
Tyas mematung di tempatnya, adiknya yang berlutut di kakinya sambil menangis membuatnya hilang fokus untuk beberapa saat. Seolah tidak percaya dengan apa yang terjadi. Tyas mengerjap dengan air mata yang menetes begitu saja, dia langsung menunduk dan memeluk adiknya. Keduanya saling berpelukan di atas lantai. Menangis terisak saling bersahutan antara kedua kakak beradik ini.
"Maafin aku Kak, aku benar-benar menyesal dengan semua perlakuan ku selama ini. Maafkan aku Kak, tolong maafkan adikmu ini" Adriana terus bergumam kata maaf dengan tangisan yang semakin kencang. Dia tidak bisa menahannya lagi, tangisannya menunjukan betapa menyesal dirinya melakukan semua itu pada Tyas. Kakaknya sekalipun tidak pernah membencinya. Tapi, kenapa dia selalu membencinya. Tidak ada kesalahan yang pernah Tyas perbuat padanya. Adriana sungguh menyesali semuanya.
"Maafin aku Kak, maaf. A-aku hiks.. aku hanya di suruh Mama saat melakukan hal itu pada Kakak. Maaf Kak, Mama juga yang bilang kalau Kakak adalah pembunuh Ibu kandung Kakak sendiri. Maaf Kak, aku benar-benar terpengaruh oleh Mama. Maafkan aku"
Tyas terisak sambil mengelus kepala adiknya. Tyas menyayangi adiknya ini, sering kali dia berharap bisa menjalani kehidupan Kakak beradik pada umumnya. Saling menyayangi dan melengkapi. Namun, semuanya belum pernah terjadi dan mungkin saat ini adalah awal yang baik untuk hubungan Tyas dan adiknya.
"Sudah Dek, Kakak sudah memaafkan semua kesalahanmu. Asalkan jangan kamu ulangi lagi kesalahan itu. Berubahlah untuk menjadi lebih baik lagi, masa depan kamu masih panjang"
Tyas membantu adiknya untuk berdiri, memapahnya ke sofa dan mendudukannya disana. Adriana masih terisak pelan. Tyas duduk di sampingnya, menatap ke arah sang Ayah yang hanya menundukan kepala saat menyadari jika anaknya sedang menatapnya. Rasa bersalahnya masih terlalu besar pada anak sulungnya ini.
"Jadi, tujuan saya memanggil anda kesini bukan hanya karena Tyas yang ingin bertemu dengan anda. Tapi, ada hal lain yang ingin saya katakan dan diskusikan tentang semua masalah yang menimpa anda ini" ucap Kakek dengan nada berwibawanya
Eriawan mendongak dan menatap ke arah Kakek, bingung dengan maksud dari ucapan Kakek barusan. Namun, dia tidak berniat untuk bertanya apa sebenarnya maksud dari ucapan Kakek. Dia hanya ingin mendengar kelanjutan dari ucapan Kakek.
"Saya masih tetap menghargai anda sebagai besan saya. Karena putri anda ini begitu menyayangi anda terlepas dari semua yang telah anda perbuat padanya selama ini"
__ADS_1
Deg....
Mata Eriawan mulai berkaca-kaca. Apa yang di ucapkan Kakek benar-benar membuatnya semakin merasa malu pada anaknya sendiri. Dia merasa jika dirinya tidak pantas untuk di panggil seorang Ayah. Putri sulungnya ini terlalu baik. Mungkin sifatnya ini sama persis dengan mendiang Ibunya. Eriawan beralih menatap Tyas, keduanya saling bertatapan dengan mata yang menggenangkan air yang siap menetes kapan saja.
"Bekerjalah di perusahaan GE, untuk bisa menghidupi putrimu. saya tahu, dia baru saja masuk kuliah. Masih butuh cukup biaya dan karena saya tahu jika Tyas sangat menyayangi kalian. Jadi, saya tidak bisa membiarkan kalian sengsara karena itu akan membuat cici menantu saya sedih. Saya sudah menganggap Tyas seperti cucu saya sendiri. Jadi saya tidak mau dia bersedih"
Ucapan Kakek benar-benar membuat Tyas terharu. Dia benar-benar tidak pernah menyangka jika kehadirannya begitu di terima dengan baik di keluarga terpandang ini. Tidak ada kata membedakan kasta di keluarga ini. Mereka benar-benar menjadi sosok keluarha kaya yang rendah hati. Beruntung sekali Tyas bisa menjadi bagian dari keluarga ini. Meski, tidak semudah itu baginya untuk bisa mendapatkan cinta suaminya. Tapi sekarang Tyas sangat bersyukur dengan semua takdir yang memilihnya ini.
"Baik Tuan, saya akan bekerja dengan baik"
Bisa mendapatkan pekerjaan saja sudah sangat bersyukur untuk Eriawan. Apalagi bisa bekerja di perusahaan GE yang cukup terkenal dalam dunia bisnis. Kehancuran perusahaan Eriawan tentu akan menyulitkannya mendapatkan pekerjaan. Beruntungnya masih ada orang baik seperti Kakek yang mau menerima di perusahaannya.
Deg...
Tyas menatap mata sayu Ayahnya yang jelas sekali terdapat penyesalan disana. Kali ini Eriawan benar-benar meminta maaf dengan sepenuh hatinya. Tidak seperti saat di taman, Eriawan masih sedikit menyimpan rasa bahwa Tyas penyebab istrinya meninggal. Hingga saat ini dia benar-benar menyadari jika semuanya hanya soal takdir. Anaknya tidak patut di salahkan dalam hal ini. Anak umur 6 tahun, tahu apa tentang kehidupan ini. Tapi, bodohnya dia malah membenci anaknya sendiri yang jelas sudah tidak punya siapapun selain dirinya.
Tyas berdiri dan menatap lekat Ayahnya sendiri. "Pa, bolehkah Tyas memeluk Papa? Selama ini Tyas selalu iri pada Adriana yang selalu bisa bermanja sama Papa. Tidak papa walau terlambat, tapi apa mulai sekarang Tyas juga bisa merasakan apa yang Adriana rasakan, dulu?"
__ADS_1
Adriana kembali terisak mendengar ucapan Kakaknya. Selama ini dia terlalu egois karena tidak memikirkan perasaan Kakaknya saat dia bermanja pada Ayahnya. Padahal dia sendiri tahu jika Eriawan adalah Ayah dari mereka berdua.
Eriawan tak bisa lagi menahan air matanya. Dia menangis dan langsung memeluk putrinya yang sudah terlalu banyak dia sakiti. "Boleh Nak, kamu boleh bermanja dengan Papa kapanpun kamu mau. Maafkan Papa untuk waktu yang telah berlalu. Waktu yang terus membuatmu terluka"
Tyas menangis sejadi-jadinya di pelukan Eriwana. Pelukan yang terasa hangat dan nyaman. Pelukan yang selalu Tyas dambakan selama ini. "Akhirnya Tyas bisa merasakan pelukan Papa. Rasanya sangat hangat dan nyaman. Saat dulu, Tyas hanya mampu menatap dan berharap bisa memeluk Papa dan bermanja pada Papa. Menceritakan semua kejadian di sekolah. Meski hal itu tidak terjadi. Tapi tak apa jika terlambat, masih ada waktu sekarang untuk bisa Tyas merasakan hal itu pada Papa"
Bahkan Mama sampai tidak bisa menahan diri untuk tidak menangis. Mendengar segala kalimat yang di ucapkan menantunya dengan suara parau. Dia hanya memeluk suaminya dengan terisak. Membayangkan segala kehidupan yang di jalani Tyas selama ini sungguh tidak mudah. Di benci oleh Ayahnya sendiri dan tidak di anggap keberadaannya di keluarganya. Ganesh dan Papa hanya memalingkan wajah dengan sedikit mengusap ujung matanya. Tidak ingin terlihat lemah juga di antara mereka.
"Maafkan Papa Tyas, maaf karena terlalu bodoh sampai membenci kamu atas meninggalnya Ibumu. Maaf Nak, Papa janji mulai hari ini hubungan kita akan lebih baik. Kamu bisa bermanja pada Papa kapan saja kamu mau" lirih Eriawan dengan isakan kecil yang terdengar.
"Tyas merindukan Papa. Tyas merindukan pelukan Papa"
Adriana ikut berdiri dan ikut memeluk Kakak dan Ayahnya itu. Mereka berpelukan dengan tangisan yang pecah terdengar di setiap penjuru ruangan. Akhirnya mereka bisa mengeluarkan setiap kata yang ingin di ucapkan. Eriawan dan Adrian yang sudah lebih lega karena bisa meminta maaf langsung pada Tyas.
Percayalah jika di balik setiap masalah pasti ada hikmah. Perusahaannya yang bangkrut, menyadarkan Eriawan jika anaknya lebih penting dari apapun. Bukan hanya terus mementingkan istrinya yang ternyata tidak tahu diri itu. Sementara dia menelantarkan putrinya sendiri sampai tidak sadar jika Adriana juga terpengaruh buruk oleh istrinya itu. Eriawan benar-benar gagal menjadi seorang Ayah. Jadi, dia ingin memperbaiki semuanya mulai hari ini.
"Papa menyayangi kalian"
__ADS_1
Bersambung
Jangan lupa dukungannya.. Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya juga..