. Ganesh memegang pipinya sendiri, memang penampilannya saat ini sungguh jauh berubah sejak Tyas tiada. Jika dulu saat dia terpuruk karena Seira meninggalkannya. Ganesh masih mempunyai Tyas yang merawatnya. Lalu, jika Tyas juga pergi. Siapa yang akan merawat Ganesh?
"Perbaiki penampilanm, agar kau bisa bertemu dengan Tyas dengan percaya diri. Tebus semua kesalahanmu padanya"
Ganesh terdiam, memang benar apa yang di katakan Adlan barusan. Ganesh juga menyadari itu. "Antar aku ke salon sekarang. Aku ingin potong rambut dan merawat kembali wajahku"
Adlan tersenyum tipis mendengarnya. "Tapi kau harus periksa dulu kemerahan mu ke dokter. Tyas juga tidak akan mau mempunyai suami yang sakit-sakitan"
"Ck. Kau semakin kurang ajar saja. Kau atur saja semuanya hari ini. Besok aku harus mulai mencari istriku lagi"
Adlan tersenyum dan mengangguk menyetujuinya.
Bersambung
Jangan lupa dukungannya.. Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya juga..
__ADS_1
Apa masih kurang penderitaan Ganesh sampai sini?