
"Kau menyukainya?"
Pertanyaan Ganesh berhasil membuat Adlan yang sedang mengemudi hampir saja hilang fokus. Tuan dan sahabatnya ini benar-benar selalu membuatnya jantungan. Selain harus menyusulnya ke rumah karena alasan malas membawa mobil sendiri di saat pagi ini akan ada rapat penting yang tidak bisa jika hanya di wakilkan olehnya. Sekarang, belum juga jauh mobilnya melaju dari pekarangan rumahnya, dia sudah menanyakan hal yang lagi-lagi membutanya jantungan.
"Siapa yang kau maksud? Menyukai siapa?" Untung saja Adlan masih bisa mengendalikan dirinya untuk tidak terpancing dengan pertanyaan Ganesh itu.
Ganesh mendesah kesal "Kau tahu apa yang aku maksud, jika kau benar mencintainya. Asal kau berjanji untuk tidak menyakitinya, maka aku sangat mendukungmu"
Entah bagaimana Adlan harus bersikap saat ini. Senang, atau malah malu karena dia begitu cepat ketahuan oleh atasannya ini. Apa perasaannya terlihat begitu jelas sampai Ganesh saja bisa menyadarinya. "Haha.. Ngomong apa si kau ini, dasar aneh"
Akhirnya untuk saat ini Adlan masih berusaha menghindar dan menutupi perasaannya. Dia masih belum sepercaya diri itu untuk menjadi bagian dari keluarga Aditama. Ganesh hanya diam, tidak ingin membahasnya lagi. Biarkan asistennya ini berjuang sendiri agar dia tahu bagaimana sulitnya mendapatkan hati adiknya dan perhatian darinya. Gadis yang terlalu cuek di kalangan luar, sangat berbeda sekali dengan dirinya yang berada di lingkungan keluarganya.
Sampai di perusahaan rekan kerjanya, Ganesh dan Adlan seketika merubah raut wajahnya. Jika pada awalnya yang selalu hangat dan terkadang saling bercanda dan melemparkan ejekan kecil. Tapi ketika masuk ke dunia pekerjaan, maka mereka berubah menjadi dua pria dingin dan tegas. Itu sebabnya kenapa Seira dulu sempat takut pada asisten Ganesh ini.
Masuk ke dalam perusahaan rekan bisnisnya ini. Tentu kehadiran mereka menjadi menarik bagi para karyawati disana. Banyak yang menatap sampai melongo melihat dua pria tampan yang datang ke tempat kerja mereka ini.
"Pagi Tuan, saya sekretaris dari Tuan Luky, jadi mari ikut saya"
Adlan langsung menengahi wanita seksi yang mengaku sebagai sekretaris itu dari Ganesh yang sudah merasa tidak nyaman saat memasuki lift dan wanita itu terus mepet ke arahnya. Hingga Adlan segera bertindak cepat, wanita itu bukannya kesal tapi malah tersenyum senang sambil menatap Adlan dengan tatapan penuh arti. Adlan yang di tatap seperti itu mencoba biasa saja, memasang wajah datar dan dingin.
Sampai pintu lift terbuka Ganesh dan Adlan segera keluar tanpa menghiraukan wanita itu. Keduanya bergidik ngeri dengan saling tatap.
"Gila, kenapa dia seperti ondel-ondel"
"Ihh.. Jelas lebih cantik istriku kemana-mana"
Keduanya jelas tidak akan tertarik dengan wanita seperti itu. Pakaian yang kurang bahan, make up yang tebal. Sungguh bukan tipe mereka.
...🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬...
Malam hari Ganesh pulang dari pekerjaannya, tersenyum senang karena istrinya sudah menyambutnya dia ruang tengah. Langsung meraih tangan kanan Ganesh dan menciumnya, lalu mengambil jas dan tas kerjanya.
__ADS_1
"Mau makan dulu Mas?"
"Mandi dulu Sayang, aku gerah banget tadi abis ketemu ondel-ondel"
Tyas mengerutkan keningnya, bingung dengan ucapan suaminya itu. "Ondel-ondel dimana"
"Adalah pokoknya, ihh serem" kata Ganesh sambil bergidik ngeri, lalu berlalu ke kamarnya.
Sementara Tyas masih kebingungan dengan ucapan suaminya itu. Ondel-ondel? gumamnya sambil menyusul suaminya ke kamar.
Selesai mandi Ganesh langsung makan malam bersama istrinya, masakan istrinya selalu membuatnya berselera makan. Lidah Ganesh sudah sangat cocok dengan masakan istrinya.
"Sayang sudah di pasang tadi fotonya?"
"Udah, aku kasih dia uang soalnya kasihan masangin itu sendiri. Abisnya aku gak bisa bantu apa-apa, perut udah besar kayak gini"
"Iyalah Sayang, emangnya kamu mau ngapain? Kan emang udah tugas dia juga" Kamunya aja yang terlalu baik, gak tau aja kalau dia sudah di bayar mahal oleh Gezia.
"Sayang, jangan terlalu baik sama orang karena terkadang kebaikan kita itu malah di manfaatkan oleh orang yang tidak tepat"
Tyas tersenyum saja mendengarnya, memang sering orang berkata seperti itu padanya. Kamu terlalu baik Tyas, bahkan teman-temannya dulu juga sering mengatakan itu padanya. Namun, mau bagaimana lagi dia sudah seperti ini sejak kecil. Membuat dia tidak bisa jika tidak bersikap baik pada setiap orang.
"Iya Mas, abisnya gimana lagi udah jadi kebiasaan aku kayak gini"
"Iya, karena kamu itu bukan manusia biasa. Kamu jelmaan malaikat, makanya baiknya gak ketulungan"
"Hahaha.. Apaansi Mas, kamu jadi pandai sekali merayu ya. Sudah berpengalaman sekali"
"Gak, aku kayak gini sama kamu doang loh"
"Emm. Semua pria sering bilang kayak gitu pada setiap wanita. Emangnya pasa sama Kak Seira kamu gak sebucin ini? Kan kamu lebih bucin"
__ADS_1
Ganesh terdiam, dia mengambil minum dan menyelesaikan makannya. Lalu berdiri sambil membawa piring dan gelas bekas makannya. Mencucinya di wastafell. "Aku memang mencintainya dulu, tapi jujur rasa cintaku tak sebesar sekarang saat aku mencintaimu"
Tyas menyusul suaminya dengan membawa piring dan gelas bekasnya. "Ya aku tahu kok, lagian dulu aku bisa lihat gimana kamu menatap Seira dengan penuh cinta. Tapi, sekarang tatapan itu tertuju padaku"
Tyas ikut menyabuni piring dan gelas lalu Ganesh yang membersihkannya. Setelah itu keduanya mencuci tangannya mereka lalu kembali ke ruang tengah, untuk sekedar bersantai sebelum tidur.
"Mas tahu kalau aku sudah bahagia bisa bersamamu saat ini"
Ganesh mengecup puncak kepala istrinya. "Aku lebih bahagia bisa bersamamu sekarang"
"Yuk ahh ke kamar, aku sedang ingin bermanja denganmu"
Tiba-tiba saja Ganwsh menggendong Tyas. Membuatnya terkejut, Tyas refleks mengalungkan tangannya di leher suaminya. "Mas turunin ihh, aku takut jatuh. Aku berat loh Mas"
"Aku masih kuat menggendongmu, jadi kau tenang saja"
Ganesh membawa istrinya menaiki anak tangga rumahnya. Menuju kamar mereka untuk bermanja yang di maksud Ganesh. Jelas Tyas tahu apa arti dari bermanja yang Ganesh ucapkan. Memikirkannya membuat dirinya menjadi malu sendiri. Tyas menyembunyikan wajahnya di dada Ganesh yang menggendongnya itu.
"Buka Sayang" kata Ganesh setelah mereka sampai di depan pintu kamar. Tentu saja dia tidak akan bisa membuka pintu kamar dengan posisinya yang sedang menggendong Tyas. Pintu kamar segera di buka oleh istrinya dan Ganesh segera masuk ke dalam kamar, mendorong pintu dengan kakinya hingga pintu kembali tertutup.
Ganesh menidurkan istrinya di atas tempat tidur dengan perlahan. Dia sudah tidak sabar untuk segera bermanja pada istrinya. Bermanja dalam artiannya sendiri.
"Mas, pelan-pelan ya. Perutnya udah besar gini"
"Iya Sayang, aku juga tidak akan menyakiti anak kita dan kamu"
Akhirnya semuanya di mulai dengan kecupan di kening. Istrinya sudah pasrah saat Ganesh mulai membuka bajunya. Malam yang panjang akan terlewati oleh keduanya dengan penuh kehangatan.
Bersambung
Like komen di setiap chapter.. mampir juga di kara terbaruku. Judulnya Suamiku dan Suamimu.
__ADS_1