
"Mas, tidak perlu terus meminta maaf. Semuanya sudah berlalu. Lagian apa yang kamu lakukan padaku tidak lebih menyakitkan dari apa yang sudah aku alami selama ini"
Eriawan terdiam di tempatnya mendengar ucapan anaknya yang begitu menusuk hatinya. Entah kenapa sampai saat ini, dia tidak bisa benar-benar mendekatkan diri dengan anak sulungnya itu. Mungkin karena sudah terlalu lama untuknya bisa dekat kembali dengan anaknya. Padahal jauh di lubuk hatinya, Eriawan sudah benar-benar melupakan luka yang dia tutupi dengan kebencian pada anaknya. Sebenarnya Eriawan tahu jika anaknya sama sekali tidak bersalah atas kematian Ibunya. Semuanya hanyalah takdir.
Sementara di satu sisi, Tyas menatap pada keluarganya yang duduk di sebuah meja bundar. Mereka terlihat bahagia, dengan Julia yang selalu menjodohkan Adrian dengan anak-anak sosialitanya. Tyas hanya tersenyum lirih melihat kebahagiaan keluarganya tanpa kehadirannya. Mungkin memang kehadirannya membuat keluarganya tidak bahagia. Dan kepergiaannya adalah kebahagiaan bagi mereka.
"Sayang, mau pulang sekarang?" tanya Ganesh saat mengetahui kemana arah istrinya menatap. Sungguh, Ganesh tidak habis pikir dengan keluarga istrinya ini. Kenapa bisa mengabaikan salah satu anggota keluarganya. Ayahnya pun sangat tega mengabaikan anak kandungnya sendiri.
"Tidak papa Mas, aku tunggu kamu saja sampai acaranya selesai"
"Lebih baik kamu bawa istrimu pulang duluan, Nesh. Dia 'kan sedang hamil" kata Tante Syifa
"Iya Sayang, kita pulang saja ya" ajak Ganesh
Tyas tersenyum dan mengangguk "Iya Mas, aku nurut sama kamu saja"
"Papa, Kakek kalian saja yang handel acara ini sampai selesai ya"
"Ck. Kakek sudah tua, seharusnya kau yang menghandel ini malah masih saja menyuruh orang tua"
"Ya ampun Kek, kan Kakek masih gagah begini. Sebelum Papa, Kakek sudah lebih senior dari kita semua" kekeh Ganesh di akhir kalimatnya.
Semua orang hanya tersenyum mendengar itu. Ganesh dan Kakek memang cukup dekat, mungkin karena sedari kecil dia tinggal bersama Kakeknya. Membuat dia lebih dekat dengan Kakek, namun keduanya memiliki sifat keras kepala yang sama. Membuat sering kali mereka berdebat karena hal yang tidak sesuai dengan pemikiran masing-masing.
Akhirnya Ganesh membawa Tyas pergi setelah berpamitan terlebih dulu pada anggota keluarganya. Mereka sedang berjalan menuju pintu keluar dengan Ganesh yang terus merangkul pinggangnya. "Mas kok aku gak ketemu sama Zia dan Lita ya. Cuma tadi aja pas baru datang kesini"
__ADS_1
"Mereka memang suka kemana saja jika acara seperti ini. Tidak pernah mau bergabung dengan keluarga karena takut di jodohkan dengan anak rekan bisnis Papa dan Kakek" jelas Ganesh dengan tertawa kecil mengingat satu kejadian yang membuat Gezia dan Erlita tidak mau lagi bersama dengan keluarga saat ada acara seperti ini. Mereka selalu sibuk dengan dirinya sendiri.
"Oh ya ampun, tapi pantas saja si Mas kalo banyak yang mau menjodohkan anak-anak mereka dengan lita dan Zia. Karena adik-adik kamu itu sangat cantik"
"Biasa saja, buat aku yang cantik itu kamu" Ganesh menatap lekat wajah istrinya itu. Sungguh memang di matanya sekarang, hanya ada Tyas wanita yang paling cantik.
"Apaan si Mas" Tyas memukul lengan Ganesh, dia malu sekali mendapat rayuan seperti itu dari suaminya. Bahkan wajahnya langsung memerah karena malu.
Saat keduanya masih bercada sambil berjalan menuju pintu keluar dari gedung ini. Mereka tidak sengaja berpapasan dengan Seira dan Alex yang baru datang. Tyas menatap takjub pada Seira yang tampil begitu cantik malam ini. Sungguh wanita yang sangat sempurna untuk menjadi pendamping. Selain cantik, Seira juga sosok wanita yang hangat dan ceria. Sungguh tidak ada celah kekurangan bagi Tyas.
"Tuan Ganesh, maaf sekali karena kami datang terlambat" kata Alex dengan mengulurkan tangannya pada Ganesh. "...Selamat atas semua kerja keras anda sampai detik ini. Memajukan perusahaan GE hingga sekarang"
Ganesh langsung menerima uluran tangan Alex. "Terimakasih, masuklah dan nikmati acaranya. Saya harus mengantar istri saya pulang, dia sudah kelelahan karena sedang hamil"
Tyas tersenyum dengan hal yang di lakukan Seira. "Iya Kak, kalo sudah rezeki pasti di kasih kok sama Tuhan"
"Iya Yas, sekarang kamu mau pulang ya?"
"Iya, Mas Ganesh ajak pulang duluan"
Seira mengangguk mengerti "Ya 'kan Ibu hamil memang harus banyak istirahat.." Seira beralih pada Ganesh dia dan Ganesh saling bersalaman. "...Selamat atas kesuksesannya ya Nesh"
"Iya Ra, terimakasih"
Ternyata dalam sebuah takdir yang tidak bisa menyatukan sepasang kekasih ini, hanya saling ikhlas dan menerima kenyataan yang ada, lebih menyenangkan bagi keduanya. Tidak ada lagi hal yang berat yang selalu memenuhi pikiran keduanya. Perbedaan yang tidak bisa di satukan. Hingga akhirnya takdir mengharuskan mereka untuk menyerah dengan semuanya. Dan saling merelakan dan mengikhlaskan satu sama lain adalah hal yang terbaik untuk keduanya.
__ADS_1
...🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬...
Ganesh menatap ke arah istrinya yang terlelap di kursi penumpang. Sepertinya Tyas benar-benar lelah dengan acara malam ini, walaupun dia hanya mengikuti dua jam saja acara ini. Namun karena kehamilannya, Tyas memang menjadi gampang sekali lelah.
Ganesh menggendong Tyas masuk ke dalam rumahnya. Membawa Tyas ke kamar dan menidurkannya dengan perlahan di atas tempat tidur. Membuka flatshoes yang di gunakan Tyas, lalu menarik selimut sampai ke pinggang istrinya itu. Ganesh mengecup kening istrinya sebelum dia berlalu ke ruang ganti untuk bersih-bersih berganti pakaian.
Beberapa saat kemudian, Ganesh keluar dari ruang ganti setelah mandi dan berendam sejenak untuk melenturkan urat-urat di tubuhnya. Ganesh tersenyum melihat istrinya yang begitu terlelap di bawah gulungan selimut. Tapi, Ganesh tidak bisa membiarkannya. Karena Tyas masih menggunakan gaun dan make up di wajahnya saja masih belum di bersihkan. Sudah pasti itu akan membuat tidur Tyas tidak nyaman.
Ganesh naik ke atas tempat tidur, dia mengelus lembut kepala Tyas yang bahkan masih tertutup kerudungnya. "Sayang, bangun dulu yuk. Bersih-bersih dulu sebentar"
Tyas menggeliat saat tidurnya merasa terusik. Mengerjap-ngerjapkan kedua matanya dan menatap suaminya yang sedang menatapnya sambil mengelus lembut kepalanya. "Mas, aku ketiduran ya. Maaf ya"
"Kenapa minta maaf Sayang? Aku membangunkanmu karena kamu juga pasti tidak nyaman tidur dengan pakaian seperti ini. Apalagi kamu juga belum bersih-bersih"
Tyas tersenyum mendengarnya, dia menatap penuh cinta pada suaminya itu. Benar-benar tidak menyangka jika akhir pernikahannya akan sebahagia ini. Melihat bagaimana Ganesh begitu memberikan perhatian padanya. Kelembutan dan ketulusan Ganesh begitu terlihat.
"Terimakasih ya Mas, karena sudah memilihku"
Ganesh menggeleng pelan, da kecupan kening istrinya dengan lembut. "Bukan aku yang memilihmu, tapi takdir yang memilih untuk kita bisa bersama selamanya. Terimakasih karena sudah hadir di hidupku dan memaafkan semua kesalahan yang pernah aku lakukan padamu"
"Iya Mas"
Bersambung
Jangan lupa dukungannya.. Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya juga..
__ADS_1