
Seharian berada di butik milik Gezia, kini sepasang suami istri ini sudah berada di rumah mereka. Selesai menjalankan kewajibannya, kini Tyas dan Ganesh hanya duduk menyandar di atas tempat tidur. Saling berpelukan hangat untuk menghilangkan penat mereka setelah menjalani kegiatan seharia
"Dia mantan pancarmu?"
Mantan pacar siapa? gumamnya. Tyas bingung sendiri apa maksud suaminya ini. Hingga dia mengingat satu orang yang tadi dia temui. Hah.. Tyas menghela nafas pelan, tidak mungkin kalau suaminya akan diam saja tanpa bertanya apapun tentang Azam. Terlihat sekali dari tatapan matanya, jika dia sangat tidak suka saat Tyas berinteraksi dengan pria itu.
"Bukan Mas, lagian Tyas tidak pernah punya pacar. Kak Azam itu cuma teman semasa kuliah dan dia memang baik pada Tyas waktu dulu. Sering membantu Tyas"
Ganesh mendengus kesal, tidak suka jika istrinya memuji pria lain di depannya. Meski itu adalah kenyataannya. "Aku gak suka pokoknya"
"Gak suka apanya si Mas, lagian aku juga gak ngapa-ngapain sama Kak Azam. Kita cuma saling menyapa biasa saja"
Memang benar apa yang di katakan oleh Tyas. Interaksi dirinya dan Azam juga terlihat biasa saja, tidak ada yang sepesial atau berlebihan. Keduanya memang hanya saling bertegur sapa biasa saja, selayaknya teman lama yang tidak sengaja bertemu. Tidak ada yang aneh, tapi di mata suaminya bertegur sapa dengan pria lain saja menjadi kecemburuan yang tinggi.
Mungkin ini adalah sebuah karma balik, dimana saat dulu dia sering kali membuat Tyas menahan sakit karena melihat kemesraannya bersama Seira. Sementara saat ini, hanya melihat istrinya bertegur sapa dengan teman lama saja. Sudah membuatnya kebakaran jenggot. Akhirnya Ganesh merasakan juga apa yang dirasakan istrinya saat itu. Bahkan mungkin lebih sakit, melihat dirinya bercumbu mesra dengan wanita lain di depannya.
"Entalah, aku selalu takut jika kamu akan berpaling dariku dan meninggalakan aku. Karena aku sadar jika di luar sana masih terlalu banyak pria yang lebih baik dari suamimu ini. Kamu yang sempurna dan baik hati, pasti akan banyak pria yang menginginkanmu"
Tyas mendongak, menatap wajah suaminya yang memeluknya itu. Ada gurat ketakutan di wajahnya. Tyas mengelus dada suaminya. "Mas, aku sudah pernah bilang sama kamu jika kamu adalah pria pertama yang aku cintai. Pria yang berhasil membuat aku jatuh cinta padamu, meski hanya bisa memendamnya. Jadi, semua ketakutanmu itu tidak mungkin terjadi. Aku akan selalu bersama denganmu, kecuali kamu menduakan aku lagi. Hal itu benar-benar tidak bisa aku maafkan lagi. Kesempatan ini hanya ada sekali saja untukmu, tidak ada lagi kesempatan kedua dan ketiga"
Ganesh mengeratkan pelukannya di bahu Tyas, mencium puncak kepala istrinya itu. "Aku janji Sayang, aku tidak akan mengulangi apa yang menjadi penyesalan terbesar dalam hidupku ini"
__ADS_1
Begitulah sepasang suami istri ini saling meyakinkan satu sama lain. Mencoba mengerti setiap perasaan masing-masing. Ganesh yang takut istrinya berpindah pada lain hati dan meninggalkannya. Dan Tyas yang takut suaminya akan kembali menduakannya.
Semuanya akan baik-baik saja selama pasangan itu saling mengungkapkan apa yang mereka rasakan. Saling jujur dan percaya satu sama lain. Obrolan malam ini diakhiri dengan saling berpelukan erat di bawah selimut dan akhirnya terlelap juga.
...🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬...
"Assalamualaikum"
Gezia membuka pintu rumah Kakaknya itu dengan semangat, langsung nyelonong masuk begitu saja. Namun saat dia sampai di ruang tengah, Gezia melihat Adlan yang sedang duduk di atas sofa. Gezia segera menghampirinya.
"Loh Kak Adlan ngapain disini pagi-pagi begini?"
Adlan yang awalnya sedang fokus pada ponsel di tangannya langsung mendongak menatap ke arah Gezia yang berdiri di depannya, hanya terhalang meja saja. "Loh harusnya aku yang bertanya, kenapa kau ada disini sepagi ini. Kalau aku sedang menjemput Abangmu karena dia sedang malas membawa mobil sendiri"
Adlan hanya mengangguk dan ber'oh saja. Duduk berdampingan di sebuah sofa, namun keduanya hanya diam. Tidak lagi memulai pembicaraan lain setelah apa yang penting sudah terbahas. Gezia hanya menatap ke arah kakinya sendiri yang dia ayun-ayunkan dengan tangannya yang sibuk memainkan ujung kerudung segi empat yang dia pakai. Lalu, dia menoleh sekilas ke arah pria tampan yang duduk di sampingnya.
"Lama banget mereka ya Kak, apa aku lihat saja ke kamarnya ya"
Adlan langsung menoyor kepala gadis itu dengan tertawa kecil. "Kau ini dasar gadis polos, kalau kau masuk ke dalam kamar mereka dengan tiba-tiba. Bagaimana jika keduanya sedang melakukan hal yang tidak seharusnya kau lihat"
Blushhh... Wajah Gezia memerah seketika, dia tidak sepolos itu untuk tidak tahu apa yang di maksud oleh Adlan. "Apaan si Kak, malu tahu"
__ADS_1
Adlan hanya terkekeh kecil melihat wajah memerah Gezia. Semakin hari dan semakin kesini, ada perasaan yang tidak bisa dia kontrol di dalam hatinya. Adlan selalu merasa gemas pada gadis yang duduk di sampingnya ini. Bahkan selalu ada rasa yang muncul untuk bisa memiliki gadis itu. Tapi, Adlan sadar siapa dirinya.
"Loh Zi, kapan datang?"
Tyas dan suaminya baru saja menuruni anak tangga. Ganesh telah siap dengan pakaian kerjanya, meski tadi cukup ada drama di dalam kamar. Suaminya yang tiba-tiba menolak untuk bekerja karena masih ingin bersama istrinya. Padalah sudah semalaman mereka berpelukan saling memberikan kehangatan. Entahlah kenapa suaminya ini menjadj manja sekali akhir-akhir ini. Sampai Adlan menelepon dan mengabarkan ada rapat penting pagi ini. Membuat Ganesh tak bisa lagi beralasan untuk tidak masuk bekerja.
"Aku kesini cuma mampir saja Kak, sekalian mau kasih tahu kalau foto maternity kalian kemarin sudah bisa di kirim siang ini"
Tyas terlihat antusias sekali, dia berjalan mendekat ke arah adik iparnya itu. "Wahh cepet sekali ya"
"Iyalah, karena jasa yang aku pakai sudah pasti yang paling terbaik"
Tyas mengangguk percaya, memang keluarga Aditama tidak mungkin menggunakan jasa biasa saja. Mereka sudah pasti menggunkan yang luar biasa. Yang bisa bekerja cepat hanya dengan bayaran yang tentunya lebih tinggi dari yang lain.
"Nanti kamu pajang di ruang tamu saja, disana masih ada dinding kosong untuk memajang foto kita. Kamu suruh saja tukangnya untuk langsung memasangnya disana" kata Ganesh
Tyas mengangguk, di ruang tengah ini sudah ada satu foto pernikahan mereka dengan ukuran besar. Jadi, biarkan foto maternity mereka di pajang di ruang tamu. Ganesh benar-benar ingin menunjukan keharmonisan keluarganya pada setiap orang yang berkunjung ke rumahnya ini. Jika dulu dia lebih memilih memajang foto-foto bersama Seira, tapi sekarang hampir di setiap pojok ruangan hanya ada foto dirinya dan Tyas. Mungkin suatu saat nanti akan bertambah dengan foto anak mereka.
Bersambung
Like komen di setiap chapter..
__ADS_1
Mampir juga di karya Author yang baru saja netas. Judulnya Suamiku Dan Sumimu.