Takdir Yang Memilih

Takdir Yang Memilih
Fitting Baju


__ADS_3

Satu minggu lagi acara pernikahan Gezia dan Aldan berlangsung. Jadi hari ini semua anggota keluarga Aditama sudah harus fitting terakhir. Semua anggota keluarga memang membuat gaun dan jas untuk acara pernikahan Gezia. Siang ini semua anggota keluarga sudah berada di butik Gezia. Melakukan fitting gaun masing-masing. Tyas sudah merasa cocok dengan gaun rancangan adik iparnya ini. Nyaman dan tidak merasa sesak di bagian perutnya.


"Bagaimana Sayang, apa sudah pas" Suaminya muncul di balik bilik, dia sudah memakai setelan jas dengan warna yang sama juga.


"Sudah Mas, nyaman kok gak sesak di bagian perutnya"


"Baguslah, jadi gak ada yang perlu di rubah lagi"


"Iya Mas, gak perlu. Sudah nyaman kok"


Ganesh berjalan ke arah Tyas, memeluknya dari belakang. Menatap wajah istrinya di balik pantulan cermin. "Cantik banget istriku ini"


"Iyalah perempuan semuanya juga cantik Mas, gak ada yang ganteng"


"Ish. Maksdunya hanya kamu yang cantik di mataku. Setelah Mama dan Gezia"


Tyas tersenyum, dia senang karena suaminya begitu menyayangi Mama dan adiknya. "Makasih ya Mas, sudah membawa aku ke keluarga yang baik ini. Aku jadi bisa merasakan hal-hal yang tidak pernah aku rasakan selama ini. Seperti acara perusahaan kamu waktu itu. Itu juga pengalaman pertamaku"


"Apa kamu tidak pernah hadir di acara perusahaan Ayahmu dulu?"


Tyas menggeleng pelan "Aku tidak punya baju bagus untuk bisa datang ke acara seperti itu. Lagian, Mama Julia selalu melarang aku ikut karena menurutnya aku adalah beban"


Ganesh selalu tidak tahan jika mendengar cerita istrinya di masa lalu. Bagaimana dia menjalani hidup di tengah-tengah keluarga yang membencinya. "Kamu itu anugerah, bukan beban! Pantas saja dulu aku tidak pernah melihat kamu pas acara ulang tahun perusahaan Ayahmu, waktu dulu"


"Kalau kamu ketemu aku sejak dulu, kira-kira kita akan tetap menikah tidak ya"


Ganesh mencium pipi istrinya "Kita itu sudah di takdirkan bersama. Jadi semuanya tetap akan sama. Meski kita bertemu sepuluh tahun kemudian pun, kita tetap akan bersama"


Tyas tersenyum, semoga saja takdir tetap membiarkan mereka bersama selamanya. Sampai akhir hayat memisahkan. "Yaudah, ayo keluar yang lain pasti sudah menunggu kita"

__ADS_1


Benar saja, di luar ruang ganti semua orang sudah berkumpul dengan pakaian masing-masing yang telah mereka coba. Gezia yang juga sudah selesai mencoba gaun pengantinnya. Semuanya sudah sesuai dengan keinginan nya.


"Mereka lama banget ya, ngapain dulu si" gerutu Gezia yang sudah kesal menunggu.


"Salah Mami si, kenapa malah di satuin kamar ganti mereka. Jadinya lama 'kan" kata Erlita


"Ya 'kan karena kamar gantinya gak cukup, jadi Mami saranin buat yang suami istri satu kamar ganti saja" kata Tante Syifa, memang ini adalah usulannya agar semuanya bisa cepat melakukan fitting. Tapi ternyata dia salah, malah semakin lama karena menunggu sepasang suami istri yang sedang di landa gelombanh cinta yang besar.


"Abang ini benar-benar bucin ya sekarang" gumam Erlita, dia kesal tapi juga bahagia karena sekarang Kakak sepupunya itu telah benar-benar mencintai istrinya.


"Gimana gak bucin coba, Kak Tyas baik banget kayak gitu. Emangnya ada pria yang bisa menolak wanita sebaik Kak Tyas?" kata Gezia


"Ada, kan Abang dulunya menolak keras kehadiran Kak Tyas"


Kedua gadis di keluarga Aditama ini sedang saling menimpali pembicaraan menurut pemikiran masing-masing. Sampai orang yang mereka bicarakan datang, Ganesh sempat mendengar percakapan Erlita dan Gezia. Memang benar apa yang di katakan adik-adiknya itu. Pria mana yang akan bisa menolak wanita seperti Tyas. Tapi, bodohnya dirinya pernah menolak kehadiran wanita seperti istrinya ini.


"Ngapain aja si kalian ini? Nyobain baju aja lama banget" kesal Erlita


"Jadi bagaimana Kak? Apa ada yang mau di rubah dari gaunnya?" tanya Gezia


Tyas menggeleng sambil tersenyum "Gak Zi, sudah bagus dan aku nyaman memakainya"


"Syukurlah, kalau begitu kita langsung pulang saja"


...🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬...


"Mas, Kak Seira juga di undang 'kan ke acara pernikahan Zia?"


"Iya, karena Alex juga rekan bisnis GE. Gak mungkin gak di undang"

__ADS_1


Tyas mengangguk, bersyukur karena hubungan mantan kekasih ini bisa terjalin baik meski hubungan mereka tetap kandas karena adanya perbedaan yang tinggi. Tyas menyandarkan kepalanya di bahu suaminya yang sedang mengemudi itu. "Mas, aku senang karena kamu dan Kak Seira bisa saling mengikhlaskan seperti ini. Jujur, aku selalu merasa bersalah karena telah berada di antara hubungan kalian yang sudah terjalin selama 4 tahun itu"


"Sayang, kamu itu gak salah. Semuanya sudah takdir. Aku yang salah karena mengabaikan mu, tetap memaksa kisahku yang jelas tidak mungkin bisa bersatu. Aku dan dia memang berbeda, perbedaan terlalu besar sehingga tak bisa di satukan"


Tyas mengangguk "Ya, memang begitu Mas resiko punya hubungan beda iman. Kita tetap percaya pada keyakinan masing-masing. Mas percaya dengan keyakinan Mas, begitupun dengan Kak Seira"


"Ya, maka dari itu solusinya hanya satu. Saling mengikhlaskan satu sama lain. Biarkan semua kenangan menjadi cerita masa lalu dalam hidup kita"


Tyas mengangguk, memang tidak ada seorang pun manusia yang tidak mempunyai masa lalu. Mau itu baik atau buruk, menyenangkan atau bahkan menyakitkan. Semuanya hadir dengan masa lalu masing-masing. Jadi, biarkan saja semuanya menjadi cerita dalam hidup ini. Tidak perlu merasa beban dengan masa lalu yang pernah kita jalani. Di masa sekarang adalah waktunya kita untuk mulai berubah menjadi lebih baik lagi dari masa lalu itu.


Mobil terparkir di halaman rumah, Tyas segera turun begitupun dengan suaminya. Mereka masuk ke dalam rumah setelah seharian melakukan fitting terakhir untuk gaun yang akan di pakai di acara pernikahan Gezia dan Adlan. Sampai di ruang tengah, Tyas langsung menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. Dia sangat lelah. Mengelus perut besarnya yang bergerak-gerak karena tendangan sang anak di dalam sana.


Ganesh ikut menyusul, duduk di samping istrinya. Mengelus perut besar istrinya yang terus bergerak-gerak karena tendangan dari anak mereka. "Bersih-bersih dulu yuk, langsung istirahat"


Tyas mengangguk, dia mengulurkan tangannya pada suaminya yang sudah berdiri di depannya untuk membantunya bangun. "Bantuin"


Ganesh tersenyum, bukan meraih tangan Tyas dan membantu istrinya bangun. Ganesh malah menggendong istrinya dan membawanya ke kamar mereka. Membiarkan paper bag berisi pakaian mereka tergeletak begitu saja di atas meja.


"Ya ampun Mas, aku berat loh. Kamu masih kuat gendong aku naik tangga kayak gini. Padahal berat badan aku udah naik drastis" Tyas cemberut mengingat berat badannya yang terus bertambah setiap bulannya. "...Ya beginilah wanita kalau sudah hamil. Tubuhnya pasti menjadi taruhannya, bisa menjadi jelek tapi wanita tetap bahagia jika bisa hamil"


Ganesh tersenyum, dia mengecup bibir cemberut istrinya. "Jangan takut Sayang, mau bagaimana pun bentuk tubuhmu. Aku akan tetap mencintaimu apa adanya, tidak peduli dengan bentuk tubuhmu"


Tyas tersenyum, dia tahu suaminya berkata dengan tulus. Ganesh sudah benar-benar berubah. Dia mencintai Tyas apa adanya. Cintanya sangat besar, hingga tak akan tergoyahkan hanya karena bentuk tubuh istrinya yang tak seindah dulu. Justru istrinya sekarang terlihat lebih cantik di mata Ganesh. Perut buncitnya malah semakin membuat Ganesh gemas.


Bersambung


like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya..


Ada karya temanku lagi nih..

__ADS_1



__ADS_2