
Ganesh masih melongo tidak percaya saat adiknya tiba-tiba bilang jika dirinya akan menikah dengan Adlan. Sungguh, tidak di sangka. Apa secepat ini dia menyatakan perasaannya pada Adlan. Sampai dia seantusias itu saat meminta Ganesh untuk menyiapkan pernikahannya.
"Kamu bercanda Zi?"
Gezia menarik kursi di depan meja kakaknya, dia duduk disana dan menatap Kakaknya dengan serius. "Beneran Kak, aku baru saja jadian sama Kak Adlan. Kan Kak Tyas yang bilang kalau aku harus mengungkapkan perasaan ini. Jadi aku sudah mengungkapkannya dan Kak Adlan menerima aku Kak. Ayo cepat nikahkan kami"
Ganesh sampai menepuk jidatnya, adiknya ini benar-benar polos. Hingga saat dia benar-benar mengenal cinta, maka dia langsung bertindak seperti ini. "Sekarang meningan kamu pulang dulu, Abang mau bicara dulu sama Adlan"
"Ck. Yaudah deh, tapi beneran cepetan nikahin kita ya"
"Ya ampun Zi, kamu kok ngebet banget pengen segera nikah" Ganesh sampai geleng-geleng kepala melihat kelakuan adiknya ini.
"Kan Abang pernah bilang, kalo aku udah seharusnya menikah dengan usiaku ini"
"Tapi gak buru-buru kayak gini juga Zi, kamu harus benar-benar fikirkan baik-baik tentang ini. Pernikahan itu gak sesimpel dengan ucapannya. Banyak yang harus di lewati dalam pernikahan. Jadi kamu harus benar-benar yakin"
"Aku beneran udah yakin Kak, seratus persen aku yakin kalau Kak Adlan itu adalah jodoh terbaik buat aku"
Ganesh melihat keyakinan dalam setiap ucapan yang keluar dari mulut Gezia. Adiknya ini sudah dewasa, dia benar-benar sudah yakin untuk memulai hidup baru dalam pernikahan. "Baiklah, sekarang kamu pulang dulu saja. Abang akan bicara dulu dengan Adlan"
Akhirnya setelah Gezia pergi, kini Adlan yang berada di ruangan Ganesh. Dia sudah tahu apa tujuan Ganesh memanggilnya ini. Sudah pasti akan membahas tentang dirinya dan Gezia. Adlan duduk di kursi depan meja kerja Ganesh, tempat yang tadi di duduki oleh Gezia.
"Jadi apa yang bisa kau jaminkan saat ingin menikahi adikku?"
__ADS_1
Ganesh menatap serius pada Adlan, saat ini dia sedang berperan menjadi seorang Kakak laki-laki yang sedang mengintrogasi calon adiknya. Mau bagaimana pun Ganesh tetap ingin yang terbaik untuk Gezia. Adiknya harus mendapatkan pria yang tepat untuk menjadi suaminya. Meski itu Adlan, sahabat sekaligus asistennya sendiri. Ganesh tetap harus memastikan jika Adlan benar-benar serius pada Gezia dan tidak berniat mempermainkan adiknya.
"Kau tahu jika aku tidak mempunyai apapun sebagai jaminan bisa membahagiakan Gezia. Aku saja hanya bawahanmu, tapi aku punya cinta yang hanya aku berikan pada adikmu itu. Selama ini aku hanya tidak berani mengatakannya, karena aku sadar siapa diriku. Tapi, tanpa di sangka ternyata Zia juga memiliki perasaan yang sama denganku. Jadi, aku hanya punya cinta dan kasih sayang untuk adikmu. Tidak ada jaminan lain"
Ganesh tersenyum tipis, memang jawaban seperti itu yang dia inginkan. Ganesh tidak akan sembarang menerima pria yang mau menikahi adiknya. Dia tidak akan hanya melihat dari harta dan jabatannya. Yang penting, Gezia mencintai pria dan begitupun sebaliknya. Ganesh hanya mengharapkan adiknya bisa bahagia dengan pilihannya. Meski hanya dengan kesederhanaan, tapi harta tidak menjamin kebahagiaan itu sendiri. Begitulah prinsip keluarga Aditama. Makanya mereka tidak pernah memandang rendah orang-orang dari kalangan biasa saja. Karena menghargai seseorang yang dapat menjadikan kita berharga di mata orang lain.
Ganesh berdiri dan menghampiri Adlan, dia menepuk dua kali bahu pria itu. "Aku serahkan adikku padamu, jangan sampai kau menyakitinya karena kau adalah pria yang dia pilih untuk yang pertama dan terakhir kalinya"
...🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬...
"Serius Mas? Aku gak nyangka kalau Zia langsung menemui Adlan"
Tyas juga sama terkejutnya dengan Ganesh saat tahu jika adik iparnya ingin segera menikah dengan Adlan. Tyas yang sedang memeluk suaminya itu, sedikit menggeser posisinya. Dia menatap wajah suaminya. "Tadi siang dia datang kesini dan bercerita kalau perasannya semakin kacau. Bahkan bayangan Tuan Adlan selalu ada di fikirannya. Ya aku saranin aja buat Zia mengatakan perasaannya secara langsung pada Tuan Adlan agar dia bisa lega. Ehh. Ternyata dia langsung pergi menemuinya"
Ganesh mencubit gemas hidung mungil istrinya. "Pantas saja Zia bersemangat sekali tadi. Kamu tahu gak, kalau dia menyatakan cintanya di lobby perusahaan saat jam makan siang. Sedang banyak orang juga disana, sekarang rumor itu sedang rame di karyawan perusahaan GE"
"Tapi Sayang..." Ganesh menarik tangan istrinya agar kembali memeluknya. Dia kecup puncak kepala istrinya itu. "...Aku senang karena Gezia bisa langsung dekat dan akrab sama kamu. Karena dia itu tipe anak yang susah kenal dengan orang. Cuek dan dingin setiap bertemu dengan orang baru. Tapi tidak denganmu, dia bahkan langsung akrab saat bertemu denganmu. Berbeda sekali saat dia bertemu dengan Seira"
Tyas tidak cemburu, dia hanya sedikit tidak nyaman saja saat mendengar suaminya memabahas tentang mantan pacarnya itu. "Memangnya bagaimana sikap Zia pas ketemu sama Kak Seira?"
"Bukan hanya pas ketemu saja, bahkan setelah kami pacaran selama itu Zia tetap tidak bisa bersikap hangat padanya. Dia selalu dingin dan cuek setiap kali bertemu dengannya"
"Mas si Mas, tapi Zia gadis yang baik kok"
__ADS_1
"Iya karena sama kamu, aku juga bingung kenapa dia bisa langsung begitu hangat padamu. Padahal kamu dan dia juga pertama kali bertemu, mungkin karena Gezia sadar jika kamu memang yang paling pantas untukku"
"Sebenarnya Kak Siera juga pantas untuk Mas, bahkan mungkin lebih pantas daripada aku. Hanya saja karena kalian yang beda iman, membuat banyak pihak yang tidak mendukung. Termasuk takdir"
Ganesh semakin erat memeluk istrinya itu, dia kecup puncak kepalanya. "Karena takdir telah memilihmu untuk menjadi pendampingku"
Tyas mendongak menatap wajah suaminya yang langsung mendapat kecupan hangat di keningnya. "Terimakasih karena sudah bersabar menjadi istriku"
"Terimakasih juga karena sudah memilihku, Mas"
"Takdir Yang Memilih, bukan aku"
Benar, takdirlah yang memilih mereka untuk bersatu. Sebesar apapun rintangan yang menerjang rumah tangga mereka, tapi takdir tetap memilih mereka untuk tetap bersama. Jadi, semuanya hanya soal takdir.
"Yaudah tidur yuk Mas, aku suda ngantuk"
"Gak mau pake baju dulu Sayang? Nanti masuk angin loh"
"Pake selimat saja, aku sudah benar-benar mengantuk" Tyas langsung membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Menarik selimut sampai ke bahunya. Ganesh mengelus kepala istrinya dan mengecupnya sebelum dia juga ikut masuk ke dalam selimut dan terlelap dengan saling memberi kehangatan dalam pelukan satu sama lain. Berpelukan tanpa busana, memang paling nyaman untuk tidur malam ini. Tyas dan Ganesh benar-benar terlelap dalam kenyamanan masing-masing.
Bersambung
Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya juga..
__ADS_1
Ada karya temanku nih..