
Gezia mengendarai mobilnya menuju butik. Pikirannya masih tertuju pada ucapan Kakaknya. Benarkah itu adalah cinta? Selama ini dia tidak tahu bagaimana perasaan jatuh cinta yang sebenarnya. Mungkinkah apa yang dia rasakan pada Adlan bukan hanya karena perasaan adik kakak saja. Jatuh cinta? Hal yang di anggap tidak penting dalam hidup Gezia. Hidupnya hanya pada karier dan belajar. Sekarang dia benar-benar telah merasakan itu? Tapi, hatinya masih menolak perasaan yang ada. Dia masih tidak percaya jika apa yang dia rasakan adalah cinta.
Gadis cuek dan dingin di dunia luar, seolah tidak mungkin merasakan cinta. Namun, jelas apa yang di katakan Kakak iparnya memang apa yang dia rasakan selama ini. Namun, Gezia hanya menganggap itu adalah perasaan adik pada Kakaknya, karena dia sudah terlalu dekat dengan asisten Kakaknya itu.
Tidak mungkin aku jatuh cinta pada Kak Adlan. gumamnya dengan tangan memukul setir dengan frustasi. Dia mencintai pria yang selama ini sudah terlalu dekat dengannya hingga menganggapnya seperti Kakaknya sendiri. Tapi, ternyata perasaannya salah, dia tidak hanya menganggap Adlan sebagai Kakak, perasaannya lebih dari itu. Itu adalah kenyataannya, tapi kenapa Gezia malah takut untuk mengekspresikan perasaanya.
Bagaimana jika Adlan menolaknya? Bagaimana jika Adlan tidak mempunyai perasaan yang sama dengannya? Apa Gezia akan bisa menerima patah hati pertamanya? Dia rasa dia tidak akan kuat. Gezia takut dengan semua kemungkinan jika Adlan tidak memiliki perasaan yang sama dengannya.
Arghh... Gezia berteriak frustasi, dia bisa jadi gila untuk terus memikirkan hal ini. Fokus untuk bekerja. gumamnya saat mobil yang dia kendarai sudah sampai di parkiran butik. Dia turun dari mobilnya dan berjalan gontai masuk ke dalam butiknya itu.
"Pagi Zi"
Sapaan itu berhasil membuat Gezia mendongakan wajah lesunya. Deg.. Lagi-lagi dadanya berdebar saat melihat pria yang tadi dia bahas bersama Kakaknya ada di tempat kerjanya ini. Adlan berdiri di depan Gezia dan tersenyum padanya. Di belakangnya ada dua orang asing yanv Gezia tidak kenal.
Duh sial, kenapa gugup lagi.
"I-iya pa-pagi Kak"
Malunya setengah mati untuk Gezia yang tiba-tiba tergagap seperti ini di hadapan Adlan. Dan sialnya ini bukan pertama kali ya dalam hidupnya. Sudah terlalu sering dia seperti ini. Apa mungkin benar jika dia telah jatuh cinta pada Adlan. Tapi, tidak mungkin. gumamnya. Gezia masih saja menolak perasaan yang sudah jelas sekali.
"Ini aku bawa teman yang aku ceritakan padamu kemarin"
Gezia baru mengingat jika hari ini ada janji temu dengan teman Adlan yang mau membuat gaun pertunangannya. Oke Gezia, sudah saatnya fokus pada pekerjaan. gumamnya sebelum dia menyuruh tamunya itu naik ke lantai atas, dimana ruangannya berada.
__ADS_1
Bekerja sedikit melupakan perkataan Kakaknya tadi pagi. Karena dia bisa saja semakin frustasi jika terus mengingat itu. Terus memikirkan perasaan yang dia rasakan pada Adlan. Apa benar jika perasaan itu adalah cinta, atau mungkin juga bukan.
...🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬...
Kehamilannya yang sudah menginjak 7 bulan itu mulai terasa engap. Tyas bahkan sulit untuk banyak bergerak karena perutnya yang buncit. Hal itu membuat Ganesh khawatir, apalagi saat istrinya terus menolak untuk ada asisten rumah tangga yang menetap di rumah ini. Karena selama ini hanya ada orang yang datang dua hari sekali untuk bersih-bersih dan mencuci pakaian. Hal lainnya tetap di kerjakan oleh Tyas. Alasannya selalu sama, karena dia lebih nyaman hanya tinggal berdua dengan suaminya dan nanti bersama anak-anaknya. Tyas memang sudah terbiasa dengan pekerjaan rumah seperti ini. Bahkan, mungkin dulu lebih lelah daripada ini karena dia juga harus bekerja.
"Sayang"
Tyas yang sedang duduk di sofa yang ada di dalam kamarnya menoleh saat pintu kamar terbuka. Suaminya muncul dengan apron yang masih terpasang di tubuhnya. Sunggu, ini pemandangan yang jarang sekali Tyas lihat dan suaminya terlihat lebih tampan. Memang sebenarnya suaminya selalu tampan dalam keadaan apapun bagi Tyas.
"Ayo makan dulu, aku udah masak"
Tyas tersenyum saat mengingat sore tadi suaminya melarang dirinya untuk masak dan malah dia yang masak meski Tyas terus melarangnya. Tapi, Ganesh tidak mau di bantah membuat Tyas hanya bisa menurut saja.
"Yaudah ayo" Tyas menurunkan kedua kakinya ke atas lantai lalu berdiri dengan berpegangan pada lengan sofa. Perutnya yang besar memang membuatnya tidak lagi leluasa dalam bergerak.
"Apaan si Mas, aku ini hamil bukam pesakitan. Hanya sedikit susah gerak saja karena perut yang semakin besar. Bukan karena aku lemah dan tidak bisa mengerjakan pekerjaan rumah. Lagian 'kan sudah ada yang datang dua hari sekali. Itu saja cukup Mas"
"Tapi aku gak mau sampai kamu kelelahan sayang, perut kamu sudah sebesar ini" Ganesh mengelus perut bulat istrinya.
Ganesh menarik kursi untuk di duduki istrinya. Lalu dia juga ikut duduk di samping istrinya. Mengambilkan makanan yang di masaknya ke atas piring, lalu menyodorkannya ke arah istrinya.
"Coba deh, ini sehat buat Ibu hamil"
__ADS_1
Tyas menatap makanan di atas piringnya, sayuran lengkap, protein lengkap dan sedikit karbohidrat. Suaminya benar-benar memasak sesuai takaran yang sehat bagi ibu hamil. Tyas mulai memakan masakan Ganesh, dan rasanya cukup enak meski sebenarnya masih terasa agak hambar di lidahnya.
"Sengaja aku buat agak hambar, karena terlalu banyak penyedap dan garam tidak baik untuk kandunganmu"
Ya ampun, suaminya ini memasak untuk Ibu hamil atau untuk anak di bawah satu tahun si. Kenapa harus seperpect itu. Akhirnya Tyas hanya tersenyum dengan segala keanehan suaminya ini. Memberinya makan untuk ibu hamil, tapi seperti memberi makan untuk anak di bawah usia satu tahun. Dasar.
"Kamu belajar masak dimana Mas?"
"Waktu aku kuliah di luar negeri, aku 'kan tinggal sendiri di apartemen. Jadi mau tidak mau aku harus belajar mandiri dan memasak makanan untuk diri sendiri, karena aku tidak terlalu cocok dengan makanan luar"
Tyas mengangguk mengerti "Pantas saja kamu handal banget memasak kayak gini. Gak kayak yang baru pertama masuk dapur..." Tyas beralih menatap ke arah dapur "...Keadaan dapur juga kembali rapi, tidak acak-acakan seperti di cerita-cerita kalau suami pertama kali masak"
"Jangan bilang kamu bikin aku di cerita kamu suami yang seperti itu, yang gak bisa di banggain gitu selaij kekayaan dan ketampanannya"
Tyas cengengesan, adegan ini sudah ada dalam ceritanya. Bagaimana suami yang memasakan istrinya karena ngidam, tapi si suami yang tidak tahu apa-apa soal dapur membuatnya jadi membuat dapur seperti kapal pecah dengan hasil masakan yang sangat buruk. Berbeda sekali dengan kenyataan saat ini.
"Kan aku gak tau kalau kamu bisa masak. Tapi yaudahlah, kan gak ada yang tahu kalau itu tentang kamu. Hehe"
"Dasar, penulis tanpa konfirmasi ini"
"Haha. Ya namanya juga penulis rekaman"
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya.. Like komen di setiap chapter.. mampir di karya terbruku. Suamiku dan Suamimu