
Satu bulan berlalu, kini keadaan Ganesh sudah benar-benar kembali pulih. Gifs di kakinya sudah benar-benar di lepas tadi pagi. Dan malam ini Ganesh mempunyai sejuta rencana untuk membuat istrinya bahagia lahir dan bathin. Tyas juga merasa aneh saat dirinya yang tiba-tiba di rias dengan sedikit pemaksaan oleh Gezia dan Erlita. Mama dan Tante Syifa juga ikut heboh. Apalagi kedua wanita itu juga sibuk memilihkan sebuah gaun yang indah di pakai Tyas.
"Sebenarnya ada apa? Kenapa aku harus di rias seperti ini. Apa ada acara ya?" tanya Tyas bingung, dengan tangan Erlita dan Gezia yang menari lincah di wajahnya untuk membuat Tyas semakin terlihat cantik.
"Iya Yas, memang ada acara malam ini. Hari ini tepat hari jadi perusahaan GE, jadi memang ada acara malam ini. Jadi kamu harus tampil cantik untuk menjadi pendamping Ganesha Aditama" jelas Tante Syifa
"Iya Sayang, malam ini semuanya akan tahu jika kamu adalah istri dari Ganesha Aditam" tambah Mama, terlihat sekali wajah antusiasnya.
"Emm. Gitu ya"
Tyas tidak bisa menolak apapun, meski sebenarnya dirinya sangat gugup dan jika boleh memilih dia lebih baik tidak ikut saja ke acara besar-besaran seperti itu. Masalahnya, Tyas akan datang sebagai pendamping Ganesh. Dia tentu harus tampil dengan elegan dan tidak mempermalukan suami dan keluarganya. Memikirkan hal itu semakin membuat Tyas takut saja. Dia tidak sepercaya diri itu untuk berada di tengah-tengah orang-orang penting dan terhormat. Tyas merasa terlalu hina untuk ada diantara mereka.
"Selesai deh, gimana Ma?" tanya Gezia meminta pendapat Ibunya setelah dia menyelesaikan riasan Tyas. Mama dan Tante Syifa langsung mengacungkan dua jempol tangan mereka, tandanya riasan hasil Gezia dan Erlita sangat memuaskan.
"Cantik, sangat cantik" ucap Mama
Tyas sendiri memang tidak mengenali dirinya di pantulan cermin di depannya. Dia terlihat sangat berbeda dari biasanya. Tyas terlihat semakin cantik dan sedikit lebih elegan dengan riasan yang di berikan Gezia dan Erlita. Kedua gadis itu memang cukup berbakat dalam hal make up. Itu sebabnya kenapa mereka berdua selalu tampil cantik dimana pun mereka berada.
Erlita meniup jari-jari tangannya yang cukup berbakat itu. "Gak sia-sia juga nih tangan, ternyata bisa buat Kak Tyas jadi cantik jelita kayak gini"
Tyas hanya tersenyum melihat kelakuan Erlita yang selalu membuat keluarganya geleng-geleng kepala. Gadis itu memang lebih apa adanya, tidak sok alim atau apapun itu. Dia selalu menunjukan seperti apa dirinya yang sebenernya.
"Yasudah sekarang kamu ganti baju pake yang ini dan ini kerudungnya juga"
Tyas berdiri dari duduknya, lalu dia menatap sebuah gaun muslimah yang terlalu mewah baginya. "Ini baju siapa Ma? Tyas tidak memiliki baju ini?"
__ADS_1
Tentu dirinya tidak mungkin memiliki pakaian semewah itu. Meski Tyas berada di antara keluarga berada, tapi untuk membeli sebuah baju diskon saja dia harus menyisihkan sebagian dari uangnya. Memang sesudah itu hidup Tyas saat masih bersama keluarganya sendiri. Di saat adiknya bisa membeli apa saja yang dia mau. Tidak dengan Tyas, dirinya harus berfikir seratus kali untuk sekedar membeli baju baru saja. Tyas selalu berfikir jika apa yang dia beli itu untuk kebutuhan hidup atau hanya sekedar gaya hidup.
"Ini gaun yang di belikan suamimu, jadi kau harus memakainya. Haragai pemberian suamimu ini ya"
Tyas mengangguk saja, memang begitu seharusnya. Seorang istri harus menerima apapun pemberian suaminya asalkan masih di dapatkan dengan cara baik dan dibeli dengan rezeki halal. Tyas mengambil gaun dan kerudung yang harus dia pakai dari tangan Mama.
"Tyas mau ganti baju dulu kalau begitu"
Mama dan yang lainnya mengangguk. Setelah Tyas berlalu ke ruang ganti, mereka semua langsung keluar dari kamar Tyas dan Ganesh ini. Dan ternyata Ganesh sudah menunggu mereka di depan pintu kamar.
"Bagaimana?" tanya Ganesh
"Istrimu sedang ganti baju sekarang" jawab Mama
"Tenang saja Bang, aku dan Gezia telah membuat Kak Tyas bagaikan princess"
Gezia hanya tertawa melihat wajah kusut sepupunya itu. Mama dan Tante Syifa hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Erlita. Mereka pun berlalu ke kamar masing-masing untuk segera bersiap untuk acara malam ini.
Sementara Ganesh yang baru saja masuk ke dalam kamar langsung mematung di tempatnya saat melihat sosok bidadari yang baru saja keluar dari ruang ganti. Tyas dengan gaun indah berwana kalem, masih belum menggunakan kerudungnya. Rambut panjang melewati bahu, masih tergerai begitu saja.
"Mas, dimana yang lainnya?" Tyas berjalan santai ke arah meja rias, dia akan memakai kerudungnya sekarang. Sama sekali tidak menyadari jika suaminya sedang sangat-sangat terpesona olehnya.
Ganesh tersadar, dia segera berjalan mendekat ke arah meja rias. Membungkukan tubuhnya agar sejajar dengan Tyas yang sedang duduk di kursi depan meja rias. Dagunya bersandar pada bahu Tyas, Ganesh sedang menikmati kecantikan istrinya ini. Keduanya saling bertatapan di balik cermin.
"Cantik sekali kesayangan aku ini" bisik Ganesh di telinga Tyas, membuat istrinya merinding saat merasakan hembusan nafas Ganesh yang begitu dekat dengan kulitnya.
__ADS_1
"Ish, ini semua karena kehebatan dua adik kamu itu. Mereka sangat pandai sekali memakan make up"
"Ya, karena pekerjaan mereka setiap hari hanya melihat tutorial make up dan mempraktekannya dengan membeli segala peralatan make up yang tidak murah itu menggunakan uangku"
Tyas tersenyum mendengarnya, memang kedua gadis itu sangat berani pada Ganesh. Seperti meminta uang jajan atau apapun yang mereka inginkan. Semua itu justru membuat Tyas semakin tahu bagaimana kepribadian suaminya pada keluarganya ini. Ganesh memang sangat baik dan menyayangi semua anggota keluarganya. Apalagi dia adalah cucu tertua dari keluarga Aditama. Membuat Ganesh selalu menjadi sosok seorang Kakak yang baik untuk adik-adiknya.
"Mas, ini beneran ada acara perusahaan kamu itu?"
Ganesh mengangguk sebagai jawaban.
"Banyak yang datang?" tanya Tyas lagi
"Iya, semua rekan bisnis GE pasti datang karena sudah mendapat undangan resmi"
Duh, bagaimana ini? Aku takut sekali untuk mengikuti acara seperti itu. Selama ini 'kan aku tidak pernah menghadiri acara seperti itu.
Tyas menatap suaminya di balik pantulan cermin di depannya. "Emm. Kalau Tyas tidak ikut saja, bagaimana?"
"Loh kenapa tidak ikut? Kamu 'kan pendamping aku, Sayang"
Ganesh langsung bereaksi dengan memutar kursi yang di duduki Tyas, lalu dia berlutut dengan kedua lutut bertumpu pada lantai. Ganesh menggenggam tangan Tyas yang berada di atas pangkuannya. Tangan Tyas memang terasa dingin, Ganesh tahu jika istrinya sedang gugup saat ini.
"Kamu tetap harus ikut, pokoknya jangan takut. Ada aku yang akan selalu di sampingmu nanti. Jangan hiraukan siapapun disana, aku akan selalu bersamamu"
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya.. Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya juga.. Kasih up tambahan nih.. dukungannya di tunggu sekali..