Takdir Yang Memilih

Takdir Yang Memilih
Keluarga Yang Sebenarnya


__ADS_3

Akhirnya Eriawan benar-benar menjadi karyawan di perusahaan GE. Meski hanya sebagai karyawan biasa, tapi setidaknya dia tidak benar-benar menjadi pengangguran. Dua hari yang lalu, dia dan Adriana meninggalkan rumah mewah yang selama ini menjadi kediamannya. Memilih untuk tinggal di sebuah kontrakan sederhana. Namun, Eriawan cukup bersyukur karena anak bungsunya yang biasanya selalu manja, ternyata bisa dewasa juga dan bisa menerima keadaan ini.


Kehidupan sederhana, tapi lebih terasa bahagia untuk Eriawan. Anak pertama dan anak bungsunya bisa akur, bisa melihat pemandangan bagaimana Tyas dan Adriana bercerita bersama dengan penuh canda tawa. Pemandangan yang hampir tidak pernah dia lihat selama tinggal di rumah mewah dengan fasilitas yang ada. Ternyata harta tidak menjamin kebahagiaan dan kebersamaan keluarga.


Hampir setiap minggu Tyas selalu datang ke rumah Ayahnya ini. Menghabiskan waktu bersama Ayah dan adeknya. Seperti hari ini, kakak beradik ini sedang asyik bencengkrama di ruang tengah rumah ini. Adriana terlihat begitu antusias saat menceritakan jika dirinya satu kampus dengan Erlita dan Erland. Memang otak gadis itu cukup menganggumkan meski dulu sikapnya seperti itu. Namun, memang Adriana cukup pintar dalam pelajaran sekolah.


"Gak nyangka juga loh, kalau Kak Erland dan Erlita adalah senior aku di kampus" Masih saja antusias dengan cerita bertemu tidak sengajanya dengan si kembar. Seolah mendapat hadiah tidak terduga dalam hidupnya.


Tyas tersenyum melihat wajah antusias adiknya saat menceritakan pengalamannya di kampus. Dunia perkuliahan memang menyenangkan, meski terkadang di buat pusing dengan beberapa tugas. Masih tidak pernah, terbayangkan oleh Tyas jika dia bisa sedekat ini dengan adiknya.


"Emm. Dek.." Tyas menggenggam tangan adiknya dan menatap lekat wajah adiknya itu. "...Kalau kamu butuh uang untuk kebutuhan kamu, bicara saja sama Kakak. Jangan meminta pada Papa ya"


"Emm. Aku sebenarnya lagi cari kerja paruh waktu Kak, tapi belum dapat"


"Jangan Dek, kamu harus fokus kuliah. Biar Kakak saja yang membantu biaya kehidupan kamu. Kakak punya sedikit penghasilan dari nulis novel online"


"Kakak masih lanjut nulis, aku tunggu up terbarunya ya"


Tyas mengerutkan alisnya bingung "Memangnya kamu baca novel Kakak?"


"Iya dong, sudah sejak lama. Tapi aku malu mengatakannya. Tapi jujur ya, cerita Kakak sedih-sedih semua. Apalagi yang sekarang masih berlanjut. Itu pasti tentang Kakak dan Kak Ganesh 'kan? Syukurlah akhirnya baik"


Tyas tersenyum mendengarnya, tidak menyangka juga jika adiknya membaca novel online buatanya. Bahkan Tyas tidak bisa lagi membohongi Adriana jika kisahnya ada di salah satu novelnya.


"Ya sudah Kakak pamit ya, sebentar lagi Mas Ganesh pulang. Kakak juga gak bisa lama-lama disini, kasihan Pak Supir nunggu kelamaan"


Tyas memang datang kesini dengan di antar supir suruhan Ganesh. Sejak tadi Pak supir di temani Eriawan bermain catur. Memang seharusnya hari ini Ganesh tidak bekerja. Tapi, karena ada meeting mendadak membuatnya harus datang dan tidak bisa mengantar istrinya ke rumah Ayahnya ini.


"Cepet banget Kak, masih kangen" Adriana memeluk Tyas dengan manja, dia bahkan mencium perut Kakaknya yang membuncit. "...Cepet gede ya, biar bisa main sama Uty"

__ADS_1


Tyas tertawa mendengarnya, bayinya masih dalam kandungan. Masih butuh waktu beberapa bulan lagi untuk bisa terlahir ke dunia. Tapi, adiknya suda bicara seperti itu. Seolah anaknya sudah lahir saja.


Tyas berdiri dan berjalan ke arah Ayah dan Pak supir yang masih asyik dengan permainan caturnya. Adriana masih bergelayut manja di lengan Tyas, seolah tidak mengizinkan Kakaknya untuk pulang.


"Pa, Tyas pulang dulu"


Eriawan segera berdiri "Mau pulang sekarang Nak? Gak nunggu suamimu jemput saja"


"Gak Pa, Mas Ganesh suruh Tyas pulang saja sama Pak supir. Karena dia mungkin pulang agak telat, kasihan juga kalau harus jemput kesini. Pasti capek"


Eriawan mengangguk mengerti, dia mengelus kepala anaknya dengan Sayang. Seolah sudah menjadi kebiasaannya untuk melakukan itu saat bertemu dengan Tyas dan hal itu membuat Tyas bahagia.


"Yasudah hati-hati ya"


Tyas mengangguk, dia memeluk Ayahnya sekejap. "Pamit ya Pa, Dek Kakak pulang dulu ya"


...🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬...


"Sayang, habis masak ya"


"Iya, baru saja selesai. Ayo makan dulu"


"Aku mandi dulu saja ya, gak nyaman banget badan aku"


Tyas mengangguk dan segera mengantar suaminya ke kamar. Menyiapkan air hangat untuk mandi suaminya dan juga pakaian ganti untuknya.


"Sayang, aku bisa sendiri kok. Kamu gak harus menyiapkan ini semua. Kamu baru saja selesai masak, pasti capek"


"Tidak papa Mas, aku ikhlas melakukan ini untuk suamiku"

__ADS_1


Ganesh mencium kening istrinya dan mengucapkan terimakasih sebelum berlalu ke kamar mandi. Dalam hatinya dia sangat bersyukur dengan semua kebahagiaan ini. Bisa memiliki istri seperti Tyas, adalah anugerah yang tiada terkira baginya.b


Selesai mandi, Ganesh segera menyusul istrinya ke lantai bawah untuk makan malam bersama. Ganesh memeluk Tyas yang berdiri di depan meja makan untuk menata makanan yang telah di masaknya. Tentu hal itu membuat Tyas benar-benar terkejut.


"Mas apaan ihh, kaget tahu"


Ganesh menyandarkan dagunya di bahu Tyas, mengecup pipi istrinya yang mulai terlihat chubby. "Aku mencintaimu"


Tyas mengerutkan kening bingung, kenapa tiba-tiba sekali suaminya mengatakan cinta padanya. Biasanga kalimat itu hanya akan terucap saat mereka bercinta. Tapi, sekarang tiada angin tiada hujan tiba-tiba saja suaminya mengungkapkan kata cinta.


"Tiba-tiba banget Mas, gak biasanya kamu bilang cinta di saat seperti ini"


"Kenapa memang? Kan terserah aku mau mengatakan cinta kapanpun dan dimana pun sama istriku sendiri. Aku mencintaimu Sayang"


Tyas berbalik, menatap suaminya yang berada dalam jarak dekat dengannya. Hanya terhalang perut buncitnya saja. "Aneh kamu Mas, yuk makan saja sekarang"


Cup..


Ganesh mengecup sekilas bibir istrinya sebelum dia benar-benar melepaskan pelukannya pada sang istri. Tyas masih diam terkejut dengan apa yang Ganesh lakukan barusan.


"Cepet makan Sayang, malah berdiri saja"


Tyas mengerjap, dia sekilas memegang bibirnya sebelum benar-benar tersadar dan segera berbalik ke arah suaminya. Segera mengambilkan makanan ke atas piring suaminya dengan sikap yang salah tingkah. Wajahnya juga sudah memerah karena malu. Suaminya ini memang benar-benar selalu membuatnya gugup dan salah tingkah seketika.


"Selamat makan Mas"


"Selamat makan juga Sayangnya aku"


Tyas menunduk dan memakan makanannya dengan tenang. Jantungnya sedang tidak baik, berdebar kencang setiap kali Ganesh berprilaku romantis seperti ini padanya. Tyas bagaikan anak remaja yang sedang jatuh cinta. Wajar saja karena memang Ganesh adalah cinta pertamanya. Meski dia tidak pernah menyangka jika bisa benar-benar menikah dengan cinta pertamanya ini.

__ADS_1


Bersambung


Jangan lupa dukungannya.. Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya juga..


__ADS_2