Takdir Yang Memilih

Takdir Yang Memilih
Perasaan Ganesh Yang Tulus


__ADS_3

Tyas sedang duduk santai di ruang tengah sambil menonton televisi. Dengan perut buncit yang terus dia elus. Tyas asyik sendiri dengan acara televisi yang sedang dia tonton. Sampai dirinya tidak sengaja melirik pintu kamar yang dulu dia tempati. Sejak berpindah ke rumah ini, Tyas tidak pernah memasuki kamar itu. Sampai hari ini dia rindu juga dengan suasana kamar itu. Tyas berdiri dan mematikan televisi. Dia berjalan ke arah pintu kamar dan membukanya dengan perlahan.


Sepi.. Suasana pertama yang Tyas rasakan saat dia masuk ke dalam kamar itu. Dia menatap sekelilingnya, rapi dan bersih. Tyas duduk di atas tempat tidur, mengusap pelan seprei tempat tidurnya. Tyas menjatuhkan dirinya, tidur di atas tempat tidur ini. Tempat dirinya menangis sendirian saat itu. Tempat dimana hidupnya benar-benar hancur. Saat malam pertama dimana Ganesh melakukannya tapi dengan membayangkan dirinya adalah Seira. Kekasihnya. Hal yang benar-benar membuat Tyas tidak lagi bisa bertahan saat itu. Karena yang ada di fikiran suaminya hanyalah Seira.


Tyas menatap lemari baju yang dulu sering dia gunakan untuk menyimpan pakaiannya. Tyas bangun dan turun dari tempat tidur, dia berjalan ke arah lemari dan membukanya. Tyas bingung melihat ada satu buku disana, seperti sebuah buku harian. Perlahan dia ambil dan membawanya, duduk di pinggir tempat tidur dan mulai membaca isi buku itu.


Wanita yang aku kira adalah sumber kebahagiaanku, ternyata dia tidak sama sekali berjodoh denganku. Bodohnya karena aku telah menyia-nyiakan wanita yang sudah jelas telah menjadi takdirku. Tuhan.. Kenapa sesakit ini? Aku hanya ingin dia kembali padaku. Perasaan ini membuat aku sadar setelah dirinya pergi. Biarkan dia kembali padaku. Aku sangat mencintainya.


Jika suatu saat kau, Tyas istriku tercinta. Membaca tulisanku ini, maka akan ku pastikan kau akan menjadi ratu satu-satunya dalam hidupku*.


Tak terasa air mata menetes begitu saja, menetes di atas buku yang sedang dia baca. Suaminya benar-benar mencintainya, bahkan dia sampai menuliskan perasaannya saat dirinya pergi di sebuah buku ini. Tyas membuka kembali halaman-halaman selanjutnya, kosong. Ini memang buku yang sengaja Ganesh beli hanya untuk menulis perasaannya saat itu. Tidak ada tulisan lain selain apa yang di baca Tyas barusan.


"Ternyata kamu begitu tulus mencintaiku Mas, maaf karena aku sempat meragukanmu. Aku sempat berfikir jika kamu menginginkan aku kembali hanya karena anak dalam kandunganku"


"Sayang, kau disini?"


Ganesh tiba-tiba masuk ke dalam kamar dan berjalan menghampiri istrinya. Pulang kerja dia tidak melihat istrinya. Sampai Ganesh melihat pintu kamar ini yang setengah terbuka, membuat dia yakin jika istrinya berada di kamar ini.


"Mas" Tyas menoleh dan langsung memeluk tubuh suaminya yang berdiri di sampingnya. "....Makasih ya karena kamu sudah menerima aku dan mencintaiku dengan tulus"


Ganesh awalnya bingung kenapa istrinya tiba-tiba berbicara seperti itu, sampai dia melihat buku yang tergeletak di samping sang istri. Barulah Ganesh mengerti kenapa istrinya bersikap seperti ini. Ganesh mengelus kepala istrinya dengan Sayang. "Kau sudah membacanya. Ya, sehancur itu aku saat kau pergi. Perasaan yang aku sadari setelah kepergiannmu"

__ADS_1


Tyas mendongak dan menatap wajah suaminya. "Aku juga sebenarnya sangat hancur Mas, tapi saat itu aku merasa tidak tahan lagi. Kamu melakukannya denganku tapi yang kau sebut dalam tidurmu adalah nama kekasihmu"


Deg..


Ganesh benar-benar baru tahu soal ini, dia tidak ingat apapun. Dia tidak merasa jika dirinya menyebut nama Seira saat bercinta dengan istrinya ini. "Sayang, aku benar-benar tidak mengingat soal itu. Apa aku menyebut namanya?"


Tyas mengangguk dengan wajah cemberut. "Kamu memanggil namanya setelah selesai melakukannya denganku. Kamu bayangkan saja, bagaimana perasaanku saat itu. Aku terluka Mas, aku hancur. Disaat aku memberikan semuanya untukmu bahkan harta paling berharga dalam hidupku, tapi suamiku masih saja memikirkan wanita lain"


"Ya ampun Sayang" Ganesh membungkukan tubuhnya, memeluk leher istrinya dengan terus mengecup puncak kepala istrinya dengan rasa sayang dan juga rasa bersalah dalam dirinya. "...Maafkan aku Sayang, malam itu aku benar-benar tidak ingat apapun. Aku sedang setengah sadar, maaf karena aku telah melukaimu. Maaf Sayang, aku tahu kesalahanku ini sangat banyak. Tapi, tolong maafkan aku dengan segala kesalahan yang sudah aku lakukan"


Tyas mengusap tangan Ganesh yang melingkar di lehernya. "Tidak papa Mas, itu 'kan hanya masa lalu. Biarkan saja semuanya berlalu, saat ini aku sudah sangat bahagia bersamamu"


"Terimakasih Sayang, terimakasih banyak"


Seperti akhir pekan sebelumnya, hari ini Tyas di temani dengan suaminya untuk berjalan-jalan santai di sekitaran komplek rumahnya. Hal ini memang di anjurkan oleh dokter untuk memperlancar proses melahirkan nanti. Tyas selalu bersemangat dengan hari ini, dia bisa langsung bertegur sapa dengan beberapa tetangga yang sedang berada di halaman rumah mereka. Karena sejatinya Ganesh memang selalu bersikap datar dan biasa saja pada tentangga di rumahnya. Entahlah, sifat Ganesh dan Gezia hampir sama. Dia tidak terlalu respekct pada orang-orang baru dalam hidup mereka.


Di saat istrinya saling menyapa ramah dengan beberapa tetangga, Ganesh hanya tersenyum tipis dan mengangguk kecil sebagai tanda sapaan. Memang seperti itulah suaminya. Tyas mulai terbiasa sekarang.


"Mas mau beli itu ya"


Sampai di depan komplek, adalah kebahagiaan untuk Tyas. Disana banyak pedagang yang mejajakan dagangannya. Mulai dari makanan berat hingga jajanan ringan. Tyas selalu senang dengan memebeli beberapa jajanan, meski suaminya suka sedikit cemberut karena istrinya membeli makanan yang menurutnya kurang sehat.

__ADS_1


Ganesh menghela nafas, memang sudah biasa istrinya selalu mengajaknya jalan-jalan santai di sore hari hanya untuk membeli banyak jajanan di depan komplek. "Jangan banyak-banyak, jangan terlalu pedas juga"


"Oke Mas..." Tyas menengadahkan tangannya di depan Ganesh. "..Mana uangnya"


Ganesh merogoh dompetnya di dalam saku celana, dia mengambil selembar uang berwarna merah dan memberikan pada istrinya. Setelah mendapat uang dari suaminya, Tyas langsung membeli beberapa jajanan di sana. Dia kalap juga, semua jajanan yang murah dan meriah. Jajanan yang sering dia beli sewaktu masih sekolah. Akhirnya Tyas kembali pada sumainya dengan dua keresek jajanan yang di bawanya.


"Ayo pulang" kata Tyas dengan senyawa penuh kebahagiaan.


Ganesh tersenyum sambil mengelus kepala istrinya yang menggemaskan ini. "Kau bisa sebahagia ini hanya membeli beberapa jajanan di depan komplek ya"


"Iyalah, karena bahagia itu sederhana saja kalau kita tetap bersyukur Mas. Itu kuncinya, bersyukur"


Ganesh mengangguk, dengan secepat kilat dia mengecup pipi istrinya membuat Tyas kaget dan langsung melirik ke arah sekitar yang ramai. Untung saja orang-orang juga sedang sibuk dengan diri mereka sendiri. Jadi tidak ada yang melihat ke arah mereka atas apa yang baru saja di lakukan suaminya di tempat umum ini. Semoga saja tidak ada yang lihat.


"Mas apaan si, malu tau. Ayo pulang ahh" Tyas merangkul lengan suaminya dan menariknya untuk segera pergi dari sana.


Bersambung


Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya..


Ada temanku lagi nih..

__ADS_1



__ADS_2