Takdir Yang Memilih

Takdir Yang Memilih
Sosok Kakek Yang Menjadi Kenangan


__ADS_3

"Seneng banget yang habis bertemu Papa" Ganesh mencium pipi istrinya dengan gemas saat Tyas terlihat begitu bahagia saat menyambutnya kembali bekerja.


"Iya dong Mas, kan udah lama juga gak kesana. Kan sekarang udah boleh kangen sama Papa, bisa peluk juga" Selalu antusias saat Tyas menceritakan tentang hidupnya yang sekarang. Tentang hubungannya dengan sang Ayah yang sudah benar-benar baik. Tyas tak henti-henti mengucap syukur karena sudah bisa merasakan kembali kasih sayang Ayahnya dan juga pelukan hangat darinya.


"Mandi dulu atau mau langsung makan?" tanya Tyas pada suaminya


"Aku sudah mandi di kantor, sekarang mau ganti baju saja. Gweny dimana?"


"Sudah tidur, barusan abis aku kasih asi"


Ganesh mengangguk mengerti "Yaudah aku mau ganti baju dulu. Kamu siapkan saja dulu makanan. Nanti aku nyusul"


Tyas mengangguk, dan dia pun berlalu ke arah dapur untuk menyiapkan makanan yang sudah dia masak. Duduk diam di kursi meja makan, menunggu suaminya selesai berganti pakaian. Tyas selalu merasa tidak percaya dengan apa yang dia alami sekarang. Bisa mendapatkan cinta dan kasih sayang suaminya yang dulu sangat membencinya. Takdir Tuhan memang tidak pernah salah memilih. Takdir yang memilihnya untuk melewati semua cobaan dan rintangan dalam hidupnya. Dan benar, takdir tidak salah memilih karena Tyas bisa melewati semuanya hingga saat ini. Hingga kebahagiaan datang padanya. Hingga cinta suaminya hanya tertuju padanya.


"Ngelamunin apa hayo"


Kecupan di pipinya mengagetkan Tyas, dia yang sedang malamun tidak sadar jika suaminya sudah berada di belakangnya dan mengecup pipinya. "Mas, ngagetin aja deh. Ayo makan"


Ganesh menarik kursi meja makan di samping istrinya lalu duduk disana. "Lagian kamu lagi ngelamunin apaan si?"


Tyas mengambilkan makanan untuk suaminya. "Aku hanya sedang memikirkan perjalanan hidupku. Benar-benar tidak menyangka jika aku bisa sampai di titik ini. Bisa mendapatkan kebahagiaan dengan keluarga dan suamiku"


"Karena kamu terlalu kuat dalam menjalani hidup ini. Kamu bisa menjalani kehidupan menyakitkan itu dengan kesabaran dan ketulusan. Dan sekarang semua semua itu telah berbuah hasil. Kebahagiaan yang tidak akan henti menghampirimu. Aku selalu berdo'a seperti itu setiap saat"


Tyas menaruh piring berisi makanan di depan suaminya dengan senyuman haru di wajahnya. Suaminya benar-benar telah berubah, bahkan dia sudah menjadi pribadi lebih baik lagi sekarang. "Terimakasih Mas"


Begitulah kebahagiaan keluarga kecil ini. Kadang dengan berbincang bersama selalu membuat hati tenang dan senang. Suami istri yang memang sudah seharusnya untuk sering berkomunikasi, berbicara tentang apa yang dia rasa dan apa yang dia lewati selama ini. Jadi, kesalah fahaman akan terhindar dengan cara seperti itu.


"Mas, karena kemarin tadi aku sudah ke rumah Papa dan menemuinya. Besok aku mau ke rumah Mama ya, biar adil. Mama juga pasti kangen untuk bertemu Gweny"

__ADS_1


"Boleh, tapi besok aku antar dan pulangnya aku jemput lagi ya"


Tyas mengangguk "Iya Mas"


...🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬...


"Wahh cucu Oma datang juga, tahu saja kalau Omanya sudah sangat merindukannya" Mama langsung mengambil Gweny dari gendongan Tyas. Bahagia sekali dia saat kedatangan menantu dan cucunya ini.


"Yaudah aku berangkat ke kantor dulu ya, kamu baik-baik disini" Ganesh mengelus kepala istrinya lalu memberikan kecupan di keningnya.


"Iya Mas, hati-hati di jalan ya" Tyas meraih tangan suaminya dan menciumnya


"Langsung ke kantor lagi Nesh?"


"Iya Ma, ada meeting pagi ini. Papa udah berangkat?"


"Udah, baru aja pergi"


"Kapan datang Kak? Wahh keponakan Aunty cantik banget si. Udah siap jadi modelnya Aunty ya" Gezia selalu saja merasa gemas dengan keponakan pertamanya ini. Rasanya dia juga ingin segera bertemu dengan anaknya.


"Sudah kelihatan ya Zi, sudah berapa bulan?" tanya Tyas pada kehamilan adik iparnya


Gezia mengelus perutnya yang sudah mulai terlihat menonjol. "Baru mau 4 bulan Kak"


"Wahh pantas, cuma beda dua bulan ya sama kelahiran Gweny"


"Iya, pas aku tes terus positif. Aku kira usia kandungannya paling cuma baru 3 minggu. Ehh pas periksa ke dokter ternyata udah jalan 3 loh, kok aku gak sadar ya. Gak kerasa apapun juga"


"Itu namanya hamil kebo" kata Mama yang ikut menimpali, tapi tatapannya tetap pada bayi mungil dalam gendongannya.

__ADS_1


"Apaan si Ma, Zia itu hamil sama Kak Adlan. Masa hamil kebo si? Ya, hamil agaknya Kak Adlan lah"


Tyas tertawa kecil melihat kepolosan adik iparnya. "Ya ampun Dek, maksud Mama itu bukan kamu hamil anak kebo. Tapi kamu hamilnya kayak kebo, gak kerasa apapun. Gak mual-mual gak muntah kayak yang di alami wanita hamil pada umunya. Kadang makan juga susah"


"Ohh. Gak tuh Kak, aku beneran yang hamilnya lancar-lancar aja. Mau makaj apapun tetap bisa masuk. Tapi aku tetap milih-milih makanan karena anakku harus mendapatkan gizi dan nutrisi yang baik"


"Iya itu yang namanya hamil kebo, jadi hamilnya lancar aja gak ada hambatan apapun"


Mereka asyik berbincang, Gezia banyal sharing tentang kehamilan dengan Kakak iparnya. Dan mereka benar-benar asyik dengan perbincangan mereka, sampai tidak sadar jika Mama telah membawa Gweny ke kamarnya karena setelah di beri asi oleh Tyas, Gweny langsung terlelap di pangkuan Omanya.


"Lah Mama kemana?"


"Ke kamar Neng, baby Gweny sudah terlelap" jawab Bu Diah yang sedari tadi hanya diam mendengar setiap percakapan kedua wanita itu.


"Ya ampun sampai gak sadar ya aku"


"Udah Kak, biarin aja Mama senang-senang bersama Cucunya"


Tyas mengangguk, mereka pun lanjut berbincang dengan seru. Sampai jam makan siang tiba, Mama turun dan mengajak mereka makan siang tidak terkecuali Bu Diah. Mama mengajak pengasuh Gweny itu untuk makan bersama. Membuat Bu Diah merasz tidak enak. Keluarga terpandang ini benar-benar sangat ramah dan tidak pernah membeda-bedakan orang di lihat dari status sosialnya.


Saat makan malam terasa hening, Tyas menatap satu kursi yang biasa di duduk Kakek. Begitupun dengan Mama dan Gezia. Kepergian Kakek masih menyisakan kesedihan, meski sudah satu bulan Kakek pergi meninggalkan mereka untuk selamanya. Tapi kesedihan itu masih sangat terasa. Mereka seolah kehilangan sosok panutan dalam keluarganya. Kakek yang berwibawa, Kakek yang tegas dan Kakek yang penyayang pada keluarganya. Mereka telah kehilangan sosok mengagumkan itu.


Semoga Kakek bahagia disana. Bisa kembali bersama dengan belahan jiwanya. Wanita terhebat dalam hidupnya.


Do'a yang terucap dari setiap hati untuk Kakek dan Nenek.


Bersambung


Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya..

__ADS_1


Ada karya temanku lagi nih.. Yuk mampir.. ceritanya bagus..



__ADS_2