Takdir Yang Memilih

Takdir Yang Memilih
Istri Yang Terlalu Baik Untuk Ganesh


__ADS_3

Eriawan menatap punggung anaknya yang duduk di sebuah bangku taman. Punggung rapuh itu terlalu banyak beban yang harus di tanggung. Kemana saja dirinya selama ini? Bahkan tidak melihat serapuh apa anaknya ini. Semuanya seolah tertutup karena luka yang di rasakannya setelah meninggal istri pertama. Cinta pertama dalam hidupnya.


Dia menutupi luka itu dengan membenci anaknya sendiri. Seolah dirinya tidak tersakiti dengan apa yang terjadi. Eriawan hanya mencoba menutupi kesakitan yang di rasakan. Tatapan dingin dan benci yang selalu dia berikan pada Tyas, hanya untuk menutupi luka yang dia rasakan. Hanya saja caranya yang salah.


"Aku ingin hidup damai seperti orang-orang. Saling menyayangi dengan adikku sendiri, dan keluargaku. Tapi, kenapa semuanya begitu sulit. Bahkan untuk bisa mendengar kata maaf dari mereka saja, harus dengan gertakan dari suamiku. Ya Allah, kenapa mereka begitu membenciku. Apa kematian Ibu memang benar-benar salahku?"


Deg...


Tidak.. Semuanya bukan salah Tyas, semuanya hanya takdir. Namun, salahnya yang menatap benci anaknya sendiri hingga membuat anak itu menganggap jika dirinya bersalah dalam kecelakaan itu. Padahal semuanya hanyalah takdir. Kesalahan Eriawan terlalu besar hanya untuk satu kata maaf. Selama 17 tahun dia membenci anaknya sendiri. Mengagapnya seolah tidak ada. Membuat luka yang terlalu besar di hati anaknya. Perlahan Eriawan mendekat ke arah Tyas.


Menyadari ada seseorang yang duduk di sampingnya, Tyas segera menghapus air mata di pipinya. Saat menoleh dan menyadari siapa yang menghampirinya, Tyas dibuat benar-benar terkejut dengan siapa yang duduk di sampingnya. Ayahnya.. Dia adalah Ayah yang selalu dia rindukan kehangatannya.


Tapi, untuk apa saat ini Ayahnya berada disini. Tatapannya itu sama seperti saat Eriawan memintanya untuk menikah demi menyelamatkan perusahaan. Tyas beringsut takut, melihat lagi tatapan itu dari Ayahnya malah membuat Tyas takut. Karena terakhir kalinya dia menatap seperti itu karena menginginkan dirinya kembali berkorban.


"Yas"


Panggilan lembut itu selalu Tyas rindukan dari Ayahnya dan sekarang dia mendengar kembali nada lembut dari Ayahnya saat memanggil namanya. "A-ada apa Pa?"


Tyas terperanjat saat merasakan elusan di kepalanya. Sudah tidak ingat lagi, kapan Tyas merasakan elusan dari Ayahnya itu. "Maafkan Papa Nak"


...🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬...


Akhirnya tidaka da kebencian di hati Tyas. Dia hanya mampu memaafkan siapa pun yang meminta maaf padanya. Tidak ada dendam di hatinya, karena menurutnya memaafkan lebih indah dari segalanya. Entahlah.. Tyas juga terkadang merasa bingung dengan dirinya sendiri.

__ADS_1


Sejujurnya dia sangat ingin membenci semua orang yang menyakitinya, tapi hatinya tidak bisa untuk melakukan itu. Apalagi saat orang-orang itu meminta maaf padanya. Dia sudah luluh hanya dengan kata maaf saja. Karena menurutnya seseorang yang berniat meminta maaf sudah pasti karena dia menyadari kesalahannya. Tidak peduli dasar minta maafnya atas paksaan atau ketulusan. Tyas tidak lagi memperdulikan itu.


Setelah keluarganya pulang, Tyas kembali pada rutinitasnya. Merawat suaminya yang belum benar-benar sembuh. Kini, keduanya duduk bersandar di tempat tidur. Tyas lebih berani pada Ganesh. Untuk sekedar memeluk suaminya, sudah menjadi kebiasaan Tyas.


"Terimakasih ya Mas"


"Terimakasih untuk apa?"


Tyas mengelus tangan Ganesh yang masih di balut perban. Seolah merasakan sakit yang di rasakan oleh suaminya di tangannya. "Makasih sudah membuat Papa kembali padaku"


"Mereka meminta maaf padamu hanya karena gertakanku. Apa kau tidak sadar akan itu?"


Tyas tersenyum tipis, dia mendongak dan menatap wajah suaminya. Hal itu tentu langsung mendapat respon baik dari suaminya, Ganesh langsung mencium bibir mungil istrinya. Membuat Tyas menjadi gugup dan malu. Dia segera menyembunyikan wajahnya di dada Ganesh. Kecupan hangat bibir Ganesh masih begitu terasa di bibirnya. Tyas benar-benar masih merasa malu, jika Ganesh tiba-tiba menciumnya seperti itu.


"Tau ah, Mas senang sekali membuat ku malu"


"Loh, kenapa harus malu. Kamu 'kan istriku. Jadi, sah-sah aja kalo aku mau menciummu dimana saja. Lagian kalau aku sudah sembuh, aku akan menerkamu Sayang"


Tyas memukul tangan Ganesh karena kesal dengan apa yang di ucapkan Ganesh barusan. "Apaan si Mas"


"Aw.. Sayang sakit ihh"


Tyas langsung terperanjat, bangun terduduk dan langsung memeriksa tangan Ganesh yang masih di perban. Dia tidak sadar jika memukul tangan Ganesh yang terluka itu. "Duh maaf ya Mas, aku gak sengaja"

__ADS_1


Ganesh meraih tangan Tyas yang masih mengelus tangannya dengan perlahan. Menggenggamnya dan mencium bagian punggung tangan Tyas. "Jangan pernah mengucapkan kata maaf atas kesalahan yang tidak kau lakukan"


Tyas menatap Ganesh dengan mata berkaca-kaca. Dia tidak pernah membayangkan jika hubungan pernikahannya dengan Ganesh akan berubah menjadi bahagia seperti ini. Tyas kembali memeluk suaminya, menyandarkan kepalanya di dada Ganesh dengan nyaman.


"Terimakasih untuk semuanya, Mas. Bahkan Papa sudah meminta maaf langsung padaku tadi. Hal yang tidak pernah aku duga. Meski semuanya karena gertakan darimu, tapi aku tetap bersyukur akan hal itu. Setidaknya mereka bisa mengucapkan kata maaf padaku"


Ucapan Tyas semakin membuat Ganesh kesal. Sebegitu tega keluarga istrinya ini hingga menimbulkan luka yang sangat dalam di hatinya. Sampai Tyas masih merasa senang saat keluarganya bisa mengucapkan kata maaf padanya, meskipun semuanya atas dasar paksaan dari Ganesh.


"Memangnya apa yang mereka lakukan padamu?" Ganesh semakin penasaran saja dengan kehidupan Tyas. Dengan apa yang di lewati dan di jalani gadis itu selama tinggal bersama keluarganya yang jelas-jelas terlihat sekali sangat membencinya.


"Tidak ada, mereka tidak pernah melakukan apapun padaku"


"Jangan berbohong Sayang, aku tidak suka kau berbohong apapun padaku"


Tyas hanya tersenyum, dia semakin mengeratkan pelukannya. Tidak peduli dengan apa yang di ucapkan oleh suaminya. "Tidak perlu di ceritakan, Mas"


Ganesh mendengus kesal, namun beberapa kali mengecup puncak kepala istrinya. Akhirnya keduanya terlelap dengan saling berpelukan nyaman. Semenjak ada Tyas dalam hidupnya, Ganesh semakin merasakan kebahagiaan. Tidur dengan memeluk wanita yang di cintainya. Sungguh, hidup Ganesh lebih bahagia dari sebelumnya. Meski dia tidak memungkiri jika saat bersama Seira, dia juga merasakan kebahagiaan. Namun, bedanya kebahagiaan Ganesh saat ini terasa lebih tenang. Tidak ada lagi beban dan fikiran, karena tidak ada lagi perbedaan dari keduanya. Tidak ada lagi Benteng Penghalang yang harus Ganesh gapai.


Semua orang tua memang menginginkan yang terbaik untuknya. Termasuk yang di pilihkan Kakek dan orang tuanya untuk Ganesh. Dan Ganesh sekarang bersyukur atas pilihan Kakek saat itu.


Terimakasih untuk semuanya, Ya Allah. Kau telah memberikan istri yang terlalu baik untuk ku.


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya.. Like komen di setiap chapter ... kasih hadiahnya dan votenya juga..


__ADS_2